Suamiku Dan Suamimu

Suamiku Dan Suamimu
S2 #Perasaan Yang Berbeda Pada Aiden Dan Alerio#


__ADS_3

Ayra sengaja membawakan makan siang ke kantor suaminya ini. Sebenarnya bukan sepenuhnya inisiatif dia sendiri si, tapi memang Aiden yang meminta untuk dibawakan makan siang.


Ketika Ayra masuk ke lobby perusahaan, semua karyawan yang tidak sengaja berpapasan dengannya langsung mengangguk hormat pada Ayra. Pada awalnya Ayra merasa tidak nyaman dengan perlakuan dari orang-orang ini. Namun sejak bersama Aiden, dan statusnya yang di publikasikan oleh Aiden, membuat Ayra  harus terbiasa dengan semua ini. Karena memang seperti inilah kehidupan suaminya.


Ayra keluar dari lift dan tidak sengaja dia bertabrakan dengan seseorang. "Maaf saya tidak sengaja"


"Tidak papa"


Pria itu menatap Ayra dengan rasa kagum, dia baru bekerja disini dan dia tidak  pernah melihat Ayra selama ini. "Maaf, Nona mau kemana ya?"


Ayra tersenyum pada pria muda itu, ya mungkin usianya memang sebaya dengannya. "Saya mau ke ruangan Tuan Aiden, kalau begitu saya permisi duluan ya"


"Baik Nona" Pria itu melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam lift setelah dia memberikan berkas pada Rega.


Siapanya Tuan Aiden ya gadis itu? Manis banget, apa mungkin adiknya ya? Sepertinya aku harus lebih giat bekerja agar bisa mendekati adiknya Tuan Aiden itu.


Ayra masuk ke dalam ruangan suaminya, dan ternyata Aiden sudah menunggunya dengan duduk diatas sofa. Tersenyum pada Ayra dengan merentangkan tangannya.


"Sayang, aku merindukanmu"


Ayra tersenyum sambil menggelengkan kepala heran dengan sikap suaminya itu. Ayra menutup kembali pintu ruangan suaminya ini. Lalu berjalan menghampiri Aiden, menyimpan paper bag ditangannya diatas meja, lalu Ayra duduk di pangkuan suaminya. Tentu saja Aiden langsung memeluk tubuh Ayra dengan erat utntuk menyalurkan kerinduan yang berada di dalam hatinya itu.


"Sayang, kenapa lama ssekalidatangnya? Aku sudah menunggumu sejak tadi" Aiden menyandarkan kepalanya di dada Ayra dengan nyaman. Ayra selalu menjadi tempat ternyaman bagi Aiden.


Ayra tersenyum sambil mengelus kepala suaminya yang berada di dadanya. Merasa heran dengan sikap suaminya yang begitu manja padanya.


"Sayang, kan janjinya aku datang di jam makan siang"

__ADS_1


Aiden mendongak dan meunjukkan wajah cemberut pada istrinya. Membuat Ayra gemas dan langsung mengecup bibirnya. "Kenapa harus cemberut seperti itu si? Aku 'kan jadi gemas"


Aiden tertawa bahagia, merasa sangat senang ketika istrinya itu mengecup bibirnya tanpa harus Aiden suruh. Aiden menahan tengkuk leher Ayra dan menanriknya dengan perlahan hingga bibir mereka bertemu dan ciuman pun tidak bisa Ayra hindari lagi.


Suara kecapan dari keduanya terdengar di ruangan ini. Keduanya saling memejamkan mata dan menikmati ciuman mereka. Aiden menggendong tubuh Ayra dan membawanya ke ruang istirhat. Sebuah kamar yang cukup luas dengan tempat tidur yang besar. Aiden menenutup pintu menggunakan kakinya. Ciuman mereka tidak terlepas sampai Aiden sampai  ditempat tidur dan membaringkan tubuh Ayra disana.


"Sayang, mau apa?"


