
Ayra terdiam di depan cermin meja riasnya, dia menatap pantulan dirinya yang terlihat cukup berbeda setelah di rias tipis oleh Mami. Rasanya Ayra benar-benar seperti sedang mempunyai Ibu lagi setelah Ibunya meninggal beberapa tahun yang lalu. Mami terlalu baik untuk dirinya dan selalu memperlakukan Ayra seperti pada anaknya sendiri.
"Sayang, sudah siap? Ayo kita berangkat"
Ayra menoleh pada suaminya dan tersenyum, dia berdiri dan mengambil tasnya yang dia letakan diatas tempat tidur. "Aku sudah siap, ayo kita pergi"
Aiden menggandeng tangan istrinya dan membwanya keluar dari kamar. "Kamu cantik sekali malam ini"
Ayra tersenyum mendengar itu, dia menatap suaminya dengan mata menyipit. "Kamu jadi pandai menggombal ya sekarang"
Aiden terkekeh pelan mendengar ucapan istrinya ini. Dia juga bingung kenapa saat bersama Ayra, maka dia tidak bisa bersikap dingin seperti saat dia berada di luaran sana.
"Aku cuma sama kamu aja menggombalnya"
"Dih, udah pandai aja. Tahu darimana kalimat itu? Itu 'kan yang biasa di ucapkan sama pria-pria yang gak setia"
"Aku sering baca di internet"
"Dasar kamu ini" Ayra memukul lengan suaminya dengan gelengan kepala heran. Suaminya ini memang terkadang selalu membuat Ayra heran dengan sikap dan tingkahnya itu.
"Sayang, aku kadang suka tidak percaya dengan kamu yang sekarang. Kamu tahu sendiri jika dulu aku selalu merasa takut dengan sikap dingin kamu ini. Tapi sekarang kamu benar-benar berbeda sekali dengan dulu"
Aiden hanya tersenyum mendengar ucapan istrinya itu. Ya, memang dia juga tidak tahu kenapa dia berubah ketika bersama istrinya ini. Yang Aiden tahu hanya karena Aiden begitu mencintai Ayra.
"Mami kemana?"
"Mami sama Papi sudah berangkat duluan dengan membawa Alerio"
Ayra mengangguk faham, mereka pun segera pergi ke acara pesta temannya Mami malam ini. Ayra beberapa kali menghembuskan nafas pelan. Dia selalu saja seperti ini jika dia akan pergi ke acara keluarga suaminya ini. Sudah pasti adalah acara yang mewah dan meriah. Tamu yang hadir pun bukan hanya orang-orang biasa.
"Sayang, kamu jangan tegang gitu dong. Kan bukan pertama kali datang ke acara seperti ini. Kenapa masih saja tegang"
__ADS_1
Ayra menoleh pada suaminya, dia memang selalu seperti ini. Semuanya karena dia tidak mempunyai kepercayaan diri yang tinggi untuk bisa bergaul dengan orang-orang yang berada diatasnya dalam status sosial dan apapun.
"Kamu adalah istriku, kenapa kamu harus merasa malu? Kamu harus percaya diri, karena aku yang akan melindungi kamu dari siapapun yang berani mengusik kamu nanti"
Ayra hanya tersenyum mendengar itu, ya seharusnya memang begitu. Ayra harusnya begitu percaya diri berada disamping Aiden. Tapi nyatanya dia tidak bisa seperti itu, Ayra selalu merasa jika dirinya akan selalu dianggap sebagai orang ketiga diantara Aiden dan Saqila di masa lalu.
Masuk ke dalam acara pesta, Ayra mulai merasa tidak nyaman. Dia terus merangkul lengan suaminya. Apalagi ketika ada beberapa orang yang datang menyapa suaminya. Ayra hanya mampu tersenyum dan menganggukan kepalanya dengan hormat pada orang-orang itu.
"Sayang, kamu sama Mami dulu ya. Aku mau pergi menemui Papi yang sedang menyapa beberapa orang. Atau kamu mau ikut?"
Ayra menggeleng pelan. "Aku bersama Mami saja"
Dan Ayra hanya duduk bersama Mami dan teman-temannya yang juga ada disana. Mereka adalah para wanita sosialita yang sebaya dengan Mami dengan dandanan dan tampilan yang begitu gelamor.
