
"Apa Dok, saya hamil? Tapi beberapa hari lalu saya baru selesai datang bulan"
"Mungkin itu bukan datang bulan seperti biasa Nona, bisa saja hanya sebuah flek"
Ayra merasa bingung dengan penjelasan Dokter, jelas dia mengalami datang bulan meski memang darah yang keluar tidak banyak seperti biasanya.
"Nona mengalami pendarahan implantasi. Saat sel telur dibuahi oleh ****** dan menempel pada dinding uterus, sel telur akan berimplantasi atau tertanam pada dinding endometrium sehingga menyebabkan perlukaan pada endometrium. Darah akibat implantasi ini bisa saja keluar lewat ****** sehingga terlihat seperti menstruasi. Namun, karena durasinya lebih pendek dan jumlah darahnya sedikit, maka tidak bisa disebut sebagai haid. Biasanya terjadi pada trimester pertama kehamilan"
Ayra sebenarnya tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Dokter. Namun intinya dia sedang hamil dan menstruasi kemarin hanya sebuah tanda kehamilan saja.
"Tapi tidak akan berpengaruh apa-apa pada kehamilan saya, Dok?"
"Untuk beberapa kasus seperti ini aman Nona, kecuali jika terjadi pendarahan kembali. Maka harus segera di lakukan pemeriksaan"
"Baiklah, kalau begitu terima kasih Dok"
Ayra menatap suaminya yang sejak tadi hanya diam, seolah terkejut atau mungkin dia tidak menyangka jika keinginannya untuk memiliki anak kedua bisa secepat ini terwujud. Ayra menggandeng tangan suaminya dan membawanya keluar dari ruang pemeriksaan itu.
"Kamu kenapa? Dari tadi hanya diam saja"
Aiden menoleh pada Ayra dan tersenyum, dia menghentikan langkahnya membuat Ayra juga menghentikan langkah kakinya. Tiba-tiba saja Aiden memeluk Ayra dan mencium kedua pipi istrinya itu dengan penuh rasa bahagia.
"Terima kasih karena kamu sudah memberikan kebahagiaan ini.." Aiden melerai pelukannya, dia mnunduk dan mencium perut istrinya dengan lembut. "...Baik-baik di perut Bunda ya Sayang"
Ayra tersenyum dengan mengelus kepala suaminya yang berada di perutnya itu. Mengajak si bayi dalam perut Ayra yang sebenarnya belum membentuk menjadi bayi.
"Aku juga tidak menyangka kalau aku hamil, padahal jelas kemarin aku mengalami datang bulan"
Aiden menegakkan kembali tubuhnya, dia menatap istrinya dengan lekat. "Kamu si, padahal kemarin pas kamu ngeluh sakit karena datang bulan aku sudah mengajak kamu untuk pergi ke Dokter. Tapi tidak mau"
Ayra tersenyum sambil merangkul lengan suaminya dan kembali berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Mengabaikan beberapa orang dan perawat yang melihat adegan tadi. "Karena aku fikir hanya datang bulan kenapa juga harus ke Dokter"
"Mulai sekarang harus lebih menjaga kesehatan kamu. Ingat ada nyawa lain yang sedang kamu jaga"
__ADS_1
"Iya Sayang"
Ketika sampai di rumah, Aiden langsung memberi tahu keluarganya tentang kabar bahagia ini. Mami langsung memeluk Ayra dengan tangis penuh haru.
"Terima kasih ya Ay, kamu sudah memberikan kebahagiaan untuk keluarga ini"
Rasanya Mami tidak pernah menyesal karena pernah menekan Aiden untuk menikah lagi hanya untuk mendapatkan cucu. Karena sekarang keluarganya lebih bahagia sejak hadirnya Ayra dan Alerio. Mungkin memang Aiden harus mengorbankan pernikahannya dengan Saqila untuk kebahagiaannya saat ini.
"Di rumah ini akan semakin ramai, Papi sangat senang"
Ayra menatap suaminya sambil tersenyum, Ayra merasa senang dengan semua ini. Dia bisa merasakan bagaimana keluarga suaminya adalah keluarga kedua bagi Aiden.
