Suamiku Dan Suamimu

Suamiku Dan Suamimu
Menerima Kenyataan


__ADS_3

Rasanya masih terlalu mengejutkan bagi Ayra saat dia mendengar keseluruhan cerita suaminya itu. Nyonya Saqila berselingkuh dengan saudara kembar Alvaro. Dan Ayra masih merasa tidak percaya untuk hal yang telah terjadi pada pernikahan suaminya dengan istri pertamanya itu. Padahal mereka selalu terlihat harmonis sejak dulu, Ayra masih ikut Ibunya bekerja di rumahnya.


Pagi ini Ayra terbangun dengan suasana hati yang lebih baik. Semalam tidur dengan berpelukan dengan suaminya membuat tidurnya lebih nyenyak. Ayra sudah mulai berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan. Aiden masih terlelap di kamar.


Surat gugatan percaraian  itu masih membuat Ayra sangat terkejut hingga pagi ini. Pernikahan suaminya dan Nyonya Saqila benar-benar berakhir, seharusnya dia senang karena mulai saat ini Aiden akan menjadi miliknya seorang. Tapi, hati Ayra tidak sejahat itu untuk merasa senang di atas kehancuran rumah tangga orang lain. Meski Aiden mengatakan jika Saqila juga sudah menemukan pria yang benar-benar mencintainya. Tapi tetap saja Ayra merasa tidak enak jika dia belum bertemu langsung dengan wanita itu dan meminta maaf atas segalanya yang telah terjadi.


"Sayang, aku mencintaimu"


Ayra menoleh ke arah suaminya yang sedang menuangkan air minum ke dalam gelasnya. Wajahnya sudah segar, sepertinya baru selesai mandi. "Apasi kamu ini, bangun tidur tiba-tiba bilang kayak gitu"


Aiden tersenyum, dia menaruh gelas kosong di atas meja lalu berjalan mendekati istrinya. Memeluknya dari belakang, mencium pipi istrinya. "Biar kamu percaya kalau aku memang sangat mencintaimu"


Ayra tersenyum, dia mematikan kompor dan berbalik menatap suaminya. "Terus, kalau aku tetap tidak percaya bagaimana?"


Aiden cemberut, dia mengangkat tubuh istrinya hingga terduduk di atas meja. Cup.. Tidak menunggu lama lagi, Aiden langsung mencium bibir istrinya tanpa ampun. Melu*mat dan mengecapnya dengan lembut. Ayra memegang lengan Aiden yang menahan tengkuk lehernya. Keduanya saling menikmati ciuman itu setelah beberapa hari berpisah.


Aiden melepaskan tautan bibirnya, dia menyatukan keningnya dengan kening istrinya. "I love you"


Aya tersenyum mendengar itu, sejak kemarin Aiden mengungkapkan cinta padanya, maka dia terus mengulang-ngulang kalimat itu. Bahkan saat mau tidur pun dia masih mengucapkan kata cinta pada Ayra.


"Ishh.."


Aiden berbalik menjauhi Ayra membuat istrinya bingung, Ayra turun dari meja dan berjalan mendekati suaminya. Sepertinya dia tahu kenapa Aiden marah, mungkin karena dia belum juga menbalas ucapan cintanya. Suaminya sedang merajuk sekarang. Ayra memeluknya dari belakang.


"Aku sudah jatuh cinta padamu mungkin jauh sebelum kamu merasakan hal yang sama padaku"


Aiden tersenyum, dia berbalik dan memeluk istrinya. "I love you Sayang"

__ADS_1


"I love you too, Sayang. Semoga tidak ada lagi masalah ya setelah ini"


Cup.. Aiden mencium kening istrinya. "Tidak akan ada masalah jika kau tidak berniat untuk meninggalkan aku"


Ayra terdiam, suaminya pasti tahu jika dia pernah memikirkan itu setiap saat. Aiden menoel hidung istrinya dengan gemas, melihat wajah terkejut dan bingung istrinya. "Kamu fikir aku tidak tahu jika kau selalu memikirkan untuk pergi dariku"


Ayra hanya cengengesan, wajar saja jika Ayra selalu memikirkan itu. Karena pernikahannya di batasi dengan surat perjanjian. "Karena aku hanya mencoba mempersiapkan diri untuk tidak terlalu terluka saat aku harus meninggalkan kamu"


Aiden mencium kening istrinya, dia tahu bagaimana perasaan istrinya dengan keadaan seperti ini. Semuanya pasti sangat berat bagi Ayra, apalagi saat dirinya juga harus rela berpisah dengan anaknya.


