
Berita perceraian Aiden dan Saqila menjadi berita paling menghebohkan jagat raya. Apalagi saat banyak isu yang mengatakan jika adanya perselingkuhan di balik perceraian ini. Ayra menatap layar televisi dengan helaan nafas yang berat. Bagaimana jika kehadirannya di ketahui banyak orang. Pasti Ayra akan menjadi bullyan banyak orang.
Layar televisi yang tiba-tiba mati membuat Ayra terkejut dan langsung menoleh ke arah suaminya yang memegang remote televisi. "Sayang, kenapa di matiin?"
"Tidak perlu menonton televisi kalau hanya membuatmu sedih. Aku gak mau kamu dan bayi kita sedih hanya karena berita tidak jelas yang beredar itu" Aiden duduk di samping istrinya, memeluknya dengan erat. Aiden tidak mau istrinya ini akan terluka dengan apapun itu. Apalagi melihat wajah sedihnya saat melihat berita di televisi tadi. Aiden tidak suka istrinya bersedih. Rasa cintanya pada Ayra memang sebesar itu.
"Jangan dengarkan berita itu, kamu harus mulai mengerti jika menjadi pendampingku memang tidak akan mudah"
Ayra menghembuskan nafas berat, memang dia sudah memikirkan hal ini. Tapi apa hatinya akan kuat jika suatu saat nanti identitasnya terbongkar oleh semua orang. Sudah pasti akan banyak orang yang menyalahkannya atas perceraian yang terjadi di antara Aiden dan Saqila.
"Sayang bagaimana kalau kamu tidak perlu mengenalkan aku pada siapapun, apalagi sebagai istrimu. Aku gak papa kalau hanya jadi istri kamu dan tidak di ketahui banyak orang"
Aiden langsung melepaskan pelukannya, dia memegang lengan Ayra dan menatapnya dengan tajam. "Kau ingin aku tetap berstatus sebagai single parent sementara di luaran sana pasti banyak sekali wanita yang mengincarku. Meski aku sudah memiliki istri"
Deg.
Ayra langsung terdiam mendengar ucapan Aiden. Jelas hatinya tidak akan rela untuk membiarkan suaminya bersama wanita lain. Apalagi sampai banyak wanita yang mengincar suaminya. Ayra cemberut, dia langsung memeluk suaminya. "Memangnya kamu mau menikah lagi? Padahal aku sudah hamil, sekarang sedang mengandung anakmu"
Aiden terkekeh mendengarnya, jelas dia tidak akan berfikir untuk menikah lagi. Dulu, saja dia hanya jengah dan merasa sudah capek saat kedua orang tuanya terus memaksanya untuk memiliki seorang anak sampai Aiden memilih untuk menikah lagi. Tapi saat ini Aiden sadar jika semua yang telah terjadi dalam hidupnya, selain karena pilihan hidupnya. Semua ini juga karena takdir Tuhan yang tidak akan pernah bisa dia hindari sampai kapan pun.
"Untuk apa aku menikah lagi jika aku sudah mendapatkan segalanya yang aku mau dari dirimu"
Ayra mendongak, dia menatap suaminya dengan lekat. "Aku mencintaimu Tuan"
"Berani sekali kau!"
Ayra hanya tertawa mendengar gertakan suaminya. Sampai sekarang Aiden selalu marah saat Ayra memanggilnya dengan sebutan Tuan. Padahal dulu saja dia biasa saja saat Ayra memanggilnya seperti itu. Dasar aneh.
__ADS_1
"Udah ahh, aku mau ngerjain tugas buat besok"
Ayra melepaskan tangan suaminya yang memeluknya, lalu dia berdiri dan berlalu ke kamarnya. Mengambil segala peralatan untuk mengerjakan tugasnya. Setelah semuanya siap, Ayra membawanya ke ruang tengah.
Dia melihat suaminya yang sedang duduk bersandar pada sandaran sofa dengan mata yang terpejam. Ayra duduk di sampingnya, dia menyimpan laptop dan beberapa buku tebal itu di atas meja. Lalu Ayra menatap wajah suaminya, garis wajah yang nyaris sempurna, jelas membuat Ayra tidak bisa untuk berpaling meski hanya sejenak.
Jari telunjuknya menusuk pelan pipi Aiden, lalu dia tersenyum dengan kelakuannya sendiri. Dia tahu jika suaminya tidak sedang tidur. Tapi karena di biarkan, Ayra semakin ngelunjak. Dia menoel-noel hidung mancung suaminya. Beralih pada bibirnya. Ayra seolah menemukan kesenangan tersendiri saat bermain-main dengan wajah suaminya seperti ini.
