Suamiku Dan Suamimu

Suamiku Dan Suamimu
Perasaan Aiden Yang Berubah?!


__ADS_3

Akhirnya hanya dengan waktu dua hari, Aiden bisa mempersiapkan acara ini dengan matang dan sesuai rencana. Semuanya karena dia sudah memiliki koneksi yang biasa membantunya dalam hal ini. Pasokan buah dan hasil kebun lainnya juga sudah ada, makanan dan setiap jajanan juga sudah tersedia. Acara benar-benar berlangsung dengan meriah.


Ayra sudah memakai gaun yang di belikan suaminya kemarin. Di antar oleh Rega, karena suaminya yang sedang sibuk mengurus acara pesta rakyat ini dan juga memang Aiden sedang jadwal bersama Saqila. Ayra mematut dirinya di depan cermin. Gaun berwarna coklat caramel ini sangat cocok dan pas di tubuhnya. Riasan sedeharna yang Ayra gunakan membuatnya semakin terlihat manis. Ayra mengambil tas yang di belikan oleh Mami mertuanya. Tadi malam, Mami sudah mengabari untuk memakai tas yang sama yang dia beli waktu itu.


Suara bell pintu, membuat Ayra segera berjalan menuju pintu apartemen. Membukanya dan Rega sudah ada di depannya sekarang. Memang suaminya sudah mengatakan jika Rega yang akan menjemput. Tidak tahu saja Aiden, jika istri keduanya ini sangat takut dengan tatapan dingin asistennya ini. Menurut Ayra, Rega lebih menakutkan daripada suaminya sendiri.


"Nona sudah siap? Tuan Aiden sudah menunggu anda" Rega mengangguk hormat pada Ayra.


Ayra tersenyum kaku, meski Rega berkata begitu sopan tapi nada suaranya tetap dingin dan menakutkan. "I-iya Tuan, saya sudah siap"


Ayra mengikuti langkah Rega masuk ke dalam lift. Ayra hanya diam, karena memang hanya keheningan yang ada di antara mereka. Keheningan itu masih berlangsung sampai di dalam mobil. Ayra yang duduk di kursi belakang hanya memainkan ponselnya. Beruntung sekali karena suaminya yang menghubunginya di saat suasana seperti ini.


"Hallo Sayang"


"Rega udah sampai jemput kamu?"


"Iya sudah, ini lagi di jalan"


"Ohh, yaudah hati-hati ya"


"Iya"


Percakapan singkat itu tidak bisa membuat keheningan ini mencair. Rega terlihat fokus pada kemudianya, seperti tidak memperdulikan orang yang gelisah duduk satu mobil dengannya.


Rega membuka sabuk pengamannya, sedikit memutar tubuhnya dan mengangguk hormat pada Ayra. "Sudah sampai Nona"


Ayra menatap sebuah gedung yang sudah di hias dengan bermacam rupa. Dia turun dari mobil, mengikuti langkah Rega. Benar-benar menggambarkan pesta rakyat yang di ucapkan oleh Aiden. Sudah banyak stand makanan dengan beberapa jajanan sederhana dan beberapa buah dan hasil kebun lainnya yang telah di olah dengan berbagai macam rupa makanan. Meski membebaskan siapa saja yang ingin datang dan masuk ke tempar perayaan ulang tahun Aiden ini, tapi tetap ada batasan untuk tamu VVIP, Aiden melakukan ini karena memang tidak semua rekan kerjanya terbiasa berbaur dengan banyak orang seperti ini. Jadi, Aiden memberi batasan untuk tamu undangan dan para orang-orang yang datang ke pesta rakyat ini.

__ADS_1


Ayra terdiam saat Rega membawanya ke sebuah ruangan. Rega membuka pintu ruangan dan mempersilahkan Ayra masuk. "Silahkan Nona, Tuan Aiden telah menunggu anda di dalam"


Ayra mengangguk saja, meski bingung tapi dia juga tidak mempunyai keberanian untuk bertanya pada Rega tentang ini. "Terimakasih Tuan"


Rega mengangguk hormat dan Ayra pun masuk ke dalam ruangan. Suaminya sedang duduk di sebuah sofa disana dengan kacamata baca dan ipad di tangannya. Ayra berjalan perlahan ke arah suaminya itu.


