
Pagi ini Ayra terbangun dengan tubuh yang terasa remuk.Semalam suaminya benar-benar tidak melepaskan dirinya dengan begitu saja sebelum dia merasa puas dengan kegiatannya.
Bagaimana jika nanti Aiden benar-benar mengajaknya berbulan madu. Rasanya Ayra tidak bisa membayangkan bagaimana malam-malamnya ketika hanya ada Aiden dan dirinya saja. Membayangkan itu membuat Ayra merinding sendiri.
"Kau sudah bangun"
Ayra langsung menoleh pada suaminya yang membuka pintu kamar dan berjalan ke arahnya dengan membawa nampan ke arahnya. "Sayang, kau membuat apa?"
Aiden duduk di pinggir tempat tidur, dia menyimpan nampan yang dia bawa diatas nakas. Aiden mengecup kening istrinya yang sedang duduk menyandar diatas tempat tidur. Aiden yakin jika tubuhnya masih dalam keadaan polos, karena selimut tebal yang masih menutupi seluruh tubuhnya.
"Sayang, ayo makan dulu sarapan kamu ini"
Ayra menatap dengan berbinar makanan yang ada ditangan Aiden. Perutnya memang sudah lapar sejak tadi, karena memang dirinya yang kelelahan karena kegiatan semalam.
"Sayang, apa kamu yang membuat ini semua?"
Aiden tersenyum, dia mulai menyuapi istrinyaitu. "Ayo buka mulutmu dan habiskan makanan ini. Biar tubuhmu kembali kuat dan tidak lemah seperti ini"
Ayra cemberut mendengar itu, padahlkan dirinya seperti ini juga karena kelakuan Aiden yang selalu tidak merasa puas dengan satu kali kegiatan malam. Pasti harus berulang beberapa kali.
"Aku kayak gini juga karena ulah kamu itu"
Aiden terkekeh melihat wajah menggemaskan istrinya itu. "Karena kamu yang selalu membuat aku candu"
Ayra menggeleng pelan saat Aiden mengatakan itu. Selalu saja itu jawaban Aiden ketika Ayra mengeluh lelah karena kegiatan malam mereka.
Sarapan yang dibuatkan oleh suaminya benar-benar- habis dimakan oleh Ayra dengan Aiden yang menyuapinya.
"Aku mau mandi dulu, gendong" Ayra berkata dengan nada manja, merentangkan tangannya ke arah Aiden agar suaminya itu menggenodngnya.
Aiden tertawa gemas melihat mimik wajah manja istrinya itu. Tanpa merasa keberatan, Aiden langsung menggendong istrinya dan membawanya ke ruang ganti. Kaki Ayra melingkar di pinggang Aiden, dengan tangan yang melingkar di leher suaminya.
"Mau sekalian aku mandikan?"
__ADS_1
Ayra menggeleng pelan dengan bibirnya yang mencebik gemas. Bisa gawat jika benar-benar Aiden memnadikannya, karena tidak akan hanya itu yang terjadi di dalam kamar mandi jika Aiden benar-benar ikut ke dalam kamar dan memandikannya.
Cup..
Aiden yang merasa gemas dengan bibir istrinya itu, membuat dia tidak tahanuntuk tidak mengecupnya. Ciuman yang terus berlanjut seiring langkah Aiden yang membawa Ayra masuk ke dalam kamar mandi.
"Sudah ah, sana kmu keluar saja. Aku mau mandi dulu"
Aiden menatap istrinya dengan wajah nakalnya. "Yakin? Apa kau tidak mau mencoba lagi untuk melakukannya di kamar mandi?"
Ayra menggeleng, dia langsung mendorong tubuh suaminya untuk segera keluar dari kamar mandi. "Sayang jangan banyak alasan deh,sudah kamu keluar dulu. Aku mau mandi"
"Sayang, kau benar-benar tidak ingin mencobnya lagi?" Teriak Aiden yang sudah berada di luar kamar mandi. Dia terkekeh sendiri dengan apa yang di lakukannya ini. Menggoda istrinya adalah kebiasaan yang menyenangkan bagi Aiden. Bagaimana wajah kesal istrin nya begitu membuat Aiden gemas sendiri.
...🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲...
Aiden masuk ke dalam kanotrnya dengan wajah dingin yang biasa dia tunjukan di depan banyak orang. Berbeda sekali dengan Aiden yang berada di rumah dan bersama keluarganya.
