Suamiku Dan Suamimu

Suamiku Dan Suamimu
Mencoba Ikhlas


__ADS_3

Aiden menatap nanar istrinya, Ayra baru tersadar dan melihat suaminya yang duduk di pinggir ranjang pasien. Tatapannya masih terlihat sangat sendu, wajar saja karena kehilangan sosok Ibu tidak akan mudah untuk seorang anak. Mau sudah sebesar apapun usianya.


Aiden menggenggam tangan Ayra yang tidak terpasang infus. Menciumnya beberapa kali. Hatinya sungguh tersayat melihat keadaan istrinya saat ini. Sangat rapuh dan seolah tidak mempunyai tujuan hidup lagi.


"Sayang, sabar ya... Kamu pasti kuat dengan semua ini"


"Kenapa Ibu ninggalin Ay? Padahal Ay sudah mengorbankan semua ini"


Hidupnya, masa depannya dan cintanya telah Ayra korbankan hanya demi membahagiakan Ibunya. Tapi kenapa semuanya malah berakhir seperti ini. Lalu, untuk apalagi Ayra berkorban? Untuk siapa dia berkorban saat ini? Bahkan anaknya saja sudah tidak bisa dia miliki setelah lahir nanti. Semuanya hanya demi Ibu, demi keinginan Ibu untuk bisa melihatnya lulus kuliah. Tapi semuanya benar-benar tidak terwujud. Sekarang Ibu telah pergi, dan Ayra tidak tahu akan bagaimana kehidupannya setelah ini.


"Semuanya sudah takdir Sayang, kamu harus ikhlas. Ibu pasti sudah tenang di sana. Jangan membuatnya berat meninggalkan dunia ini hanya karena kamu yang belum mengikhlaskan kepergiannya"


Ayra berusaha bangun, Aiden langsung membantunya. Istrinya itu langsung memeluknya dengan erat. Benar juga apa yang di katakan Aiden, jika semuanya sudah takdir. Ayra sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia hanya bisa mengikuti alur takdir kehidupannya yang telah di tuliskan oleh Tuhan.


"Kamu gak papa, maaf ya aku malah ninggalin kamu pas lagi sakit tadi" Sepertinya kesadaran Ayra mengingatkannya pada kondisi Aiden saat tadi dia meninggalkan pria itu di apartemen.


Aiden tersenyum, disaat seperti ini saja Ayra masih mengkhawatirkan kondisinya membuat Aiden memberikan kecupan di puncak kepalanya. "Aku sudah lebih baik, yang penting sekarang kamu yang harus sehat agar bayi kita juga sehat. Ikhlaskan Ibu ya, dia juga pasti sudah tenang di sana. Biarkan dia bahagia melihat kamu yang bahagia di dunia ini"


Ayra mengangguk dalam pelukan suaminya. Dia tahu jika dirinya harus menerima semua ini dengan ikhlas. "Sayang, aku mau pulang"


"Iya nanti pulang, tapi tunggu infusan habis ya. Kata Dokter begitu"


Ayra mengangguk, Aiden menidurkan istrinya. Membenarkan selimutnya. "Kamu istirahat dulu ya, aku mau menemui Rega. Dia menunggu di luar"


"Iya"

__ADS_1


Aiden mengecup kening dan bibir istrinya. Lalu dia berjalan keluar ruangan, menemui Rega yang menunggunya di kursi tunggu depan ruang rawat Ayra. Aiden duduk di samping Rega, dia tahu jika aistennya itu ada yang ingin di bicarakan dengannya.


"Ada apa Ga?"


"Seseorang mengatakan jika ada seorang perempuan yang datang menemui Ibu Sumi, sebelum dia mendengar teriakan Bu Sumi dan menemukannya sudah tak sadarkan diri. Beberapa waktu kemudian, mereka menemukan jika Bu Sumi yang awalnya di kira pingsan ternyata sudah tak bernyawa"


Penjelasan Rega cukup membuat Aiden terkejut. "Seorang perempuan?"


"Ya"


Aiden sedikit berfikir siapa kira-kira yang akan datang ke rumah Ibu mertuanya. Hingga satu nama terlintas di ingatannya. "Apa mungkin itu, Saqila?"


"Saya akan menyelidikinya, tunggu saja" Rega berdiri dan berlalu dari sana. Dia memang harus menyelidiki kejadian ini. Meski sebenarnya Rega juga sudah menduga seperti apa yang dikatakan Aiden. Namun, dia tidak bisa memutuskan jika belum mempunyai bukti yang benar-benar akurat.


