Suamiku Dan Suamimu

Suamiku Dan Suamimu
Mencoba Membatasi Diri


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan? Ini tentang banyak orang? Nasib semua orang ada di tanganmu sialan!"


Aiden begitu emosi, melihat laporan keuangan yang jelas ada perbedaan dengan laporan keuangan dari pusat. Perwakilan dari kantor cabang, tertunduk. Dia tidak menyangka jika Aiden akan mengetahui. Padahal hanya 3 persen dia mengambil keuntungan yang memang seharusnya tidak dia lakukan.


Brakk..


Aiden melempar berkas itu ke atas meja, kedua tangannya tertumpu pada meja. Menatap nyalang pada ketua direksi perusahaan cabang. "Berani mengganti sebesar 3 persen kerugian ini? Jangan harap aku akan membiarkan 3 persen itu"


Lututnya lemas, dia turun dari kusri dan berlutut di atas lantai. Kepalanya terus menunduk dengan mengucap kata maaf. Wajahnya sudah sangat pucat pasi. "Maafkan saya Tuan"


"Ga, kau urus itu"


Aiden melangkah ke luar ruang rapat, dia menuju ruangannya. Semnetara ketua redaksi semakin pucat saat harus menghadapi asisten Tuannya yang jelas lebih menakutkan. Rega mengambil kembali berkas yang di lempar Aiden ke atas meja. Membuka dan mengamatinya kembali.


"Kau berani mengambil 3 persen ini, tahu jika akibatnya sangat besar. Bukan masalah 3 persen, tapi ini menyangkut tanggung jawab dan kepercayaan kita"


Dia terus mengangguk, wajahnya semakin pucat. "Maafkan saya Tuan, maafkan saya"


Rega melempar berkas itu ke wajah pria itu. "Kau sudah berani mengambil sebesar 3 persen. Jangan harap kami bisa percaya lagi"


"Tolong maafkan saya Tuan"


"Urus semua itu sampai selesai, ganti semua kerugian perusahaan dan kau angkat kaki dari kota ini hingga tak terlihat olehku dan Tuan Aiden"


"Baik Tu-Tuan"


Rega mengibaskan tangannya ke arah pintu keluar. "Kau pergilah, jangan membuat kekacauan lagi"


"I-iya Tuan" Dia segera berdiri dengan kakinya yang lemas, melangkah terseok menuju pintu keluar.


Rasanya dia baru saja keluar dari kandang harimau. Beruntungnya dia masih bisa lepas, meski semuanya harus dia korbankan untuk mengganti semuanya. Tidak peduli untuk itu yang terpenting dia bisa terlepas dari jerat Tuan Rega dan Tuan Aiden.


Aiden berdiri di depan jendela besar di ruangannya. Masalah ini memang tidak terlalu berdampak besar pada perusahaannya. Tapi, kepercayaan dan kejujuran yang Aiden utama dalam bekerja. Jika dia sudah berani mengambil 3 persen saja, mak kedepannya mungkin akan lebih berani mengambil lebih banyak lagi.

__ADS_1


Tok..tok..tok..


Ketukan di pintu membuat Aiden menoleh, Rega masuk ke dalam ruangannya dengan membawa berkas yang tadi. Aiden berbalik dan menghampiri Rega. "Bagaimana? Apa kau sudah urus semuanya?"


"Ya, dia akan bertanggung jawab dan memberikan ganti rugi itu. Kenapa kau tidak langsung memenjarakannya saja?"


"Dia bilang jika istrinya sedang hamil, aku tidak tega juga pada istrinya yang harus di tinggal suaminya di penjara sedangkan dia sedang mengandung. Aku jadi ingat Ayra"


Gadis itu benar-benar membawa perubahan yang begitu besar dalam hidupmu.


Aiden menatap Rega, kali ini ada masalah yang lebih serius yang harus dia bicarakan dengan Rega. "Duduklah, aku ingin bicara sebentar denganmu"


Rega mengangguk, mereka berjalan menuju sofa dan duduk disana. Aiden terlihat gelisah, beberapa kali dia mengusap wajah kasar. "Ga, apa yang harus aku lakukan dengan semua ini? Aku benar-benar terjebak atas apa yang aku lakukan ini"


"Apa kau sudah mengatakan cinta padanya?"


Aide menggeleng, dia memang belum pernah mengungkapkan cinta pada Ayra. Karena dia rasa tindakan yang dia lakukan sudah lebih dari menunjukan perasaan cintanya pada Ayra.


