
Ayra benar-benar tidak bisa tidur malam ini, keinginan yang dia lontarkan pada Aiden memang benar karena keinginan bayinya. Bukan karena dia yang egois dan tidak mau mengalah pada Saqila yang sedang sakit. Dan ternyata, Aiden malah mengira dirinya hanya mengada-ngada keinginannya itu. Hati Ayra sungguh terluka mendengar suaminya sendiri mengatakan dirinya egois. Apalagi dengan orang lain? Padahal selama Ayra menjadi istri Aiden, dia selalu mengalah. Apalagi setelah tinggal bersama Saqila. Dia lebih banyak mengalah. Tapi, kenapa suaminya bisa berfikir seperti itu.
Ayra keluar dari kamar untuk mengambil air minum. Tenggorokan yang terasa kering, juga perasaan yang tidak bisa tenang setelah Aiden mengatakan hal seperti tadi. Membuat Ayra tersadar jika dirinya bukanlah prioritas Aiden. Prioritas utama Aiden tetap Saqila, bukan dirinya.
Meminum setengah gelas air, Ayra menyimpan kembali gelas di atas meja makan. Lalu dia berjalan kembali menuju kamarnya. Namun, entah apa yang membuat dirinya melangkahkan kakinya ke ruang tengah. Dimana kamar Aiden dan istri pertamanya ada disana. Saat melewatinya, pintu kamar sedikit terbuka. Ayra semakin penasaran, kenapa mereka tidak mengunci pintu. Ayra mengintip di celah pintu yang terbuka. Dan dia sungguh menyesal karena melakukannya.
"Ahhh.. Honey.. Yes Honey"
Ayra melihat bagaimana Aiden dan Saqila sedang bercinta di atas tempat tidur dengan penuh peluh yang membasahi diri mereka. Ayra tidak kuat lagi untuk melihatnya, dia berlari menjauh dari kamar Saqila dengan air mata yang tidak bisa dia tahan. Dadanya terasa sesak sekali. Ayra kembali ke kamarnya, menutup pintu dan bersandar di pintu kamar. Tubuhnya luruh ke lantai seiring dengan air mata yang terus mengalir.
Kenapa harus marah Ay? Kenapa harus sedih. Kenapa harus menangis. Kamu harus sadar diri Ayra, kamu hanya yang kedua dalam hidup suamimu. Tidak akan pernah menjadi yang pertama baginya. Semua perhatian dan kasih sayangnya padamu hanya sisa dari kasih sayang dan perhatiannya pada Saqila. Istri pertamanya.
Hati Ayra terluka, dia tidak rela jika suaminya bercinta dengan Saqila. Tapi, hati nuraninya kembali menyadarkan siapa dirinya dan siapa Saqila. Dia hanya seorang gadis malang yang di jadikan istri bayaran untuk alat melahirkan anak oleh Tuan Aiden. Sementara Saqila, adalah istri pertama yang di nikahi karena cinta. Sudah jelas siapa yang menduduki posisi pertama di hati Aiden. Tentu Saqila, bukan dirinya.
...🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲...
Pagi ini Ayra terbangun saat mendengar ketukan di pintu kamarnya. Kepalanya terasa pusing, mungkin akibat dia menangis terlalu lama semalam dan tidak tahu tidur jam berapa dia semalam.
"Masuk" Ayra bangun dan terduduk di atas tempat tidur, menatap ke arah pintu kamar yang terbuka. Dia Saqila, muncul dengan wajah segar dan rambut yang masih basah. Ayra tentu tahu apa yang telah terjadi padanya semalam dan itu alasan wajah Saqila yang terlihat lebih segar dari biasanya.
"Ay, ini aku bawakan susu dan roti untuk kamu sarapan. Tumben bangunnya agak siang, Aiden sudah pergi bekerja barusan, dia ada meeting pagi ini katanya. Dia juga mau pamit sama kamu, tapi aku larang karena pasti kamu masih terlelap" Saqila menyimpan nampan yang di bawanya di atas nakas. Lalu dia duduk pinggir tempat tidur. Tangannya terangkat untuk mengelus perut Ayra.
"Sehat-sehat ya anak Mommy dan Daddy"
__ADS_1
Dengan refleks tangan Ayra langsung memegang tangan Saqila dan menjauhkannya dari perutnya. Ayra tidak suka dengan apa yang barusan di ucapkan Saqila. Apa maksudnya anak Mommy dan Daddy? Dia anakku! Hanya anakku.
