
Ayra turun dari atas ranjang pemeriksaan dengan dibantu oleh suaminya. Merasa sangat sakit dibagian bawahnya ketika dia membuka kontrasepsi yang dia pakai selama ini. JIka bukan bukan karena suaminya yang terus memaksa Ayra untuk segera membuka kontrasepsi karena dia ingin segera mempunyai anak kedua.
Aiden langsung membawa pulang istrinya ketika dia sudah mendengar penjelasan dari Dokter tentang keadaan Ayra dan rencana mereka memiliki anak kedua. Aiden merasa bersalah sendiri ketika dia melihat cara berjalan istrinya yang terlihat sedikit kesusahan itu. Membuat Aiden langsung menggendong Ayra dan membawanya ke dalam kamar. Menidurkan Ayra diatas tempat tidur dengan perlahan.
"Sayang apa masih terasa sakit?"
Ayra hanya mengangguk pelan dengan sedikit meringis ketika dia sedikit menggeser posisi tubuhnya. "Sedikit Sayang, tapi tidak papa kok karena memang seperti ini prosesnya"
Aiden mengelus kaki Ayra dengan sedkit memberikan pijatan lembut di kakinya itu. Aiden merasa sangat bersalah juga karena telah membuat istrinya kesakitan.
"Nanti-nanti jangan pakai kontrasepsi lagi"
"Ya gak bisa dong Sayang, aku tidak siap jika harus mempunyai anak disaat anak aku masih terlalu kecil. Aku ingin memberikan kasih sayang yang cukup pada anakku yang masih kecil itu sebelum dia harus berbagi dengan adiknya nanti"
"Tidak papa, kamu tidak perlu memakai kontrasepsi lagi. Biar aku saja yang memakai pengaman"
Ayra menatap Aiden dengan tidak percaya, merasa jika Aiden begitu menghargainya dan merasakan apa yang sedang Aya rasakan. Bahkan Aiden rela mengalah dan melakukan segala hal hanya agar istrinya tidak merasakan sakit lagi ketika di pasang kontrasepsi.
"Sayang, terima kasih ya karena kamu sudah sangat menjaga aku dan melindungiku"
Ayra benar-benar terharu dengan apa yang di lakukan oleh Aiden. Suami yang benar-benar rela berkorban hanya demi istrinya, agar wanita kesayangannya itu tidak kesakitan.
Aiden menggenggam tangan Ayra dan mengecupnya dengan lembut. "Semuanya akan aku lakukan hanya demi kamu. Asalkan kamu bahagia dan tidak terluka dengan apapun lagi. Maaf jika selama ini aku belum benar-benar menjadi suami yang baik. Ayra, aku benar-banar sangat mencintaimu"
Tidak bisa berkata-kata lagi, Ayra langsung bangun dan memeluk suaminya dengan tangisan haru yang pecah begitu saja. Ayra tidak pernah menyangka jika suaminya akan sebesar ini mencintainya. Padahal ketika mengingat awal pernikahan mereka, tentu saja tidak ada harapan untuk sampai seperti ini dan hidup bahagia dengan saling mencintai.
"Aku juga mencintaimu Tuan Aiden"
Mata Aiden langsung menyipit ketika mendengar panggilan Ayra padanya. Selalu tidak suka jika Ayra memanggilnya dengan iming-iming kata Tuan. Meski mungkin dulu dia sudah sangat terbiasa di panggil seperti itu oleh Ayra. Tapi situasi saat ini benaar-benar sudah berbeda.
__ADS_1
Cup.. Cup...
Aiden mengecupi seluruh wajah Ayra dengan gemas. Sedikit menggesekan hidungnya di pipi Ayra membuat Ayar tertawa geli dengan apa yang dilakukan oleh suaminya ini.
"Emm. Berani sekali memanggilku seperti itu. Hmm.. Ingin aku menerkamu ya"
"Eh jangan dong Sayang, aku 'kan masih sakit habis lepas kontrasepsi"
"Makanya jangan suka mengodaku"
Ayra hanya terkekeh kecil ketika melihat mata Aiden yang menyipit tajam padanya. Ayra mencubit besar kedua pipi suaminya, uyel-uyel dengan gemas. "Kenapa suamiku ini sangat menggemaskan ya?'
