
Mami datang ke apartemen hari ini, selain mendengar kabar tentang meninggalnya Ibu Ayra, Mami juga ingin menjenguk anaknya yang masih sakit. Ayra tentu menyambut Mami mertuanya dengan hangat.
Kini mereka sedang duduk di sofa, membiarkan Aiden yang habis minum obat untuk istirahat.
"Maaf ya Ay, Mami gak tahu kalau Ibu kamu meninggal dunia. Maaf juga karena Papi gak bisa datang kesini untuk mengucapkan berduka cita secara langsung padamu. Aiden yang gak masuk kantor, mengharuskan Papi dan Rega yang sedikit sibuk untuk menghandel semuanya"
"Tidak papa Mam, terimakasih karena Mami sudah menyempatkan datang kesini. Ayra ngerti kok kalau Papi sedang sibuk, soalnya aku masih belum izinin Mas Aiden bekerja. Suhu tubuhnya masih belum benar-benar normal"
Mami mengangguk, dia pegang tangan menantunya itu. Hati Mami selalu merasa hangat saat dekat dengan Ayra, meski sebenarnya Mami menyayangi kedua menantunya. Tapi, ucapan Saqila saat malam setelah pesta ulang tahun Aiden. Membuat Mami kecewa pada anaknya dan juga Saqila. Mami menatap lekat manik hitam milik Ayra. Jelas sekali ada gurat kesedihan di balik tatapan mata itu.
"Maafin Aiden ya Ay, dia sudah merendahkan harga diri kamu. Sebenarnya Mami sebagai seorang perempuan pun merasa terendahkan dengan apa yang telah anak Mami lakukan padamu. Maafkan Aiden ya Ay, Mami yakin jika suatu saat nanti dia akan menyesali perbuatannya ini"
Ayra mengerutkan keningnya, dia menatap Mami dengan bingung. Ayra benar-benar tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh Mami barusan. Menyesali perbuatannya? Apa maksudnya?
Mami tersenyum, dia mengelus punggung tangan Ayra yang sedang di genggamnya itu. "Ayra, Mami sudah tahu tentang perjanjian kamu dan Aiden sebelum pernikahan ini terjadi"
Deg..
Ayra terdiam, tangannya mulai gemetar. Apa mungkin Mami juga akan menyuruhnya untuk segera pergi setelah bayi dalam kandungannya lahir. Ayra jadi gelisah sendiri dengan itu, ya dia tetap akan melakukan tugasnya dengan baik. Sebagai istri bayaran dan pencetak anak bagi Aiden.
"Maafkan anak Mami ya Nak, dia sudah menghancurkan masa depanmu dan harga dirimu dengan perjanjian ini"
Hah?! Apa ini? Apa Mami tidak seperti yang Ayra fikirkan barusan? Mami tidak membahas soal isi dari perjanjian itu, Mami malah meminta maaf pada Ayra atas apa yang di lakukan anaknya pada Ayra.
"Maafkan Ayra Mam, Ay sudah merusak hubungan rumah tangga Mas Aiden dan Nyonya Saqila. Maaf karena kehadiran Ayra membuat semuanya semakin kacau"
Mami menggeleng, dia menepuk bahu Ayra pelan. Tangannya tertahan di bahu Ayra. "Semua ini bukan salahmu Ay, sejatinya sebelum kamu hadir justru Mami melihat Aiden yang kacau dan tidak secerah sekarang. Semuanya karena kehadiranmu Ay, karena kamu Aiden jadi menemukan kembali kebahagiaan yang sebenarnya untuk dia"
__ADS_1
Ayra hanya diam, dia tidak mengerti dengan apa yang Mami ucapkan barusan. Kebahagiaan Aiden yang sebenarnya? Apa mungkin selama ini dia tidak bahagia bersama Nyonya Saqila? Rasanya tidak mungkin, karena Ayra melihat mereka begitu harmonis sebelum dirinya hadir dan berada di antara keduanya. Saat Ayra sering ikut bekerja bersama Ibunya di rumah Aiden dan Saqila. Tidak jarang Ayra melihat kemesraan mereka. Tapi, kenapa Mami malah mengatakan jika saat ini Aiden baru menemukan kebahagiaan yang sebenarnya.
"Mami tahu apa yang kamu fikirkan Ay, Aiden dan Saqila memang baik-baik saja. Mereka terlihat harmonis dan bahagia. Tapi semuanya berubah sejak kecelakaan yang menimpa Saqila waktu itu"
Ya, Ayra tahu soal itu. Tapi tetap saja dia merasa jika kehadirannya yang telah membuat hubungan Aiden dan Saqila renggang. Ayra tetap merasa bersalah dengan itu.