"Emm. Nyonya saya mau mandi dulu ya"
Saqila tersenyum, dia berdiri dan membantu Ayra turun dari tempat tidur. "Yaudah, kalau udah mandi jangan lupa sarapannya di makan ya. Aiden juga berpesan untuk kamu menghabiskan susunya"
Ayra mengangguk, dia berlalu ke ruang ganti dan mulai bersiap untuk kuliah. Sedikit berendam untuk merilekskan tubuhnya yang lelah. Bukan hanya tubuhnya yang lelah, tapi hatinya juga mulai merasa lelah. Selesai bersiap, Ayra memakan roti selai coklat yang di bawa Saqila dan meminum habis susunya.
Tangannya mengelus perutnya "Semangat Sayang, ayo kita berjuang bersama. Kita udah makan dan sekarang kita harus bekerja sama untuk Bunda bisa kuliah"
Ayra turun ke lantai bawah, dia menatap Saqila yang berdiri di dekan anak tangga terkahir dengan terus memandangi arloji yang melingkar di tangannya. Saat menyadari kedatangan Ayra, Saqila tersenyum. "Ayo Ay, aku ada meeting satu jam lagi. Kamu berangkat bareng aku"
"Nyonya bisa duluan saja, saya bisa naik taxi online"
Ayra menatap Saqila yang tertawa saat mengatakan jika dirinya adalah taxi online Ayra pagi ini. Tawa yang cantik, membuat siapa saja yang melihatnya pasti akan terpesona dengan kecantikan Saqila. Lalu Ayra menatap dirinya sendiri, baju biasa saja. Benar-benar tidak ada yang bisa di banggakan dari Ayra. Dia benar-benar hanya seorang gadis biasa yang tidak mempunyai kemampuan apa-apa. Sangat berbeda jauh dari Saqila yang memiliki perusahaan scincare terkenal di tanah air ini. Jelas dia adalah wanita cantik yang juga cerdas dan memiliki karier yang bagus.
Ayra dan Saqila masuk ke dalam mobil, Saqila mulai melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah. Satu lagi kelebihan Saqila yang Ayra kagumi. Dia wanita yang mandiri. Bisa menyetir sendiri, mencari uang sendiri. Mempunyai perusahaan sendiri. Lalu siapa dirinya yang berani sekali bersanding dengan sosok Saqila yang nyaris sempurna.
"Bagaimana kuliahnya Ay?" tanya Saqila di sela-sela mengemudinya.
"Baik Nyonya, semuanya berjalan baik seperti biasa"
Saqila mengangguk mengerti "Syukurlah, kamu jangan sampe kelelahan nanti pas di kampus. Kan lagi hamil Ay"
__ADS_1
Ayra mengangguk, tangannya mengelus perutnya dengan lembut. "Iya Nyonya"
"Dulu itu, aku dan Aiden juga bertemu saat kuliah. Kami sudah lama mengenal sebagai teman kuliah, sampai Aiden berani menyatakan perasannya dan kami pacaran. Ya, sampai menikah sampai sekarang ini" Terlihat senyuman kebahagiaan saat Saqila menceritakan masa-masa mudanya saat bertemu dengan Aiden.
Ayra tidak menjawab, karena dia tidak punya cerita apapun. Pertemuannya dengan Aiden tidak ada yang spesial. Hanya karena dirinya yang sering ikut bekerja dengan Ibu di rumahnya. Mengingat Ibu, Ayra jadi merindukannya. Sudah hampir 3 akhir pekan dia tidak mengunjungi Ibunya.
"Ehh Nyonya, berhenti disini saja"
Saqila menoleh ke arah Ayra dengan bingung. "Loh kenapa Ay? Kampus kamu masih di ujung sana"
"Iya tidak papa Nyonya, memang saya sudah biasa turun disini kalau dengan Tuan Aiden juga"
"Kenapa?"
"Ya, karena saya tidak mau banyak teman kampus yang tahu siapa suami saya. Biarkan mereka cukup tahu jika saya sudah menikah tanpa tahu siapa suami saya"
Saqila tersenyum mendengar itu, dia senang karena pernikahan kedua suaminya dan Ayra tidak banyak orang tahu. Itu artinya tidak akan ada kendala ke depannya untuk citra dirinya dan Aiden. "Yaudah kalau gitu, kamu turun disini saja nih? Yakin gak mau aku antar sampai ke depan kampus, kan aku yang nganter bukan Aiden"
"Tidak perlu Nyonya, saya turun disini saja"
Ayra pun turun dari mobil Saqila.
Bersambung
__ADS_1
Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5