
"Aku gak bisa makan, bibir aku sakit banget kalau dibuka"
Aiden menghela nafas pelan ketika istrinya yang bahkan kesulitan membuka mulutnya ketika dia menyuapinya makan. Wajahnya masih terlihat lebam dan bengkak dengan sudut bibir yang terluka.
"Sayang coba sedikit saja ya, ini sudah dibuatkan bubur oleh Mami untuk kamu. Lagian kamu belum banget makan dari kemarin. Pelan-pelan saja ya makannya"
Dengan lembut Aiden terus membujuk istrinya agar mau makan. Meski dengan kesabaran yang sangat luar bisa, akhirnya Ayra hampir menghabiskan semangkuk bubur itu.
"Sudah Sayang, aku kenyang"
"Yaudah iya, yang penting ada makanan yang masuk ke perut kamu. Sekarang kamu minum obatnya agar pipi kamu itu segera sembuh"
Aiden memberikan obat pereda nyeri pada Ayra. Wajah istrinya saat ini bena-benar berbeda sekali dari wajah Ayra biasanya. Jika mengingat kenapa wajah istrinya bisa sampai seperti ini.
"Aku sekarang akan pergi dulu bersama Rega untuk memberikan laporan pada polisi"
"Emm. Apa hukumannya akan berat ya? Kira-kira akan berapa lama?"
Aiden langsung menatap istrinya dengan tidak suka. Merasa jika Ayra sedang memberikan perhatian lebih pada pria yang jelas sudah membuatnya terluka sampai separah ini.
"Kenapa? Apa kau ingin membelanya?!"
Ayra menggeleng pelan, dia beringsut pelan ke arah suaminya dan memeluknya. Menyandarkan kepalanya di dada Aiden. "Tidak. Aku hanya ingin tahu saja"
"Awas saja jika kamu masih membela pria yang sudah membuat kamu terluka seperti ini"
Ayra mengangguk, dia tidak berani menjawab lagi. Tahu jika suaminya sedang sangat marah padanya. Ayra hanya memeluk AIden dengan erat.
"Sayang, aku belum bertemu Alerio dari kemarin.Bagaimana keadaannya?"
__ADS_1
"Dia sedang bersama Mbak, Ale terus menanyakan kamu. Tapi dia akan terkejut melihat wajah kamu yang masih seperti ini"
Ayra mengangguk mengerti, anaknya pasti takut melihat wajah Ayra yang saat ini sedang tidak baik-baik saja.
"Yaudah akupergi dulu, kamu harus banyak istirahat" Aiden mengecup puncak kepala istrinya sebelum dia berdiri dan pergi dari kamar itu.
Ayra hanya diam selepas kepergian suaminya itu. Memikirkan kejadian kemarin yang masih terasa seperti mimpi bagi Ayra. Hah.. Ayra menghembuskan nafas dengan berat.
Kira-kira Kak Rezend akan diberi hukuman berapa lama ya?
Ayra tidak bisa mengatakan pada suaminya tentang kegelisahannya saat ini. Ayra merasa jika Rezend telah menyesali perbuatannya ketika kemarin dia mengatakan jika dirinya telah menyerah untuk mendapatkan Ayra. Jelas Ayra melihat penyesalan yang mendalam di sorot mata Rezend.
Ayra tahu jika Rezend hanya termakan obsesi dan kemarahannya saja karena merasa jika Ayra telah mengkhianati perjuangannya selama ini. Padahal pada kenyataannya, Rezend tidak pernah memiliki Ayra.
######
Rezend telah ditetapkan sebagai tahanan dan akan menjalani sidang beberapa hari lagi. Pria itu terlihat pasrah saja, Wajahnya terlihat datar dan tidak memperlihatkan kesedihan atau apapun ketika sebentar lagi dia akan menjadi seorang tahanan yang entah berapa lama dia akan berada di dalam jeruji besi ini. Tidak ada lagi yang bisa Rezend harapkan, gadis yang sangat dia cintai sudah menjadi milik orang lain dan tidak akan bisa dia miliki lagi.