"Aku ganti baju dulu ya, kamu istirahat"


"Iya Sayang"


Aiden berlalu ke ruang ganti, sementara Ayra langsung berbaring di atas tempat tidur. Semuanya terkesan terlalu cepat. Kejadian tadi pagi membuat Ayra benar-benar takut, Ibunya yang meninggal secara tiba-tiba. Ya, memang Ibu sering sakit-sakitan akhir-akhir ini, mungkin karena usianya yang sudah lanjut. Tapi, Ayra tidak menyangka jika Ibu akan meninggalkannya secepat ini. Bahkan sangat mendadak.


Maafkan Ay Bu, Ayra tidak bisa membuat Ibu bahagia. Ay tidak bisa mewujudkan mimpi Ibu yang ingin melihat Ay lulus kuliah. Semuanya terlambat, Ibu sudah pergi meninggalkan Ay untuk selamanya. Tapi kali ini Ay benar-benar akan mencoba ikhlas Bu, Ay akan merelakan semua yang telah terjadi dalam hidup Ay. Semoga Ibu tenang dan bahagia di sana.


Ksedihannya semakin terasa saat Ayra mengingat tentang pilihan hidup yang dia pilih ini hanya untuk Ibu. Memilih menjadi istri bayaran Tuan Aiden, di jadikan sebagai alat pencetak anak. Ayra rela melakukan itu hanya untuk Ibunya. Agar Ibu tidak perlu lagi bekerja sebagai pembantu untuk biaya kuliahnya.


Tapi, perjuangan Ayra seolah sia-sia sekarang. Namun menyesal pun tidak ada gunanya. Semuaya telah terjadi dan Ayra tinggal sedikit lagi menyelesaikan tugasnya. Setelah itu dia akan pergi dan memulai hidup baru. Meski berat meninggalkan anaknya dan juga Aiden. Tapi Ayra tidak mau terus-terusan menjadi yang kedua dan menjadi sumber masalah untuk rumah tangga Aiden dan Saqila. Ayra tetap akan menepati janjinya sesuai surat perjanjian.

__ADS_1


...🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲...


Pagi ini Ayra terbangun dengan keadaan lebih baik. Semalam tidur dengan saling berpelukan bersama suaminya cukup membuat hatinya tenang. Nyatanya pelukan Aiden masih yang menenangkan bagi Ayra.


Pagi ini dia memulai aktifitasnya dengan membuat sarapan di dapur. Bersedih atas kepergian Ibu dia hentikan sampai hari ini. Meski dirinya masih sangat kehilangan, tapi dia tetap harus mengikhlaskan semuanya. Ini sudah takdir Tuhan untuknya. Ayra hanya perlu menerima dan menjalaninya dengan sabar.


Selesai menyiapkan sarapan, Ayra kembali masuk ke kamar. Suaminya masih tertidur, Ayra duduk di pinggir tempat tidur dan mengelus kepala suaminya. Badan Aiden masih terasa hangat, mungkin karena kemarin dia yang kurang istirahat padahal tubuhnya sedang sakit.


"Sayang bangun yuk, sarapan dulu terus minum obatnya" bisik Ayra di telinga Aiden, pria itu langsung menggeliat pelan saat mendengar suara lembut Ayra.


"Tenggorokan ku kering Sayang" lirih Aiden dengan suaranya yang serak.


Ayra segera mengambil segelas air minum di atas nakas, membantu suaminya bangun dan memberikannya minum. "Bagaimana? Sudah lebih baik?"


Aiden mengangguk, dia menatap istrinya yang sudah terlihat lebuh ikhlas atas kepergian Ibunya. Meski tatapan matanya tidak bisa membohongi, jika dirinya masih merasa kehilangan atas kepergian Ibunya. Tapi, setidaknya Ayra sudah tidak sesedih kemarin.


"Sarapan yuk, kamu harus minum obat lagi..." Ayra mengecek suhu tubuh suaminya dengan punggung tangannya. "...Tuh masih agak panas tubuh kamu, harus istirahat. Gak usah pergi bekerja dulu"


Aiden tersenyum, dia selalu bahagia saat mendapatkan perhatian seperti ini dari Ayra. Perhatian yang bahkan tidak dia dapatkan dari Saqila. Istri pertamanya memang perhatian padanya jika dia sakit, tapi bukan dengan cara seperti ini. Saqila hanya membawa Aiden ke rumah sakit dan membiarkan perawat yang merawatnya hingga sembuh. Tidak seperti Ayra yang merawatnya dengan tangannya langsung.


Aku benar-benar telah jatuh cinta padamu Ay.


Bersambung


Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5

__ADS_1


__ADS_2