Aiden mengukung tubuh Ayra yang tidur terlentang dibawah tubuhnya ini. Aiden menatap Ayra dengan senyuman tipis. "Makan siang kali ini, aku ingin memakanmu lebih dulu"


Ayra terdiam dengan tatapan terkejut pada suaminya itu. Ini bukan yang pertama bagi Ayra melakukan hal ini di kantor Aiden. Namun  tetap saja Ayra selalu merasa was-was, karena takut ada seseorang yang masuk ke dalam ruangan suaminya ini.


"Sayang, nanti saja di rumah...Emppth"


Aiden benae-benar membungkam bibir istrinya agar berhenti bicara. Dan makan siang kali ini benar-benar akan tertunda.


...🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲...


"Sudah jangan cemberut begitu"


Ayra mendengus kesal ketika melihat suaminya yang begitu segar setelah melakukan hal yang selalu dia inginkan itu. Aiden duduk disamping istrinya dan merangkul bahunya dengan lembut.


"Kamu bawa makanan apa? Ayo kita makan siang"


Ayra masih saja menunjukan wajah kesalnya. "Makanannya juga pasti sudah dingin"


"Tidak papa, aku akan makan semua makanan yang di buatkan oleh istriku ini" Aiden membuka paper bag yang berada diatas meja. Dia mengeluarkan kotak makanan di dalam paper bag itu dan membukanya.

__ADS_1


"Makanannya sepertinya sangat enak"


"Tapi itu sudah dingin"


"Tidak papa"


Jelas Aiden tidak mau mengecewakan istrinya yang sudah capek-capek membuatkan makanan ini. Namun masakan Ayra tetap terasa enak, meskipun makanannya sudah dingin.


"Sayang, kamu mau makan apa? Biar aku pesankan"


Ayra menggeleng pelan, dia menyandarkan kepalanya di bahu Aiden. "Aku makan itu saja, tapi ingin kamu suapi"


Aiden mengangguk dan tidak merasa keberatan dengan keinginan istrinya ini. Tapi, Aiden malah merasa senang dengan itu. Aiden makan dengan sesekali menyuapi Ayra hingga makanan yang dibawa istrinya itu benar-benar habis tak tersisa.


"Sayang, aku pulang duluan ya. Kangen sama Alerio"


Aiden langsung cemberut mendengar itu. "Bagaimana kau yang baru tiga jam meninggalkan Alerio langsung merindukannya. Sementara aku yang dari pagi tidak tinggal di rumah, kenapa tidak kau rindukan"


Ayra merasa sangat heran dengan sikap suaminya yang selalu saja merasa cemburu pada anaknya sendiri. Jika Ayra terlalu memperhatikan Alerio daripada dirinya, maka Aiden akan selalu merasa jika Ayra lebih menyayangi anaknya daripada dirinya.


"Sayang..." Ayra mengelus rambut Aiden dengan lembut. "...Kamu tidak perlu cemburu pada Alerio. Karena rasa sayangku pada Alerio dan kamu jelas berbeda. Aku mencintaimu dan menyayangimu sebagai pendamping hidupku dan pasanganku. Sementara rasa sayang aku pada Alerio, ya naluri ras sayang seorang Ibu pada anaknya"


Aiden memeluk Ayra, menyandarkan kepalanya di bahu Ayra. "Aku sangat mencintaimu dan tidak akan pernah rela jika kamu membagi perasaanmu pada pria lain"


Ayra hanya mengangguk saja tanpa menjawab apapun. Ayra tidak mungkin membantah Aiden disaat pria itu benar-benar sedang dalam mode posesif seperti ini.


"Sayang, aku hanya akan mencintaimu sampai kapan pun. Tidak akan ada pria lain yang aku cintai, seperti aku mencintaimu"

__ADS_1


Dan Aiden merasa sangat senang saat dia mendengar perkataan Ayra barusan. Tidak ada yang bisa membuat Aiden senang dan bahagia selain ungkapan cinta dari istrinya ini. Nyatanya cinta Aiden memang untuk Ayra seorang. Jika dlu dia pernah menganggap jika dirinya hanya akan jatuh cinta sekali pada Saqila.Tapi nyatanya Saqila hanya sebuah persinggahan sesaat, karena cinta sejati Aiden adalah Ayra.


Bersambung


__ADS_2