
"Jadi gak masuk nih Ay?"
Ayra menghela nafas, dia berdiri di dekat jendela yang terbuka. Ayra sedang butuh udara segar pagi ini. Ponsel masih menempel di telinga kirinya. "Iya Mi, aku izin gak masuk dulu ya"
"Tapi kamu baik-baik saja 'kan?"
"Iya, aku hanya sedang ingin istirahat saja. Sedikit gak enak badan"
"Ohh, yaudah. Cepat sembuh ya Ay"
"Iya Mi, terimakasih"
Ayra memutuskan sambungan telepon dengan Tami. Hari ini dia tidak mungkin untuk pergi kuliah, Ayra merasa dirinya tidak akan bisa fokus jika masuk kuliah pun. Hatinya sedang tidak baik-baik saja. Fikirannya juga sedang kacau. Dirinya sedang berada dalam ilusi menyakitkan. Di jatuhkan dengan harapan yang tinggi.
Tok..tok...
"Ay, aku masuk ya"
Ayra menoleh ke arah pintu kamar yang tertutup, dia mengira jika saat ini hanya ada dirinya di rumah ini. Ayra melirik jam dinding, ini sudah waktunya Aiden pergi ke kantor. Tapi, kenapa pria itu masih ada di rumah. Ayra berjalan ke arah pintu yang terbuka, Aiden muncul di sana dengan membawa nampan berisi sepiring buah yang telah dia potong-potong kecil.
"Ada apa Tuan?" Ayra berbalik dan berjalan menuju sofa di ujung ruangan dekat dengan jendela. Duduk disana dan mengacuhkan Aiden dengan berpura-pura memainkan ponselnya.
Aiden mendekat, menyimpan nampan yang di bawanya di sebuah meja kecil di sampingi sofa. Ikut duduk di samping istrinya. Aiden tidak bisa terus-terusan di diamkan Ayra seperti ini. "Ay, aku bisa jelasin tentang kemarin"
Ayra tidak peduli, dia tetap fokus pada layar ponselnya. Sama sekali tidak menganggap keberadaan Aiden di sampingnya. Aiden hanya menghela nafas melihat sikap cuek istrinya itu. Hatinya terasa sakit melihat Ayra yang mendiamkannya. Ya, Aiden tahu jika ini juga karena kesalahannya. Salah dia yang tidak bisa menjaga hati istrinya ini.
__ADS_1
"Maafin aku Ay, aku hanya asal bicara saja. Aku tidak bermaksud menyakitimu Ay. Maafkan aku Ayra"
Akhirnya Ayra mengangkat wajahnya yang sedari tadi hanya fokus pada ponselnya. Menoleh ke arah Aiden dan menatapnya dengan datar. "Tidak papa Tuan, saya tahu posisi saya. Tenang saja, saya akan menepati janji saya. Surat perjanjian masih berlaku 'kan. Saya akan pergi dari hidup Tuan setelah anak ini lahir"
Tangan Ayra langsung mengelus perutnya saat mengatakan itu. Jangan dengar Nak, maafkan Bunda.
Aiden mematung mendengar ucapan Ayra, dia tidak bisa menerima ucapan Ayra dengan akal sehat. Hatinya berdenyut sakit, Aiden tidak rela jika Ayra pergi darinya. "Gak Ay, bukan itu maksud aku. Ay dengarkan aku dulu, pliss jangan kayak gini"
"Maaf Tuan, saya memang sudah seharusnya seperti ini sejak awal. Jadi, jangan membuat saya berubah lagi dan malah menjadi sakit hati"
"Sayang..." Aiden memaksa menggenggam tangan Ayra saat gadis itu terus berusaha melepaskan genggaman tangannya. "...Tolong jangan kayak gini, aku tidak ingin kamu pergi Ay. Maafkan aku"
Ayra tersenyum tipis, senyuman yang sebenarnya hanya sedang menutupi luka hatinya. "Tuan tidak perlu takut, saya tidak akan mengingkari kesepakatan kita. Saya tidak akan pergi saat ini, karena bayi ini masih belum lahir. Saya akan pergi setelah bayi ini lahir. Itu 'kan yang Tuan inginkan? Sekarang Tuan bisa tenang, saya tidak akan mengingkari janji saya. Sekarang Tuan boleh keluar, saya sedang ingin sendiri. Saya tidak mau menjadi stres karena adanya Tuan di sini"
Deg...
