Suamiku Dan Suamimu

Suamiku Dan Suamimu
Menjadi Satu Keluarga


__ADS_3

Siang ini, Ayra memaksa suaminya untuk mengantarnya ke makam Ibunya. Entah kenapa Ayra sangat ingin mengunjungi makam mendiang Ibunya. Dan saat ini, mereka berada di antara gundukan tanah. Ayra mengelus batu nisan yang bertuliskan nama Ibunya.


Rasanya hatinya masih tidak percaya jika Ibu menjadi orang ketiga dalam pernikahan orang tua Saqila. Mungkin ini yang membuat Ibunya sangat terkejut saat mengetahui tentang Ayra yang juga menjadi orang ketiga dalam pernikahan Aiden dan Saqila. Meski kisah mereka berakhir dengan berebeda.


"Bu, kenapa nasib kita bisa sama ya? Meski dengan akhir yang berbeda. Mungkin ini ya yang orang-orang bilang jika buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Aku terlahir dari Ibu yang menjadi orang ketiga, dan sekarang aku juga menjadi orang ketiga. Apa ini karma?"


"Sayang!" Aiden mengingatkan Istrinya agar tidak berbicara yang tidak-tidak. Aiden merangkul bahu istrinya. "...Tidak ada kata karma. Kamu tidak salah, dan Ibu kamu juga tidak pernah menginginkan posisi itu. Tapi semua ini sudah takdir"


Tangisan Ayra tidak bisa lagi dia tahan, semuanya terlalu menyakitkan bagi Ayra. Dia harus mengetahui tentang Ibunya yang ternyata orang ketiga dalam suatu pernikahan. Ayra juga tidak pernah menyangka jika seorang wanita yang suaminya dia rebut adalah Kakaknya sendiri. Semuanya masih terlalu menyulitkan bagi Ayra. Bagaimana perasaan Saqila saat menerima semua ini? Apa dia bisa menerimanya?


Cukup lama di pemakaman, Ayra dan Aiden kembali ke apartemen. Namun baru saja mereka keluar dari dalam lift, mereka sudah di tunggu oleh orang-orang yang sebenarnya Ayra masih belum siap bertemu dengan mereka.


Aiden menggenggam tangan istrinya dengan erat saat dia melihat tubuh istrinya yang mulai menegang dan bergetar saat melihat keluarga Saqila yang menunggu mereka di depan pintu apartemen. Aiden mencoba menenangkan istrinya, dia tidak mau sampai kejadian kemarin terulang lagi. Dia tidak bisa melihat istrinya kesakitan seperti kemarin. Rasanya Aiden hampir gila saat melihat Ayra kesakitan.


"Tenang Sayang, aku akan selalu berada di sampingmu. Hadapi semua ini agar semuanya cepat selesai"


"Selamat siang semuanya, mari masuk" Aiden menyapa mereka semua dan membukakan pintu apartemen agar tamunya ini masuk. Ayra masih diam dalam pelukan suaminya.


Kini mereka semua telah berkumpul di ruang tengah. Papa menatap Ayra yang sedari tadi hanya bersembunyi di balik dada suaminya. "Ayra, maafkan Papa Nak. Karena kesalahan Papa di masa lalu membuat anak-anak Papa menderita. Maafkan Papa, karena kalian harus menerima akibat dari kesalahan yang Papa lakukan di masa lalu"


Ayra terdiam, dia masih terlalu terkejut dengan kenyataan ini. Tapi benar apa kata suaminya, jika Ayra harus siap menghadapi semua ini agar semuanya cepat selesai. Akhirnya Ayra memberanikan diri untuk menatap mereka. Saat Ayra melihat wajah Saqila, dia merasa sangat bersalah pada Kakaknya itu.

__ADS_1


"Aku.. Aku.." Ayra rasanya sangat sulit untuk mengungkapkan kata-kata. Lidahnya terasa kelu untuk bisa mengucapkan semua yang ada di fikirannya.


Saqila berdiri dan mengahmpiri Ayra. Dia duduk di samping Ayra dan memeluknya. Hal itu tentu membuat Ayra terkejut, tapi perlahan tangannya terangkat dan membalas pelukan Saqila.


"Maafkan semua kesalahanku Ay, maaf karena aku terlalu egois sampai selalu membuat kamu terluka. Maafkan aku Ay, apa kamu mau untuk kita memulai semuanya dari awal. Kita bisa menjadi keluarga yang bahagia kedepannya"


Ayra menangis dalam pelukan Saqila, sungguh dia tidak pernah menyangka jika setelah kenyataan yang di ketahui oleh Saqila, wanita itu masih bersikap baik padanya. Bahkan dia bisa menerima kehadiran Ayra dalam keluarganya ini.


