Suamiku Dan Suamimu

Suamiku Dan Suamimu
Takdir Tuhan Untuk Kita


__ADS_3

Ayra terdiam saat Saqila tiba-tiba datang dan langsung memeluknya. Tangisan wanita itu pecah di pelukan Ayra. Membuat Ayra bingung harus berbuat apa. Dia hanya mengelus punggung Saqila dengan sedikit canggung. Ayra menatap Alvaro yang ada di belakang Saqila. Tapi penampian Alvaro sedikit berbeda, dia memakai kacamata hari ini. Tapi Alvaro terlihat tidak mengenal Ayra, dia bahkan tidak menyapa Ayra seperti biasanya.


"Maafkan aku Ay, aku sudah melakukan banyak kesalahan padamu. Karena aku Ibu kamu juga meninggal, maafkan aku Ay. Aku memang egois, sangat egois"


Deg..


Mengingat apa yang terjadi pada Ibu, selalu membuat hati Ayra sakit dan terluka. Dia merasa jika pengorbanannya selama ini hanyalah sia-sia. Ayra merasa jika dirinya yang telah menyebabkan Ibunya meninggal dunia. Karena Ibu yang mengetahui tentang pernikahan Ayra dan Aiden, semuanya pasti terlalu mengejutkan untuk Ibu. Ayra merasa gagal menjadi seorang anak, Ibu meninggal dengan perasaan kecewa pada anaknya.


"Sudahlah Nyonya, aku sudah melupakan semua itu. Ibu meninggal bukan karena salah Nyonya, tapi karena memang sudah takdir Tuhan saja"


Saqila melerai pelukannya, dia menatap Ayra dengan mata basahnya. Ayra sangat baik sampai dia masih bisa menerima Saqila dengan lapang. Memaafkan segala keegoisan Saqila selama ini, bahkan sampai menyebabkan Ibu meninggal. Ayra hanya tidak mau menyimpan dendam. Karena disini dia juga bersalah. Tidak mungkin Saqila melakukan semua itu jika tidak ada sebab dan akibatnya.


"Ayo masuk Nyonya, Kak Alvaro"


Saqila sedikit terkekeh mendengar Ayra yang menganggap Alvino adalah Alvaro. Wajah mereka memang sangat mirip. "Ay, ini Alvino bukan Alvaro. Dia saudara kembar Alvaro"


Ayra baru menyadari penampilan mereka yang berbeda. Ayra tersenyum dan mengangguk dengan perasaan tidak enak karena salah memanggil. "Maaf Tuan, saya kira tadi Kak Alvaro"


Alvino tersenyum, dia sedikit membenarkan posisi kaca matanya. "Tidak papa, memang sering yang salah memanggil seperti itu. Apalagi kamu adalah orang baru di lingkungan kami. Salam kenal Ayra, aku Alvino. Kamu bisa panggil aku Vino" Alvino mengulurkan tangannya pada Ayra, gadis itu langsung menyambutnya dengan sedikit canggung.


"Iya Tuan Vino, saya Ayra"


"Tidak perlu formal seperti itu Ay, panggil saya Vino saja. Atau sama dengan kamu memanggil Alvaro"


Saqila merangkul bahu Ayra dengan hangat. "Iya Ay, kamu juga bisa merubah panggilanmu padaku. Sekarang kita adalah keluarga"

__ADS_1


Ayra mengangguk, meski dirinya masih sedikit canggung. Mau bagaimana pun bergaul dengan dunia suaminya adalah timbal balik dari kehidupannya. Bagaimana teman-teman suaminya yang jelas bukan hanya sebatas orang biasa sepertinya. Mulai dari Rega, Alvaro dan sekarang Alvino.


"I-iya K-kak"


Akhirnya panggilan itu terasa lebih baik bagi Ayra. Meski dia masih sangat canggung memanggil Saqila dengan sebutan itu. Karena panggilan Nyonya sudah terlalu biasa Ayra ucapkan saat memanggil Saqila.


"Silahkan duduk Kak"


Mereka pun duduk di sofa, Ayra telah membuatkan minuman da membawa beberapa cemilan yang ada di dapur. Ayra duduk di sofa depan mereka, dia hanya menunduk karena masih terlalu canggung untuk berhadapan dengan mereka berdua. Ayra melirik ke arah pintu kamar, berharap suaminya bangun dan segera keluar dari kamar agar Ayra tidak terlalu canggung menghadapi Saqila dan Alvino sendirian.


