Suamiku Dan Suamimu

Suamiku Dan Suamimu
S2 #Ada Apa Dengan Ayra?#


__ADS_3

Hujan deras yang mengguyur kota membuat jalanan menjadi cukup licin. Suara petir yang saling bersahutan. Lampu jalanan yang terlihat sedikit buram ketik menerangi jalanan karena derasnya hujan. Sebuah mobil yang melaju dengan cepat tidak menyadari jika lampu merah di depannya yang tidak terlalu jelas terlihat karena air hujan yang membuat kaca mobilnya terlihat buram. Dia terus melajukan mobilnya dengan kencang, hingga sebuah mobil yang melaju di depannya membuat dia terkejut dan tidak bisa menghindarinya.


Brakk..Brakk..


Benturan keras itu terdengar diantara air hujan yang lebat. Mobil yang di tabrak mengguling di jalanan, sementara mobil yang menabrak juga menabrak bahu jalan.


Di dalam mobil seorang pria yang masih tersadar menatap istrinya yang terlempar cukup jauh ke jalanan.Darah segar yang mengalir dari kepalanya terhapus dan mengalir oleh air hujan.


"Sa-sayang"


Dan seketika semuanya gelap, hanya terdengar beberapa teriakan orang-orang disana dan juga sebuah sirine yang berbunyi nyaring, sebelum dia benar-benar kehilangan kesadarannya.


######


Kedua mata yang mengerjap pelan, menyesuaikan dengan cahaya lampu di ruangan serba putih ini. Aiden merasakan kepalanya yang sangat pusing dan sakit, sampai dia memegang kepalanya itu dengan tangan yang terbalut perban.


"Aiden, kamu sudah sadar Nak? Syukurlah"


Aiden menoleh pada Mami yang berdiri di samping dia berbaring. Aiden baru ingat ketika dia pulang dari kantor tadi sore, tiba-tiba saja di perjalanan hujan turun dengan deras. Dan ketika dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, namun tiba-tiba sebuah mobil menabrak mobilnya dari arah kiri. Tabrakan yang sangat kencang hingga Aiden merasa dunia yang langsung terbalik seketika.


"Mam, dimana Ayra? Apa dia baik-baik saja?"


Mami menarik kursi di samping ranjang pasien yang ditempati oleh Aiden. "Keadaan Ayra cukup parah Nak, dia mengalami cedera cukup parah di kepalanya. Sekarang Ayra masih menjalani operasi. Papi dan Saqila yang berada disana"


Medengar penjelasan Mami,benar-benar membuat tubuh Aiden lemas seketika. Saat  ini istrinya sedang dalam keadaan yang belum pasti, apa dia baik-baik saja atau tidak. Dan sungguh Aiden mulai merasa ketakutan. Takut jika dia harus kehilangan istrinya itu.


"Mam, bagaimana ini? Aku tidak akan siap jika harus kehilangan Ayra. Pokoknya tolong berikan yang terbaik untuk istriku"


Mami menghela nafas pelan, jangankan Aiden. Dia saja merasa sangat takut kehilangan menantu kesayangannya itu. Apalagi ada Alerio yang masih memerlukan sosok dan kasih sayang dari seorang Ibu. "Kita berdo'a saja, semoga Ayra bisa melewati masa kritisnya dan segera pulih"

__ADS_1


Aiden benar-benar tidak bisa hanya berdiam saja di atas ranjang pasien seperti ini. Dia harus melihat keadaan istrinya. Dia berusaha bangun, namun kepalanya benar-benar terasa pusing dan sakit.


"Aiden, kamu mau kemana? Diam saja, lagian kamu juga baru sadarkan diri"


"Mam, aku harus melihat keadaan istriku. Tidak bisa jika aku  hanya berdiam diri disini"


"Iya, Mami tahu jika saat ini kamu sedang khawatir dengan istrimu. Tapi keadaan kamu juga saat ini masih belum stabil. Jadi jangan membuat orang-orang semakin panik saat melihat keadaan kamu yang seperti ini. Jadi tolong istirahat dulu disini dan jangan dulu melakukan apapun"


Benar juga apa yang dikatakan oleh Mami, saat ini Aiden tidak bisa memaksakan dirinya untuk melihat keadaan Ayra dengan keadaan dirinya sendiri yang masih belum stabiil. Akhirnya Aiden memilih untuk diam diatas ranjang pasien. Meski pikirannya sangat tidak tenang sekarang. Memikirkan keadaan istrinya yang entah bagaimana keadaannya sekarang.


