
Semuanya masih baik dan aman. Kandungan Ayra sehat dan bayinya berkembang dengan baik. Sura detak jantung yang dia dengar untuk pertama kalinya sungguh membuat hati Ayra berdegup senang. Itu adalah suara kehidupan dari bayi di dalam kandungannya. Aiden juga merasakan hal yang sama, dia semakin erat memegang tangan istrinya, menciumnya beberapa kali untuk menunjukan rasa bahagianya.
Selesai pemeriksaan, Aiden membawa istrinya untuk makan siang di sebuah restaurant berbintang. Pemilik tempat ini adalah sahabat kecilnya. Mereka sudah berteman sejak sekolah dasar hingga sekarang. Aiden langsung di sambut dengan hangat oleh si pemilik restaurant. Lalu membawa Aiden pada ruangan VVIP agar bisa bebas berbicara.
"Jadi?" Alvaro melirik Ayra dengan tatapan bertanya pada Aiden. Ayra yang duduk di sebelah Aiden hanya menunduk dengan tangan saling beratut di atas pangkuannya.
"Dia istriku!"
Alvaro langsung menutup kedua mulutnya dengan tatapan tidak percaya pada sahabatnya. "Jadi berita yang pernah beredar benar? Ya ampun, Aiden apa kau segila itu sampai menduakan Saqila? Dia kurang apa untukmu?"
Alvaro langsung menutup mulutnya rapat-rapat saat Aiden menatapnya dengan tajam. Alvaro menatap Ayra yang dari tadi hanya menunduk. Dia jadi merasa bersalah pada gadis itu. "Emm. Yaudah sekarang mau pesan apa? Biar aku panggilkan pelayan"
Aiden masih tidak bergeming, dia melihat Alvaro yang berlalu keluar dengan wajah ketakutan. Setelah Alvaro pergi, Aiden melirik istrinya yang hanya menunduk. Dia tahu jika Ayra pasti sedih dengan ucapan Alvaro. Memang benar-benar ya tuh si Al. gumamnya. Aiden meraih tangan Ayra yang saling bertaut.
"Udah gak usah dengerin si Al, dia memang seperti itu. Nanti aku akan beri dia pelajaran"
Ayra mendongak, dia menatap suaminya dengan senyuman. Aiden tahu jika itu hanya senyuman palsu. Tangannya saja sudah berkeringat seperti ini. Tapi Ayra masih bisa menunjukan senyuaman itu padanya. "Sudah, jangan di perpanjang. Dia benar kok, karena dia tidak tahu alasan kamu menikahku jadi dia mengatakan itu. Kalau dia tahu kamu menikahiku karena hanya ingin seorang anak, pasti dia akan mengerti"
Aiden tidak suka dengan ucapan Ayra, hatinya berdenyut sakit mendengar itu. Ya, memang itu tujuan awalnya. Tapi sekarang berbeda. Aiden tidak hanya menginginkan seorang anak dari Ayra, tapi dia juga menginginkan Ayra selalu bersamanya.
Pelayan masuk dengan membawa buku menu, menyapa Aiden dan Ayra dengan ramah. Lalu memberikan buku menu pada mereka untuk memilih makanan yang mereka inginkan. Aiden membolak balik buku menu, melihat setiap gambar menu makanan dan minuman yang menggiurkan.
"Mau pesan apa Sayang?"
Ayra masih bingung, bukan karena tidak ada makanan yang tidak dia inginkan. Tapi, semua menu makanannya memiliki harga yang fantastis. Membuat Ayra malah bingung untuk memesan karena terkejut dengan harga yang tercantum.
Ini makanan apa si? Mahal banget, makanan sultan kali ya.
__ADS_1
"Sayang, jadinya pesan yang mana?" tanya Aiden setelah dia selesai menyebutkan makanan dan minuman yang dia inginkan pada pelayan yang mencatat pesanannya.
Ayra menutup buku menu dan menaruhnya di atas meja. "Samakan saja, aku malah bingung mau pesan apa"
Aiden mengangguk "Tambahkan salad buahnya ya"
"Baik Tuan" Pelayan mengangguk hormat dan pergi dari sana dengan membawa kembali buku menu.
Ayra melirik ke sekelilingnya, suasana restaurant dengan gaya eropa klasik. Sungguh sangat mewah, rasanya Ayra tidak pernah membayangkan jika dirinya akan bisa makan di tempat sepertinya.
