
Saqila menatap suaminya dengan bingung saat ada Ayra yang duduk di kursi depan, tepat di samping suaminya yang mengemudi. Ayra sudah bersiap untuk turun, namun tangannya di tahan oleh Aiden. "Diam saja, jangan naik turun mobil terus. Kasihan bayi kita, kan kata dokter juga tidak boleh kecapean"
Ayra menunduk, merasa tidak enak pada Saqila yang terlihat sekali wajah tidak sukanya. Saqila menghela nafas, dia mencoba untuk tersenyum pada Ayra dan suaminya. "Yaudah, gak papa aku di belakang aja"
Saqila membuka pintu bagian belakang mobil dan naik kesana. Menatap dua orang yang duduk di kursi depan dengan tatapan yang sulit di artikan. Semuanya tidak akan bisa sesuai dengan keinginannya, Saqila bukan Tuhan yang bisa memutar balikan hati manusia. Dulu, Aiden mungkin hanya melihatnya dan mencintainya. Tapi, sekarang dia memiliki wanita lain dalam hidupnya yang harus dia jaga dan lindungi.
"Besok aku bawa mobil sendiri aja deh Honey, kayaknya lebih enak bawa mobil sendiri"
Ayra tahu maksud dan arah tujuan Saqila berbicara seperti itu. Itu pasti karena dia merasa terganggu dengan kehadirannya. Saqila tidak bisa melihat Ayra dan Aiden berdua. Karena mau bagaimana pun dia tetap istri yang terhianati oleh suaminya. Meskipun bibirnya berkata menerima, tapi hatinya tetap menolak.
"Yaudah, kan biasanya juga bawa mobil sendiri"
"Iya"
Suara ketus Saqila tentu disadari oleh Aiden maupun Ayra. Aiden tahu jika istrinya sedang merajuk. Memang begini sifat Saqila jika dirinya merasa terkalahkan. Tapi, Aiden juga merasa ini hanyalah hal sepele biasa. Hanya karena dia tidak duduk di kursi penumpang di samping Aiden, kenapa harus sampai seperti ini.
Sampai di depan rumah, Saqila langsung keluar dengan membanting pintu mobil dengan keras sampai membuat Ayra terkejut. Dia semakin merasa bersalah karena telah membuat Saqila kesal. Dia menatap Aiden yang menoleh ke arahnya dan tersenyum. Aiden membantu Ayra melepaskan sabuk pengaman.
"Tidak papa, Saqila memang begitu kalau sedang bad mood"
"Tapi Tuan saya merasa sangat tidak enak pada Nyonya"
Aiden menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil. "Ay, boleh gak kamu mulai memanggil aku dengan tidak formal seperti itu"
Ayra menatap suaminya dengan bingung, "Maksud Tuan, saya harus memanggil apa?"
"Panggil senyaman kamu tapi tidak dengan Tuan, kita suami istri. Kalau kamu terus memanggilku seperti itu, maka akan banyak mengira jika kita hanya atasan dan bawahan"
Apa Tuan Aiden mulai membuka hatinya untukku? Kenapa dia ingin aku merubah panggilannya.
"Saya bingung harus panggil anda apa" Karena panggilan Tuan sudah sangat cocok untuk dirinya yang sangat tegas dan berwibawa.
"Sayang, jika Saqila memanggilku Honey. Maka kamu bisa memanggilku Sayang"
__ADS_1
Deg..
Sayang? Apa itu tidak berlebihan untuk aku yang hanya sebatas istri kedua saja.
"Dan kamu mulai berbicara biasa saja denganku, jangan terus memanggil saya anda seperti itu. Jujur aku merasa tidak nyaman di panggil seperti itu oleh istriku sendiri" tambah Aiden lagi
"Apa tidak berlebihan? Aku 'kan hanya istri bayaran"
Deg..
Aiden langsung menatap Ayra dengan tidak suka. Hatinya terasa sakit saat mendengar ucapan itu dari Ayra. Padahal dulu dia jelas ingat jika dia pernah mengatakan hal yang sama. Aiden mulai menyadari jika perasaannya pada Ayra mulai tumbuh lebih selain rasa kasihan.