"Sayang, kamu harus istirahat dulu sekarang"
"Iya Nak, kamu tidak boleh terlalu capek mulai sekarang. Harus jaga kehailanmu ini" Mami mengelus perut menantunya dengan rasa bahagia.
Aiden membawa istrinya kembali ke kamar mereka. Ayra duduk menyandar diatas tempat tidur dengan suaminya yang menemaninya.
"Kamu makan ya, dari tadi belum makan"
"Emm, Tapi aku tidak mau makan nasi"
Aiden menatap Ayra dengan kening berkerut tajam. "Kalau gak makan nasi, mau makan apa? Bubur?"
"Gak mau juga, aku mau rujak yang ada di dekat kampus dulu. Yang ada asinan juga, dulu saat hamil Alerio aku sering beli pas pulang kuliah"
Aiden tahu tempat itu, karena dulu saat Ayra masih kuliah dia selalu menjemputnya dan istrinya itu sering membeli makanan itu di pinggir jalan.
"Oke kita beli itu, tapi kamu harus makan dulu. Sayang, makanan itu pedas dan tidak baik di konsumsi sebelum kamu memakan nasi"
Ayra menghela nafas pelan, dia tidak mungkin membantah ucapan suaminya ketika tatapan Aiden sudah begitu dingin padanya. Artinya apa yang dikatakan Aiden memang harus dia lakukan.
"Yaudah, tapi sedikit saja. Aku takut mual lagi kalau makan nasi terlalu banyak"
__ADS_1
"Makan yang pedas saja kamu tidak takut mual" sindir Aiden sambil berlalu keluar kamar untuk mengambilkan makanan untuk istrinya itu.
Kan beda, kalau orang hamil enaknya makan yang pedas asam. Gumamnya. Aiden memang sangat membatasi makanan yang dimakan oleh istrinya. Ayra sudah lama sekali tidak makan makanan yang pedas kesukaan dia. Semuanya karena suaminya yang selalu melarang dengan alasan tidak baik untuk kesehatan. Mungkin dulu dan sekarang Aiden mau menuruti keinginan Ayra ini, karena Aya sedang hamil.
Aiden kembali masuk dengan nampan ditangannya. Dia duduk di pinggir tempat tidur dan mulai menyuapi istrinya meski cukup sulit,karena Ayra yang merasa sangat mual ketika makanan masuk ke dalam mulutnya.
"Paksakan Sayang, kasihan calon bayi kita kalau kamu tidak makan dan memberinya nutrisi yang baik"
"Sudah ah, aku benar-benar mual dan tidak tahan lagi"
"Yaudah nih, minum dulu susunya"
Ayra menghela nafas berat, tantangan kedua yang paling Ayra hindari adalah ketika harus minum susu. Ayra tidak terlalu suka minum susu, sehingga dia benar-benar harus berusaha keras agar mau minum susu.
"Sudah, aku sudah tidak kuat. Sudah sangat mual" Ayra menyimpan gelas susu yang masih berisi setengahnya lagi.
Aiden menghela nafas, memang begini yang sudah biasa Aiden hadapi saat istrinya hamil. Dulu saja Ayra selalu tidak bisa menghabiskan susu hamil itu.
"Sayang, ayo kita berangkat sekarang.Kan mau beli rujak sama asinan"
"GIliran makanan seperti itu saja kamu tidak merasa mual. Padahal itu makanan yang tidak terlalu sehat"
"Sehat kok, kan buah-buahan"
"Tapi pake pedas, apanya yang sehat"
Ayra hanya tersenyum manis pada suaminya sambil merangkul lengan suaminya dan menyandarkan kepalanya di bahu Aiden.
"Jangan membujuk aku dengan senyuman kamu itu"
Aiden masih saja measa lemah dengan senyuman Ayra yang terlihat begitu manis. Dia berdiri dan mengulurkan tangannya pada Ayra.
"Ayo kita pergi"
__ADS_1
Ayra tersenyum senang dan langsung meraih tangan nsuaminya itu.
Bersambung