Aiden hanya pasrah saja dengan apa yang dilakukan istrinya itu. Apalagi ketika Ayra memberikan kecupan di bibirnya dengan lembut. Jelas sangat membuat Aiden senang.
"Sayang jangan terus menggodku ya. Kau tahu aku tidak bisa tahan denganmu itu"
Lagi-lagi Ayra hanya tertawa melihat mimik wajah suaminya yang sangat menggemaskan di matanya. Aksi Ayra itu berakhir dengan dia yang menjatuhkan kepalanya di dada Aiden. Memeluk suaminya dengan erat dan nyaman.
Pagi ini Ayra sudah selesai mandi dan langsung membantu Mami yang menyiapkan sarapan. Hanya menyiapkan saja karena yang memasak semuanya adalah pelayan di rumah ini.
"Ay, gimana kemarin? Sakit tidak saat buka kontrasepsi?"
"Sedikit Mam, tapi karena kemarin sudah minum obat jadi sekarang sudah tidak terlalu sakit lagi"
Mami mengangguk mengerti, dia juga rnah mengalami hal itu. Jadi tentu saja dia merasakan apa yang dirasakan menantunya saat ini.
"Mami juga dulu mengalami hal yang sama Ay. Tapi Mami tidak punya anak lagi bukan karena Mami tidak mau. Tapi Papi yang tidak mau"
Dan Ayra selalu senang ketika Ibu mertuanya menceritakan tentang masa lalu yang pernah di alaminya. Selalu menjadi acuan bagi Ayra setiap cerita dan pengalaman yang Mami beri tahukan pada Ayra.
__ADS_1
"Kenapa Papi tidak mau mempunyai anak lagi Mam?"
"Ya, karena Papinya Aiden itu aneh. Dia merasa cemburu pada anaknya sendiri, karena Aiden yang selalu nempel pada Mami. Jadi Papi merasa terabaikan, itulah kenapa dia bilang jika satu anak saja sudah cukup"
Ayra menahan senyumnya mendengar cerita Mami barusan. Tidak tahu saja Mami jika Aiden juga memiliki sikap yang sama dengan Papi. Tapi lebih baiknya, Aiden tidak sampai tidak mau mempunyai anak lagi. Justru saat ini dia begitu bersemangat untuk mempunyai anak kedua. Meski dia masih suka cemburu ketika Ayra lebih memiliki banyak waktu bersama Alerio daripada dengannya.
"Ternyata sifat mereka memang sama ya Mam"
Mami hanya tertawa mendengar itu. Ya, memang sikap dan sifat Aiden dan Ayahnya hampir sama. "Ya begitulah mereka berdua"
Ayra hanya tersenyum, dia tahu bagaimana Papi yang juga sangat mencintai Mami. Seperti Aiden yang mencintainya.
"Yaudah, Ayra ke kamar dulu ya Mam. Mau lihat Mas Aiden, takutnya dia belum bangun lagi"
"Iya Ay"
Ayra masuk ke dalam kamarnya dan melihat tempat tidur yang sudah kosong. Itu artinya suaminya sudah bangun dan mungkin sekarang sedang mandi dan bersiap. Ayra merapikan tempat tidur yang berantakan itu. Terperanjat kaget ketika sepasang tangan memeluknya dari belakang.
"Sayang ihh, bikin kaget aja"
"Lagian kamu kemana aja? Kok lama banget di bawah? Aku sampe mandi sendiri nih"
Nah 'kan memang benar apa yang dikatakan Mami jika Aiden dan Papa memang mempunyai sikap manja yang sama. Hanya ditinggal sebentar saja, langsung merajuk pada Ayra. Padahal Ayra juga tidak pergi kemana-mana. Masih berada di rumah ini.
"Aku abis bantuan Mami menyiapkan sarapan. Kamu belum pakai baju ya?" Ayra berbalik dan menatap suaminya yang masih menggunakan handuk di bagian pinggangnya dan belum memakai pakaian.
"Kan belum kamu siapin"
Ayra menggeleng heran dengan kemanjaan suaminya ini. Ayra mengelus pipi Aiden dengan lembut. "Yaudah biar aku siapkan pakaiannya ya, Sayang"
__ADS_1
Aku benar-benar seperti memperlakukan seorang bayi saja.
Bersambung