
Sebuah harapan yang semakin tinggi di dalam hati Ayra, setelah dia mendengar ucapan Aiden semalam. Seolah dirinya tidak sadar jika semuanya akan segera berakhir. Ayra kembali pada aktivitasnya, dia mulai masuk kuliah setelah cukup lama izin karena meninggal Ibunya. Sebelum nanti dia juga harus mengambil cuti setelah kehamilannya yang akan semakin besar.
"Yakin mau kuliah?"
Aiden masih saja menanyakan soal itu, dia sudah beberapa kali bertanya hal yang sama. Sebenarnya Aiden hanya ingin Ayra segera ambil cuti, apalagi usia kandungannya yang semakin besar.
"Yakin, aku akan cuti setelah usia kandunganku 8 bulan lebih"
Aiden menggeleng pelan, dia mengelus kepala istrinya. Lalu beralih pada perut buncit istrinya. "Tidak bisa, kamu hanya boleh kuliah sebulan lagi. Usia kandunganmu 8 bulan kau sudah harus cuti"
"Tapi 'kan...."
"No Sayang, tidak ada kata tapi"
Ayra hanya menghela nafas dan akhirnya dia mengangguk saja. Suaminya sedang dalam mode tidak ingin di bantah. "Yaudah, aku pergi dulu ya. Nanti jemput seperti biasa. Sekalian ke dokter"
Aiden mengangguk, dia menatap Ayra yang mencium tangannya dengan lembut dan penuh ketulusan. Aiden selalu merasa jika dirinya sangat di hormati oleh Ayra. Debaran hatinya selalu membuatnya yakin jika Ayra memang cintanya.
Aiden mengelus kepala istrinya lalu mencium keningnya. "Hati-hati, nanti aku akan jemput kamu"
Ayra mengangguk, dia lalu turun dari mobil dan berjalan menuju kampusnya. Aiden memutar arah dan melajukan mobilnya menuju perusahaan. Sampai disana dia melihat Alvaro di depan ruangannya. Aiden berjalan dan masuk ke ruangannya dengan wajah dingin.
"Den, aku mau bicara sebentar denganmu" Alvaro langsung mengikuti Aiden masuk ke dalam ruangannya. Alvaro harus menjelaskan semuanya. Tidak peduli jika Aiden akan memukulnya atau apapun itu.
__ADS_1
"Den, aku minta maaf"
Aiden duduk di kursi kebesarannya, dia menatap dingin pada Alvaro yang berdiri di depan meja kerjanya itu. "Minta maaf? Untuk apa? Apa kau melakukan kesalahan?"
Alvaro menunduk, bahkan dia tidak berani hanya untuk sekedar menatap wajah sahabatnya itu. Terlalu malu dengan apa yang terjadi saat ini. Memang tidak seharusnya Alvaro terus menutupi kesalahan saudaranya. Dia tidak memikirkan perasaan sahabatnya sendiri. Hanya dengan satu alasan, Alvaro sampai tidak memikirkan akibatnya. Hanya karena Alvino adalah saudara kembarnya.
"Maafkan aku karena aku berusaha menutupi semua ini. Tapi semuanya aku lakukan karena kau dan Alvino. Aku berharap Saqila bisa meninggalkan Alvino, tapi ternyata waktu sudah selama ini hubungan mereka malah semakin jauh. Maaf karena pada awalnya akulah yang melarang Rega untuk menceritakan semua ini padamu. Aku sudah mencoba mengingatkan Alvino, tapi aku tidak bisa, Den. Dia tetap pada pendiriannya. Sekarang aku serahkan semuanya padamu"
Saat itu Alvaro sudah berusaha sebisa mungkin untuk membuat Alvino sadar dan meninggalkan Saqila. Tapi, karena cinta Alvino yang sudah terlalu besar sampai dia tidak sadar jika apa yang dia lakukan adalah kesalahan. Meski Alvino melakukan itu hanya karena dia mengetahui tentang pernikahan kedua Aiden. Dia tidak ingin Saqila tersakiti.
"Bawa aku menemui mereka, aku ingin bicara dengan mereka secara langsung. Barulah aku akan memaafkanmu"
Alvaro mendongak dan dia menatap wajah datar Aiden. Memang seperti itu sahabatnya jika sudah kecewa dengan seseorang. "Dia berada di pulau xx. Apa kau mau memanggil mereka untuk segera pulang?"
