Suamiku Dan Suamimu

Suamiku Dan Suamimu
S2 #Selamat Datang Di Dunia Putri Cantik Daddy#


__ADS_3

Berada di rumah sakit dengan keadaan yang cukup tegang. Ayra masih terlihat biasa saja dan tidak terlihat kesakitan apapun kecuali wajahnya yang terlihat tegang. Ayra jelas tahu jika hal ini bukan hal yang biasa dan baik-baik saja untuk bayi dalam kandungannya.


"Sebenarnya tidak ada yang bisa di lakukan selain opersi. Tapi jika Nona siap untuk di perangsang, mungkin bisa di coba lebih dulu. Apalagi usia kandungannya yang belum genap ini semakin tinggi resiko jika tidak segera mengambil tindakan"


Aiden mulai tidak bisa berfikir jernih ketika mendengar penjelasan Dokter. Dalam fikirannya hanya tentang kesehatan Ayra dan bayinya.


"Saya siap di induksi Dok"


Aiden langsung menatap pada istrinya, sebelumnya Dokter sudah menjelaskan jika induksi adalah obat perangsang yang di masukan melalui beberapa aspek. Dan akan menimbulkan sakit yang mungkin lebih dari yang mengalami kontraksi normal tanpa induksi.


"Sayang, kamu yakin? Kita bisa langsung operasi saja"


Ayra menggeleng, dia tidak mau melakukan operasi sebelum dia benar-benar berjuang untuk kelahiran anak keduanya ini. "Kamu tenang saja, aku siap  melalui semua perjalanan dan proses ketika melahirkan anak-anakku"


Akhirnya Aiden tidak bisa melakukan apapun. Dokter telah menyuntikan induksi pertama lewat cairan infus dan Ayra mulai meraskan kontraksi, namun belum sepenuhnya terasa, hingga induksi kedua yang diberikan lewat jalan lahir barulah Ayra merasakan kontrakasi yang begitu hebat. Benar-benar kontraksi yang lebih kuat dari saat dia melahirkan Alerio yang mengalami kontraksi normal.


Ayra mulai meringis dengan begitu kesakitan, wajahnya merah padam karena menahan sakit. Aiden terus memegang tangan istrinya yang mencengkram erat tangannya.


"Arghhh... Huhh.. "


Aiden mulai tidak tahan melihat istrinya yang terus menahan sakit yang sepertinya luar biasa itu. Aiden terus mengelus punggung Ayra untuk meringankan sedikit rasa sakitnya. Punggung Ayra yang terasa hampir patah. Dan akhirnya pertahanan Ayra runtuh juga, dia meneteskan air matanya ketika rasa sakitnya yang tidak bisa dia tahan lagi.


Aiden naik ke atas ranjang pasien yang ditempati oleh Ayra. Duduk di belakang Ayra dan memeluknya dari belakang. Mengelus perut buncit istrinya dengan lembut. Perut Ayra yang terasa begitu mengencang.


"Sakit...." Ringis Ayra yang benar-benar sudah tidak kuat dengan rasa sakit yang semakin kuat.


Aiden mengecup bahu istrinya, dia juga bingung harus melakukan apa? Melihat bagaimana istrinya yang begitu kesakitan saat ini benar-benar membuat Aiden tidak tega melihatnya.

__ADS_1


"Sayang apa kita operasi saja?"


"Aku tidak mau Sayang, aku yakin akan bisa..." Ayra mengelus perut buncitnya itu. "...Sayang, anak Bunda yang baik, tolong segera keluar ya Nak. Ayo kita berjuang sama-sama ya Nak"


Dan setelah mengatakan Ayra langsung berteriak keras ketika dia merasa jika bayi dalam perutnya mulai mendorong. Aiden yang panik langsung menekan tombol darurat. Dokter dan beberapa perawat langsung datang dan segera membantu persalinan Ayra. Aiden tetap berada di belakang tubuh istrinya, memegangi kedua lengan istrinya yang sedang berjuang untuk melahirkan anaknya ke dunia ini.


