
Duduk berdampingan, tapi Ayra merasakan hawa dingin yang mencekam di sekitarnya. Sebenarnya dia bingung kenapa Aiden harus bersikap seperti itu, jika dia saja tidak mencintai Ayra. Cemburu hanya untuk seseorang yang mencintai. Tapi kepedean sekali Ayra, sampai berfikir Aiden cemburu padanya.
"Siapa dia?"
Suara Aiden masih belum berubah, tetap dingin. Membuat Ayra semakin bingung saja. Padahal ini hanya tentang si pengantar barang yang sebenarnya sudah tidak berarti apa-apa bagi Ayra.
"Dia hanya tetangga di kontrakan dulu"
"Jelaskan apa hubungan kalian di masa lalu"
Ayra menatap bingung suaminya, dia terlihat sangat marah. Tapi, apa yang membuatnya marah. Dirianya hanya bicara biasa saja bahkan terkesan tidak karena dirinya yang keburu hadir. "Dia hanya tetangga ku. Ya, memang dulu aku sempat mengaguminya. Tapi hanya sebatas itu, tidak sampai ke tahap selanjutnya. Dia juga sudah menikah"
Aiden menoleh, menatap dingin istrinya. tangannya mengepal erat. Jadi, istrinya pernah mengagumi pria lain? Rasanya Aiden tidak suka mendnegar fakta itu. "Terus untuk apa dia pegang-pegang tanganmu tadi?"
Oh dia lihat ya.
"Dia hanya minta maaf saja karena pergi dan pindah dari sana karena tidak memberi tahuku, bahkan menikah pun tidak mengundangku"
"Apa kau mencintainya?" tekan Aiden dengan tatapan semakin tajam.
Ayra takut, tapi dia tetap harus menjawabnya. Jika tidak, suaminya ini pasti akan semakin marah. "Dulu, mungkin iy...."
"Apa? Jadi kau mencintainya? Ayra! Aku suamimu, tapi kenapa kau malah mencintai pria lain?"
Ayra malah bingung sendiri dengan Aiden yang terlihat sangat marah. Dia berdiri dan masuk ke dalam kamar tanpa menghiraukan Ayra lagi.
"Dia ini sebenarnya kenapa si?"
Ayra tidak mau masalah ini akan semakin panjang. Jadi dia segera menyusul suaminya ke dalam kamar. Aiden sedang berdiri di dekat jendela balkon. Menatap pemandangan di bawah sana yang terlihat seperti mainan kecil dari tempatnya berdiri ini. Ayra menghela nafas, lalu dia berjalan dan memeluk tubuh Aiden dari belakang.
"Kenapa marah? Dia hanya masa lalu yang bahkan aku saja sudah tidak ingin mengingatnya"
Aiden memegang tangan mungil yang melingkar di perutnya. Jika sudah seperti ini hati Aiden akan segera luluh. Ayra sangat berbeda, di saat dirinya marah justru dia yang membujuk dan menenangkannya. Bukan seperti wanita pada umumnya yang selalu ingin di anggap benar hingga akhirnya pria lagi yang harus meminta maaf dan membujuknya. Ayra memang berbeda dari sekian wanita yang pernah Aiden temui.
"Aku gak suka kamu mencintainya"
__ADS_1
Ayra menghembuskan nafas, sampai hembusa nafasnya terasa hangat di punggung Aiden. "Tidak seperti itu Sayang, dulu mungkin aku pernah mengangguminya karena dia sangat baik dan ramah pada aku dan Ibu. Tapi perasaan itu sudah lama menghilang"
Perasaan cintaku sudah berpaling padamu.
Aiden melepaskan lingkaran tangan Ayra, lalu dia berbalik menghadap istrinya. "Janji ya, jangan mencintai pria lain lagi karena aku tidak suka"
Ayra tersenyum, dia memberikan jari kelingkingnya. "Janji"
"Apa itu?" Aiden menatap bingung jari kelingking Ayra yang berada di depannya.
Ayra terkekeh melihat Aiden yang tidak tahu maksudnya. Ayra meraih tangan Aiden lalu mengaitkan jari kelingking mereka. "Janji kelingking Sayang"
Aiden tertawa kecil mendengarnya. "Apaan nih? Sejak kapan ada seperti ini?"
"Emang udah ada dari lama, kamunya saja yang tidak tahu"
Aiden menggeleng, dia berjalan ke arah tempat tidur dengan menggandeng Ayra. Mereka duduk di atas tempat tidur dengan selimut menutupi kaki hingga pinggang mereka. Aiden memeluk tubuh Ayra, menyandarkan kepala gadis itu di dadanya dengan nyaman.
