
Ayra pulang ke rumah saat sore hari, dia begitu asyik berberanja perlengkapan bayi untuk calon anak perempuannya ini. Namun Ayra tidak menduga jika suaminya sudah berada di rumah saat ini. Ayra merasa jika hari masih sore, tapi kenapa suaminya sudah pulang bekerja.
"Sa-sayang, kok kamu sudah pulang?" Ayra berjalan perlahan ke arah suaminya yang sedang duduk di atas sofa. Tatapan Aiden yang tajam menusuk, membuat Vania merasa jika dirinya telah melakukan kesalahan besar.
"Sengaja pulang cepat, karena aku tahu jika istriku akan melanggar janjinya"
Ayra menelan ludah kasar sambil mengelus perutnya. Tidak pernah bisa dia jika sudah melihat tatapan Aiden yang begitu tajam. "Emm. Aku sekalian beli perlengkapan untuk calon bayi kita bersama Mama dan Kak Saqila"
"Sudah aku bilang jaga kesehatan kamu dan jangan sampai kelelahan. Kau benar-benar tidak menuruti ucapanku ya. Kalau tahu begini, aku tidak akan mengizinkan kamu untuk pergi"
Ayra duduk disamping istrinya dan merangkul lengan suaminya itu. "Maaf Sayang, sudah dong jangan marah-marah terus. Lagian aku pulang dengan selamat dan sehat. Aku dan bayi kita baik-baik saja"
Aiden menghela nafas pelan, sebenarnya dia bukannya mau menekan Ayra dan membatasi kebebasan istrinya itu. Tapi Aiden hanya tidak ingin jika istrinya akan kenapa-napa. Aiden marangkul bahu Ayra dan mengecup puncak kepalanya.
"Maaf ya Sayang, aku janji tidak akan keluar-keluar lagi selama hamil jika tidak bersama kamu" Ayra mulai bisa merayu suaminya saat Aiden sudah mulai luluh.
"Awas saja jika kamu melanggar lagi"
"Iya, iya"
Dan beberapa saat keduanya hanya berada di posisi ini. Saling berpelukan dengan nyaman. Aiden mengecup puncak kepala Ayra beberapa kali dan mengelus punggung istrinya itu.
"Sayang, ayo mandi bersama"
Aiden langsung menundukan pandangannya dan melihat Ayra yang sedang menatapnya dengan tersenyum begitu manis. Dan bagaimana Aiden bisa marah dengan istrinya ini jika melihat senyumannya saja sudah membuat hati Aiden berdesir.
Cup..
Aiden mengecup bibir istrinya dengan lembut, dia tidak bisa menahan ketika melihat bibir merah muda istrinya yang selalu menggodanya. Tanpa berbasa-basi lagi Aiden langsung menggendong tubuh Ayra dan membawanya ke kamar mandi.
Berendam di dalam bak mandi dengan Aiden yang berada di belakang tubuh istrinya dan sedang menggosok tubuh istrinya itu dengan lembut.
__ADS_1
"Tadi makan tidak?"
Ayra menganguk, tentu saja Mama dan Saqila juga tidak mungkin mengabaikan waktu makan siang mereka. Apalagi mereka membawa wanita yang sedang hamil.
"Apa saja yang kau beli tadi?"
Ayra langsung antusias, menyebut satu persatu barang yang dia beli bersama dengan Saqila dan Mama. Namun dari banyaknya barang yang Ayra sebut, ternyata semuanya hanya perlengkapan untuk calon bayi mereka. Tidak satu pun Ayra menyebutkan barang untuk dirinya sendiri atau kebutuhan dirinya.
"Apa kamu tidak membeli apapun untuk dirimu sendir?"
Ayra menggeleng pelan, dia memang tidak membeli apapun untuk dirinya sendiri karena merasa semua kebutuhannya sudah tercukupi oleh suaminya. Jadi Ayra tidak merasa kurang apapun.
Aiden menggeleng kecil, istrinya ini memang sangat berbeda dari orang lain. Bagaimana Ayra yang selalu sederhana dan tidak pernah menuntut apapun pada suaminya. Ayra yang benar-benar begitu sederhana ini yang berhasil membuat Aiden jatuh cinta padanya sampai saat ini.
