Suamiku Dan Suamimu

Suamiku Dan Suamimu
S2 #Suami Manjaku#


__ADS_3

"Kamu jadi ke rumah Tami?" tanya Aiden ketika dia baru saja kembali dari kantor dan melihat istrinya sedang duduk diatas tempat tidur dengan sebuah buku yang berada di tangannya.


Ayra menatap suaminya yang berjalan ke arahnya. Ayra turun ke atas lantai, memeluk pinggang suaminya ketika Aiden sudah berdiri di depannya.


"Nanti saja kalau kamu gak bekerja, aku gak mau pergi bersama Pak Heru. Nyeremin"


Aiden tertawa kecil mendengar ucapan istrinya itu. Dia mengelus kepala Ayra dengan lembut. "Kamu ini ada-ada saja deh, memangnya dia selalu melakukan apa sampai kamu takut sekali dengan dia"


"Justru itu Sayang, dia tidak melakukan apapun jika bukan apa yang kamu katakan"


"Bagus dong, artinya dia begitu profesional dalam bekerja"


Ayra mendongak dan menatap wajah suaminya dengan mencebikan bibirnya. "Kamu gak merasa kalau dia itu kayak robot"


Hahaha...


Tawa Aiden langsung pecah mendengar ucapan istrinya itu. "Yaudah si Sayang, kenapa kamu bisa sampai memikirkan kalau dia seperti robot. Da itu manusia Sayang"


"Ya abisnya dia selalu diam saja dan hanya berbicara jika aku bicara atau bertanya saja. Waktu di rumah Kak Saqila saja dia hanya berdiri diam di depan rumah tanpa melakukan apapun, benar-banar seperti robot"


Aiden hanya menggeleng pelan, merasa lucu dengan tingkah istrinya ini. "Udah ahh, aku mau mandi dulu"


"Biar aku siapin airnya"


"TIdak usah, kamu 'kan lagi sakit"


"Aku gak sakit"


"Kemarin mengeluh perutnya sakt, berarti memang kamu sedang sakit"


Ayra hanya mendengus kesal, sakit datang bulan saja dianggap sakit oleh suaminya. Seolah Ayra sedang sakit parah saja.


Aiden mengelus kepalanya dan mencium keningnya. "Yaudah aku mau mandi dulu, kamu diam saja disini"


Akhirnya Ayra hanya mengangguk dan membiarkan suaminya tetap menganggap jika Ayra sedang sakit, padahal hanya sedang datang bulan biasa saja.


Ayra turun ke lantai bawah dan menemui Alerio yang sedang bermain diatas tempat tidur di kamarnya.

__ADS_1


"Alerio, kamu sedang apa Nak?"


"Nda..Nda.."


"Sini Sayang sama Bunda"


Ayra langsung memangku Alerio diatas pangkuannya. Ayra senang bermain dengan anaknya. Selagi bayi besarnya belum menyusulnya dan memintanya untuk kembali ke kamar. Maka ini adalah kesempatan Ayra untuk bisa bersama anaknya lebih lama lagi. Waktu Ayra bersama Alerio hanya ketika Aiden tidak bersamanya. Karena terkadang suaminyaitu selalu merasa kesal dan cemburu ketika Ayra lebih menghabiskan waktu bersama Alerio sementara dirinya merasa diacuhkan.


"Ale, nanti kalau kamu besar jangan terlalu posesif seperti Daddy ya"


"Tuan Aiden memang sangat mencintai Nona, makanya dia sangat posesif sama kamu"


Ayra menoleh pada pengasuh anaknya, dia tersenyum. "Ya Mbak, memang seperti itu suamiku. Kadang aku juga suka heran kenapa dia terlalu posesif, padahal aku juga tidak akan berani selingkuh"


"Sayang, kamu disini. Aku cariin dari tadi"


Ayra memutar bola mata malas, baru saja dia membicarakan tentang suaminya yang selalu posesif padanya. Dan sekarang Aiden sudah muncul dengan wajah datar,  pasti dia kesal karena Ayra meninggalkan dia saat masih di kamar. Padahal Aiden baru saja pulang dan baru mempunyai waktu untuk bersama istrinya. Tapi Ayra malah sedang bersama anaknya dan melupakannya.