Aiden menghela nafas kasar "Entahlah, mungkin iya..." Sepertinya lebih baik seperti itu saja dulu. Aiden harus memikirkan cara yang tepat untukmu menyatkan cinta pada Ayra. "....Besok kita ada acara di restaurant Alvaro, kau juga akan datang?"


Wajah Rega langsung berubah masam. Alvaro, Aiden dan dirinya adalah sahabat. Tapi ada suatu masalah yang membuat Rega sedikit tidak lagi mempunyai respon baik pada Alvaro.


"Kau akan datang dengan siapa?" Ayra atau Saqila? Begitulah arti pertanyaan Rega kali ini.


"Dua-duanya bisa, Alvaro sudah tahu tentang Ayra"


Rega mengangkat satu alisnya, sedikit terkejut dengan ucapan Aiden. Lalu dia mengangguk-ngangguk kecil. "Ohh, sudah tahu ya. Baguslah"


"Tapi aku belum memberi tahu Ayra juga, kalau Saqila sudah tahu karena Alvaro yang memberinya undangan"


Lagi-lagi Rega hanya mengangguk, dia malas membahas tentang dua orang itu. Rega berdiri dari duduknya. "Baiklah, aku akan datang karenamu. Takutnya ada kejadian tidak terduga disana"


"Hei, sampai kapan kau akan membencinya? Ayolah Ga, dia sahabat kita juga" Aiden merasa tidak nyaman dengan persahabat mereka yang mulai retak sejak Alvaro memacari gadis yang dulu di sukai oleh Rega. Padahal kejadian itu sejak masa kuliah, Alvaro juga sudah lama putus dengan gadis itu. Tapi hingga saat ini hubungan mereka tidak lagi baik.

__ADS_1


"Tidak ada kata sahabat yang menghianati" Rega berjalan keluar dari ruangan Aiden.


...🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲...


"Tidak mau, aku disini saja tidak perlu ikut kesana" Ayra langsung menolak ajakan Aiden untuk datang ke acara pesta di restaurant Alvaro.


Aiden memeluk tubuh istrinya yang sedang duduk di pinggir tempat tidur. Memeluknya dari belakang. "Ayolah Sayang, kenapa tidak mau?"


"Gak mau, kamu sama Nyonya saja datang kesananya. Lagian disana pasti banyak orang yang datang. Jadi aku gak mau datang kesana, nanti akan ketahuan kalau kamu sudah menikah lagi denganku"


Aiden mengecup bahu istrinya, tangannya mengelus lembut perut buncit istrinya. "Ya gak papa, kan Alvaro juga sudah tahu tentang itu"


"Gak bisa, yang tahu hanya Alvaro. Sementara yang datang pastinya banyak orang. Udah ahh, aku di apartemen saja. Gak usah ikut sama kamu"


"Menutup identitasmu adalah tugasku. Jadi, kau juga harus membantu untuk tidak membongkar identitasmu. Jangan terlalu sering muncul di depan banyak orang"


Ayra harus menepati janji itu, dirinya harus tetap sadar diri jika dirinya hanya menjadi yang kedua. Perkataan Nyonya Saqila, selalu membuat Ayra menyadarkan dirinya apa posisi dia sebenarnya.


"Sayang pliss.. Mau ikut ya"


Ayra tetap menggeleng tegas. "Tidak Sayang, aku di apartemen saja. Kamu pergi saja bersama Nyonya. Lagian aku 'kan lagi hamil, jadi aku tidak boleh terlalu lama berada di keramaian apalagi malam hari. Akan membuatku lelah"


Karena sebenarnya, aku hanya tidak mau semakin banyak orang yang mengetahui tentang kita. Reputasimu yang akan hancur.


"Yaudah, tapi kamu baik-baik ya di rumah. Aku juga tidak akan lama, aku akan segera kembali"


"Iya Sayang, kamu tenang saja" Ayra mengelus pipi Aiden dengan lembut. Dia tahu jika Aiden akan mengkhawatirkannya, tapi Ayra tetap harus konsisten dengan keputusannya dan apa yang telah dia tandatangani dalam surat perjanjian. Ayra harus tetap menepati itu.


Ayra hanya sedang mencoba mempersiapkan dirinya sendiri agar tidak terlalu jatuh pada hati Aiden. Ayra ingin membatasi dirinya dan hatinya.


Bersambung


Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5

__ADS_1


__ADS_2