Alvaro tidak bisa lagi menolak, mungkin ini memang sudah saatnya semuanya terbongkar. Biarkan saja jika nanti mungkin akan ada pertengkaran antara Alvino dan Aiden. Alvaro sudah tidak bisa menghalau lagi. "Baiklah, aku akan pesankan tiketnya besok"
Aiden mengangguk, lebih cepat lebih baik. Dia ingin segera menyelesaikan semua ini sebelum dia mengatakannya pada Ayra. Dia akan mengatakan semuanya setelah urusan dan segala masalah dirinya dan Saqila terselesaikan.
Alvaro keluar dari ruangan Aiden dengan wajah yang sendu. Sebentar lagi dia akan melihat pertengkaran antara saudara dan sahabatnya. Tapi apa yang bisa lakukan sekarang? Dia sudah berusaha sebisa mungkin untuk membuat Alvino sadar dan meninggalkan Saqila. Tapi sayang, cinta telah membutakan Alvino saat ini
Rega masuk ke dalam ruangan atasannya setelah dia mendapatkan panggilan dari atasannya itu. Rega masuk bukan untuk membahas masalah pekerjaan, tapi dia sudah tahu jika Aiden memanggilnya karena urusan pribadinya.
"Ada apa?"
__ADS_1
Aiden menatap Rega dengan serius, lalu dia menyerahkan map berwarna coklat pada Rega. Melemparnya di atas meja kerja. "Urus perceraianku dengan Saqila"
...🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲...
Ayra tersenyum menatap layar monitor saat Dokter melakukan pemeriksaan padanya. Dokter juga menjelaskan bagaimana perkembangan janin dalam perutnya ini. Aiden berdiri di samping ranjang pemeriksaan dengan terus menggenggam tangan Ayra dan menciumnya beberapa kali. Aiden ikut senang saat mendengar penjelasan Dokter jika bayi mereka sehat.
"Jenis kelaminnya sudah terlihat ya, wahh sepertinya kalian akan mempunyai jagoan"
Hal itu membuat Ayra dan Aiden saling menatap dengan kebahagiaan yang mereka rasakan saat ini. Sebenarnya Ayra maupun Aiden akan menerima apapun jenis kelamin anak pertama mereka ini. Semuanya adalah anugerah yang di berikan Tuhan pada mereka, jadi apapun jenis kelaminnya mereka akan menerima dengan senang dan bahagia.
Sepulang dari pemeriksaan, Ayra membeli sebuah jajanan pedas berkuah. Di dalamnya ada berbagai macam kerupuk dan mie, juga sering di tambahkan tulang ayam atau ceker ayam. Saat sampai di apartemen dia langsung membuka bungkusan makanan itu dan memindahkannya ke dalam mangkuk. Aiden hanya menatapnya dengan menggelengkan kepala heran saat istrinya ini tidak pernah menuntut apapun. Padahal dia sedang hamil, tapi keinginannya selalu sederhana.
"Sayang mau?"
Aiden menggeleng sambil tersenyum, menatap istrinya memakan itu dengan lahap saja sudah membuat Aiden kenyang. Lagian dia juga tidak bisa makan makanan terlalu pedas seperti itu. "Habiskan saja, aku tidak mau. Sekarang aku mau mandi dulu"
Ayra mengangguk, lalu dia kembali memakan makanan itu sampah habis tak bersisa. Setelahnya Ayra segera menyusul suaminya ke dalam kamar. Dia duduk di sofa dekat jendela, menatap pemandangan sore hari yang cerah. Rasanya Ayra ingin tetap seperti ini, selalu bersama suaminya dan anaknya. Namun, waktu dua bulan itu tidak akan terasa bagai Ayra yang tidak ingin pergi. Tapi akan terasa lama bagi suaminya yang menginginkannya pergi. Entahlah Ayra masih bingung dengan perasaan suaminya saat ini.
Apa dia benar-benar tidak menginginkan Ayra pergi. Tapi kenapa? Apa karena dia ingin memiliki dua istri, atau hanya karena rasa bersalah saja. Entahlah..
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5
__ADS_1