"Sayang, surat perjanjian itu sudah tidak berarti apa-apa lagi. Sekarang hanya ada cinta untuk menyatukan aku dan kamu selamanya"


Ayra mengangguk dengan senyuman yang merekah. Pada akhirnya dia yang memenangkan hati suaminya. Meski pada awalnya dia hanya seorang istri bayaran untuk suaminya. Dia hanya mempunyai tugas untuk melahirkan seorang anak untuk Aiden dan setelah itu langsung pergi. Tapi ternyata takdir berkata lain, sekarang malah Aiden yang jatuh dalam pesona Ayra. Segala kesederhanaan gadis itu menjadi daya tarik tersendiri bagi Aiden. Mungkin memang sejak awal Ayra adalah takdirnya. Seperti yang pernah Saqila ucapkan, jika Aiden dan Saqila hanyalah tempat persinggahan sesaat sebelum keduanya benar-benar menemukan sosok yang benar-benar menjadi takdir hidup mereka.


"Yaudah sekarang ayo kita sarapan"


Hari ini adalah pertama kali Aiden menghadiri sidang perceraiannya dengan Saqila. Hari ini juga yang akan membuat Aiden bertemu dengan kedua orang tua Saqila. Selama ini mereka baik pada Aiden, dan dia pun tetap harus bersikap baik.


"Beneran gak mau ikut?" Tanya Aiden pada Ayra yang sejak pagi memang menolak untuk ikut dirinya ke persidangan.


"Tidak Sayang, lagian aku ada kuliah juga"


"Segera ambil cuti, lihat perutmu sudah semakin besar"


"Iya sebentar lagi aku akan ambil cuti. Jadi kamu tenang saja, sekarang cepetan berangkat takutnya telat" Ayra selesai dengan memasangkan dasi di leher suaminya. Dia sedikit merapikan jas yang di pakai suaminya itu.


"Kamu sudah siap untuk kuliah 'kan?"

__ADS_1


Ayra mengangguk sebagai jawaban.


"Yaudah ayo biar aku antar dulu kamu"


"Tapi 'kan kamu mau..."


Cup.. Kecupan di bibirnya membuat Ayra diam dan tidak melanjutkan ucapannya. "Masih keburu jika aku mengantarkan kamu ke kampus"


Ayra mengangguk saja, dia lalu mengambil tasnya. Lalu mereka pergi bersama. Setelah mengantarkan istrinya ke kampus, Aiden langsung melajukan mobilnya menuju pengadilan agama. Hari ini adalah hari pertama untuk persidangan dirinya  dan Saqila. Saat sampai disana, Aiden sudah ditunggu oleh kedua orang tua Saqila. Aiden masih bersikap sopan pda mereka. Meski tatapan kecewa mereka tetap tidak bisa Aiden hindari.


"Kenapa semuanya menjadi seperti ini, Aiden. Maafkan Saqila jika selama menjadi istrimu dia tidak menjadi istri yang baik dan membanggakan suami, dia bahkan tidak bisa memberikan kamu seorang keturunan. Maafkan segala kesalajannya" Mama Saqila langsung memeluk Aiden dengan tangisan yang pecah. Dia tidak akan menyalahkan menantunya dan tidak akan menyalahkan anaknya juga. Semua yang terjadi ini dia anggap sebagai takdir.


"Tidak papa Ma, aku juga salah karena aku tidak bisa bersabar dan mencintai Saqila dengan sepenuh hatiku. Nyatanya aku masih bisa berpaling dan menyakitinya. Maafkan aku Ma, Pa, karena aku tidak bisa membahagiakan putri kalian"


Papa Saqila menepuk bahu Aiden, memberinya semangat. "Tidak papa Nak, Papa mengerti bagaimana posisi kamu. Saat ini kita anggap saja jika semuanya sudah takdir. Jangan terus saling menyalahkan. Kamu juga semoga semakin bahagia bersama istrimu yang baru"


Aiden mengangguk, Mama melepaskan pelukannya. Dia tersenyum pada Aiden dengan senyuman yang menenangkan. "Mana istrimu, apa dia tidak ikut?"


Aiden menggeleng pelan "Dia masih kuliah, dan juga sedang hamil besar. Jadi kasihan kalau harus ikut datang kesini"


Mama mengangguk, dia mengelus lengan Aiden. "Kapan-kapan kenalkan pada Mama dan Papa ya. Kita tetap menjadi keluarga 'kan meski pernikahan kalian telah berakhir"


"Tentu Ma, kita tetap menjadi keluarga"


Pada akhirnya semuanya menerima keputusan yang di ambil oleh Aiden dan Saqila. Bahkan Mama dan Mami juga saling memeluk dengan perasaan yang ikhlas dengan keadaan hari ini.


Bersambung

__ADS_1


Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5


__ADS_2