Suamiku Dan Suamimu

Suamiku Dan Suamimu
Apa Ada Kebetulan Seperti Ini?


__ADS_3

Terkadang sesuatu yang tidak kita harapkan, justru itu yang akan terjadi dalam hidup kita. Seperti Ayra yang tidak pernah ingin tahu dimana Ayahnya berada dan siapa Ayahnya. Ayra sudah merasa hidupnya baik-baik saja bersama Ibunya. Ayra tidak pernah ingin menyakiti Ibu dengan terus bertanya siapa dan dimana Ayahnya. Hingga akhirnya Ayra bisa menerima jika dirinya memang tidak mengenal sosok Ayahnya. Ayra merasa tidak papa untuk itu.


Ayra melepaskan pelukannya saat di rasa hatinya sudah siap untuk menghadapi kenyataan ini. Saat dia menatap Papa yang masih berlutut di lantai, Ayra melirik Mama yang juga menatapnya dengan rasa bersalah. Meski bingung apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, yang jelas Ayra tahu jika dia terlahir dari seorang selingkuhan. Tidak apa. Ini sudah takdirnya.


"Selama ini hidup Ay baik-baik saja bersama Ibu. Jadi, Ayra tidak pernah berharap bisa bertemu dengan Ayah. Hidup bersama Ibu saja sudah cukup bagiku. Jadi, semua kenyataan ini tidak pernah Ayra harapkan selama ini. Jika Ayah memang Ayah kandung Ayra, maka cukup tahu sampai sini saja. Jangan sakiti lagi Mama dan anak Ayah yang selama ini sudah terbiasa hidup dengan Ayah. Ayra tidak papa, selama ini Ayra sudah terbiasa hidup tanpa Ayah"


Papa mendongak dan menatap anaknya dengan air mata yang menetes di pipinya. Tidak menyangka jika anaknya akan berbicara semenyakitkan itu. Tapi wajar jika Ayra berkata seperti itu, karena selama ini dia memang hanya hidup bersama Ibunya saja. Tanpa hadirnya sosok seorang Ayah.


Ayra menghembuskan nafas berat setelah mengatakan itu. Dia menoleh ke arah suaminya, perutnya terasa kencang. Mungkin karena efek terkejut yang membuat perutnya sedikit mengencang.


"Aku ingin pulang"


Aiden mengangguk, dia membantu istrinya untuk berdiri. "Selesaikan dulu urusan kalian sebelum menemui istriku kembali"


Aiden membawa Ayra menuju mobilnya, tapi saat sudah di dekat mobil Ayra tiba-tiba saja meringis sambil memegangi perutnya. Dia hampir jatuh ke tanah jika Aiden tidak sigap untuk menahan tubuhnya.


"Sayang kenapa? Apa yang sakit, Sayang hey"


"Akhh... Perutku sakit"


Aiden semakin panik mendengarnya, Aiden segera menggendong Ayra dan membawanya ke dalam mobil. Aiden melajukan mobilnya dengan cepat menuju rumah sakit. Dia melirik istrinya yang duduk di sampingnya dengan terus meringis kesakitan.


"Sayang kuat ya, kenapa perutmu bisa tiba-tiba sakit begitu. Sayang, kuat ya"


Sampai di rumah sakit Aiden segera menggendong Ayra dan membawanya ke ruang pemeriksaan. Saat ini Aiden sedang duduk di kursi tunggu dengan kedua tangan menutupi wajahnya. Aiden sangat mencemaskan keadaan istrinya. Tiga puluh menit kemudian, pintu ruangan terbuka membuat Aiden langsung berdiri dan menghampiri Dokter yang baru saja keluar dari dalam ruangan.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan istriku?"


"Untung saja Tuan cepat membawanya ke sini. Istri anda mengalami kram di perutnya. Apa ada hal yang mengejutkan istri anda hingga membuat dia kefikiran?"


Aiden menghela nafas, kejadian tadi jelas membuat istrinya sangat terkejut.


"Untuk saat ini, istri anda harus istirahat total. Apalagi kelahirannya tingga menunggu beeberapa minggu saja. Jadi tolong untuk menjaganya dengan baik. Setelah istri anda sadar, dia sudah boleh pulang. Saat ini biarkan dia istirahat dulu"


"Baik Dok, terima kasih"


Aiden masuk ke dalam ruang rawat istrinya setelah Dokter pergi. Dia merasa beruntung karena istrinya baik-baik saja saat ini. Aiden duduk di pinggir ranjang pasien, tangannya mengelus perut buncit istrinya. Aiden menunduk dan mencium perut istrinya itu.