"I-iya Kak, aku akan mencoba memulai lembaran baru dan kisah baru dalam hidupku bersama kalian"


Papa sedikit bernafas lega saat dia mendengar ucapan anaknya itu. Aiden berpindah duduk saat Mama menghampiri Ayra juga, Aiden tahu jika keluarga ini butuh waktu agar bisa lebih dekat dengan Ayra. Mama ikut memeluk Ayra dengan tangisan yang pecah. Dia begitu merasa bersalah pada anak ini.


"Maafkan Mama Sayang, maaf karena dulu Mama yang terlalu egois hingga mengusir Ibumu yang sedang hamil itu. Maafkan Mama Nak, maaf untuk segala kesalahan Mama di masa lalu"


Ayra melerai pelukannya, dia menatap Mama lalu beralih menatap pada Saqila. Ayra memegangi lengan kedua wanita yang duduk di sampingnya itu. "Ma, Kak, aku tidak papa. Aku yang seharusnya meminta maaf karena kesalahan Ibu yang menjadi orang ketiga di antara keluarga kalian ini"


"Ini bukan salah Ibumu, Ay. Semua ini adalah kesalahan Papa" Rasanya Papa tidak akan rela jika wanita yang dia cintai harus di salahkan oleh anaknya sendiri. Karena nyatanya dialah yang salah, bukan Sumi.


"Iya Nak, Ibumu tidak salah apa-apa. Dia sama sepertimu, yang terpaksa masuk ke dalam pernikahan yang rumit. Jadi kamu tidak perlu menyalahkan Ibumu, dia tidak salah apapun"


Papa ikut berdiri, dia menatap Ayra dengan penuh harap. "Ay, apa boleh Papa memelukmu?"

__ADS_1


Ayra mendongak dan menatap Papa yang berdiri di depannya. Ayra berdiri dengan sedikit susah karena perutnya yang sudah sangat besar, Aiden yang melihat itu sudah sigap ingin membantu istrinya berdiri, tapi tidak jadi karena Saqila langsung membantu Ayra untuk berdiri.


Ayra menatap Papa dengan mata berkaca-kaca. Rasanya masih tidak percaya saat dirinya bisa saling berhadapan dengan Ayahnya. Sosok pria yang selalu menjadi cinta pertama bagi setiap anak gadisnya, namun Ayra tidak mengalami itu karena baru kali ini dia bertemu dan tahu siapa Ayahnya.


Ayra langsung menghambur ke pelukan Papa, tangisnya kembali pecah. Akhirnya dia bisa merasakan pelukan hangat seorang Ayah. Setelah hampir 20 tahun dirinya tidak tahu siapa Ayahnya dan dimana dia berada. Saat ini, Ayra bisa merasakan kecupan hangat seorang Ayah di keningnya. Rasanya Ayra seperti bermimpi saat ini. Bagaimana dia bisa merasakan semua ini sekarang.


Aiden menghela nafas saat lagi-lagi dia mendengar isak tangis istrinya. Aiden benar-benar merasakan sakit saat istrinya menangis seperti itu. Dia tidak suka melihat Ayranya yang bersedih.


"Terimakasih karena kalian semua mau menerima Ayra"


"Mulai sekarang, kamu adalah bagian dari keluarga kita Nak. Jangan sungkan lagi, Mama akan menjadi pengganti Ibumu di dunia ini"


Rasanya Ayra benar-benar sangat beruntung saat bisa mendapatkan semua ini. Dirinya bisa di terima dengan lapang oleh keluarga yang dulu Ibunya masuk dan menjadi orang ketiga di antara mereka. Bersyukurnya karena Mama ataupun Saqila tidak menolak kehadiran Ayra dan tidak membencinya, karena Ayra lahir dari hasil perselingkuhan Papa.


Pada akhirnya semuanya kembali sesuai takdir Tuhan. Saqila bisa menerima Ayra dengan lapang, begitupun dengan Mama. Apalagi saat Mama mengingat bagaimana dia yang dulu mengusir Ibunya Ayra dengan kejam, bahkan dalam keadaan Ibunya Ayra yang sedang mengandung. Hal itu membuat Mama selalu merasa bersalah.


Malam ini Ayra bisa tertidur dengan lelap setelah semuanya benar-benar terselesaikan. Sudah tidak ada beban lagi dalam diri Ayra saat ini. Dia sudah menerima takdirnya, dan saat ini dia hanya perlu fokus pada kehamilannya yang sudah menuju waktu persalinan.


Bersambung


Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5

__ADS_1


__ADS_2