"Sayang, apa malam ini kamu akan tinggal di apartemen lagi?"
Aiden menghela nafas, dia masih belum bisa mengendalikan emosinya jika harus bertemu dengan Saqila lagi. "Sayang, pliss.. Gak sekarang, aku masih mencoba mengendalikan emosi untuk bisa bertemu dengan Saqila lagi. Dia sudah keterlaluan, selalu saja melakukan sesuatu tanpa menkonfirmasi dulu padaku sebagai suaminya"
Ayra mengecup tangan Aiden yang menggenggam tangannya. "Tidak papa, tenangkan saja dulu dirimu sampai kamu siap bertemu dengan Nyonya. Lagian Nyonya juga pasti akan butuh waktu untuk menenangkan dirinya"
Ayra tersenyum, dia mengelus punggung tangan Aiden yang menggenggam tangannya dengan tangan satunya lagi. "Aku baik, karena kamu dan Nyonya juga sangat baik padaku. Kamu yang mau membayarkan biaya kuliah dan juga membelikan rumah untuk Ibu. Itu adalah pertolongan yang tidak akan pernah aku lupakan. Nyonya juga sudah sangat baik karena mau menerima aku sebagai istri kedua dari suaminya"
Aiden tersenyum, dia menatap manik hitam bersih itu. Tanpa sadar wajah mereka semakin dekat, Aiden memegang tengkuk Ayra dan menariknya agar lebih dekat hingga bibir keduanya saling bertemu. Bertaut dengan suara kecapan yang terdengar di ruangan ini. Saling memberikan kehangatan dan kenyamanan masing-masing. Ayra mulai memejamkan matanya dan menikmati ciuman yang di berikan oleh suaminya itu.
Ceklek..
Pelayan masuk dan langsung menunduk dengan wajah tegang setelah melihat adegan di depannya. Ayra segera mendorong dada suaminya agar melepaskan tautan bibir mereka. Dia menunduk malu saat pelayan datang membawa pesanan yang mereka pesan. Tangannya sibuk menghapus sisa ciuman di bibirnya.
"Selamat menikmati" Pelayan mengangguk hormat setelah menata makanan di atas meja. Nampan kosong dia peluk di dadanya. Setelah itu dia segera pergi, ingin segera menceritakan penemuannya kali ini pada teman-temannya.
Gila.. Ini seperti di drama-drama korea.
__ADS_1
Kembali pada sepasang suami istri yang duduk berdampingan dengan wajah berbeda. Ayra dengan wajah memerah malu karena kejadian tadi. Semnetara Aiden terlihat biasa saja. Tidak sedikit pun terlihat malu.
"Malu banget tahu" Ayra menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia menjerit dalam hati karena terlalu malu dengan kejadian barusan. Ketahuan ciuman oleh pelayan restaurant.
Aiden terkekeh melihat kelakuan istrinya. Dia membuka tangan Ayra yang menutupi wajahnya sendiri. "Kenapa malu, kita suami istri. Jadi wajar saja"
Wajah Ayra masih sangat merah, hal ini mungkin biasa bagi Aiden yang sudah lama menikah. Tapi sangat tidak biasa untuk Ayra. "Malu ihh, lagian kamu ngapain si cium aku di tempat seperti ini"
Rasanya masih sangat beruntung, karena mereka berada di ruangan VVIP. Jadi tidak terlalu malu. Tapi tetap saja Ayra malu dengan ini.
"Jangan malu Sayang, kamu harus terbiasa karena aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menciummu di mana pun"
Apasi nih orang, kenapa dia tidak merasa malu dengan apa yang dia lakukan.
"Udah ahh, makan saja sekarang..." Aiden mengelus kepala Ayra lalu menariknya untuk mengecup puncak kepalanya. "...Habiskan makanannya, biar bayi kita selalu sehat dan tumbuh dengan baik di dalam perutmu"
Ayra mengangguk, dia menatap makanan yang tertata di atas meja. Makanan mahal seperti ini ya bentuknya. gumamnya. Ayra mulai memakan makanan yang baru pertama kali merasakannya.
Enak juga, wajarlah.. Ini 'kan makanan mahal.
Aiden tersenyum melihat istrinya yang makan dengan lahap. "Abis itu, makan juga salad nya ya"
Ayra mengangguk saja.
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5
__ADS_1