
"Aku cuma sebentar perginya, kamu kalau ada kerjaan ya gak papa. Lagian aku pergi sama Kak Saqila dan Mama juga, mumpung Mama lagi datang kesini"
Ayra benar-benar harus meminta izin suaminya dengan sangat. Untuk bisa pergi bersama Saqila dan Mamanya yang baru saja datang ke tanah air.
"Tapi kamu sedang hamil Sayang, jangan aneh-aneh deh. Aku gak mau kalau sampai kamu kecapean nantinya. Gak baik juga untuk ibu hamil"
Ayra meraih tangan Aiden dan menggenggamnya. "Aku tahu Sayang, aku janji akan jaga diri dan tidak akan terlalu lelah juga"
"Yaudah, biarkan Heru ikut"
"Sayang kok malah bawa Pak Heru si. Aku 'kan tidak berangkat sendirian. Aku sama Mama dan Kak Saqila juga"
"Bersama Heru atau tidak pergi sama sekali!"
Ayra langsung tidak bisa lagi protes ketika suaminya sudah memberi penekanan. Dia tidak mungkin bisa membantah suaminya ketika dia sudah memberikan peringatan dengan penuh penekanan seperti itu.
"Yaudah iya, aku pergi dengan Pak Heru"
"Tapi ingat, harus kembali sebelum sore"
Ayra menghela nafas pelan dan kemudian mengangguk saja. Dia yang ingin pergi tanpa suaminya artinya Ayra harus menuruti segala persyaratan yang diberikan oleh Aiden padanya.
"Sekarang istirahat dulu"
"Iya"
Aiden membawa istrinya ke atas tempat tidur. Menyelimutinya agar istrinya tidak kedinginan saat tidur. Lalu, dia ikut merebahkan tubuhnya di samping Ayra. Memeluknya dengan hangat.
"Tidurlah, kamu harus istirahat yang cukup menjelang kelahiran"
__ADS_1
Ayra mengangguk, memang seperti ini caranya Aiden memperlakukan Ayra. Apalagi saat ini dia sedang mengandung anaknya dan akan segera sampai pada waktu lahiran. Terkadang Ayra selalu merasa jika dirinya sedang menjadi seorang putri bagi suaminya. Karena perlakuan Aiden yang begitu lembut dan luar biasa padanya. Ayra benar-benar beruntung bisa mempunyai suami seperti Aiden, yang mencintainya dengan begitu tulus.
"Terima kasih karena sudah memberikan aku kebahagiaan ini, Sayang" lirih Ayra ketika menatap suaminya yang sudah memejamkan mata. Entah dia sudah tidur atau belum.
Kebahagiaan yang mungkin tidak akan Ayra dapatkan jika dia tidak menerima tawaran Aiden saat itu. Ketika suaminya menawarkan dia untuk menjadi seorang istri bayaran yang dia jadikan sebagai alat pencetak anak. Namun ternyata takdir berkata lain. Justru saat ini Ayra dan Aiden malah saling mencintai dan hidup bahagia bersama.
Pagi ini setelah Ayra selesai bersiap dan mengantar suaminya pergi bekerja. Dia langsung pergi bersama Pak Heru menuju tempat yang sudah disepakati oleh dia dan Saqila untuk tempat bertemu mereka hari ini.
Setelah cukup lama mendengar omelan Aiden yang terus memberinya peringatan untuk tidak terlalu cape dan pulang sebelum waktu yang Aiden tentukan.
"Sebelum sore sudah kembali ke rumah, kalau saat aku tahu kamu pulang kesorean awas saja!"
"Iya Sayang, iya"
Begitulah ancaman yang diberikan Aiden pada Ayra ketika istrinya itu sudah siap untuk berangkat. Aiden hanya tidak mau sesuatu hal terjadi pada istrinya itu. Apalagi sekarang Ayra sedang dalam keadaan hamil besar.
Ayra sampai di tempat tujuan, dia langsung turun dari mobil dan menemui Mama dan Saqila yang ternyata mereka telah sampai lebih dulu. Ayra menoleh ke belakang ketika dia merasa ada yang mengikuti langkah kakinya.
"Maaf Nona saya diperintahkan Tuan untuk menjaga Nona"
Ayra menghela nafas pelan, dia lupa jika orang yang bekerja pada suaminya ini memang sangat patuh pada apa yang diucapkan oleh Aiden.
