
Ayra mendengus kesal saat pagi ini dia terbangun dan suaminya sudah tidak ada disampingnya. Tidak biasanya Aiden pergi bekerja sepagi ini. Entah ada pekerjaan apa yang membuat Aiden sampai harus pergi sepagi ini.
Selesai mandi, Ayra langsung turun ke lantai bawah dan hanya melihat Mami yang berada di meja makan. "Mam, dimana Mas Aiden? Gak biasanya dia pergi di sepagi ini"
"Tadi dia bilang jika ada urusan mendadak di luar kota"
Ayra yang baru saja ingin mengambil roti tawar di atas meja, langsung terhenti seketika dan menatap ke arah Mami dengan wajah terkejut. "Keluar kota Mam? Kenapa gak bilang dulu sama aku ya"
"Mami juga tidak tahu, tapi memang dia bilangnya jika pekerjaan ini sangat mendadak. Katanya ada masalah dengan pabrik di luar kota"
Ayra menghela nafas pelan, untuk pertama kalinya Aiden pergi jauh dan tidak bicara dulu padanya.
"Sudahlah, kamu sarapan saja dulu. Jangan memikirkan hal yang tidak-tidak. Percaya saja jika suami kamu memang sedang ada pekerjaan disana. Kamu harus mempercayainya"
Ayra mengangguk, dia memang harus mempercayai suaminya. Tapi tetap saja Ayra merasa aneh saja karena Aiden yang tidak berbicara lebih dulu padanya.
"Ayra ke kamar dulu ya Mam"
"Iya Nak, jangan terlalu memikirkan tentang Aiden. Dia memang pergi untuk bekerja Nak"
Aya hanya mengangguk dan berlalu ke kamarnya. Dia melihat ponselnya, berharap jika suaminya akan menghubunginya pagi ini. Namun ternyata tidak ada satu pesan pun yang terkirim dari suaminya itu.
"Sebenarnya dia kemana? Kenapa sama sekali tidak memberikan kabar padaku"
Ayra duduk di pinggir tempat tidur dengan memegang ponselnya. Menatap layar ponsel untuk beberapa kali, berharap jika akan ada kabardari suaminya.
Hingga siang hari, tetap tidak ada kabar dari Aiden padanya. Ayra mulai gelisah dan tidak bisa berfikir jernih sekarang. Jelas Ayra takut jika suaminya kenapa-napa dan Ayra juga takut jika suaminya.. Ahh.. Entahlah apa yang sedang Ayra fikirkan saat ini. Yang jelas dia sangat merasa ketakutan yang tidak jelas.
Ayra turun ke lantai bawah dan menemui Alerio yang sedang bermain dengan pengasuhnya dan juga Mami.
__ADS_1
"Ay, apa sudah ada kabar dari suami kamu?"
Ayra menggeleng pelan menjawab pertanyaan Mami barusan. Dia memang belum mendapatkan kabar apapun dari suaminya.
"Kamu tenang saja, mungkin suami kamu memang sedang banyak pekerjaan sampai dia tidak sempat menghubungi kamu"
"Iya Mam"
Meski Ayra mencoba untuk tidak memikirkan hal-hal yang buruk tentang suaminya. Namun jika sampai seharian ini Aiden tidak memberinya kabar. Tetap saja akan membuat Ayra gelisah dan bingung.
"Nda ini.. "
Ayra tersenyum saat Alerio memberikan sebuah mainan padanya. Anaknya itu sedang mengajaknya bermain saat ini. Ayra merasa terhibur dengan tingkah laku Alerio saat ini. Semua fikiran buruk dalam dirinya langsung hilang seketika.
Hingga malam hari Ayra benar-benar tidak mendapatkan kabar apapun dari Aiden. Dia sudah mencoba menghubungi suaminya, namun ternyata memang nomor ponsel Aiden sedang tidak dapat di hubungi.
"Pi, apa Papi tahu kemana Mas Aiden pergi?"
"Aiden memang pergi ke luar kota Ay, pabrik tekstil disana kebakaran dan Aiden yang harus turun tangan sendiri karena Papi sudah tua dan tidak bisa jika harus melewati perjalanan jauh"
Akhirnya Ayra mengetahui alasan suaminya pergi. "Tapi kenapa tidak memberi tahu Ayra dulu ya?"
