Suamiku Dan Suamimu

Suamiku Dan Suamimu
Kenyataan Yang Terungkap


__ADS_3

Malam ini adalah waktu yang telah di tentukan oleh keluarga Aiden dan keluarga Saqila. Mereka akan melakukan makan malam bersama di rumah Saqila. Ya, rumah itu Aiden berikan pada Saqila sebagai rasa terima kasihnya untuk selama ini dia yang menemani Aiden dalam pernikahan ini. Semuanya telah berkumpul di meja makan, tinggal menunggu Papi dan Papa Saqila yang masih mengobrol di ruang tengah.


Aiden dan Ayra datang sedikit terlambat, mereka baru saja sampai di pekarangan rumah. Turun dari mobil, Ayra sedikit ragu untuk masuk ke dalam rumah yang pernah menjadi kisah dalam hidupnya. Rumah ini adalah saksi dimana hidup Ayra yang tertekan dengan keadaan. Tinggal satu atap dengan Saqila, menjadi rintangan terbesar dalam hidup Ayra selama dia masih menjadi yang kedua untuk suaminya.


"Ayo Sayang, kamu harus bertemu dengan Mama dan Papa, mereka baik kok. Kamu gak perlu terlalu tegang seperti itu" Aiden merangkul pinggang istrinya yang berdiri mematung di depan rumah yang pernah mereka tinggali dulu.


Saat masuk ke dalam rumah ini, bayangan-bayangan masa lalu langsung terlintas di ingatan Ayra maupun Aiden. Tapi keduanya mencoba untuk tidak terlalu memikirkan semua itu. Biarkan saja yang sudah berlalu tetap berlalu. Yang perlu mereka lihat sekarang adalah masa depan. Hidup bahagia dan selalu bersama.


Aiden langsung menuju ruang makan, di sana semua anggota keluarga sudah berkumpul. Alvino juga ikut hadir. Aiden merasa senang melihat Saqila yang sudah benar-benar menemukan cinta sejatinya.


Semoga kamu akan selalu bahagia Sa, maafkan aku karena tidak bisa menjadi suami yang terbaik untukmu. Semoga kita akan bahagia dengan pilihan masing-masing.


Bohong, jika Aiden tidak merasa bersalah pada Saqila. Mau bagaimana pun, Saqila pernah menjadi istri pertamanya. Mereka menikah karena cinta, namun takdir merubah semuanya menjadi seperti ini. Saat ini Aiden hanya berharap jika Saqila bisa menerima kenyataan ini.


"Selamat malam semuanya, maaf kami datang terlambat" Aiden langsung menyapa semua orang yang ada disana. Aiden menarik kursi dekat dengan Mami untuk istrinya. Lalu dia ikut duduk di samping istrinya.


"Wahh. Baru datang kalian, Aiden apa ini istrimu?" Mama menatap Ayra dengan senyuman. Dia memang sosok Ibu yang hangat dan ramah. Sebenarnya sifatnya hampir sama dengan Saqila. Hanya saja Saqila sedikit keras kepala, menurun dari Ayahnya.


Ayra tersenyum sambil mengangguk canggung. Sungguh hatinya sudah sangat tidak karuan. Jatungnya berdebar kencang, Ayra merasa malu karena mau bagaimana pun dirinya adalah orang ketiga dalam rumah tangga Aiden dan Saqila. Tapi Mama Saqila malah menyambutnya dengan hangat dan penuh ketulusan. Ayra semakin merasa tidak enak.


Mereka mulai makan malam ini dengan sedikit berbincang. Namun, ada yang aneh dengan Papa, sejak Ayra datang dia hanya diam saja. Papa terus menatap Ayra dengan lekat. Ayra menjadi gugup dan merasa tidak enak saat Papa terus memperhatikannya.


Selesai makan malam, semuanya berkumpul di ruang tengah untuk sekadar berbincang. Namun, lagi-lagi Ayra merasa tidak nyamana dengan tatapan Papa padanya. Dia semakin merapatkan tubuhnya pada Aiden.


Apa Papanya Nyonya Saqila, marah padaku?


"Berapa usia kandunganmu Nak?" Tanya Mama

__ADS_1


Ayra menoleh dan tersenyum, dia mengelus perut besarnya. "Sudah hampir 8 bulan Nyonya"


"Loh kok panggilnya seperti itu, panggil Mama saja. Kita adalah satu keluarga"


Ayra tersenyum dan mengangguk saja. Aiden yang duduk di sampingnya langsung mengelus kepala Ayra, dia tahu jika istrinya sedang gugup saat ini.