"Sayang"


Aiden langsung mendongak saat mendengar panggilan dari wanita yang sedang di tunggunya sejak tadi. "Sayang sudah datang ya, sini duduk dulu"


Aiden menaruh ipad di sampingnya lalu menarik lengan istrinya dan mendudukannya di atas pangkuannya. Aiden menciumi leher dan bahu istrinya, sungguh Ayra terlihat sangat berbeda dengan penampilan seperti ini. Sangat cantik.


"Cantik sekali istriku ini"


Ayra hanya menggeliat saat kecupan-kecupan yang di lakukan suaminya. Bahkan lengan bajunya sudah jatuh ke bahu karena kelakuan suaminya ini. "Mas ihh, nanti kalau ada yang masuk bagaimana?"


"Lagi ada Ayra ya"


Saqila berjalan ke arah Aiden, dia memakai gaun dengan warna senada dengan jas yang di kenakan Aiden. Ayra menunduk saat Saqila menghampirinya, tidak mungkin jika Saqila tidak sempat melihat apa yang Aiden lakukan padanya. Pintu yang langsung terbuka lebar, tentu akan membuat Saqila melihat adegan tadi. Meski Ayra segera menghindar.


"Hay Ay, apa kabar?" Saqila memeluk Ayra. "...Lama banget ya kita tidak ketemu, biasanya sering makan bareng. Tapi suamiku dan suamimu selalu curiga padaku. Jadi aku gak mau nemuin kamu lagi"


Ayra terdiam, dia mengerti apa maksud Saqila. "Iya Nyonya tidak papa"


Saqila melerai pelukannya dan tersenyum, dia mengelus perut Ayra dengan lembut. "Baik-baik ya anak Mommy"


Deg..

__ADS_1


Kalimat itu selalu membuat hati Ayra tidak nyaman. Lagi-lagi dirinya harus sadar, jika bayi dalam kandungannya bukan lagi miliknya. Aiden langsung menatap Saqila dengan tajam, dia juga tidak suka mendengar kalimat yang di ucapkan oleh Saqila.


"Sayang, kamu duluan saja keluar ada Rega di depan. Dia yang akan mengantarmu"


Ayra mengangguk, dia segera keluar dari ruangan itu. Ayra tahu jika Aiden juga butuh waktu berdua dengan Saqila. Mungkin Aiden juga akan melakukan hal yang sama pada Saqila, seperti yang di lakukan padanya barusan. Mengingat itu kenapa hati Ayra semakin sakit.


...🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲...


"Apa maksudmu berkata seperti itu?"


Saqila duduk di sofa dengan bertumpang kaki. Menatap Aiden dengan santai. "Memangnya kenapa? Kan kamu menikahinya untuk melahirkan anak untuk kita. Jadi, sekarang anak dalam kandungan Ayra juga anakku. Apa tidak boleh aku juga menyayanginya?"


"Tapi tidak harus bicara seperti itu di depan Ayra!" tekan Aiden


Saqila mengangguk, dia melihat Aiden dengan tatapan yang sulit di artikan. Tentu dia melihat apa yang di lakukan Aiden pada Ayra. Sakit? Tentu saja, tapi Saqila tidak bisa membedakan apa hatinya benar-benar sakit atau hanya sekedar marah saja.


"Hanya untuk acara ini aku mohon padamu untuk tidak menunjukan jika dirimu telah menikah lagi. Aku tahu kau sangat memperhatikan Ayra, bahkan perhatianmu sudah lebih besar padanya daripada padaku. Tapi tak apa, asalkan kamu masih menjadi suamiku aku tidak apa. Tapi tolong Aiden, untuk hari ini jangan membuat aku malu di depan semua orang. Tolong hargai aku juga sebagai istrimu, meski posisiku sudah tergeser oleh Ayra"


Aiden menghela nafas, dia tahu hati istri tersakiti. Tapi Aiden juga tidak mengerti, kenapa dirinya malah lebih memperhatikan Ayra daripada Saqila. Seolah kenyamanannya ada pada Ayra, bukan Saqila.


Maafkan aku Sa, kenapa aku jadi begini Tuhan.


"Aku akan menjadi suamimu yang biasa, saat kita di acara nanti. Kau tenang saja"


Bersambung


Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5

__ADS_1


__ADS_2