
Ayra hanya bisa menurut saat Aiden memperlakukannya bagaikan pesakitan. Padahal dia hanya demam biasa, tidak lumpuh. Tapi Aiden bahkan melarang dia turun dari atas tempat tidur, selain ke kamar mandi.
"Tuan, saya hanya demam biasa. Tidak lumpuh. Kenapa di larang turun dari tempat tidur"
"Sudah diam saja, kau itu orang sakit"
Apasi, sakit apa? Hanya demam biasa.
"Tuan saya...."
"Bisa tidak jangan panggil aku seperti itu terus. Dulu, kau sudah terbiasa berbicara non formal padaku"
Ayra hanya diam mendengarnya, memang dia sebenarnya sudah mulai nyaman dengan panggilan baru mereka dan berbicara non formal dengan suaminya. Namun, sepertinya dia terlalu percaya diri sampai berharap bisa selamanya seperti itu bersama suaminya. Namun, Ayra tetap harus menerima kenyataan jika dirinya hanyalah istri bayaran yang tidak bisa memiliki hak apapun atas suaminya, bahkan dengan bay yang berada dalam kandungannya.
"Tuan, sebenarnya saya ini apa?"
Aiden langsung menatap Ayra dengan bingung. Apa yang di maksud dengan pertanyaan Ayra. Aiden benar-benar tidak mengerti, atau mungkin karena memang dia adalah pria yang kurang peka dengan perasaan perempuan.
"Kamu istriku"
Ayra menunduk, tangannya saling bertaut di atas pangkuan. "Saya istri bayaran untuk Tuan, jadi apa bisa saya memiliki hak atas Tuan?"
Deg..
Aiden menatap istrinya yang begitu tertekan. Ya, Aiden tahu jika pernikahan ini telah membuat Ayra masuk dalam kisah Aiden dan Saqila. Membuat dirinya harus berada dalam dilema. "Maafkan aku Ay, karena aku telah membuat kamu berada di dalam kerumitan ini. Bersabarlah Ay, aku akan berusaha memberikan yang terbaik untuk kamu dan Saqila"
__ADS_1
Ayra hanya diam, dia memang hanya perlu menunggu takdir yang akan membawanya kemana. Hidup ini adalah pilihan, dan ini adalah jalan hidup yang dia pilih. Jadi Ayra hanya perlu menjalaninya tanpa banyak menuntut, selayaknya dia hanya seorang istri bayaran. Tidak perlu meminta lebih, karena setiap kali dia berharap maka kenyataan akan menjatuhkannya lebih sakit dari apa yang dia kira.
Ayra menghembuskan nafas untuk sedikit menenangkan dirinya. Lalu dia mendongak dan menatap suaminya dengan senyuman manis, senyuman yang hanya untuk menutupi setiap kesedihan yang dia pendam. "Tidak papa Tuan, saya mengerti posisi saya. Dan tolong jangan terlalu memberikan saya harapan. Jangan membuat saya semakin berharap lebih pada Tuan, karena saya tahu jika pada akhirnya tetap akan sama. Tidak akan ada yang berubah"
Aiden memegang kedua tangan Ayra, dia cium beberapa kali punggung tangannya. "Ay, berikan aku waktu. Aku juga dalam dilema yang sulit. Aku tidak bisa memilih di antara kalian berdua"
Saqila adalah istri dan cinta pertamanya. Sementara Ayra adalah calon Ibu dari anaknya, gadis yang dia nikahi di atas sebuah perjanjian. Tapi, dengan berjalannya waktu gadis itu berhasil membuat hati Aiden goyah. Semua yang dia lakukan hanya untuk menjadikan pernikahannya aman damai. Tidak lagi terdengar keributan karena masalah anak. Namun, ternyata semuanya malah semakin rumit setelah hati Aiden berubah. Saat hati Aiden goyah.
Ayra tersenyum, dia melepaskan tangannya dari genggaman Aiden lalu mengelus pundak Aiden dengan lembut. "Disini, sudah terlalu banyak beban. Jadi, jangan tambah beban Tuan dengan memikirkan saya. Biarkan semuanya berjalan sesuai takdir Tuhan. Biarkan kita menjalani seperti biasanya"
Ayra yang akan kembali pada perjanjian awal. Berepegang teguh pada perjanjian itu. Jika dirinya harus tetap pergi meninggalkan Aiden setelah bayi dalam kandungannya lahir. Biarkan saja takdir yang menjawab semuanya.
