Suamiku Dan Suamimu

Suamiku Dan Suamimu
S2 #Sebuah Pesan Ancaman#


__ADS_3

Aiden mulai bisa memulai semuanya seperti biasa. Semuanya sudah mulai menemukan titik terang, meski Aiden belum tentu bisa membuat para investor mau menerima kerugian yang ada. Tapi setidaknya Aiden masih perlu menambahkan sedikit saja atas kekurangan yang ada. Jadi AIden tidak memiliki beban yang terlalu berat saat ini.


"Kamu gak keluar kota lagi hari ini?" tanya Ayra dengan mengalingkan kedua tangannya di leher Aiden.


"Tidak Sayang, aku menunggu laporan dari polisi dulu. Jadi aku tidak akan pergi ke luar kota untuk mengadakan rapat para investor lagi sebelum polisi menemukan siapa pelaku sebenarnya atas kebakaran yang terjadi"


Ayra mengangguk mengerti, dia tahu bagaimana Aiden yang sangat berusaha keras jika semua menyangkut dengan pekerjaannya. Ayra tahu jika suaminya ini adalah sosok pemimpin yang bertanggung jawab.


"Yaudah, semoga semuanya akan baik-baik saja dan bisa terselesaikan dengan baik ya"


Aiden mengangguk, dia juga berharap seperti itu. Semoga saja bisa secpatnya permasalahan ini selesai. "Yaudah, kalau gitu aku berangkat ke kantor dulu ya"


"Iya Sayang, hati-hati ya. Jangan lup makan siang"


"Anterin ya"


Ayra mengerutkan keningnya bingung ketika dia mendengar ucapan Aiden itu. Merasa jika ucapan suaminya tidak dapat dia mengerti. Anterin? Apanya yang dianterin? Gumamnya.


"Maksudnya apa? Anterin apa?"


"Makan siangnya, aku ingin kamu membawakan makan siang untuk aku"


Ayra tersenyum mendengarnya, dia menggelengkan kepalanya heran dengan tingkah suaminya ini. "Sayang aku boleh bilang sesuatu buat kamu gak?"


"Bilang apa? tinggal bilang saja, kenapa harus meminta izin"


"Emm. Kamu itu kok semakin tua bukannya makin dewasa, tapi malah semakin manja" Ayra tertawa smendengar ucapannya sendiri. Memang itu devinisi yang paling tepat untuk Aiden yang selalu manja padanya.


Aiden langsung memeluk istrinya dan menciumi seluruh bagian wajah wanitanya itu. "Emm. Berani ya kamu sama aku, berani sekali kamu sama aku. Begini 'kan yang kamu bilang manja, iya hmm"


Ayra semakin tertawa keras ketika suaminya menciumi wajah dan lehernya dengan gemas. "Haha. Sayang udah ihh, geli"

__ADS_1


"Biarin, karena aku ingin menunjukan kemanjaan aku sebenarnya itu seperti apa"


Ayra memeluk Aiden dengan erat ketika suaminya itu menghentikan aksinya itu. "Sayang, kenapa kamu begitu mencintaiku? Padahal dulu aja selalu menjadi pria dingin padaku"


Cup..


Aiden malah mencium bibir istrinya itu dari pada menjawab pertanyaan istrinya itu. "Kamu tahu jika cinta yang tidak tahu akan berlabuh dimana itu, ya seperti aku dan kamu. Kita menikah atas surat perjanjian, tapi pada akhirnya kita benar-benar saling mencintai dan bertahan sampai saat ini"


Ayra terdiam mendengar itu, jelas dia tahu bagaimana Aiden yang dulu sangat mencintai Saqila, tapi pada akhirnya dia sendiri yang menjadi cinta terakahir untuk Aiden.


Ayra menyandarkan kepalanya di dada suaminya dengan nyaman. "Terima kasih karena sudah mencintaiku"


Aiden hanya tersenyum dengan semakin mengeratkan pelukannya pada Ayra. Kebahagiaan yang tidak pernah dia kira akan dirinya rasakan ketika dia bersama dengan Ayra saat ini. Pernikahan yang awalnya hanya diatas perjanjian, tapi ternyata telah membawa kebahagiaan yang sebenarnya untuk Aiden.


