Suamiku Dan Suamimu

Suamiku Dan Suamimu
S2 #Semuanya Terselesaikan#


__ADS_3

Pagi ini Ayra dan Aiden sudah berada di dalam mobil untuk menghadiri persidangan Rezend. Sebenarnya Ayra tidak terlalu ingin ikut, tapi suaminya yang terus memaksanya untuk ikut membuat Ayra mau tidak mau harus ikut.


Ketika Ayra masuk ke dalam ruangan sidang dia melihat cukup banyak wartawan disana. Ada juga beberapa orang yang memang sengaja menghadiri sidang ini. Mungkin dari pihak kerabat Rezend.


Aiden selalu menggenggam tangan Ayra selama sidang berlangsung. Seolah menunjukan pada banyak orang jika Ayra adalah miliknya seorang. Karena selama ini Ayra sangat jarang sekali muncul di berita-berita karena Aiden yang selalu membatasi paparazi agar tidak menangkap terlalu banyak wajah Ayra dan kehidupan yang dijalaninya selama ini.


Ketukan palu terdengar ketika Hakim telah menjatuhkan hukuman 5 tahun penjara untuk Rezend. Ayra terdiam menatap Rezend yang seketika menunduk pasrah. Baju tahanan sudah melekat di tubuhnya itu.


Aiden dan Ayra sengaja menghampiri Rezend sebelum dia di bawa oleh polisi ke sel tahanan. Ayra tersenyum tipis pada Rezend yang terlihat begitu kacau.


"Jalani hukuman ini dan semoga Kakak bisa menjalani hidup yang lebih baik lagi setelah bebas nanti"


"Iya Ay, terima kasih karena kamu tidak membenciku sama sekali"


"Iya Kak"


"Sayang ayo pergi" Aiden langsung membawa Arya keluar dari ruang sidang itu. Dia merasa jengah melihat istrinya yang berbicara begitu lembut dan halus pada pria yang telah melukainya dan hampir memisahkan Ayra dan Aiden.


Ketika mereka telah sampai di parkiran,  segerombolan wartawan datang menghampiri mereka dan menanyakan tentang kasus yang tengah terjadi diantara keluarga mereka dan Rizend.


"Apa benar jika Tuan Rizend melakukan itu karena dia menyukai Nona Ayra sejak lama?"


Ayra yang tidak biasa dengan situasi seperti ini hanya diam di balik tubuh suaminya. Dia tidak akan bisa menjawab dari pertanyaan para wartawan itu.


"Maaf tolong jangan mengganggu istri saya, dia masih shock atas kejadian kearin. Jadi tolong jangan membuat istriku kembali mengingat kejadian itu. Mohon pengertiannya"


Akhirnya Aiden bisa membungkam mulut para wartawan yang terus menanyakan hal tentang itu. Ayra hanya menunduk ketika Aiden menggandeng tangannya untuk meninggalkan para wartawan itu. Dan akhirnya mereka bisa masuk ke dalam mobil dan lepas dari kejaran para wartawan.


"Sayang, kamu tidak papa 'kan?"


Ayra menggeleng pelan, dia memang tidak kenapa-napa. Hanya saja dia merasa kaget dan belum terbiasa dengan dunia Aiden yang setiap kehidupannya harus di siarkan di televisi. Mungkin karena Aiden adalah mantan suaminya Saqila yang juga begitu terkenal karena produk scincare nya selalu di pakai banyak artis.


"Aku cuma gak biasa saja menghadapi wartawan seperti tadi"


Aiden mengelus kepala Ayra dengan penuh kasih sayang. "Kita mau mampir dulu makan atau langsung pulang?"

__ADS_1


"Emangnya kamu tidak akan ke kantor hari ini?"


"Ke kantor, aku ada rapat dengan para investor Pabrik yang masih belum terselesaikan tentang kerugian yang harus ditanggung.Tapi pihak perusahaan Rezend memberikan kompensasi atas kerugian yang dialami kami semua"


"Yaudah kalau gitu kita langsung pulang saja, lagian aku juga lagi males kemana-mana lagi"


"Baikah"


######


Malam ini Aiden pulang ke rumah dengan wajah lelah. Namun ada senyuman tipis ketika dia mengingat jika dirinya telah mampu menyelesaikan semua masalah yang ada.