"Tapi Sayang..." Aiden merasa semakin tidak bisa mengendalikan perasaannya. Baru kali ini ada seseorang yang mengerti beban yang selama ini Aiden pikul sendiri. Sebelumnya, tidak ada. Mereka hanya menyerahkan semuanya pada Aiden. Menekannya agar selalu sempurna dalam hal apapun. Termasuk mengurus perusahaan besar keluarganya.
"Jangan terlalu memaksa Tuan, kita hanya manusia biasa. Biarkan Tuhan yang mengaturnya"
...🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲...
"Ayra sedang sakit, untuk beberapa hari aku akan tidur bersamanya. Mengertilah"
Saqila menatap Aiden, hatinya tidak rela dengan itu. Tapi dia tidak bisa terus egois. Nyatanya Saqila hanya berjuang dengan sia-sia, dia sadar jika hati Aiden bukan lagi hanya miliknya seorang. Saqila hanya sedang mencoba membohongi kata hatinya, dia hanya sedang meyakinkan diri jika Aiden masih sangat mencintainya dan hanya pada dirinya. Tapi, nyatanya tidak. Hatinya tetap tahu jika hati suaminya sudah bukan miliknya seorang.
"Terserah, lagian aku ada urusan di luar kota untuk tiga hari ini" Saqila melengos pergi meninggalkan Aiden yang belum selesai berbicara padanya. Aiden langsung mengejar istrinya dan menahan tangannya.
"Kenapa si Sa? Kamu bilang kamu ikhlas menerima semua ini. Tapi kenapa sekarang kamu begini?"
__ADS_1
Saqila menghempaskan tangan Aiden di tangannya. "Ikhlas kamu bilang? Fikir saja Aiden, sejak kapan ada istri yang rela di madu? Aku hanya mencoba ikhlas karena kamu bilang ini hanya sampai Ayra melahirkan. Tapi semakin kesini, aku melihat bagaimana kamu memperhatikan Ayra lebih dari aku"
"Jadi kamu cemburu karena itu?"
"Jelas aku cemburu. Kamu suamiku!" teriak Saqila
"Sa, tenangkan diri kamu. Jangan terus membuat aku semakin pusing" Aiden mengacak rambutnya frustasi.
"Ya, aku akan menenangkan diri. Tapi tolong pegang janji kamu untuk meninggalkan Ayra setelah anak itu lahir"
Saqila pergi ke kamarnya, masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dengan keras. Aiden mengusap wajah kasar dengan semua ini. Meninggalkan Ayra? Dia tidak mau untuk itu, hatinya menolak. Aiden tidak mau meninggalkan wanita yang telah membuatnya senyaman ini.
"Aku tidak bisa meninggalkannya, aku menyayanginya"
Di sisi lain, ada Ayra yang menyandar di pintu kamar yang tertutup. Dia mendengar jelas pertengkaran suami istri itu. Hatinya sesak mendengarnya. Ayra telah menjadi gadis yang merusak rumah tangga orang lain. Ayra telah menghancurkan keharmonisan Aiden dan Saqila. Air matanya menetes dan mengalir di pipinya. Tangannya memegang perutnya dan dia luruh ke lantai.
"Maafkan Bunda Nak, memang sudah seharusnya Bunda pergi meninggalkan kalian. Jangan membenci Bunda ya"
Keputusan sudah Ayra ambil, tinggal menunggu beberapa bulan lagi untuk bayi dalam kandungannya lahir. Biarkan Ayra yang mengalah. Biarkan Ayra yang memberikan kebahagiaan pada keluarga yang sedang retak ini. Ayra tidak mau terus-terusan menjadi sumber masalah antara Aiden dan Saqila. Ayra hanya ingin menjadikan dirinya bermanfaat untuk orang yang telah membantu dirinya dan Ibunya. Jika bukan karena Aiden, mungkin Ibu masih bekerja keras untuk bisa membayar biaya kuliahnya.
"Baik-baik di dalam perut Bunda ya sampai lahir nanti. Maafkan Bunda, ini adalah keputusan yang terbaik. Biarkan Bunda tidak merasa bersalah karena telah menjadi penghacur keharmonisan orang-orang yang telah baik pada Bunda"
Begitulah Ayra mengajak bicara anaknya, semoga anaknya bisa merasakan ketulusan kasih sayangnya. Biarkan dia mengerti jika Bundanya terpaksa memilih jalan ini hanya untuk kebaikan semua orang. Biarkan saja dirinya yang mengalah.
Bersambung
__ADS_1
Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5