######


Aiden tersenyum ketika melihat pesan dari istrinya yang mengatakan jika dirinya sudah dalam perjalanan untuk menuju kantor suaminya itu. Aiden menyimpan ponsel diatas meja, dia menyandarkan kepalanya di sandaran sofa dengan kedua tangan berada di belakang kepalanya.


"Tidak pernah menyangka jika aku akan mendapatkan kebahagiaan hari ini ketika dia bersama Ayra"


"Kemana dia, kenapa lama sekali"


Aiden mencoba untuk menghubungi istrinya, namun teleponnya tidak diangkat oleh Ayra. "Kemana dia? Kenapa lama sekali"


Aiden berjalan mondar-mandir di dekat pintu ruangannya. Menunggu istrinya untuk segera datang. Tapi sudah dua jam berlalu, Ayra belum juga datang. Aiden yakin jika ada yang tidak beres dengan istrinya saat ini.


Aiden keluar dari ruangannya dan menemui Rega di ruangannya. "Ga, aku keluar sebentar. Ayra berjanji akan datang kesini tapi tidak datang sampai saat ini"


Rega berdiri dari duduknya dan menatap Aiden dengan bingung. "Memangnya kemana Ayra? Bukannya dari rumah kesini hanya membutuhkan waktu setengah jam saja dalam perjalanan normal"


"Iya makanya itu, aku akan cari istriku dulu. Takutnya ada apa-apa"

__ADS_1


"Baiklah"


Aiden mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia melirik ke kanan dan kiri untuk mencari keberadaan istrinya dengan terus mencoba untuk menghubungi istrinya.


"Kemana kamu Sayang, kenapa aku merasa sangat tidak tenang sekarang"


Di sebuah pinggir jalan, sebuah ponsel terus bergetar di atas aspal. Nomor ponsel dengan nama 'Suamiku' yang di tambahi emotikon love itu terus terlihat di layar ponsel yang tidak ada pemiliknya itu.


Aiden menghentikan mobilnya ketika melihat mobil yang di pakai istrinya bersama sang supir berada di pinggir jalan depan komplek perumahannya dengan suasana jalanan yang memang cukup sepi. Aiden segera turun dan menghampiri mobil itu. Dia mengintip ke dalam mobil lewat kaca jendela mobil. Aiden melihat sang supir yang sudah tidak sadarkan diri di balik kemudi. Dan dia tidak menemui keberadaan istrinya saat ini.


"Ya Tuhan, apa yang terjadi? Dimana istriku sekarang"


Aiden mencoba menghubungi Ayra dan tetap tidak diangkat. Lalu Aiden menemukan tempat makanan yang dibawa istrinya jatuh tidak jauh dari mobil ini berada. Merasa sudah tidak bisa bersikap tenang lagi. Aiden segera menghubungi Rega dan meminta bantuannya untuk mencari Ayra.


"Sial, siapa yang berani bermain-main denganku"


Aiden menelepon ambulance untuk membawa supir keluarganya itu ke rumah sakit. Dan dia kembali ke kantor untuk menemui Rega. Berharap Rega sudah bisa menemukan keberadaan istrinya. Di perjalanan menuju perusahaan, ponsel Aiden berbunyi tanda ada sebuah pesan yang masuk.


Dan ketika Aiden membuka pesan dari seseorang mengirimkan sebuah foto, tangan Aiden langsung mengepal kuat.


"Sial, siapa yang berani melakukan ini pada istriku"


Dalam foto itu, Aiden melihat istrinya yang tidak sadarkan diri sedang berada di sebuah tempat tidur.


Ting..


Kembali masuk pesan dari nomor yang sama. Kali ini sebuah pesan biasa, bukan lagi foto.


Kau telah merebut Ayraku, jadi jangan salahkan jika sekarang aku akan merebut kembali dia darimu.


Tangan Aiden mengepal erat melihat pesan itu. Dia memukul kemudi dengan kasar. "Sampai kapan pun aku tidak akan membiarkan siapapun merebut istriku dari tanganku"

__ADS_1


Aiden langsung menghubungi nomor ponsel yang baru saja menghubunginya itu. Tapi ternyata lawan Aiden saat ini benar-benar tidak main-main. Dia langsung menonaktifkan nomor ponsel yang dia pakai untuk meneror Aiden ini.


"Sial"


__ADS_2