"Ya kan Bapak bisa menunggu di mobil saja. Tidak perlu mengikuti saya"
"Jika saya hanya menunggu Nona di mobil, bagaimana saya bisa menjaga Nona dengan baik sementara Nona saja jauh dari pantauan saya"
Ayra benar-benar kesal, tapi dia juga tidak bisa melakukan apapun. Karena tahu jika Pak Heru tidak akan mendengarkan apa katanya, dia hanya mendengarkan apa yang di perintahkan oleh Aiden.
"Yaudah terserah BapakĀ saja"
__ADS_1
Ayra berjalan menghampiri Saqila dan Mama yang sudah menunggunya. Saqila tersenyum melihat kekesalan Ayra karena dia yang harus terus diawasi oleh bodyguard yang di pekerjakan oleh Aiden itu.
"Sudah Ay, kamu hanya perlu menuruti keinginan suamimu itu jika tidak mau dia tidak mengizinkan kamu keluar rumah sama sekali"
"Nah itu Kak, kejamnya suami aku seperti itu"
Saqila merangkul bahu Ayra, dia tahu adiknya pasti kesal dengan perlakuan Aiden. Tapi yang pasti Aiden melakukan ini juga demi kebaikan Ayra.
"Kamu itu beruntung karena bisa di perlakukan spesial seperti ini oleh suami kamu, Ay. Mungkin diluar sana banyak yang menginginkan posisi kamu saat ini" kata Mama
Ayra terdiam, memang benar apa yang dikatakan Mama.Mungkin banyak wanita yang menginginkan posisinya ini. Begitu diperhatikan oleh suaminya, meski mungkin caranya saja yang sedikit berlebihan.
"Iya Ay, dulu Aiden tidak pernah sampai seperti ini. Makanya pas aku hamil dulu, aku masih membawa mobil sendiri, hingga kecelakaan itu terjadi dan membuat aku menjadi wanita yang tidak sempurna sekarang"
Ayra langsung menoleh pada Kakak perempuan satu Ayah dengannya ini dengan pandangan yang prihatin dan rasa bersalah. "Maaf ya Kak, karena aku malah mengingatkan Kakak pada masa lalu yang menyakitkan itu. Tapi yang perlu Kakak tahu, kalau Kakak itu adalah wanita yang paling sempurna. Aku saja sampai iri sama Kak Saqila"
"Iri kenapa? Harusnya aku yang iri sama kamu. Sekarang kamu sudah hamil kedua kalinya. Sementara aku..." Saqila menunduk dengan helaan nafas panjang.
Dia juga seorang wanita yang pastinya juga ingin merasakan seperti kebanyakan wanita lainnya, yaitu mempunyai anak. Tapi sayang, hal itu tidak mungkin terjadi padanya. Saat ini Saqila hanya perlu ikhlas dan menerima takdir Tuhan. Masih beruntung karena sekarang dia sudah mempunyai suami yang benar-benar mencintainya dengan tulus, dan mau menerima keadaan dia yang seperti ini.
"Kak, ini juga anak Kakak. Asal Kakak tahu kalau Kakak adalah perempuan paling sempurna. Karena Kakak bisa dengan ikhlas dan lapang menerima keadaan Kakak ini. Mengeluh wajar Kak, bukan karena kita tidak bersykur tapi memang karena kita hanya seorang manusia biasa"
Saqila tersenyum mendengar itu, begitu pun dengan Mama. Pantas saja Aiden begitu mencintainya, dia memang mempunyai pikiran yang lebih dewasa dari umurnya saat ini. Gumamnya.
"Terima kasih ya Ay"
"Iya Kak sama-sama"
Mereka melanjutkan jalan-jalan itu dengan mengobrol dan bercerita banyak hal dengan begitu seru. Ayra senang sekali bisa bersama Kakak perempuannya dan Mama saat ini. Mereka juga menyempatkan untuk membeli perlengkapan bayi untuk calon anak Ayra. Yang antusias memilih perlengkapan bayi adalah Mama dan Saqila. Dan Ayra senang melihat itu. Merasa jika kehadiran calon bayinya ini sudah disambut dengan antusias oleh mereka.
__ADS_1
Bersambung