
Rasanya terlalu banyak kenangan di dalam apartemen ini. Ayra mengelus perutnya, menunjukan pada anak di dalam kandungannya jika Ibunya telah merasa tenang sekarang. Nak, Bunda sudah bisa tinggal disini. Kita akan hidup tenang ya mulai saat ini.
"Sayang..." Seseorang yang memeluknya dari belakang, membuat Ayra sedikit terkejut. "...Ayo istirahat di kamar"
Ayra menghela nafas, lagi-lagi Aiden masih menganggap dirinya sebagai orang sakit. "Aku sudah sembuh, kenapa masih harus tinggal di kamar"
"No, badan kamu masih terasa anget. Itu artinya masih belum sembuh sebenarnya"
"Ya kalau aku dingin, berarti mati dong"
"Sayang ihh.. Jangan ngomong kayak gitu, kamu harus sehat panjang umur biar kita bisa terus bersama"
Itu tidak akan pernah terjadi. Bersama kita hanya akan sampai anak ini lahir.
"Barang-barang ku gimana?"
"Sebentar lagi akan di antar kesini, sekarang ayo istirahat dulu di kamar"
"Sayang... " Ayra merengek saat Adien langsung menggendongnya dan membawanya ke kamar.
"Apa? Orang sakit harus istirahat" Aiden mencium kening Ayra yang berada di gendongannya. "...Nurut saja sama suami"
Ayra hanya bisa cemberut, suaminya benar-benar sangat berlebihan. Padahal Ayra sudah merasa lebih baik. Tapi setiap Aiden memperlakukannya seperti ini, selalu ada debaran berbeda di hatinya. Ayra senang, Ayra bahagia. Tapi, lagi-lagi dia harus menahan perasaannya untuk tidak jatuh lagi pada hati Aiden. Cintanya harus dia tutup dan hilangkan. Karena sejatinya dirinya tetap harus kembali pada kenyataan yang akan memisahkan dirinya dengan Aiden juga bayinya. Ayra harus ikhlas dan menerima jalan hidup yang telah dia pilih ini.
Aiden menidurkan Ayra di atas tempat tidur. Mencium keningnya, lalu Aiden ikut naik ke atas tempat tidur. Memeluk istrinya dengan hangat. "Tidur ya, jangan banyak fikiran apapun. Aku temenin kamu"
Ayra berbalik menjadi menghadap Aiden. Mengukir bentuk wajah suaminya dengan jarinya. Hidung mancung, bulu mata yang lentik. Benar-benar menggambarkan pria sempurna. Aiden memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan jemari Ayra di wajahnya.
"Sayang, kenapa tidak pergi kerja?"
Sudah dua hari Aiden tidak pergi ke kantor. Sejak Ayra sakit, dia juga ikut tidak pergi bekerja. Aiden meraih jari Ayra yang berada di hidungnya. Menggigitnya pelan. Selalu ada bahagia yang terasa di hatinya saat Aiden mendengar Ayra memanggilnya seperti itu. "Karena istriku sakit, jadi aku gak akan masuk ke kantor"
"Apasi, aku udah bisa kuliah padahal. Kamu saja yang selalu bilang aku sakit"
Aiden mengecup keningi istrinya. "Nanti saja hari senin, sekarang kamu istirahat saja"
"Aku gak ngantuk, masa harus maksain tidur. Aku mau ke luar saja"
__ADS_1
"Yaudah ayo aku temani, mau makan buah?"
Ayra bangun dan menurunkan kedua kakinya ke atas lantai kamar. "Boleh, aku mau eskrim. Ada gak ya"
Aiden mengelus kepala istrinya. "Aku pesenin aja ya, jangan dulu keluar"
"Kenapa si, padahal aku mau jalan-jalan"
"Sayang jangan mulai deh, lagi sakit"
Ayra cemberut, suaminya memang selalu berlebihan. Tapi, Ayra merasa inilah cara Aiden memperhatikan dirinya. Berakhir dengan duduk di sofa bed dengan dua cup eskrim ukuran sedang. Ayra terlihat sangat senang bisa memakan eskrim di siang hari seperti ini. Rasanya hatinya lebih tenang.
Dering telepon di atas meja di depan mereka membuat serempak menoleh ke arah ponsel yang berdering.