"Sayang, kapan Nyonya akan pulang?"
"Berarti besok ya, kamu besok pulang ke rumah ya. Selesaikan masalah kalian. Maaf kalau aku menjadi sumber masalah di antara kalian"
"Kamu adalah malaikat untuk kami, bisa membantu aku untuk memberikan seorang anak. Tapi bukan itu yang penting, kamu bukan sumber masalah di antara kita. Karena sebelumnya pernikahan kami sering di sertai dengan pertengkaran seperti ini. Dan sudah biasa jika sedang bertengkar, maka Saqila suka pergi untuk beberapa hari. Entah itu memang benar untuk urusan pekerjaan atau bukan. Saqila memang selalu pergi untuk menenangkan diri. Nanti kalau sudah kembali, dia akan berubah seperti biasa lagi..."
"....Jadi kamu jangan berfikir yang tidak-tidak. Memang seperti itu cara Saqila menghindari masalah, lalu kembali datang seolah tidak ada apa-apa"
Ayra mengangguk pelan "Semoga nanti pas Nyonya kembali, dia akan berbaikan sama kamu ya"
Biarkan aku yang berkorban untuk kalian. Asalkan jangan sampai kalian terpecah belah. Aku tahu jika cinta di antara kalian sangatlah besar.
...🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲...
Drett...Drett..
Ayra menatap ponsel yang berdering di atas nakas samping tempat tidur. Ternyata bukan miliknya yang berdering, tapi ponsel milik Aiden yang sekarang sedang berada di kamar mandi. "Sayang, teleponmu bunyi"
__ADS_1
"Sebentar, aku lagi pake baju" teriak Aiden dari balik ruang ganti.
Ayra diam dan kembali fokus pada buku yang sedang di bacanya. Buku tentang Ibu dan anak. Ponsel Adien berhenti berdering, namun beberapa saat kembali berdering lagi bertepatan dengan Aiden yang keluar dari ruang ganti. Aiden segera mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelepon lalu segera mengangkatnya.
"Hallo" Diam mendengarkan si penelepon berbicara sambil melirik Ayra yang masih asyik dengan buku bacaannya. "...Baiklah, aku akan kesana. Kau diam saja dulu disana, tidak perlu datang kesini"
Aiden memutuskan sambungan telepon. Dia memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, lalu menghampiri istrinya yang duduk di atas tempat tidur.
"Siapa? Nyonya ya?" Ayra sudah menduga siapa yang menelepon suaminya. Dia pasti Saqila, terlihat dari Aiden yang berjalan sedikit menjauh darinya saat mengangkat telepon. Aiden terlihat ragu untuk berbicara. Ayra tahu jika pasti Aiden tidak punya cara untuk berbicara dengan Ayra tentang dirinya yang pastinya akan pergi ke rumah untuk menemui Saqila.
"Pergi saja, aku tidak papa sendiri disini"
Aiden menatap istrinya, rasanya dia sangat tidak rela untuk meninggalkan istrinya seorang diri di apartemen. Tapi, dia tetap harus menemui Saqila untuk menyelesaikan masalah di antara mereka.
"Sayang, kamu beneran baik-baik saja jika aku tinggal? Aku pasti tidak akan pulang malam ini"
Ayra tersenyum, tangannya mengelus pipi Aiden dengan lembut. "Sayang, aku bisa sendiri. Lagian aku tidak sendiri, kan ada dia yang menemaniku"
Aiden menatap tangan Ayra yang mengelus perutnya. Dia ikut mengelus perut Ayra yang mulai terlihat lebih menonjol. Aiden menunduk dan mencium perut istrinya. "Jaga Bundamu baik-baik ya, Daddy harus pergi dulu"
"Kok tahu kalau aku mau di panggil Bunda?" tanya Ayra sambil mengelus rambut Aiden yang sedang berbicara dengan bayi dalam kandungannya.
Aiden mendongak, dia mengecup singkat bibir istrinya membuat Ayra terkejut saja dengan hal itu. "Aku pernah mendengar kau menyebut dirimu sebagai Bunda pada bayi di dalam perutmu ini"
Ayra tersenyum, dia memegang tangan Aiden lalu mencium telapak dan punggung tangan suaminya. "Semoga masalah kalian segera selesai ya. Aku akan mendo'akan yang terbaik untuk kamu dan Nyonya"
Aiden mencium kening istrinya. "Do'akan juga untuk kita"
Semoga kita bisa selalu bersama.
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5
.
__ADS_1