"Maaf, Ay..Ayra ya.." Papa yang sejak tadi hanya diam, kini mulai membuka suaranya. "...Dimana Ibumu? Emm.. maksudnya, siapa nama Ibu kamu?"


Semua orang langsung menatap bingung pada Papa, bukan hanya Ayra saja yang merasa bingung dengan pertanyaan itu. Tapi Ayra tetap mencoba tersenyum dan menjawab pertanyaan Papa barusan.


"Nama Ibu saya, Sumiati. Dia sudah meninggal satu bulan yang lalu"


Deg..


"Sum..Sumiati?"


"Lalu, dimana Ayahmu?" Tanya Papa lagi, kali ini suaranya semakin keras.


"Apaan si Pa, ngapain tanya-tanya seperti itu pada Ayra" tegur Mama yang merasa bingung dengan sikap Papa kali ini.


Ayra menunduk, dia menggeleng pelan karena memang dia tidak tahu siapa dan dimana Ayahnya selama ini. Wajahnya saja Ayra tidak tahu. "Saya tidak tidak tahu dimana Ayah saya"


Deg...


Wajah Papa semakin pias, dia berdiri dan tiba-tiba saja berlutut di depan Ayra membuat gadis itu terkejut. Papa meraih tangan Ayra, menciumnya dengan air mata yang menetes mengenai tangan gadis itu. Tentu semua orang semakin bingung dan terkejut dengan apa yang di lakukan Papa. Aiden sudah ingin marah karena Papa berani mencium tangan istrinya. Tapi saat mendengar suara isakan kecil dari Papa, membuatnya menjadi bingung.


"Maafkan Papa Nak, Papa salah"

__ADS_1


Ayra masih tidak mengerti dan terlalu bingung dengan apa yang Papa ucapkan barusan. "Maaf, maksudnya apa? Saya benar-benar tidak mengerti"


Papa mendongak dan menatap Ayra dengan mata yang berkaca-kaca. "Ayra, aku adalah Ayahmu"


Deg..


Tubuh Ayra bergetar, dia menarik tangannya yang berada di genggaman Papa. Ayra memundurkan duduknya, dia masih tidak yakin dengan ucapan Papa. Tapi entah kenapa air mata sudah mengalir begitu saja di pipinya.


"Pa, apa maksudnya?" Saqila juga ikut terkejut mendengar apa yang Papa ucapkan. Selama ini keluarganya sangat harmonis, Saqila tidak pernah mendengar Papa selingkuh atau apapun. Dan kenapa saat ini tiba-tiba saja Papa mengatakan jika dia adalah Ayahnya Ayra. Sejak kapan? Saqila tidak pernah mendengar jika dia kehilangan seorang adik selama ini.


Ayra memeluk suaminya, dia tidak mau menatap Papa. Hatinya masih menolak apa yang di katakan Papa barusan. Ayra tidak percaya dengan itu. Lagian selama ini dirinya tidak pernah berharap bertemu Ayahnya. Ayra merasa baik-baik saja jika hanya hidup berdua dengan Ibunya.


"Maafkan Papa Nak, Papa telah mengkhianati Mama kamu. Saat itu, seorang gadis lugu dari kampung bernama Sumiati datang ke rumah kita untuk menjadi seorang asisten rumah tangga. Karena Mama kamu yang selalu sibuk dengan pekerjaannya dan jarang sekali ada waktu bersama Papa. Pada akhirnya Papa lebih sering di rumah bersama Sumi, dia bahkan yang selalu menyiapkan segala kebutuhan Papa..."


"..Dan pada akhirnya Papa jatuh cinta padanya, dan hubungan terlarang itu terjadi begitu saja. Papa tahu jika dia hamil, tapi Papa tidak bisa menemukannya dimana pun. Hingga tadi Papa melihat bagaimana wajah Ayra sangat mirip dengannya sewaktu muda"


Saqila menggeleng pelan dengan air mata yang sudah mengalir deras. Tidak pernah menyangka jika Ayahnya yang selalu menjadi sosok sempurna dalam hidupnya, tega mengkhianati Ibunya.


"Gila.. Ini gila, Papa mengkhianati Mama hanya demi seorang pembantu. Apa Mama tahu tentang ini?"


Mama hanya diam dengan menunduk, Saqila sudah mengetahui jawabannya tanpa harus Mama bersuara. "Kalian semua gila. Selama puluhan tahun aku baru tahu jika aku memiliki seorang adik. Kalian egois.."


Saqila pergi dengan emosi yang memuncak. Alvino segera menyusul kekasihnya itu. Sementara Ayra masih berada dalam pelukan suaminya. Dia mencoba menenangkan hatinya. Apalagi setelah dia mendengar semua cerita Papa.


Bersambung


Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5

__ADS_1


__ADS_2