Grepp..
Ayra sedikit terlonjak kaget saat tangannya langsung di tangkap oleh suaminya. Aiden menoleh dan menatap istrinya. "Ngapain kamu? Aku tahu kalau aku ini tampan"
"Ishh apaan si"
Ayra langsung menarik tangannya dari genggaman Aiden. Dia menatap laptop dan beberapa buku di atas meja, dia langsung menghela nafas berat. Lalu Ayra menoleh ke arah suaminya dan mengedipkan mata menggoda.
Aiden terkekeh melihat wajah memohon dari istrinya. Merasa sangat gemas Aiden menarik belakang kepala Ayra dan menciumi seluruh bagian wajah istrinya itu. Ayra hanya pasrah saja karena dia membutuhkan bantuan suaminya saat ini. Tahu sendiri jika otaknya tidak mempunyai kecerdasan yang cukup untuk mengerjakan tugas sebanyak ini.
"Yang mana yang gak ngerti?" Tanya Aiden sambil membuka-buka buku yang di bawa Ayra.
"Semuanya aku gak ngerti. Hehe"
Aiden mengelus kepala istrinya saat melihat Ayra menampilkan wajah bodohnya itu. "Yaudah aku akan bantuin dan jelasin sama kamu"
Aiden mulai menjelaskan materi yang Ayra tidak mengerti. Namun entah Ayra mendengarkannya atau tidak. Karena sejak tadi dia hanya menatap pada suaminya dengan tatapan penuh kekaguman. Ayra duduk di atas lantai dengan satu tangan bertumpu pada meja dan menopang kepalanya yang sedikit miring untuk menatap suaminya. Ayra masih merasa tidak percaya jika pria tampan di depannya ini adalah suaminya. Aiden yang tampan dan juga cerdas, sudah tentu akan menjadi incaran banyak wanita di luar sana. Seperti apa yang dia katakan.
"Ngerti sekarang?"
__ADS_1
Aiden menoleh pada Ayra yang malah senyum-senyum tidak jelas. Aiden menggelengkan kepalanya heran dan juga gemas dengan istrinya ini. Dia mendekatkan wajahnya dengan Ayra sampai jarak mereka benar-benar dekat. Hembusan nafas Aiden terasa begitu hangat saat mengenai kulit Ayra.
Ayra mengerjap, dia kaget saat suaminya sudah berada sangat dekat dengannya. Aiden segera memegangi tengkuk Ayra saat istrinya baru saja akan menghindar. Cup... Ciuman itu Aiden berikan dengan lembut di bibir istrinya. Buku di tangannya jatuh begitu saja ke atas lantai. Ayra mulai memejamkan matanya dan menikmati setiap sentuhan yang Aiden berikan. Saat tangan suaminya sudah mulai merayap ke arah dadanya, Ayra baru tersadar jika mereka sedang berada di ruang tengah.
Ayra langsung menahan tangan suaminya itu. "Sayang..."
"Tidak papa, tidak akan ada yang bisa masuk ke apartemen ini selain kita berdua"
Aiden sudah tidak bisa menahannya lagi, dia mengangkat tubuh Ayra ke atas sofa dan mulai bermain di atas sofa bed itu dengan suara-suara kenikmatan yang memenuhi ruangan. Perut istrinya yang semakin membuncit malah membuat Aiden semakin merasa gemas pada istrinya. Membuat dia selalu menginginkannya.
Ahhh...
Erangan keras itu menjadi sebuah tanda jika keduanya telah mencapai puncak kenikmatan mereka.
...🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲...
Ayra keluar dari kamar setelah selesai mandi, dia melihat suaminya yang sedang mengerjakan tugas kuliah miliknya. Gara-gara kejadian tadi membuat Ayra menunda mengerjakan tugas kuliahnya. Dan sebagai bentuk pertanggung jawaban Aiden, dia yang mengerjakan tugas kuliah istrinya itu.
Aiden menoleh saat menyadari kehadiran Ayra. "Sayang sini duduk, biar aku saja yang mengerjakan tugas kuliahmu. Kamu hanya perlu menemaniku. Emm. Kalau boleh tolong buatkan aku kopi"
"Iya Sayang, aku buatkan kopi dulu untuk kamu. Makasih ya sudah membantu mengerjakan tugas kuliah aku"
"Iya Sayang"
Ayra berlalu ke dapur dan Aiden kembali fokus pada laptop dan beberapa buku di atas meja.
Bersambung
__ADS_1
Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5