"Sayang, sudah selesai mandinya? Ayo kita ke kamar" Ayra berdiri dan menyerahkan Alerio pada pengasuhnya. "...Ale, kamu sama Mbak dulu ya Nak, Bunda mau temani Daddy dulu"


"Sayang kamu kenapa si? Kok cemberut gitu?" Ayra menghampiri suaminya yang sedang duduk di atas sofa dengan wajah cemberut kesal. Ayra duduk diatas pangkuan suaminya, mengalungkan tangannya di leher suaminya. Mengecup pipi suaminya untuk sekedar meluluhkan suaminya yang sedang merajuk.


"Aku baru pulang dan baru bisa bersama kamu, kenapa kamu malah ninggalin aku dan menemui Alerio. Padahal Alerio sudah seharian bersama kamu"


Ayra tersenyum mendengar keluhan suaminya itu. Dia mengelus pipi suaminya dengan lembut. Jelas Ayra tahu jika suaminya sedang merajuk seperti ini, maka dia harus pandai untuk membujuknya karena memang Aiden gampang sekali luluh dengan bujukannya itu.


"Iya Sayang, maaf ya. Sekarang aku akan bersama kamu semlaman pokoknya"


Ayra benar-benar tidak akan percaya jika suaminya itu terkenal dingin, padahal yang Ayra tahu jika suaminya itu begitu manja dan bahkan manjanya itu melebihi anaknya sendiri.


"Udah ayo kita tidur saja"


Ayra menghela nafas lega ketika mendengar ucapan suaminya itu. Artinya Aiden sudah tidak marah lagi. Terkadang Ayra ingin tertawa melihat suaminya yang merajuk hanya karena dirinya yang sedang bersama Alerio disaat Aiden sedang ingin bermanja padanya.


"Sini peluk aku"


Ayra merentangkan tangannya ketika dia sudah berada diatas tempat tidur. Aiden langsung memeluk istrinya itu, kepalanya berada diatas dada Ayra yang memeluknya dengan hangat.

__ADS_1


Dasar suami manjaku.


######


Ayra pergi ke kantor suaminya siang ini, dia ingin mengantarkan makan siang untuk suaminya. Ayra menatap ke arah luar jendela, dia tidak bisa melakukan apapun lagi ketika sedang berada di dalam mobil bersama Pak Heru yang selalu diam dan tidak bersuara jika bukan ada hal yang memang harus dia tanyakan.


"Terima kasih Pak"


Ayra turun dari mobil dan segera masuk ke dalam lobby perusahaan. Masuk ke dalam lift. Dan di dalam lift itu ada seorang pria yang dia ingat jika dia yang pernah di marahi oleh suaminya karena kepergok sedang menatap ke arahnya.


"Kamu yang waktu itu 'kan?"


Pria yang sejak tadi menunduk dan mencoba menghindar tatapan dengan istri bos yang pernah dia taksir itu. "I-iya Nona"


Ayra menghela nafas ketika melihat dia yang tidak berani berbicara sambil menatapnya. Pasti dia masih trauma dengan gertakan Aiden waktu itu.


"Maaf ya kalau suami saya terlalu berlebihan sama kamu waktu itu. Dia memang seperti itu, jadi tolong di maafkan ya"


"Iya Nona, tidak papa memang saya yang salah. Maaf karena saya tidak tahu jika Nona adalah istrinya Tuan AIden"


"Tidak papa, lagian memang aku masih pantas menjadi adiknya daripada istrinya. Iya 'kan?" Ayra tertawa dengan ucapannya itu, merasa lucu saja dengan yang dia ucapkan.


Aku tidak menyangka jika Nona Ayra bisa seramah ini.


Ting..


"Saya duluan Nona"


"Ohh baiklah"


Ayra tersenyum lucu melihat pria yang umurnya mungkin tidak beda jauh dengannya. Dia terlihat begitu takut dan tidak berani menatapnya, karena terlalu takut dengan gertakan Aiden waktu itu.


Ketika Ayra sudah sampai di lantai tempat ruangan suaminya berada, dia langsung masuk ke ruangan Aiden. Namun tubuh AYra mematung seketika melihat adegan di depannya.


"Sayang.."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2