Aiden mengelus kepalanya dan memberi kecupan disana. Menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya. "Tidurlah, aku akan selalu menjaga kamu dan akan berusaha mencarikan keadilan atas kejadian yang menimpa kamu ini"
Aiden berlalu ke ruang ganti untuk mandi dan merilekskan pikirannya. Aiden berendam didalam bak mandi dengan lilin aromaterapi yang menyala disetiap sudut ruangan. Membuat tubuh dan fikiran Aiden sedikit rileks.
Aiden menghembuskan nafas kasar dengan kepalanya menyandar di bak mandi. "Aku tidak pernah menyangka jika ternyata istriku ini sudah banyak yang mengincar sejak dai kuliah, bahkan mungkin sejak sekolah"
Aiden berasa bersyukur karena dirinya yang telah mendapatkan Ayra untuk menjadi pendamping hidupnya. Mengingat jika banyak pria yang menginginkan Ayra menjadi miliknya diluar sana.
Aiden selesai mandi dan dia segera keluar dari dalam kamar mandi. Tersenyum ketika melihat istrinya yang sedang menyiapkan pakaian untuknya.
"Sayang aku bisa sendiri menyiapkan semuanya. Kamu istirahat saja"
__ADS_1
Ayra berjalan ke arah suaminya dengan pakaian ganti untuk suaminya yang sudah berada di tangannya itu. "Tidak papa, lagian aku juga bosan hanya tiduran terus seharian ini"
Aiden tersenyum, dia mengelus pelan ppi Ayra yang masih terlihat bengkak namun sudah tidak separah kemarin. "Ini sudah membaik sekarang"
Ayra mengangguk, dia memegang tangan Aiden yang berada di ppinya. Memberikan kecupan di telapak tangan suaminya itu dengan lembut. "Sudah lebih baik, semoga saja besok akan hilang bengkaknya"
Aiden mengangguk, dia mengambil pakaian yang berada di tangan Ayra dan mulai memakainya di depan istrinya ini. "Sayang, mungkin lusa kita harus datang ke kantor polisi. Sidang penjatuhan hukuman untuk pria itu akan dilakukan lusa. Dan kita juga harus haadir"
Ayra terdiam beberapa saat,sebenarnya dia tidak menginginkan jika Rezend mungkin akan di hukum cukup lama. Mengingat kebaikan pria itu padanya di masa lalu. Tapi memang apa yang telah dilakukan Rezend sudah sangat keterlaluan. Jadi dia memang harus diberikan hukuman yang setimpal untuk sekedar membuatnya jera, agar dia tidak akan berani melakukan hal seperti ini lagi.
"Baiklah, aku ikut kamu saja"
Aiden tersenyum mendengar itu, dia selesai memakai baju dan mengajak istrinya untuk keluar dari ruang ganti. Aiden duduk di atas sofa dengan Ayra yang berada diatas pangkuannya. Memeluk tubuh istrinya dengan kepala Aiden yang menyandar di dada Ayra. Posisi yang selalu membuat dia nyaman.
"Sayang, aku benar-benar masih trauma dengan kejadian kemarin. Sepertinya aku harus mecarikan seseorang yang bisa menemanimu dan menjagamu setiap saat"
Ayra terdiam dengan tangannya yang memainkan rambut suaminya itu. Mencarikan orang yang bisa menjaga dan menemaninya setiap saat? Apa yang dimaksud oleh Aiden adalah seorang bodyguard?
"Sayang, aku baik-baik saja dan aku yakin jika kejadian kemarin tidak akan terulang lagi"
Aiden mendongak dan menatap istrinya dengan lekat. "Sayang, aku tidak akan merasa tenang jika kamu terus bepergian sendiri dan hanya dengan seorang supir"
Mendengar kata supir, Ayra baru ingat dengan pak supir yang mengantarnya saat hari itu. "Sayang, bagaimana keadaan Pak Supir?"
"Dia baik-baik saja dan sudah pulang dari rumah sakit hari ini. Tapi dia langsung mengundurkan diri karena merasa trauma dengan kejadian kemarin"
"Ya ampun, kasihan sekali dia. Pasti dia sangat ketakutan"
"Ya begitulah, makanya aku harus mencari penggantinya sekarang"
__ADS_1
Bersambung