"Ini menantunya ya, wah manis sekali" puji salah satu teman Mami pada Ayra
Ayra hanya tersenyum dengan sedikit menganggukan kepalanya. "Terima kasih Nyonya"
"Iya, ini Ayra menantu kesayangan saya"
"Iya ihh, padahal dulu saya juga salah satu penggemar setia Saqila dan Aiden loh. Mereka terlihat sangat serasi, gak nyangka juga loh Jeng kalau mereka akan bercerai pada akhirnya"
Ayra hanya menunduk dengan tangan yang meremas pakaiannya dibawah meja. Masa lalu suaminya akan selalu menjadi cerita yang tidak bisa Ayra lupakan dan hindari sejak dia memutuskan untuk menjadi istrinya.
"Jodoh siapa yang tahu Jeng, kita hanya manusia yang mempunyai harapan. Tapi semuanya hanya Tuhan yang menentukan"
Mami berdiri dan mengajak Ayra untuk pergi dari sana. Dia tahu jika pembicaraan selanjutnya mungkin akan lebih menyudutkan menantunya itu.
"Maaf ya Ay, mereka memang suka seperti itu. Lagian Mami juga tidak terlalu suka pada mereka"
Ayra hanya mengangguk dan mengiyakan ucapan mertuanya itu. Mami membawa Ayra ke meja yang lain yang kosong, duduk disana dengan Alerio yang sejak tadi anteng saja berada diatas pangkuan Mami.
__ADS_1
"Kamu ambil dulu makanan dan minuman sana"
"Tidak perlu Mam, nanti saja"
Ayra hanya melirik ke sekelilingnya dan melihat acara pesta yang begitu meriah. Di ujung sana Ayra melihat suaminya yang sedang menyapa beberapa rekan kerja bersama Papi.
Seandainya suamiku hanya orang biasa, mungkin tidak akan aku pergi ke acara-acara seperti ini. Tapi..
Ayra hanya perlu bersyukur dan menjalaninya dengan tenang dan bahagia. Karena memang sudah seperti ini takdir hidupnya dari Tuhan. Meski Ayra belum terbiasa dengan semua ini. Tapi dia yakin jika dia bisa melewatinya dengan baik.
Aiden menghampiri istri dan Ibunya setelah dia cukup lama meninggalkan mereka. Aiden menarik kursi disamping Ayra dan duduk disana.
"Kenapa pindah Mam?"
"Mami males kumpul sama mereka, orang-orang yang suka terlalu ikut campur pada urusan orang lain"
Aiden menatap istrinya yang hanya diam sejak tadi. Aiden meraih tangan istrinya yang berada diatas meja, menggenggam tangannya dengan lembut. "Sayang, kamu tidak papa 'kan? Apa ada yang mengganggu kamu? Bicara sama aku kalau ada yang berani mengganggu kamu"
"TIdak kok, siapa yang mengganggu aku? Lagian 'kan sejak tadi aku bersama Mami. Jadi tidak akan ada yang berani mengganggu aku"
Aiden mengecup punggung tangan Ayra dengan lembut. Dia tahu jika istrinya selalu merasa tidak percaya diri berada di pesta seperti ini. Padahal Aiden sudah sering meyakinkan Ayra jika dia harus lebih percaya diri lagi. Tapi memang sejatinya dunia Ayra bukan seperti ini, membuat dia butuh waktu untuk bisa menyesuaikan diri dengan dunia suaminya dan keluarganya.
"Hai semuanya, kalian sudah lama datang nih?" Saqila yang datang bersama suaminya langsung menyapa keluarga Aiden.
"Kamu juga datang, Mami kira tidak datang"
"Datang Mam, tapi emang agak terlambat soalnya suamiku ada sedikit urusan tadi"
Ayra menatap Saqila yang terlihat begitu cantik dan menawan malam ini. Sangat cocok bersanding dengan Alvino yang juga memang tampan dan berkharisma.
Sebenarnya wajar saja jika banyak yang mendukuk suamiku untuk bersama Kak Saqila. Jelas dia lebih berkelas daripada aku. Ya Tuhan, kenapa aku insecure dengan Kakak aku sendiri.
__ADS_1
Bersambung