
Ayra membuka pintu apartemen, dia baru saja pulang kuliah. Saat Ayra baru saja masuk ke dalam apartemen, dia mencium aroma masakan yang sangat menguar di indra penciumannya. Ayra merasa heran karena sudah 4 hari ini dia hanya tinggal sendiri di apartemen.
Ayra membuka flat shoes nya dan mengganti dengan sandal rumah. Berjalan menuju dapur dan Ayra terdiam saat melihat sosok pria tampan yang memakai apron dengan lengan kemeja yang di gulung sampai ke siku. Penampilan Aiden ini persis seperti aktor yang Ayra tonton dalam salah satu drama.
Aiden yang awalnya fokus pada masakan di dalam wajan, dia langsung menoleh saat menyadari kehadiran Ayra disana. "Sayang sudah pulang, ayo kita makan siang bersama. Aku baru selesai masak, tunggu sebentar tinggal satu masakan lagi"
Ayra hanya diam menatap suaminya yang begitu lihai menggunakan peralatan dapur. Seolah dia memang sudah terbiasa dengan semua itu. Aiden selesai dengan masakan terakhirnya, dia berbalik dan melihat Ayra yang masih berdiri diam di tempatnya.
"Sayang ayo duduk, kita makan"
Aiden menyimpan masakan terakhirnya di atas meja, lalu dia segera berjalan menghampiri Ayra. Menarik tas yang terselempang di bahunya dan juga beberapa buku di tangannya. Aiden menyimpan semua itu di atas meja dekat sofa. Lalu dia kembali pada Ayra dan memeluknya dari belakang. Menggiring Ayda menuju wastaffel tanpa melepaskan pelukannya.
"Cuci tangan dulu yuk"
Ayra masih diam, dia hanya menuruti apa yang di katakan Aiden saja. Mencuci tangannya lalu mereka kembali ke meja makan. Aiden mengambilkan makanan untuk Ayra dengan wajah yang antusias, meski dia menyadari jika Ayra sedikit dingjn padanya. Bahkan dari tadi dia belum mengucapkan sepatah kata pun pada Aiden.
"Selamat makan Sayang, semoga kamu suka dengan masakan ku"
Ayra menatap piring yang di letakan suaminya. Piringnya sudah terisi penuh dengan makanan. Dengan perlahan dia mengambil sendok dan mulai memakannya. Rasanya tidak buruk. Suaminya benar-benar bisa memasak.
"Jangan takut, aku bisa kok memasak. Ya meskipun rasanya mungkin tidak akan seenak masakanmu"
Lagi-lagi Ayra hanya diam dan tak menjawabnya. Meski heran, tapi Aiden mencoba untuk biasa saja. Dia akan berbicara dengan istrinya ini saat selesai makan siang.
__ADS_1
Ayra berdiri setelah makannya selesai, dia berjalan ke arah kamar tanpa menghiraukan suaminya. Aiden segera cuci tangan dan melepas apron yang dia gunakana, lalu berlari menyusul Ayra ke dalam kamar.
"Sayang, kamu sebenarnya kenapa? Aku baru pulang kok malah di diamkan seperti ini"
Ayra yang sedang duduk di pinggir tempat tidur, langsung menoleh ke arah Aiden yang baru saja masuk ke dalam kamar. "Memangnya aku harus bagaimana? Harus mengucapkan selamat gitu atas liburan suamiku dan istri pertamanya? Aku tahu jika kamu kesana bersama Nyonya"
Deg..
Sepertinya Aiden baru menyadari kalau istrinya mengetahui tentang keberadaan Saqila disana. Tapi, darimana dia tahu? Gumamnya. Aiden masih berfikir hingga dia ingat ketika dia melakukan panggilan video dengan Ayra, dan saat itu juga Saqila yang datang ke kamar hotelnya.
Aiden mendekati istrinya, dia berlutut di lantai kamar tepat di depan Ayra yang duduk di pinggir tempat tidur. Tangan Aiden menggenggam tangan istrinya, namun Ayra malah memalingkan wajahnya.
"Sayang, dengarkan aku dulu. Aku bisa jelasin sama kamu"
Aiden berdiri dia pergi ke ruang ganti tanpa berkata apapun. Sementara Ayra sudah menangis dengan segala perasaannya yang sangat kacau. Melihaf reaksi Aiden barusan, sudah pasti jika suaminya memang menginginkan dirinya segera pergi dari kehidupannya. Namun tak lama kemudian, suaminya kembali dari ruang ganti dengan membawa sebuah map di tangannya. Ayra segera menghapus air matanya yang bahkan tidak mau berhenti mengalir.