Masuk ke dalam ruangannya dan dia melihat Rega yang sudah duduk diatas sofa ruangannya itu. Aiden segera menghampiri asistennya itu. Duduk di depan Rega dan menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Kau benar-benar ingin melakukan bulan madu sesuai rencanamu itu?"
Sebenarnya Rega juga merasa aneh dan heran dengan keinginan Tuannya ini. Aiden yang baru memikirkan tentang bulan madu setelah dia mempunyai seorang anak dan pernikahannya yang juga sudah berjalan tiga tahun.
"Ya, memangnya kenapa? Apa ada masalah?"
Rega menggeleng pelan, kedua pria dingin ini hanya saling menatap dengan wajah datar tanpa ekspresi. "Ya, sepertinya kau tidak bisa pergi untuk bulan-bulan ini. Karena aku tidak bisa menghandel pekerjaanmu disini. Istriku sedang hamil besar dan aku harus segera ambil cuti dan menemaninya di rumah saat sudah hampir mendekati kelahiran"
Aiden menghela nafas pelan, dia juga tidak bisa egois. Karena memang Rega selalu bekerja dengan baik selama ini. Jadi rasanya tidak adil jika Aiden tidak memberinya waktu untuk bisa menemani istrinya lahiran.
"Baiklah kau atur saja, kapan kira-kira aku bisa pergi membawa istriku bulan madu"
Rega mengangguk, setelah pembahasan itu. Keduanya langsung membahas pekerjaan. HIngga sore hari, barulah Aiden kembali ke rumah. Hari ini tidak terlalu banyak pekerjaan hingga dirinya bisa pulang lebih awal dari biasanya.
__ADS_1
Saat Aiden masuk ke dalam rumah, dia melihat istrinya yang sedang bermain dengan Alerio di ruang tengah. Aiden tersenyum melihat senyuman Ayra dan tawa anaknya.
Kebahagiaanku adalah melihat kalian bahagia.
Harta yang paling berharga dalam hidup Aiden adalah keluarganya. Ketika dia melihat anak dan istrinya bahagia, tentu saja Aiden juga merasa sangat bahagia.
"Sayang, tumben sudah pulang" Ayra langsung menghampiri suaminya dan menyalaminya dengan penuh rasa hormat. Hal yang selalu membuat Aiden bahagia dan merasa sangat dihargai oleh Ayra.
"Iya Sayang, aku ingin mandi dulu sekarang"
"Yaudah, biar aku siapkan air untuk kamu mandi..." Ayra menoleh pada anaknya yang masih anteng dengan mainan yang berserak diatas karpet berbulu itu. "...Mbak, tolong jaga Alerio ya"
"Baik Nona"
Ayra segera mengajak Aiden untuk ke kamarnya. "Tunggu sebentar ya, biar aku siapkan dulu perlengkapan mandi kamu"
Namun langkah Ayra yang ingin melangkah ke arah ruang ganti langsung terhenti ketika pelukan dari suaminya membuat dia berhenti seketika.
"Aku merindukanmu"
Ayra tersenyum mendengar itu, kepala suaminya yang menyandar di bahu Ayra dengan nyaman. Aiden memang langsung berubah menjadi sosok yang manja pada istrinya itu.
"Sayang, kita hanya tidak bertemu beberapa jam saja seharian ini. Kamu sudah seperti tidak bertemu satu bulan saja"
Aiden mencium bahu Ayra, menghirup aroma tubuh istrinya itu. "Memangnya kenapa kalau hanya beberapa jam saja? Wajar saja jika aku merindukanmu, kamu istriku"
Ayra tidak menjawab,dia hanya tersenyum dengan sikap suaminya ini. Aiden yang manja memang cukup menjadi perubahan yang drastis sejak Ayra mengenalnya. Namun sekarang Ayra bersyukur karena memang dirinya yang menjadi wanita pilihan Aiden untuk menunjukan sikap manjanya. Semuanya karena Aiden merasa nyaman dengan Ayra.
"Sayang, aku mencintaimu"
Aiden mengecup pipi istrinya ketika dia mendengar ungkapan cinta dari istrinya tanpa dia yang memulai duluan.
"Ya, aku juga sangat mencintaimu. Bahkan aku lebih mencintaimu"
__ADS_1
Ya, Aiden memang lebih mencintai Ayra dari apapun. Dia tidak akan siap jika harus kehilangan Ayra.
Bersambung