Suamiku Dan Suamimu

Suamiku Dan Suamimu
S2 #Memberikan Rasa Tenang Dan Nyaman#


__ADS_3

Kesal juga karena Aiden yang terus berteriak sambil menggedor pintu kamar, membuat Ayra dengan kesal membuka pintu kamar yang sengaja dia kunci itu. Setelah membukakan pintu kamar untuk suaminya, Ayra langsung berbalik dan kembali merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur, Memunggungi Aiden.


Aiden menutup pintu kamar dengan perlahan. Lalu segera menghampiri istrinya yang sedang tidur diatas tempat tidur. Aiden naik ke atas tepat tidur dan memeluk tubuh istrinya yang terbungkus selimut. Mengecup pipi istrinya dengan lembut.


"Jangan marah, kamu hanya salah faham Sayang"


Ayra tidak menjawab, dia malah semakin menutup wajah dan kepalanya dengan selimut. Masih merasa kesal pada suaminya dan tidak menginginkan berbicara dengan suaminya ketika Ayra sudah benar-benar kesal.


"Sayang, aku benar-benar bisa menjelaskan semuanya"


Aiden menghela nafas pelan ketika istrinya masih saja diam dan tidak berkata apapun padanya. Aiden terus memeluk Ayra dengan erat meski wanitanya itu masih diam dan tidak mau berbicara padanya.


"Sayang, aku banyak pekerjaan disana sampai tidak mempunyai waktu untuk mengabari kamu. Maafkan aku ya Sayang"


"Lepas" Ayra mencoba untuk melepaskan pelukan Aiden di tubunya itu. Namun pria itu malah semakin erat memeluknya.


"Sayang aku bisa menjelaskan semuanya, kamu jangan terus marah begini padaku"


Ayra menghembuskan nafas kasar, dia berbalik dan menatap Aiden yang masih memeluknya dengan tajam. "Terus apa aku harus bersikap biasa saja ketika melihat suamiku yang datang bersama wanita lain setelah seharian ini memberiku kabar saja tidak sempat"


Aiden menghela nafas pelan, melihat istrinya yang sedang marah itu. Dia mengecup kening Arya, tidak peduli jika saat ini Ayra sedang sangat marah padanya.


"Aku dan dia tidak sengaja bertemu di gerbang rumah. Memang dia yang berniat datang ke sini untuk bertemu Mami. Lagian mana mungkin aku pergi bersama wanita lain dan tidak mengabari kamu"


Ayra tentu tidak langsung percaya dengan ucapan suaminya barusan. Dia menatap Aiden dengan mata menyipit tajam. Merasa jika apa yang diucapkan oleh suaminya barusan hanya sebuah kebohongan saja.


"Sayang, masa kamu tidak merasakan cintaku yang besar ini padamu sampai kamu tidak percaya dengan ucapanku itu"


Ayra memukul dada Aiden dengan kesal, benar-benar kesal karena dirinya yang selalu membuat Ayra khawatir dan kesal.

__ADS_1


"Kamu jahat, kenapa tidak memberi tahu aku jika memang akan pergi ke luar kota. Apa kamu tidak tahu kalau aku snagat mengkhawatirkan kamu"


Aiden hanya pasrah saja ketika Ayra terus memukul dadanya dan sedang meluapkan kekesalannya saat ini pada Aiden. Dirasa Ayra sudah mulai puas meluapkan rasa kesalnya pada Aiden. Dia langsung memegang tangan Ayra dan mengecupnya dengan lembut.


"Maaf ya karena aku sudah membuat kamu kesal dan khawatir. Tapi memang tadi benar-benar sangat sibuk sampai aku tidak sempat memberi kabar padamu"


Ayra menatap suaminya, wajah lelah Aiden benar-benar terlihat jelas. Ayra jadi merasa kasihan juga pada suaminya karena sudah sangat bekerja keras seharian ini dan saat pulang malah mendapatkan kemarahan dari istrinya yang salah faham karena kedatangannya yang berbarengan dengan Ghea.


