
Ayra terbangun malam ini setelah bayangan-bayangan tidak jelas kembali muncul dalam ingatannya. Membuat Ayra terganggu dalam tidur nyenyaknya. Bingung mau berbuat apa, Ayra memilih turun dari atas tempat tidur dan berjalan ke arah pintu kamar. Namun, langkahnya langsung terhenti ketika dia melihat Aiden yang terlelap di atas sofa dengan meringkuk kedinginan.
Kasihan sekali dia, pasti kedinginan dan tidak nyaman tidur disana.
Tubuh Aiden yang tinggi tegap harus tidur di sebuah sofa yang berukuran sedang. Tentu saja tidak akan mencukupi untuk tubuh Aiden. Kakinya saja meringkuk karena tidak cukup untuk tubuhnya.
Ayra berjalan menghampirinya, duduk di atas lantai dan memperhatikan wajah Aiden dengan lekat. "Dia tampan, tapi kenapa dia harus menikah denganku? Bukannya Nyonya Saqila sudah lebih segalanya daripada aku. Ini aneh, sebenarnya apa yang terjadi hingga aku bisa menikah dengannya"
Pertanyaan yang sebenarnya tidak bisa Ayra temukan jawabannya jika dia tidak bisa mengembalikan ingatannya yang hilang. Entah bagaimana, tapi tangan Ayra refleks begitu saja terangkat dan mengelus pipi Aiden dengan lembut. Dan sepertinya apa yang dilakukan Ayra telah membuat tidur Aiden terusik. Dia mengerjapkan matanya sebelum akhirnya terbuka lebar.
Ayra mengerjap kaget, dia hampir saja terjengkang ke belakang ketika melihat mata Aiden yang terbuka. "Ma-maaf Tuan, karena saya sudah mengganggu tidur anda"
Aiden bangun dan tersenyum pada Ayra, dia mengelus kepala Ayra dengan lembut. "Tidak papa, kenapa kamu begitu takut? Memangnya aku menakutkan apa?"
Ayra hanya diam dengan wajah memerah, entah kenapa apa yang Aiden lakukan membuatnya merasa debaran berbeda dalam hatinya. "Tu-tua, saya tidak bermaksud untuk...."
Cup..
Sebuah kecupan di bibirnya membuat AYra terdiam dengan mata terbelalak. Dia tidak menyangka jika Aiden akan mencium bibirnya. Ayra terdiam dengan detak jantung yan semakin cepat. Bibir Aiden masih menempel di bibrnya, Aiden menahan tengkuk Ayra dan mulai memberikan luma*tan lembut di bibir istrinya itu. Ayra benar-benar tidak bisa berkutik saat ini. Dia hanya diam dan mencoba membalas setiap luma*tan yang diberikan oleh suaminya.
Kenapa aku merasa jika aku juga merindukan hal ini.
Ayra enar-benar tidak memberikan penolakan apapun. Dia sepertinya juga menikmati ciuman yang tengah terjadi ini. Aiden melepaskan tautan bibir mereka ketik dirasa nafas Ayra yang sudah tidak beraturan, mungkin istrinya itu sudah mulai kehabisan nafas karena ciuman yang terjadi.
Aiden menempelkan keningnya dengan kening Ayra. Hembusan nafas keduanya terasa begitu hangat dikulit masing-masing. "Ayra, aku mencintaimu. Tidak peduli apapun yang terjadi padamu, kamu tetap akan menjadi wanita yang aku cintai selama ini"
Ayra terdiam mendengarnya, dia menatap lekat manik coklat milik Aiden dan tidak ada kebohongan disana. Ayra jelas melihat sebuah ketulusan di balik tatapan mata suaminya itu.
__ADS_1
"Aku tidak tahu apa yang sedang aku rasakan saat ini. Tapi meski ingatanku hilang, aku tetap merasakan debaran yang aneh dalam hatiku. Tapi..." Ayra meraih tangan Aiden dan menggenggamnya dengan lembut. "...Untuk saat ini, bantu aku untuk mengingat semuanya dulu. Karena aku tetap memiliki keraguan saat aku tidak ingat apapun tentang hal yang terjadi diantara kita selama ini"
"Aku akan membuat ingatan kamu kembali dan kamu tidak perlu ragu lagi"
Mendengar Ayra yang ingin segera mengembalikan ingatannya yang hilang saja sudah cukup bagus untuk Aiden. Dia akan berusaha sebisa mungkin untuk membuat Ayra kembali mengingat dirinya kembali.
...🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲...
Suara bell di rumah ini membuat Ayra yang sedang bermain dengan Alerio langsung menoleh ke arah pintu utama rumah ini. Ayra merasa tidak enak jika dia harus memanggil pelayan di rumah ini untuk membukakan pintu. Akhirnya dengan menggendong Alerio, dia berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Kak Noval? Ada apa datang kesini Kak?"
Ayra cukup terkejut ketika mengetahui siapa yang datang bertamu ke rumah ini di pagi hari seperti ini.
"Hai Ay, aku hanya tidak sengaja lewat saja. Aku kesini hanya ingin memberikan ini untuk kamu, semoga kamu suka dan segera sembuh ya"
"Makasih Kak, tapi kok Kakak bisa tahu jika aku berada di rumah ini?"
"Ya, aku tahu dari teman saja. Kalau begitu aku pergi dulu ya Ayra, aku masih ada urusan pekerjaan"
"I-iya" Ayra menjawab dengan sedikit bingung. Sikap Noval yang menurutnya begitu aneh.
"Ayra, siapa yang datang?"
Ayra langsung berbalik dan menatap Aiden yang sudah siap dengan pakaian kerjanya. Suaminya itu sudah mulai kembali bekerja, karena keadaannya pun yang semakin membaik.
"Emm. Bukan siapa-siapa"
__ADS_1
Ayra berjalan ke arah soda, mendudukan Alerio diatas karpet lalu Ayra menyimpan paper bag dan buket bunga dari Noval diatas meja. Aiden yang melihat itu membuatnya bertanya-tanya siapa yang telah datang dan menemui istrinya itu. Apalagi ketika dia melihat sebuah buket bunga yang Ayra letakan diatas meja. Aiden berjalan menghampir Ayra, mengambil buket bunga itu dan melihat isi di dalam paper bag. Sebuah makanan dalam kemasan dengan merek ternama.
"Sayang, siapa yang memberikan ini padamu?"
Ayra terdiam beberapa saat, bingung untuk menjawabnya. Apa memang dia harus menjawab sejujurnya apa tidak. Ayra menghela nafas pelan sebelum menjawab pertanyaan dari suaminya itu.
"Barusan Kak Noval datang kesini dan memberikan itu padaku, katanya tidak sengaja lewat saja"
Mendengar itu, Aiden langsung mengepalkan tangannya erat. Meremas buket bunga yang berada di tangannya dan melemparnya ke lantai. Hal itu tentu saja membuat Ayra terkejut dan langsung menatap pada suaminya dengan takut.
"Kenapa kau masih berhubungan dengan pria itu? Ayra, harus berapa kali aku bilang jika kau dan aku sudah menikah. Jadi kau tidak seharusnya terus berhubungan dengan pria itu"
Ayra menatap Aiden dengan takut, tatapan pria itu begitu dingin dan tajam padanya. Jelas terlihat urat lehernya yang mengeras karena amarah yang sedang coba Aiden tahan.
"A-aku tidak melakukan apapun, lagian dia yang datang sendiri kesini dan aku juga tidak memintanya untuk datang kesini"
Aiden menghembuskan nafas panjang ketika dia melihat wajah istrinya yang ketakutan dan suaranya yang juga bergetar ketika dia sedang berbicara. Aiden berjalan mendekati Ayra yang sedang duduk diatas karpet, lalu dia ikut duduk dan memeluk istrinya itu dengan erat.
"Maafkan aku karena aku langsung termakan emosi. Tapi semua ini karena memang aku tidak bisa melihatmu bersama pria lain. Kau hanya milikku selamanya"
Ayra tidak menjawab, dia hanya diam dalam pelukan Aiden.
"Tahukah, jika ketakutan terbesarku dalam hidup ini adalah kehilangan kamu dalam hidupku. Jadi tolong jangan pergi meninggalkan aku apapun yang terjadi"
Ayra terdiam mendengarnya, dia merasa tidak percaya jika Aiden akan mengatakan itu.
Sebesar itukah cintanya padaku?
__ADS_1
Bersambung