Selesai mandi, Ayra dan Aiden keluar ruang ganti. Wajah keduanya terlihat lebih segar karena sudah mandi dan berganti pakaian.
"Biar aku suruh pelayan untuk mengantarkan makan malam kita ke kamar saja"
Aiden menggeleng pelan, dia jelas melihat wajah istrinya yang terlihat lelah. Jadi Aiden tidak mau jika istrinya semakin lelah, karena jika dia turun ke bawah, maka dia tidak akan bisa langsung istirahat setelah makan. Alerio pasti akan menempel pada Ibunya ini dan tidak akan membiarkan Ayra langsung istirahat setelah makan malam. Ayra pasti harus mengajak main Alerio sampai balita itu tidur.
"Tidak papa, kita makan disini saja"
Dan beberapa saat kemudian seorang pelayan datang dengan nampan berisi makan malam untuk Ayra dan Aiden. Satu piring berdua, begitulah gambaran makan malam mereka saat ini. Aiden yang menyuapi istrinya dengan sesekali menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri.
"Sayang, sudah. Aku kenyang"
"Yaudah, minum dulu terus habiskan susunya"
Hal yang paling tidak Ayra inginkan, yaitu meminum susu ibu hamil. Entah kenapa kehamilan kedua ini membuat Ayra begitu tidak suka mencium bau susu. Padahal saat mengandung Alerio saja tidak separah ini. Namun mau tidak mau Ayra tetap harus meminum susunya, meski tidak sampai habis.
Selesai makan, Aiden menyuruh pelayan untuk membawa kembali bekas makan mereka. "Sekarang kamu istirahat, pasti capek setelah seharian tadi pergi"
__ADS_1
"Aku ingin menemui Alerio dulu"
Aiden menahan lengan istrinya yang sudah menurunkan kedua kakinya ke atas lantai. Membuat Ayra menoleh dan menatap Aiden dengan bingung.
"Kamu diam saja disini, Alerio pasti baik-baik saja bersama pengasuhnya. Kalau kamu turun ke bawah dan menemuinya, maka dia akan menempel sama kamu dan kamu tidak akan bisa istirahat lebih awal kalau begitu"
Ayra menatap suaminya, dia tahu maksud Aiden melakukan ini bukan karena suaminya tidak ingin Ayra bersama Alerio. Tapi karena Aiden hanya tidak mau jika Ayra yang memang sudah kelelahan karena kegiatan tadi siang, semakin tidak mempunyai waktu untuk istirahat karena harus menjaga anaknya.
"Yaudah, aku tidak akan jadi ke bawah"
Ayra kembali naik ke atas tempat tidur, memeluk tubuh suaminya dengan nyaman hingga tanpa sadar dia terlelap dalam pelukan suaminya. Mungkin karena Ayra yang sudah kelelahan.
Aiden merebahkan kepala Ayra diatas bantal, menyelimuti tubuh istrinya itu dan memberinya kecupan yang lembut di kening istrinya.
######
Pagi ini Ayra terbangun dengan tubuhnya yang terasa basah. Dia bangun dan melihat bagian bawah pakaian yang di pakainya basah hingga mengenai tempat tdiur. Ayra memegang celana bagian bawahnya yang basah, mencium aroma bau.
"TIdak bau, aku tidak pipis tapi ini apa ya?"
Ayra masih bingung dengan keadaan saat ini, sampai dia mengingat sesuatu. Hal yang pernah di jelaskan oleh Dokter saat beberapa kali pertemuan, maka jika hal seperti saat ini terjadi maka harus segera menghubungi Dokter atau langsung datang saja ke rumah sakit.
Ayra langsung membangunkan suaminya, menggoyang-goyang tubuh Aiden dengan sedikit kencang. "Sayang cepat bangun, Sayang ihh"
Aiden menggeliat pelan dan bangun terduduk dengan matanya yang masih terasa sangat berat untuk terbuka. "Ada apa Sayang?"
"Air ketubanku pecah duluan, kita harus ke rumah sakit sekarang"
"Apa?!"
Bersambung
__ADS_1