Suamiku Dan Suamimu

Suamiku Dan Suamimu
Aiden Masih Dilema


__ADS_3

Ayra terdiam saat masuk ke dalam apartemen. Sudah hari ke tiga sejak Aiden terakhir kali ke apartemennya. Ayra merasa suasana yang sepi. Sudah tiga hari ini Ayra tidak beretemu suaminya, tidak saling berkomunikasi apapun. Aiden benar-benar memberikan waktu untuk suaminya. Lalu kenapa Ayra harus sedih? Seharusnya dia harus bahagia karena Aiden menepati janjinya. Sekarang Ayra merasa sedikit menyesal karena mengucapkan itu pada suaminya. Nyatanya baru tiga hari saja, Ayra sudah sangat merindukan suaminya.


Dengan perasaan yang sama, namun di tempat yang berbeda. Aiden berdiri di depan jendela besar ruangannya. Kedua tangan dia masukan ke dalam saku celana. Menatap pemandangan di luar jendela. Aiden merindukan kelembutan istrinya. Tapi dia tidak bisa melakukan apapun saat ini. Aiden harus benar-benar memberikan Ayra waktu asalkan gadis itu bisa lebih tenang. Rasanya, Aiden tidak mau melihat air mata kesedihan lagi di wajah Ayra. Dering ponselnya membuat Aiden menoleh, dia berjalan ke arah meja kerja dan mengambil ponselnya.


"Hmmm"


"Hallo Tuan, Nona telah sampai di apartemen"


"Bagus, kau tetap disana dan awasi. Takutnya dia keluar sendirian"


"Baik Tuan"


Meski tidak menemuinya, Aiden tetap menyuruh seseorang untuk mengawasi istrinya. Bahkan setiap pagi Ayra selalu di antar ke kampus dan di jemput juga oleh suruhan Aiden.


Dan setiap harinya selama mereka masih berpisah, maka Aiden selalu mendapat laporan dari orang suruhannya. Apa saja yang di lakukan Ayra setiap harinya. Hingga hari ini sudah hari ke enam Aiden dan Ayra tidak saling berkomunikasi. Mereka bagaikan dua orang yang sedang perang dingin. Hari ini mood Aiden cukup baik setelah beberapa hari sangat buruk. Bahkan tidak jarang Aiden memarahi karyawannya meski salah menulis satu kata saja dalam sebuah laporan. Aiden benar-benar sedang dalam mode tidak bisa di ajak damai akhir-akhir ini.


Namun, hari ini mood dia lebih baik karena besok dia sudah bisa menemui Ayra. Semua pekerjaan dan meeting hari ini berjalan lancar jika mood si boss sedang baik. Hingga besoknya Aiden benar-benar dalam mood yang baik. Semua pekerjaan berjalan sesuai semestinya. Membuat para karyawan senang dan merasa lega saat melihat bos mereka yang sedang dalam mood yang baik.


"Aku pulang dulu ya Ga, mau ke apartemen"


"Iya"


Rega hanya tersenyum saat melihat sahabatnya yang langsung memiliki semangat hidupnya kembali setelah beberapa hari ini terlihat kacau. Benar, jika hanya Ayra yang bisa membuat Aiden seperti ini. Ceria saat bisa bersamanya, namun baru tidak bertemu seminggu saja sudah membuat Aiden urung-uringan.

__ADS_1


Sepertinya aku akan membuatnya benar-benar menyatakan cinta pada Ayra. Persetan dengan Saqila.


Aiden sudah berada di dalam mobilnya, dia menatap ada penjual asinan yang pernah Ayra membelinya. Dia berhenti sejenak dan membelinya untuk istrinya. Selain itu, Ayra juga membeli beberapa buah untuk istrinya. Sepanjang perjalanan membuat Aiden tersenyum bahagia. Akhirnya waktu seminggu bisa dia lewati. Meski sebenarnya sangat berat untuknya. Namun, Aiden bisa melewatinya.


Nyatanya aku sangat berat saat tidak bertemu denganmu Ay, kenapa perasaan ini semakin aku rasakan. Perasaanku jelas lebih besar padamu. Entahlah, aku juga tidak tahu ini benar atau salah. Yang jelas aku tidak bisa membohongi hatiku mulai saat ini.