"Baby, jangan membuat Bunda kesakitan lagi. Kamu tidak tahu betapa Daddy sangat mencintai Bundamu sampai tidak bisa saat melihat dia kesakitan. Jadi, kamu jangan membuatnya kesakitan lagi ya. Jadi anak baik, sebentar lagi kita akan bertemu"


Aiden meraih tangan istrinya, menciumnya dengan lembut. "Apapun yang terjadi, aku akan selalu bersamamu Sayang. Jadi jangan sampai seperti ini lagi"


Rasanya Aiden hampir mati saat melihat istri kesayangannya kesakitan. Aiden tidak siap kehilangan Ayra, tidak akan siap.


...🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲...


Di tempat berbeda, Saqila masih menangis dalam pelukan Alvino. Saat ini mereka berada di balkon kamar Saqila, duduk di sebuah sofa disana. Saqila masih terlalu terkejut dengan hal yang baru saja dia ketahui. Rasanya semuanya sangat terlalu membingungkan baginya.


"Sudah Honey, semuanya sudah takdir. Kamu tidak bisa terus menangis, karena semuanya juga tidak akan selesai. Sekarang kamu tanyakan secara baik-baik pada Papa dan Mama kamu, biarkan mereka menjelaskan semuanya. Jika memang benar Ayra adalah adikmu, kamu juga harus menerima itu"


Saqila terisak, dia mendongak dan menatap pria yang sedang memeluknya. "Apa ada kebetulan yang seperti ini? Aku dan Ayra pernah menjadi madu. Itu artinya aku dan adikku pernah memiliki suami yang sama. Aaa.. Kenapa harus seperti ini?"

__ADS_1


Alvino juga merasa heran karena takdir seolah sedang mempermainkan Saqila dan Ayra. Keduanya sedang di permainkan oleh takdir dan kenyataan yang ada.


"Sekarang temui Papa dan Mama, tanyakan baik-baik pada mereka. Tapi jangan sampai kamu emosi. Ingat Honey, mereka tetap orang tuamu selepas bagaimana masa lalunya"


Saqila mengangguk, dia melerai pelukannya dan mencium pipi Alvino dengan lembut. "Tunggu disini, aku akan menemui Papa dan Mama dulu"


Alvino mengangguk dan tersenyum, tangannya menghapus sisa air mata di pipi Saqila. "Jangan sampai emosi, kamu tanyakan baik-baik pada mereka"


"Iya Dear, aku tahu"


Saqila berlalu keluar kamar, meninggalkan Alvino sendiri di balkon kamarnya. Bersama pria itu selalu membuat Saqila tenang. Alvino sangat bisa membuat hati Saqila yang sedang kacau, berubah menjadi lebih tenang. Itulah kelebihan Alvino yang membuat Saqila sadar jika yang dia butuhkan dalam hidupnya adalah Alvino.


Saqila melihat Papa dan Mama yang duduk di atas sofa yang berbeda. Tamu mereka telah pulang, kini hanya tinggal Papa dan Mama yang berada di ruang tengah. Keduanya hanya diam dalam keheningan. Saqila tahu jika suasananya tidak akan sama lagi setelah kebohongan Papa selama puluhan tahun ini terbongkar.


Saqila duduk di sofa tunggal di sana, menatap Papa dan Mama secara bergantian. "Jadi, boleh ceritakan semuanya?"


Saqila tidak terlalu ingat siapa saja yang menjadi asisten rumah tangga di rumahnya. Karena selama ini dia selalu sibuk sekolah dan terkadang lebih sering ikut Kakek dan Neneknya semasa mereka masih ada. Jadi dia tidak terlalu ingat tentang Ibu Sumi yang pernah bekerja di rumah mereka yang dulu.


Semuanya berawal dari kedatangan Sumi ke kota dan bekerja di kediaman mereka. Mama yang sibuk dengan profesinya sebagai model, jadi dia jarang berada di rumah. Membuat celah untuk Papa dan Ibu Sumi memiliki waktu berdua lebih banyak. Hingga hubungan terlarang itu terjadi.


Hubungan mereka yang di ketahui Mama membuat Mama langsung bertindak dan mengusir Sumi dari rumah. Dan pada saat itu keadaan Sumi sedang mengandung anaknya Papa. Sejak saat itu Papa tidak bisa lagi menemukan keberadaan Sumi, karena Mama mengusir Ibu Sumi tanpa sepengetahuan Papa.


Bersambung


Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5

__ADS_1


__ADS_2