"Ponsel kamu"
Aiden mengangguk, lalu dia segera mengangkat telepon itu. Mendengarkan penelepon yang berbicara duluan pada Aiden. "Tunggu sebentar"
"Sayang, yang nganter barang kamu sudah datang"
"Ohh, yaudah aku bukain pintunya"
Aiden berlalu untuk membukakan pintu apartemen. Beberapa saat kemudian dua orang pria masuk dengan membawa kardus besar dan tas. Ayra juga merasa bingung karena dirinya merasa barangnya tidak sebanyak itu. Tapi kenapa sampai disini menjadi banyak. Ingin bertanya tapi dia tunda dulu sampai dua orang itu pergi.
Salah satu dari mereka mendongak dan menatap Ayra begitupun dengan Ayra. Deg.. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat orang itu. Merasa tidak menyangka akan bertemu dengan orang yang sempat membuat hatinya terluka.
"Ayra..." Pria itu langsung mendekati Ayra dan tiba-tiba berlutut di depannya. Memegang tangan Ayra meski gadis itu mencoba menepisnya. "...Maafkan aku Ay, kamu ngapain di apartemen Tuan Aiden? Ay, kamu tidak punya masalah dengannya 'kan?"
"Lepasin Kak, aku takut suamiku marah"
Pria itu langsung menatap Ayra dengan terkejut. "Suami? Apa kamu sudah menikah? Jangan berbohong Ay, aku tidak percaya dengan ucapanmu"
"Kak lepasin tanganku" Ayra menarik paksa tangan yang berada di genggaman pria itu ketika dia melihat Aiden yang berjalan ke arah mereka. Wajah suaminya sudah sedingin es.
"Lepaskan tangan istriku!"
Pria itu langsung jatuh terduduk dengan sangat terkejut mendengar suara Aiden yang penuh dengan penekanan. "Tu-Tuan"
__ADS_1
Pria itu menatap Ayra dan Aiden secara bergantian. Merasa tidak percaya jika Ayra adalah istri atasannya yang sangat dingin. "Ayra, ap..."
"Maaf Kak, tapi aku memang sudah menikah. Lupakan saja semua yang pernah terjadi di antara kita. Sebaiknya Kakak pergi saja sekarang"
Aiden duduk di samping Ayra, merangkul bahu Ayra sebagai tanda jika gadis itu adalah miliknya. "Kau siapa?"
"Sa-saya Ridwan Tuan, saya bekerja di bagian marketing. Tuan Rega yang menyuruh saya mengantarkan barang-barang Tuan ke sini"
"Ohh kau karyawanku ternyata. Ada hububgan apa dengan istriku?" bertanya dengan nada yang semakin dingin menusuk ke tulang.
Ridwan menunduk, tidak akan pernah berani dirinya berhadapan dengan Aiden, apalagi melawannya. "Ti-tidak ada Tuan"
Aiden beralih menatap istrinya, saat di rasa jawaban pria di depannya tidak bisa di percaya. "Siapa dia sayang?"
Ay, kenapa kamu bisa terlibat dengan Tuan Aiden. Apa kamu mempunyai hutang padanya. Ridwan masih bertanya-tanya dalam hatinya.
"Bukan siapa-siapa"
"Siapa dia?!" Pertanyaan Aiden mulai meninggi. Dia tahu jika istrinya sedang berbohong. Apalagi pria itu yang Aiden yakin pasti ada hal yang terjadi di antara mereka.
Kenapa dia peka sekali si.
"Lebih baik nanti kita bicara berdua saja, sekarang biarkan mereka pergi dulu" Tidak mungkin rasanya Ayra harus menceritakan masalah rumah tangganya di depan orang lain.
"Baiklah, kalian boleh pergi"
Ridwan langsung berdiri dan mengangguk hormat. Begitupun dengan temannya yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari sana. Dia sudah sangat bergetar melihat tatapan dingin menusuk dari Aiden. Dia takut akan terbawa-bawa.
"Kau ada masalah apa dengan Tuan Aiden? Jangan memancing masalah dengannya" sampai di luar apartemen dia langsung menyeroboti Ridwan dengan pertanyaannya.
"Aku juga tidak tahu kalau Ayra adalah istrinya Tuan Aiden"
"Apa? istrinya? Bukannya istri Tuan Aiden adalah Nyonya Saqila yang sering datang ke perusahaan ya?"
"Makanya kamu saja merasa aneh, apalagi aku"
Pria teman Ridwan itu merangkul bahu Ridwan dan membawanya masuk ke dalam lift. "Sudah jangan lagi penasaran apalagi membahasnya. Jangan cari masalah"
__ADS_1
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5