Ayra memeluk suaminya, menyandarkan kepalanya di dada Aiden. "Maaf ya karena aku malah marah-marah sama kamu.Padahal kamu pasti sudah sangat lelah seharian ini"


Aiden tersenyum mendengar itu, dia mengecup puncak kepalanya dengan penuh cinta. "Lain kaliĀ  tanyakan dulu sama aku apa yang sebenarnya terjadi, jangan membuat kesimpulan sendiri dan marah-marah begini padaku"


"Salah kamu sendiri kenapa tidak memberi tahu aku tentang kepergian kamu hari ini. Aku 'kan jadi bingung saat tadi pagi bangun dan tidak menemukan kamu disampingku"


"Iya maaf Sayang, karena memang tadi situasinya benar-benar urgen"


Ayra mendongak dan menatap suaminya dengan lekat. "Lalu bagaimana keadaan pabrik disana?"


Ayra semakin erat memeluk suaminya ketika dia melihat gurat lelah dan kesedihan di wajah suaminya itu. "Semuanya akan kembali normal lagi kok, aku yakin itu. Mungkin semua ini memang sebuah cobaan untuk kamu dalam menjalani usaha ini"


Dan inilah kelebihan Ayra yang tidak Aiden dapatkan dari orang lain. Istrinya ini selalu memberikan Aiden ketenangan disaat dia sedang dalam keadaan gelisah seperti saat ini.


"Terima kasih Sayang karena sudah memberikan aku rasa tenang dan nyaman"


Ayra mengangguk dalam pelukan suaminya itu. Karena memang hanya itu yang bisa Ayra berikan pada suaminya disaat seperti ini.


######


Setelah Ayra terlelap dengan nyaman, Aiden segera menemui Papi di ruang kerjanya. Da harus melaporkan kejadian hari ini tentang kebakaran pabrik di luar kota.

__ADS_1


"Kerugiaannya mencapai 6M Pi, dan kita juga tidak bisa menunda gaji karyawan yang sudah bekerja bulan ini. Kasihan mereka jika harus terkena dampak dari musibah ini"


Papi menghela nafas pelan, dia sudah menduga kerugian yang akan dia terima atas kejadian ini. "Apa kamu tidak menemukan penyebab kebakaran itu?"


"Semuanya sudah aku serahkan pada polisi. Dan saat polisi masih mencari bukti yang pasti atas kejadian ini"


Papi benar-benar bingung sekarang, Kerugian yang cukup besar untuk saat ini. "Yasudah, gunakan dulu dana yang ada untuk membayar semua gaji karyawan"


Aiden mengangguk, dia sedikit memijat pelipisnya yang terasa pening. "Kita harus adakan rapat dengan beberapa investor yang bersangkutan dengan pabrik di luar kota ini"


"Tapi Den, apa semua ini bukan karena perbuatan yang disengaja?"


"Entahlah Pi, aku juga bingung. Jadi biarkan saja polisi yang menangani semua ini"


Dan kesibukan Aiden mungkin bukan hari ini saja. Karena tidak mungkin dirinya bisa menyelesaikan masalah sebesar ini dengan waktu yang singkat. Aiden kembali ke dalam kamar setelah dia berbicara dengan Papi. Dia naik ke atas tempat tidur, mengecup istrinya sebelum dia ikut terlelap dengan memeluk tubuh Ayra.


Ayra membuka matanya ketika merasakan hembusan nafas yang teratur dari suaminya. Ayra menatap wajah lelah suaminya. Akibat kebakaran pabrik,pasti akan membuat Aiden bingung dan harus mengerjakan banyak hal setelah ini.


Ya Tuhan, semoga semua masalah yang menimpa suamiku akan segera selesai.


Ayra mengecup bibir suaminya sebelum dia kembali masuk ke dalam pelukan Aiden dan terlelap dalam pelukan hangat suaminya itu.


Dan pagi ini Ayra terbangun ketika dia melihat suaminya yang sudah rapi dengan pakaian kerja. "Sayang, ini masih pagi loh. Kok sudah siap ke kantor"


Aiden menoleh pada istrinya yang baru saja bangun tidur. Wajahnya masih terlihat bingung, sangat menggemaskan di mata Aiden. "Aku harus pergi ke luar kota lagi hari ini untuk menyelesaikan masalah kemarin. Kamu gak papa 'kan kalau aku tinggal sebentar?"


"Iya, asal kamu beri tahu aku kemana kamu pergi dan sebisa mungkin beri aku kabar meski hanya sekali. Aku tidak mau khawatir terus sama kamu"


Aiden mengecup kening istrinya dengab lembut. "Iya Sayang, kalau nanti malam aku tidak pulang mungkin karena pekerjaan disana yang masih banyak yang harus aku urus"

__ADS_1


Ayra hanya mengangguk dan mencoba mengerti situasi suaminya saat ini.


Bersambung


__ADS_2