"Memang kami mendapat kabarnya tadi jam 4 dini hari. Dan Aiden langsung pergi pagi ini karena kabarnya kerusakan disana cukup besar"
Ayra hanya mengangguk saja, dia mengerti apa yang di maksud oleh Papi. Ya, memang dirinya tidak tahu dari awalnya jika ada kebakaran di pabrik itu.
Dan ketika dia masih bermain dengan Alerio tiba-tiba suara Aiden terdengar. Ayra langsung berdiri dan berbalik menatap suaminya. Ayra tersenyum senang melihat suaminya yang sudah kembali. Namun seketika senyumannya pudar saat melihat seorang wanita yang berada di belakang Aiden.
"Sayang.." Aiden sudah merentangkan tangannya ketika melihat istrinya. Berharap jika Ayra akan langsung memeluknya karena rindu. Seharian ini Aiden benar-benar tidak bisa menghubungi istrinya karena kesibukan yang ada.
__ADS_1
Aiden terkejut ketika melihat Ayra yang malah berbalik dan pergi ke kamar.Tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada suaminya ini yang sejak tadi dia tunggu kabarnya.
"Kamu kenapa bisa bersama Ghea?" tanya Mami dengan tajam
Aiden mengerjap, dia baru sadar jika istrinya pasti salah faham dengannya yang datang bersama Ghea. "Aku ketemu di gerbang rumah. Ghea yang memang berniat datang kesini katanya"
Papi menggeleng pelan, dia sudah tahu duduk perkaranya sekarang. "Kejar istrimu, dia sudah menanyakan kamu sejak tadi dan sekarang dia pasti sedang salah faham"
"Aduh, maaf ya. Padahal Ghea datang kesini memang ingin bertemu dengan Tante saja. Maaf ya malah jadi salah faham seperti ini"
"Sudah tidak papa Ghe, kamu ada apa ingin bertemu dengan Tante?" Mami merasa bersalah karena sempat mengira Ghea dan Aiden ada hubungan di belekang mereka.
Ghea duduk disamping Mami dan menceritakan tujuannya datang kesini. Smentara Aiden langsung menyusul istrinya ke am kamar. Namun ketika dia memegang handel pintu kamar dan mencoba untuk membukanya, tidak bisa. Pintu kamar terunci.
"Sayang buka pintunya, aku bisa jelasin semuanya"
Aiden terus menggedor pintu dan memanggil istrinya agar mau membukakan pintu. Tapi Ayra benar-benar tidak membukakan pintu kamar. Dia sedang bingung dan ingin menenangkan diri. Melihat suaminya yang datang bersama wanita lain disaat selama seharian ini tidak ada kabar sama sekali pada Ayra yang menunggu kabarnya sejak tadi. Istri mana yang tidak akan kecewa dan berfikir yang macam-macam ketika melihat suaminya yang datang bersama wanita lain.
"Sayang, ayo buka pintunya atau kalau tidak aku akan mendobraknya!"
Sudah mengeluarkan ancaman hanya agar istrinya mau membukakan pintu. Dan suara teriakan Aiden itu terdengar sampai lantai bawah. Mami dan Ghea hanya terkekeh melihat kelakuan Aiden yang sangat bucin pada istrinya dan sekarang istrinya malah sedang marah padanya.
"Sudah tahu bucin dan tidak bisa hidup tanpa Ayra, kenapa harus bersikap cuek dan bahkan tidak memberi kabar padanya. Dasar pria" kekeh Ghea di akhir kalimatnya.
Ghea sudah jelas melihat bagaimana Aiden yang begitu mencintai istrinya. Jadi dia tidak akan mau mengganggu lagi AIden. Biarkan saja teman masa kecilnya itu bahagia bersama istrinya.
"Jadi kapan kamu akan pergi Ghe?" tanya Mami setelah dai mendengar cerita Ghea yang datang ke rumah ini hanya untuk berpamitan karena dia akan kembali ke kota tempat tinggal kedua orang tuanya.
"Mungkin akhir pekan ini Tante"
__ADS_1
Bersambung