Di depan ruang operasi, Saqila duduk dengan perasaan yang campur aduk. Dia sangat mengkhawatirkan keadaan adiknya itu. Dengan tangan yang terus mencoba menghubungi kedua orang tuanya yang berada di luar negara. Menanyakan apa mereka sudah sampai atau belum, karena Saqila langsung menghubungi orang tuanya ketika mengetahui Ayra dan Aiden mengalami kecelakaan.


Papi yang duduk disampingnya juga terlihat begitu cemas saat ini. "Kenapa operasinya lama sekali ya"


Saqila menoleh pada Papi sekilas, lalu kembali menatap pada pintu ruang operasj yang masih tertutup dengan lampu diatasnya yang juga masih menyala. Tanda jika operasi masih berlangsung dan belum selesai. Hingga beberapa saat kemudian, lampu diatas pintu ruangan operasi itu padam di susul dengan pintu ruangan yang terbuka.


Saqila dan Papi langsung saja menghampiri dokter dan tenaga medis lainnya yang baru saja keluar dari ruangan itu. "Bagaimana keadaan adik saya Dok?"


Saqila menghela nafas lega, setidaknya saat ini Ayra sudah dalam keadaan baik-baik saja. Meski masih perlu melihat perkembangannya nanti selepas operasi. Tapi Saqila yakin jika adiknya ini sangat kuat dan bisa bertahan.


"Satu jam lagi, pasien akan di pindahkan ke ruang rawat inap. Kalian bisa menjenguk pasien setelah dua jam pasca operasi"


"Baik Dok, terima kasih"


######


Setelah keadaannya lebih baik, Aiden tetap memaksa untuk menemui istrinya. Hingga Mami harus meminta izin pada dokter agar Aiden bisa keluar dari ruang perawatan ini.


Dengan menggunakan kursi roda, Aiden pergi ke ruangan Ayra. Mami yang mendorong kursi roda anaknya itu juga sudah sangat ingin melihat keadaan menantunya ini.

__ADS_1


"Loh kenapa kalian masih diluar?" tanya Mami ketika sudah sampai di ruang rawat Ayra dan menemukan Saqila dan Papi masih menunggu di luar ruangan.


"Kita masih harus menunggu dokter yang sedang melakukan observasi setelah Ayra menjalani operasi. Jadi masih belum bisa menemuinya" jawab Saqila


Mami mengangguk mengerti, dia ikut menunggu dengan Saqila dan Papi di depan ruangan Ayra saat ini.


"Aiden, bagaimana keadaan kamu?"


Aiden menoleh pada Saqila dan tersenyu tipis. "Aku tidak papa Sa, hanya saja saat ini aku sedang benar-benar cemas dengan keadaan istriku"


Saqila mengangguk mngerti, karena pasti semua suami di dunia ini akan sangat mengkhawatirkan keadaan istrinya yang belum diketahui sampai saat ini. Apa dia baik-baik saja atau tidak.


"Dimana suamimu Sa?" tanya Mami yang merasa heran karena Alvino tidak ada disamping Saqila.


"Suamiku sedang ada pekerjaan diluar kota Mam, jadinya belum bisa datang kesini"


Mami hanya mengangguk mengerti.


Beberapa saat kemdian, barulah Dokter keluar dari ruangan dan memberikan kabar baik jika Ayra sudah sadar dan melewati masa kritisnya. Anggota keluarga juga sudah diizinkan masuk ke dalam ruangan Ayra.


Aiden yang melihat keadaan istrinya yang begitu mengkhawatirkan. Terbaring lemah diatas ranjang pasien dengan selang oksigen yang masih terpasang di hidungnya.Kepalanya penuh dengan balutan perban. Bahkan rambut Ayra  yang awalnya panjang dan indah, kini telah hilang karena harus terpaksa di gunduli untuk proses operasi.


Ayra menoleh ke arah keluarga yang baru saja masuk. Dia mengerutkan keningnya seperti orang yang sedang kebingungan ketika melihat Aiden.


"Tuan kenapa?"


Deg..


Ada apa dengan Ayra?

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2