Aiden merenung, dia benar-benar terdiam sendirian di dalam kamar tamu. Dengan beberapa kaleng minuman di depannya. Aiden tidak bisa melupakan ucapan Ayra. Aiden sangat terluka melihat tatapan kecewa wanita itu. Aiden merasa dirinya telah benar-benar tergantung pada Ayra. Dia tidak bisa Ayra mendiamkannya seperti ini. Seolah ada bagian dari hatinya yang terasa kosong saat Ayra bersikap seperti ini padanya.
Saya tidak mau menjadi stres karena adanya Tuan di sini.
Ucapan Ayra benar-benar menjadi pukulan telak bagi Aiden. Dia tidak mau istrinya stres, apalagi dia yang sekarang sedang mengandung anaknya. Tapi, kenapa harus dirinya sendiri yang membuat istrinya stres. Dirinya sendiri yang menjadi penyebabnya.
"Ay, maafkan aku Sayang. Jangan terus menyiksaku dengan seperti ini" lirih Aiden
Aiden benar-benar kacau, Ayra yang marah, Ayra yang kecewa padanya telah membuat Aiden kehilangan tujuan hidupnya. Dia tidak bisa melihat Ayra yang sekarang. Baru saja hidupnya terasa bahagia saat Ayra sudah berani memanggilnya Sayang, meski hanya di waktu mereka berdua saja. Tapi semua kebahagiaan itu seolah terhempas dalam sekejap mata saja. Dan semua itu hanya karena kesalahannya.
__ADS_1
Hingga sore hari, Aiden masih terdiam di kamar tamu. Dia bahkan melewatkan makan siang. Ayra yang juga baru keluar dari kamarnya setelah seharian hanya diam di kamar, menangis lalu tertidur hingga saat ini. Ayra merasa perutnya lapar, dia tidak boleh mengabaikan kesehatan bayinya di dalam kandungan. Ayra harus tetap mengisi nutrisi yang baik untuk bayi dalam kandungannya.
Melihat ada bahan makanan yang cukup banyak di dalam lemari es, membuat Ayra semangat untuk memasak makanan yang enak. Stres dengan semua ini, Ayra melampiaskannya di dapur dengan masak banyak makanan.
Aroma harum masakan tercium sampai ke kamar tamu. Aiden tidak mungkin berfikir jika Saqila yang sedang memasak. Tentu dia tahu bagaimana kemampuan Saqila dalam hal memasak sangat nihil. Aiden segera berdiri dan berjalan keluar dari kamar tamu. Dia tahu jika Ayra yang sedang berada di dapur. Berjalan cepat menuju dapur dan Aiden melihat istrinya yang sedang asyik mengaduk masakan di dalam wajan. Di atas meja makan pun sudah terhidang beberapa masakan.
"Ay, kamu masak?"
Ayra menoleh sekilas, namun kembali lagi fokus pada masakan terakhirnya. "Makanlah, saya tahu jika Tuan belum makan siang"
"Bisa kita makan bersama Ay, aku merindukan saat kita makan berdua"
Ayra memindahkan masakan terakhirnya ke atas mangkuk. "Boleh saja, sebelum saya melahirkan. Karena kalau saya sudah melahirkan, Tuan pasti tidak akan bisa lagi makan bersama saya"
Deg..
Ucapan Ayra selalu berhasil menusuk ke hati Aiden. "Bisakah untuk tidak membahas itu terus Ay? Aku benar-benar tidak ingin kamu pergi Ay"
Ayra menyimpan masakan terakhirnya di atas meja makan. Lalu mengambilkan makanan untuk Aiden dan menyimpannya di depan Aiden. "Saya tidak akan pergi, tapi Tuan yang akan meninggalkan saya ketika bayi ini lahir"
Aiden semakin serba salah, ya memang itu yang dia ucapkan. Tapi percayalah, jika apa yang dia ucapkan kemarin tidak sesuai dengan kata hatinya. Aiden hanya ingin menutup pemikiran negatif Saqila saja. Tidak menyangka akan berakhir seperti ini. Aiden tidak pernah lagi memikirkan tentang surat perjanjian atau kesepakatan yang telah dirinya buat dengan Ayra. Nyatanya Aiden merasa sangat nyaman dengan istri keduanya. Aiden tidak pernah berfikir untuk berpisah dengan Ayra. Meski dia tahu jika masalahnya tidak akan semudah itu saat Saqila juga tetap berada di antara mereka.
Apa yang harus aku lakukan, Tuhan? Aku menginginkan Ayra, tapi juga tidak mungkin meninggalkan Saqila.
Bersambung
__ADS_1
Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5