
Aiden membawa Ayra pulang ke apartemen saat istrinya itu sudah dalam keadaan baik. Aiden menggendong istrinya dan menidurkan di atas tempat tidur dengan perlahan. Aiden mengecup kening istrinya, lalu menarik selimut sampai ke pinggang istrinya.
"Istirahat ya, jangan terlalu memikirkan yang terjadi tadi. Kamu fikirkan saja kesehatan kamu dan bayi kita"
Ayra hanya mengangguk, dia memegang lengan suaminya saat Aiden baru saja akan beranjak dari pinggir tempat tidur.Β Aiden menoleh dan menatap istrinya. "Apa sayang? Aku mau ganti baju dulu"
"Cepetan ya, aku mau tidur tapi memeluk kamu"
Aiden tersenyum, dia mencium kembali kening istrinya. "Iya, gak lama kok cuma ganti baju saja"
Ayra melepaskan genggaman tangannya di tangan suaminya. Membiarkan suaminya berlalu ke ruang ganti. Ayra menatap langit-langit kamar dengan mata yang berkaca-kaca. Hari ini sesuatu terjadi dengan tidak di sangka. Ayahnya yang sama ini tidak pernah dia ketahui dan tidak pernah ingin di ketahui. Namun, tiba-tiba hari ini ada seseorang yang mengaku sebagai Ayah kandungnya. Tapi lebih mengejutkan lagi saat tahu siapa orang itu, dia adalah orang tua Saqila. Wanita yang pernah menjadi madunya.
Ayra pernah merusak rumah tangganya, meski tidak sepenuhnya dia yang salah. Tapi, Ayra tetap merasa bersalah atas hancurnya pernikahan mereka. Dan sekarang dia harus menerima kenyataan jika wanita yang dia rebut suaminya adalah Kakaknya. Bagaimana Ayra bisa menerima semua ini? Jangankan Ayra, Saqila juga belum tentu bisa menerima semua ini. Apalagi setelah dia tahu jika Papa telah berselingkuh hingga memiliki seorang anak.
Apa ini adalah karma? Ibu dulu menjadi orang ketiga dalam rumah tangga orang lain. Dan sekarang aku juga menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Kakak ku sendiri. Tuhan kenapa serumit ini.
Aiden keluar dari ruang ganti, dia melihat istrinya yang langsung menghapus air matanya, namun Aiden tentu melihat itu. Meski Ayra mencoba untuk menutupinya.
"Sayang, kenapa hmm?" Aiden duduk di pinggir tempat tidur, dia merapikan rambut Ayra. Rasanya Aiden tidak tega melihat keadaan istrinya yang saat ini harus menerima kenyataan ini.
Ayra menatap suaminya, dia bangun dan Aiden langsung membantunya. Membenarkan posisi bantal di belakang tubuhnya agar istrinya lebih nyaman. Ayra tidak bisa lagi untuk menutupi kesedihannya. Ayra menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca.
Aiden menghela nafas, dia tidak suka melihat wajah sedih istrinya. Hatinya merasa sakit saat melihat air mata kesedihan di diri istrinya. Aiden memeluk istrinya, dia mencium puncak kepala istrinya. Aiden menghembuskan nafas berat saat tangisan istrinya pecah.
__ADS_1
"Hiks..Hiks.. Kenapa semuanya harus seperti ini? Aku tidak tahu haru bersikap bagaimana pada Nyonya, jika benar aku adiknya maka aku harus bagaimana? Aku telah merebut suami dari Kakak ku sendiri"
"Shuut... Saya apaan si, kamu gak pernah merebut aku dari siapa pun. Aku yang salah dalam hal ini. Aku yang awalnya menarik kamu masuk dalam pernikahan aku dan Saqila. Tapi, aku tidak menyesal. Aku bahagia karena bisa bersamamu"
Isakan Ayra bagaikan hujaman sebuah pedang tepat di ulu hatinya. Aiden merasa sakit saat istrinya menangis dengan seperti ini. "Sayang, sudah ya. Kamu jangan terlalu memikirkan hal ini. Kita biarkan saja Tuhan menentukan semuanya, semua ini adalah takdir Tuhan yang tidak bisa kita hindari"
Ayra menghentikan tangisannya, meski isakan kecil masih terdengar dari bibirnya. Dia melerai pelukannya, lalu menatap suaminya dengan mata yang basah. Aiden langsung mengecup kedua mata istrinya. Menghapus air mata Ayra dengan bibirnya.