Aiden hanya bisa menyerahkan semuanya pada takdir Tuhan. Perasaan dia yang tumbuh di antara dua pilihan yang sangat sulit baginya. Untuk saat ini Aiden masih bingung harus mengambil keputusan yang bagaimana. Menceraikan Saqila? Sampai saat ini Aiden masih belum memikirkan soal itu. Pernikahannya dan Saqila terjadi karena cinta. Rasanya tidak pernah terfikirkan oleh Aiden jika akhir pernikahan ini akan seperti sekarang. Dulu dia selalu berjanji untuk membahagiakan Saqila dan tidak akan pernah berpaling darinya.


Namun waktu seolah menghapus setiap perasaan yang Aiden simpan untuk Saqila. Aiden benar-benar tidak pernah membayangkan jika akhirnya, dia sendiri yang mengingkari apa yang telah dia ucapkan. Aiden telah mengingkari janjinya pada Saqila. Hatinya telah berpaling, nyatanya perasaan Aiden sudah tidak untuk Saqila seorang. Dia sudah memiliki perasaan yang bahkan lebih besar yang dia rasakan pada Ayra. Aiden masih dalam dilema.


Sampai di depan pintu apartemen, Aiden langsung menempelkan acces card dan pintu terbuka. Dia masuk dengan wajah yang penuh senyuman.


Namun saat dia masuk malah pemandangan yang membuat hatinya tergores begitu dalam. Aiden melihat Ayra yang duduk di atas sofa bed dengan memegang sebuah foto. Itu adalah foto dirinya yang dia simpan di kamar sebelah. Kamar yang dulu Aiden tempati sebelum dia benar-benar merasa nyaman untuk tidur bersama istri keduanya ini.


Sungguh bodoh Ayra saat dirinya meminta Aiden meninggalkannya selama satu bulan. Dia sudah serindu ini hanya di tinggal satu minggu saja, bagaimana jika satu bulan.


"Kamu lagi betah sama Nyonya ya? Sampai lupa sama aku, tapi tak apa. Setidaknya Nyonya tidak lagi merasa jika posisinya tersisihkan oleh kehadiranku"


"Posisi Saqila tidak pernah tersisihkan oleh siapapun" Karena aku sendiri yang memberikan ruang untukmu di hatiku. Sehingga tanpa sadar aku telah menutup ruang untuk Saqila.


Ayra menoleh dengan wajah terkejut pada suaminya. Ayra benar-benar tidak menyangka jika Aiden benar-benar pulang ke apartemen setelah satu minggu dia membiarkan Ayra sendiri, dan menenangkan diri. Ayra langsung berdiri dan menatap menghampiri Aiden yang berdiri di tempatnya.


"Kamu pulang?" Tanya Ayra seolah tidak percaya jika yang ada di depannya saat ini adalah suaminya.

__ADS_1


Aiden memeluknya dengan erat, dia masih belum berkata-kata apapun. Yang ingin dia lakukan saat ini hanya memeluk istrinya dan meluapkan segala kerindyannya. Aiden mencium puncak kepala istrinya beberapa kali. Ayra juga membalas pelukan Aiden dengan hangat.


"Kamu baik-baik saja selama aku tinggalkan?"


Ayra mengangguk dalam pelukan suaminya. "Kamu bagaimana? Emm. Pasti baik-baik saja, kan ada Nyonya yang ngurusin kamu"


Aiden tersenyum, dia mencium kembali puncak kepala istrinya. Mendengar nada cemburu dari cari bicara istrinya, sungguh membuat hati Aiden senang. "Aku tidak bersama Saqila. Dia pergi ke rumah orang tuanya"


Hah?!


Ayra langsung melepaskan pelukannya, dia menatap suaminya dengan bingung. "Terus selama seminggu ini untuk apa aku mengalah dan tidak menghubungimu kalau kamu saja tidak bersama Nyonya? Maksud aku melakukan ini 'kan agar kamu bisa meyakinkan Nyonya kalau posisi dia tidak sama sekali tergeser olehku"


Aiden menangkup wajah Ayra dengan kedua tangannya. Menatap manik hitam itu dengan lekat. "Tidak ada yang pernah menggeser posisi Saqila. Jadi, kamu jangan terus menyalahkan dirimu. Kamu tidak salah apapun"


Ti-tidak ada yang menggeser posisi Nyonya? Itu artinya aku tidak pernah ada di hatinya sedikit pun.


Kesalah fahaman baru telah terjadi.


Bersambung


Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5


Yang nunggu rahasia Saqila terbongkar, tunggu saja. Waktunya akan tiba, tapi tidak sekarang. Aku harus benar-benar membuat kehidupan rumah tangga Ayra dan Aiden berwarna. Nano nano gimana gitu... wkwkwk.. jangan hujat.. ini sudah konsepku..

__ADS_1


__ADS_2