"Terus dorong Nona, kepalanya sudah terlihat"


Ayra menarik nafas dalam dan mulai mengejan dengan sekuat tenaga untuk melahirkan anaknya ke dunia ini. Suasana semakin terasa tegang dan mencekam saat bayi yang di lahirkan oleh Ayra tidak langsung menangis.


"Dok, kenapa bayi saya?" Ayra menatap suaminya dengan mata yang berkaca-kaca. "...Sayang bayi kita kenapa tidak menangis? Dia baik-baik saja 'kan?"


Ayra mencium kepala istrinya lama, dia juga tidak tahu bagaimana keadaan bayi mereka saat ini. Dokter masih memberikan tindakan. Aiden dan Ayra hanya bisa berdo'a di dalam hati, berharap jika bayi mareka baik-baik saja dan selamat.


Dan setelah hampir 15 menit suasana menegangkan di ruangan ini langsung reda ketika mendengar suara tangisan bayi yang begitu kencang.


"Selamat datang di dunia Sayang, putri cantik Daddy"


...🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲...


Di dalam ruang perawatan ini, sudah di penuhi oleh orang-orang yang menjenguk Ayra. Mereka semua belum bisa melihat bayi Ayra karena bayi itu masih berada di ingcubator karena lahir prematur.


Aiden menatap bayi mungil yang berada di dalam ingcubator. Aiden menempelkan tangannya di kaca ingcubator itu. "Cepat kuat ya Nak, biar kita bisa pulang bersama Bunda. Bang Ale juga pasti sangat ingin bertemu denganmu. Terima kasih karena sudah berjuang bersama dengan Bundamu ya"


Aiden kembali ke ruang rawat Ayra setelah dia melihat keadaan bayinya. Di dalam ruangan Ayra ada Mama, Saqila, Papa dan Mami.


"Alerio gimana Mam? Apa dia tidak rewel?" tanya Aiden pada Mami

__ADS_1


"Alerio di bawa sama Papi untuk jalan-jalan. Karena sejak tadi terus menanyakan dimana Bunda sambil menangis. Sepertinya dia sadar jika adiknya sudah lahir"


Ayra tersenyum mendengar itu, jujur dia juga sangat mengkhawatirkan anak pertamanya itu. Tapi membawa Alerio ke rumah sakit juga bukan hal yang baik.


"Memang sebaiknya Alerio jangan di bawa kesini dulu. Rumah sakit tidak baik dan tidak aman untuk kesehatan anak seusia Alerio"


"Iya Ay, Mami juga berfikir begitu"


Dan setelah semua orang pergi dari ruangannya ini. Kini hanya tinggal Aiden  yang menjaga istrinya.  Sebenarnya keadaan Ayra baik-baik saja karena dia melahirkan dengan normal dan tidak ada kendala apapun. Hanya karena bayinya yang lahir sebelum waktu yang tepat membuat harus di rawat di ingcubator. Dan Aiden juga meminta pada Dokternya agar istrinya juga di rawat inap selama satu atau dua hari. Padahal sebenarnya Ayra sudah bisa pulang hari ini.


"Sayang, aku ingin melihat anak kita. Bagaimana keadaannya sekarang?"


"Dia baik-baik saja, kamu jangan dulu keluar. Besok saja"


"Tapi aku 'kan sudah tidak apa-apa"


"Sayang nurut saja ya"


Ayra menghela nafas, dan dia benar-benar tidak bisa membantah ucapan Aiden. Dia hanya menganggukan kepalanya saja.


"Sudah, sekarang kamu istirahat saja"


Aiden membenarkan selimut yang menutupi tubuh istrinya itu. Dia mengecup kening istrinya dengan lembut. Sebagai ucapan terima kasih atas perjuangan Ayra yang telah begitu berjuang untuk bisa melahirkan anak kedua mereka.


"Terima kasih karena telah berjuang dan memberikan kebahagiaan ini dalam hidupku"


Ayra tersenyum dan mengangguk, tangannya mengelus pipi Aiden dengan lembut. "Semuanya karena aku juga begitu bahagia bersama kamu"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2