"Aku tidak suka melihat tangisan kesedihan pada mata indah ini. Sayang, biarkan saja semuanya berjalan sesuai takdir Tuhan. Aku akan selalu bersamamu dan di sampingmu. Apapun yang terjadi"
Ayra tersenyum tipis meski isakan kecil masih saja terdengar. Memang sudah seharusnya Ayra menerima kenyataan ini dan menyerahkan semuanya pada takdir Tuhan. Meski dirinya masih terlalu bingung dan terkejut dengan hal ini. Namun, Ayra bisa apa ketika takdir yang menentukan semuanya.
"Sayang aku lelah, aku ingin tidur. Temani aku tidur" lirih AyraΒ
"Tidur ya, aku akan memelukmu sampai pagi"
Akhirnya Ayra bisa terlelap dalam pelukan suaminya. Meski dia tidak tahu apa yang akan terjadi besok pagi. Yang jelas Ayra hanya ingin istirahat hari ini dan tidak peduli dengan apa yang akan terjadi hari esok setelah ini.
...π²π²π²π²π²π²π²π²π²...
Di tempat yang berbeda, Papa terdiam di ruang kerjanya. Kejadian hari ini benar-benar membuat pikirannya kacau. Papa membuka laci di bawah meja kerjanya, mengambil sebuah foto yang sudah usang disana. Dia mengusap foto seorang perempuan yang sedang tersenyum dengan gigi gingsul yang membuatnya semakin manis.
"Sumi, selama ini kau membesarkan anak kita dengan baik. Maafkan aku karena tidak bisa membuat kalian bahagia. Maafkan aku Sumi, aku telah menelantarkan kalian selama ini"
__ADS_1
Papa semakin merasa hidupnya hancur saat mendengar cerita Saqila. Jika Ayra menikah dengan Aiden atas perjanjian pada awalnya. Anaknya menjadi seorang istri bayaran demi kebutuhan hidupnya. Meski sekarang suaminya telah benar-benar mencintai Ayra. Tapi Papa tetap merasa ini semua adalah karma untuknya. Kedua anaknya harus merasa tersakiti oleh pria yang sama. Salahkan Papa karena telah melakukan dosa besar itu, dia selingkuh dengan Ibunya Ayra dan yang lebih parahnya dia menelantarkan anaknya juga.
Tuhan, apa ini karma untukku. Sekarang anak-anakku yang menerima segala kesalahan yang aku lakukan di masa lalu.
Suara pintu yang terbuka membuat Papa menoleh, dia tersenyum saat melihat anaknya yang berada di ambang pintu. Saqila masuk dan menghampiri Ayahnya yang duduk di kursi meja kerjanya.
"Pa, ayo kita temui Ayra. Kita harus minta maaf padanya. Hiks.." Tiba-tiba saja tangis Saqila pecah, dia mengingat bagaimana dia sangat egois dan terus menyakiti Ayra dengan caranya. Bahkan Ibunya Ayra meninggal karena dirinya.
Sekarang Saqila sadar, kenapa Ibunya Ayra sampai shock seperti itu saat mendengar jika anaknya menjadi seorang istri bayaran dari Aiden. Karena dirinya juga pernah menjadi orang ketiga. Pasti dia juga merasakan bagaimana rasanya menjadi orang ketiga yang tidak berniat merebut siapapun dari istrinya. Dan Ayra mengalami itu.
Papa tersenyum,Β dia berdiri dan memeluk anaknya dengan mencium puncK kepalanya. "Apa Saqila menerima kehadiran Ayra?"
Saqila mengangguk dengan tangisan yang benar-benar pecah. Bagaimana mungkin dia tidak menerima kehadiran adiknya sendiri. Sementara dulu saja, dia sangat mengharapkan memiliki seorang adik perempuan agar bisa menjadi temannya. Dan sekarang semuanya terwujud, meski dengan cerita dan kisah yang rumit.
"Saqila menerimanya Pa, selama ini Saqila sudah salah karena selalu bersikap egois hingga membuat Ayra sakit hati...." Saqila melepas pelukan Papanya, dia menatap pria paruh baya itu dengan mata yang basah. "...Kita harus menemui Ayra Pa, kita harus meminta maaf padanya. Kita terlalu banyak salah padanya"
Di balik pintu, Mama bersandar di dinding dengan air mata yang mengalir. Dia mendengar semua percakapan antara Ayah dan anak itu. Rasa bersalah semakin merasuki hatinya. Seandainya dulu Mama menerima untuk di madu dan tidak mengusir Sumi dengan segala ancamannya. Mungkin semuanya tidak akan seperti ini.
Namun, waktu tidak akan bisa di putar kembali. Saat ini Mama hanya perlu memperbaiki segala kesalahannya di masa lalu.
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5
__ADS_1