"Mam, apapun yang terjadi kedepannya..." Ayra menatap mata Mami dengen lekat, tangan satunya lagi dia simpan di atas punggung tangan Mami yang sedang menggenggam tangannya. "....Mami tolong hargai keputusan Ayra ataupun keputusan Mas Aiden. Karena kami tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya setelah ini. Biarkan saja takdir yang menentukan semuanya"
...🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲...
Sore hari Mami benar-benar berpamitan pulang setelah dia mengobrol banyak hal dengan menantunya itu. Aiden masih belum bangun sampai saat ini. Ayra masuk ke dalam kamar, dia duduk di pinggir tempat tidur dan membangunkan suaminya dengan lembut. Mencium pipi dan mengelus kepalanya agar suaminya bangun.
"Bangun yuk, sudah sore" bisiknya di telinga Aiden.
Aiden menggeliat, dia sedikit mengucek matanya dan tersenyum saat mendapati istrinya disana. "Mami mana, Sayang?"
Aiden mengangguk mengerti, tangannya mencoba meraih gelas di atas nakas, namun segera di tahan oleh istrinya dan dia yang mengambilkan minum untuk Aiden.
"Terimakasih Sayang"
"Iya, sekarang kamu mandi ya. Aku sudah siapkan air hangat"
Aiden mengangguk, tubuhnya sudah mulai pulih setelah minum obat dan istirahat. Terutama karena Istrinya yang merawatnya dengan tulus. Ayra membantu suaminya turun dari tempat tidur dan mengantarnya ke ruang ganti. Masuk ke dalam kamar mandi dan menyiapkan handuk dan sabun yang di perlukan Aiden. Menyalakan lilin aromaterapi di sudut kamar mandi agar suaminya lebih rileks saat berendam nanti.
"Semuanya sudah siap, aku keluar dulu ya"
Baru saja Ayra ingin melangkah menuju pintu kamar mandi, namun sebuah tangan sudah mencekal pergelangan tangannya. Ayra menoleh, dan itu adalah tangan suaminya yang sudah masuk ke dalam bak mandi. Aiden tersenyum padanya. Tapi senyuman Aiden kali ini malah terasa mengerikan bagi Ayra.
__ADS_1
"Ayo mandi bersama Sayang, aku ingin merasakannya"
Deg..
Ini benar-benar seperti dalam cerita yang sering Ayra baca. Mandi bersama adalah adegan favoritnya. Tapi kenapa sekarang dia malah berdebar saat suaminya mengajaknya seperti itu.
"Apaan si, aku sudah mandi tadi Sayang. Kamu mandi sendiri saja ya"
Ayra terperanjat kaget saat Aiden menarik tangannya hingga dia terjatuh masuk ke dalam bak mandi. Tepat di atas paha Aiden. Baju yang di kenakan Ayra sudah basah oleh air sabun.
"Sayang..."
"Sudah sini, biar aku bantu membuka bajumu"
Aiden membenarkan posisi Ayra, sehingga istrinya itu benar-benar duduk dengan nyaman di depannya. Diantara kaki Aiden yang terbuka lebar di dalam bak mandi. Dengan perlahan tangan Aiden meraih gaun yang di kenakan Ayra lalu membukanya. Semuanya Aiden buka, hingga pakaian dalam istrinya. Kini keduanya benar-benar polos di dalam bak mandi.
"Sandarkan kepalamu, kenapa kau tegang begini?"
Bagaimana aku tidak tegang, sesuatu di bawah sana sudah terasa sangat keras. Eh.
Aiden menyandarkan kepala Ayra di dadanya, tangannya memeluk perut Ayra dengan sedikit mengelusnya. Tendangan-tendangan dari dalam perut istrinya membuat Aiden tersenyum, dia mengecup puncak kepala istrinya dengan rasa bahagia yang tidak terkira.
"Sehat selalu ya Sayang, aku hampir tidak bisa berfikir jernih saat melihat kau pingsan kemarin. Jangan kayak gitu lagi, aku tidak mau kau sakit"
Ayra hanya mengangguk mendengar ucapan suaminya itu. Dia masih mencoba mentralkan perasaannya yang berdebar kencang. Kau takut aku sakit karena anakmu yang juga akan sakit jika Ibunya sakit. Iya 'kan?
Bersambung
__ADS_1
Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5