"Tidak usah terlalu sungkan Ay, kita adalah keluarga"


"I-iya Nyo...Kak" Ayra masih saja sulit untuk membiasakan memanggil Saqila dengan sebutan 'Kak'.


"Ay, maaf ya jika selama ini aku telah menyakitimu. Melukai hatimu dengan segala keegoisan aku"


"Semuanya sudah takdir Ay, aku sadar jika takdirku memang Vino..." Saqila menoleh pada Alvino dengan tersenyum, lalu dia kembali menoleh pada Ayra. "...Aiden hanya tempat persinggahan sesaat saja untukku. Karena cinta yang tulus tidak akan pernah mendua apapun alasannya. Dan aku menemukan itu pada Alvino, selama bertahun-tahun dia rela bertahan sendiri hanya karena dia sudah mencintaiku sejak dulu..."


"Jadi, Ay.. Jangan pernah menyalahkan dirimu lagi. Semua ini adalah takdir untuk kita semua. Aku sudah ikhlas dengan semua yang telah terjadi dalam hidupku. Yang terpenting, aku sudah menemukan pria yang benar-benar menerima segala kekuranganku" Saqila menggenggam tangan Alvino dengan tersenyum bahagia pada pria itu. Dia selalu bahagia saat bersama Alvino, dan Saqila sadar jika Alvino adalah kebahagiaannya.


Ayra menatap bahagianya Saqila saat menatap pria yang duduk di sampingnya. Ayra bisa melihat bagaimana Alvino juga menatap penuh cinta pada Saqila. Keduanya memiliki cinta yang tulus.


"Oh ya Ay.." Saqila menoleh ke arah Ayra dengan senyuman cerianya. "...Mama sama Papa aku ingin bertemu denganmu. Nanti kapan-kapan kita makan malam bersama ya. Bersama Mami dan Papi Aiden juga"


Ayra hanya mengangguk dengan tersenyum.

__ADS_1


Pada akhirnya semuanya terjadi sesuai takdir Tuhan. Ayra maupun Saqila tidak bisa menentukan jalan hidup mereka. Meski ini memang jalan hidup yang mereka pilih, tapi tetap takdir yang menentukannya.


Saqila dan Alvino pami pada Ayra setelah semua yang ingin Saqila katakan terucap dengan lega dari bibirnya. Ayra membereskan bekas minum tamunya itu, dan pada saat itu pintu kamar terbuka. Aiden keluar dari sana dengan wajah khas bangun tidur. Sepertinya dia memang benar-benar kelelahan sampai tidur sangat lelap.


"Sayang, ada siapa barusan?" Tanya Aiden saat melihat gelas dan beberapa cemilan yang ada di atas meja.


Ayra membawa gelas kotor ke arah dapur dan menaruhnya di dalam wastaffel. Llau dia kembali lagi ke ruang tengah untuk menemui suaminya. "Barusan ada Nyonya Saqila"


Deg..


Aiden langsung menoleh pada istrinya, tatapannya menajam. "Kenapa kau tidak membangunkan aku! Apa dia bicara sesuatu padamu?"


Ayra duduk di sofa depan suaminya, dia mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan suaminya itu.


"Bicara apa? Apa yang dia bicarakan padamu" Aiden sudah panik sendiri, takut jika Saqila akan berbicara yang tidak-tidak pada Ayra. Seperti yang pernah dia lakukan saat masih bersama Aiden.


"Nyonya hanya minta maaf atas semua yang terjadi. Dia juga bilang jika kamu hanya menjadi persinggahan sesaat baginya. Nyonya sudah menemukan cinta sejatinya, dia terlihat sangat bahagia"


Aiden menghela nafas lega, dia tersenyum mendengar cerita Ayra. Tentu Aiden ikut lega jika Saqila bisa menemukan kebahagiaannya sendiri. Biarkan mereka bahagia dengan pasangan masing-masing mulai saat ini.


"Sini, kenapa malah duduk disitu" Aiden melambaikan tangannya agar Ayra pindah duduk menjadi di sampingnya. Ayra hanya menurut saja, dia duduk di samping suaminya dan memeluknya. Menyandarkan kepalanya di dada suaminya.


"Ohh ya, kata Nyonya dia ingin mengundang kita makan malam bersama orang tuanya dan Mami, Papi juga"


"Iya aku tahu, nanti kita atur waktu untuk itu"

__ADS_1


Bersambung


Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5


__ADS_2