"Apa maksudmu Ay? Aku tidak suka kau mendengar kau mengucapkan itu. Padahal permintaanku sesimpel itu, tapi kau malah membahas hal tidak jelas itu"
Aiden langsung turun dari mobil tanpa menghiraukan Ayra yang kebingungan dengannya. Memangnya apa yang salah dari ucapan Ayra? Memang itu yang pernah Aiden ucapkan padanya dan dirinya sadar jika dia hanyala sebatas istri bayaran.
Ayra segera menyusul suaminya ke dalam rumah, Aiden terlihat menaiki tangga. Ayra segera mengejarnya. "Tuan... tunggu dulu Tuan, kenapa Tuan marah?"
"Tuan"
Ayra masuk ke dalam kamar, dia mendekati Aiden yang sedang duduk di pinggir tempat tidur. Ayra berlutut di lantai, tepat di depan Aiden. Tangannya menggenggam tangan suaminya yang berada di atas pangkuannya. Urat-urat tangan Aiden terlihat sangat jelas.
"Kenapa marah? Saya hanya bercanda tadi, kenapa Tuan semarah ini?" Tidak, aku tidak sedang bercanda. Aku memang tahu posisiku jika aku hanyalah istri bayaran.
"Kenapa masih memanggilku seperti itu?" Aiden melengos, tidak ingin melihat Ayra yang membujuknya. Telinganya sudah memerah. Untuk pertama kalinya ada seorang perempuan yang membujuknya seperti ini saat dia sedang marah. Biasanya jika Aiden sedang marah, justru Saqila malah balik marah dan mendiamkannya. Mengacuhkannya hingga akhirnya Aiden yang mengalah dan minta maaf duluan.
Ayra tersenyum, dia duduk di lantai dan menaruh kepalanya di pangkuan Aiden dengan tangannya yang masih saling menggenggam. "Iya, maaf kalau kamu tidak suka dengan panggilan ku selama ini. Baiklah, aku akan memanggil Sayang mulai saat ini"
Aiden tersenyum, akhirnya dia mendengar panggilan itu dari Ayra dan dia bisa mendengar Ayra yang tidak lagi berbicara formal padanya. "Aku senang mendengarnya, jangan membuatku marah lagi Ay. Aku juga tidak suka mendengar ucapanmu tadi"
"Iya Sayang, iya"
Ada telinga yang memerah karena merasa senang dan malu mendengar panggilan Ayra. "Sekarang kamu mandi dulu sana, ngapain juga duduk di lantai, dingin Sayang"
__ADS_1
Deg..
Ayra langsung mendongak mendengar ucapan Aiden. Apa dia yang terlalu berkhayal sampai salah dengar. Aiden memanggilnya Sayang, benarkah? Apa telinganya tidak salah dengar?
Aiden menunduk dan memberikan kecupan di bibir Ayra membuat gadis itu tersadar dari keterkejutannya. "Apa? Wajahnya merah begitu, memangnya salah ya kalau aku memanggilmu Sayang? Kamu adalah istriku"
Ayra memalingkan wajahnya yang semakin terasa panas. Dia sangat malu dengan panggilan itu, Ayra tidak menyangka jika akan mendengar panggilan itu padanya. Seolah mimpi yang terwujud menjadi nyata.
"Udah ahh, aku mau mandi dulu ya" Ayra berdiri dan segera berlalu ke ruang ganti. Jantungnya sudah sangat berdebar dan tidak bisa dia kendalikan.
Di tempat tidur, Aiden merebahkan tubuhnya dengan senyum-senyum tidak jelas. Menatap langit-langit kamar dengan binar bahagia.
Sayang. Dia memanggilku Sayang, kenapa hatiku bisa sesenang ini.
Sayang..
Sayang...
Sayang..
Panggilan pertama Ayra yang memanggilnya Sayang, terus terngiang di telinga Aiden. Dia merasakan sangat bahagia hanya dengan mendengar panggilan itu yang di sebut dari bibir Ayra untuknya.
Tuhan apa yang telah terjadi padaku? Hatiku bisa sesenang ini hanya dengan mendengar panggilan Sayang darinya.
Aiden tidak bisa berhenti untuk tidak tersenyum. Entahlah dia masih tidak tahu kenapa tidak bisa mengendalikan perasaan senang ini.
Ayra... Sayang..
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5.
Romantis dulu sebelum konflik utama haha..
__ADS_1