"Ini.." Aiden menyodorkan map itu pada Ayra. "...Kau baca ini maka kau tidak akan bisa lagi berkata untuk meninggalkanku"
Ayra mendongak, dia menatap Aiden dengan bingung lalu beralih pada map yang di sodorkan oleh suaminya itu. Dengan ragu dan takut, Ayra mengambil map itu. Apa ini surat perjanjian itu? Gumam Ayra saat dia mengingat warna map ini sama dengan surat perjanjian yang dia tandatangani waktu itu. Mengingat itu, hati Ayra semakin berdebar kencang. Takut jika apa yang di fikirkannya adalah benar.
Perlahan Ayra mengeluarkan sebuah kertas dari dalam sana, dan benar itu adalah surat perjanjian yang dia tandatangani dulu. Hati Ayra sudah berdenyut sakit, apa maksud Aiden dengan menberikan ini. Sengajakah karena dia ingin Ayra sadar dengan posisinya.
Srakkk...
__ADS_1
Ayra tersentak saat Aiden mengambil kertas itu dan merobeknya dengan sangat kasar, lalu melemparkan serpihan kertas itu ke udara hingga jatuh berserak di lantai kamar. Ayra masih bingung dengan yang di lakukan suaminya ini. Dia mengambil kembali kertas yang ada di dalam map. Melihatnya dan Ayra tidak menyangka dengan apa yang dia baca.
"Ini...." Ayra menatap suaminya dengan wajah terkejut. Bahkan kertas di tangannya terlihat bergetar karena dia terlalu terkejut dengan apa yang dia baca di kertas itu.
"Ya, aku sudah mengajukan perceraian dengan Saqila. Dan untuk surat perjanjian itu..." Aiden melirik ke lantai kamar, dimana serpihan kertas berserak disana. "...Aku sudah tidak peduli dengan itu. Ayra, aku mencintaimu"
Deg...Deg..
Kertas dan map di tangan Ayra langsung jatuh begitu saja ke aras lantai. Mendengar kata cinta dari suaminya bagaikan sebuah mimpi yang tidak akan terjadi. Tapi, saat ini Ayra jelas mendengar itu. Kata itu terucap dari bibir suaminya dan ini nyata, bukan sebuah mimpi.
Aiden kembali berlutut di lantai, dia memegangi tangan Ayra yang ada di pangkuannya. Tangan istrinya terasa dingin dan sedikit bergetar. Aiden mengecup kedua tangan istrinya itu dengan lembut.
"Sayang, aku tahu jika pernikahan kita di mulai dari sebuah perjanjian. Tapi seiring berjalannya waktu, kamu bisa membuatku merasa nyaman. Kenyamanan yang bahkan tidak aku rasakan saat aku bersama Saqila. Dan saat itu aku baru menyadari jika aku telah jatuh cinta padamu. Setelah cukup lama waktu aku gunakanĀ untuk meyakikan diriku sendiri jika aku benar-benar mencintaimu"
Ayra menatap suaminya dengan mata basah, air mata sudah tidak bisa lagi dia tahan. Akhirnya dia mendapatkan hati suaminya. Dia bisa memiliki hak atas suaminya dan juga untuk anak dalam kandungannya. Tapi, Ayra tetap tidak bisa menerima begitu saja saat dia tahu jika Aiden akan menceraikan Saqila. Dia takut jika dirinya adalah penyebab hancurnya pernikahan mereka.
"Tapi, apa harus dengan menceraikan Nyonya? Aku tidak papa jika harus di madu, karena aku yang masuk ke dalam pernikahan kalian"
Aiden menggeleng pelan, dia berdiri dan duduk di samping istrinya. Memeluknya dan mencium keningnya. Saatnya Aiden untuk menceritakan semua yang telah terjadi di antara dirinya dan Saqila.
"Aku dan Saqila hanya menjadi persinggahan sesaat. Itu sebabnya kenapa aku bisa merasakan kenyamanan yang lebih saat aku bersamamu...." Begitulah Aiden memulai ceritanya hingga dia benar-benar menceritakan semua yang telah terjadi. Awal pernikahanya yang memang sudah tidak baik-baik saja, setelah kecelakaan itu terjadi. Bahkan jauh sebelum Ayra masuk ke dalam pernikahan mereka.
Bersambung
__ADS_1
Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5