"Loh ada banyak tamu ternyata"


Di  ruang tengah terasa ramai ketika ada Saqila dan kedua orang tuanya. Kedua orang tua Saqila dan Ayra ini sengaja datang sebelum mereka akan kembali ke negara mereka. Melihat keadaan Ayra setelah mengalami penculikan itu.


"Bagaimana Aiden? Apa semuanya sudah terselesaikan?"


Aiden duduk di samping istrinya diatas karpet, mencium puncak kepala Ayra dengan lembut. "Semuanya terselesaikan, semua investor mau menerima kerugian yang ada dan mereka juga siap memberikan dana tambahan ketika kita akan mendirikan kembali Pabrik itu. Namun masih belum ada kepastian untuk itu"


Akhirnya semuanya benar-benar terselesaikan. Aiden mulai merasa tenang dan bisa menjalani kehidupannya lebih tenang lagi setelah banyaknya masalah yang menimpa dirinya.Berharap jika semuanya akan terus berjalan baik selama dia bersama Ayra.


Aiden memeluk istrinya diatas tempat tidur, mengecup beberapa kali puncak kepala istrinya. "Sayang, ayo kita jadikan bulan madu kita kali ini"


Ayra terkekeh mendengar ucapan Aiden.  Sampai saat ini dia masih memikirkan tentang rencana bulan madu yang belum juga terlaksana hingga hari ini. 


"Kamu masih ingin bulan madu?"


"Tentu saja, percuma dong kamu lepas kontrasepsi tapi kita tidak jadi bulan madu"


Ayra hanya tertawa dengan menggelengkan kepalanya, heran dengan suaminya yang sangat ingin melakukan bulan madu diusia pernikahan mereka yang bukan lagi pengantin baru.


"Memangnya kalau kita bulan madu, mau kemana?"


"Terserah kamu, maunya kamu kemana?"

__ADS_1


Ayra mendongak dan menatap suaminya, lalu dia mengecup bibir suaminya dengan lembut. "Bebas kemana saja, yang penting bersama dengan kamu"


Aiden tersenyum senang mendengar itu, merasa jika semakin hari istrinya semakin berani melakukan hal-hal yang seperti ini.


"Aku akan menyiapkan semuanya untuk acara bulan madu kita. Pokoknya kamu hanya perlu menyiapkan diri kamu saja"


Ayra terdiam beberapa saat, dia merasa sudah pasti akan sangat lelah dan bekerja keras untuk menghadapi suaminya saat bulan madu nantinya.


Ya Tuhan, kenapa aku sudah merasa jika bulan madu yang direncanakan oleh Mas Aiden hanya untuk kepuasan diatas ranjang.


"Kenapa kamu? Apa kamu takut akan kelelahan nantinya?" kekeh Aiden diakhir kalimatnya ketika dia melihat wajah istrinya yang ketakutan itu.


"Ti-tidak, kenapa aku harus takut. Kan kita mau bulan madu, yang artinya jalan-jalan. Kenapa aku harus takut segala"


"Sayang, tentu lebih banyak waktu di dalam kamar daripada diluar"


Hah..


Ayra langsung menatap wajah suaminya yang tertawa bahagia itu. Dia mencebikan bibirnya dengan memukul tangan suaminya itu.


"Kamu ini aneh-aneh aja deh, kita bulan madu untuk jalan-jalan"


Aiden hanya tertawa sambil memeluk istrinya dengan erat. "Pokoknya adiknya Alerio harus sudah ada di dalam perut kamu kalau nanti kita pulang bulan madu"


Ayra hanya menggeleng pelan dengan sikap suaminya ini. Entah kenapa Aiden begitu bersemangat untuk mempunyai anak lagi. Padahal Alerio saja masih terlalu kecil. Tapi Aiden benar-benar menginginkan anak kedua dari Ayra.


"Jadi kemana kita akan pergi?"


Cup..


Aiden memberikan kecupan di bibir istrinya itu. "Kita akan pergi ke tempat yang pastinya kamu akan menyukainya"


Ayra berfikir dengan sangat penasaran, memikirkan tempat apa yang akan dikunjungi mereka ketika bulan madu yang terlambat ini.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2