
Ayra menggeliat pelan saat merasakan ada sesuatu yang berhembus di belakang tubuhnya. Saat dia membuka mata, ternyata itu adalah suaminya. Entah sejak kapan suaminya pulang. Ayra tidak berharap Aiden pulang ke apartemen, karena memang seharusnya semalam adalah jadwal Aiden tidur di rumah bersama Saqila. Namun pagi ini Ayra menemukan suaminya tengah memeluknya dengan erat. Ayra berbalik menghadap suaminya, wajahnya terlihat sangat lelah sekali. Ayra mengelus wajah suaminya dengan tatapan khawatir. Ayra merasakan suhu tubuh Aiden yang lebih tinggi dari suhu normal. Ayra bangun, dia memegang kembali kening Aiden dengan punggung tangannya. Memastikan jika apa yang dia rasakan benar, jika suaminya sedang demam.
"Ya ampun panas sekali. Sayang, ayo bangun kita ke dokter ya" Ayra menggoyangkan pelan bahu Aiden agar terbangun. Tapi Aiden sama sekali tidak membuka matanya, hanya terdengar gumaman-gumaman kecil dari bibirnya.
"Sayang ayo bangun" Ayra memeluk dan mencium pipi Aiden, biasanya ini adalah hal paling jitu untuk membangunkan suaminya. Tapi, kali ini Aiden benar-benar tidak bangun.
Ayra jadi panik sendiri, dia pergi ke ruang ganti untuk cuci muka dan berganti baju. Setelahnya dia segera mengambil tas dan ponsel, Ayra menyimpan nomor ponsel Rega. Saat dulu dia harus menandatangani surat perjanjian itu. Ayra segera menghubungi asisten suaminya itu.
"Ha-hallo Tuan, tolong saya, Tuan Aiden sakit dan sekarang saya bingung harus menghubungi siapa"
"Anda tenang saja Nona, saya akan panggilkan Dokter kesana"
Ayra akhirnya bernafas lega, dia menaruh kembali tas yang tersampir di bahunya. Sepertinya tidak perlu ke rumah sakit. "Baik Tuan"
Sambil menunggu Dokter dan Rega datang, Ayra mengambil kompresan untuk suaminya. Mengompres dengan air hangat dan handuk kecil. Ayra benar-benar khawatir dengan keadaan Aiden saat ini. Hatinya mulai gelisah dan takut kehilangan Aiden. Lebih baik Ayra tidak bersama Aiden, tapi tahu jika pria itu hidup. Daripada melihat Aiden seperti ini. Ayra takut suaminya akan meninggalkannya.
Apa aku beri tahu Nyonya ya?
Ayra bimbang sendiri, antara memberi tahu Saqila atau tidak. "Ahh, tunggu Tuan Rega datang saja dulu. Nanti biar aku tanyakan saja padanya"
Beberapa saat kemudian, suara bell pintu membuat Ayra segera keluar dari kamar dan membukakan pintu. Rega dan seorang Dokter masuk ke dalam apartemennya. Ayra segera membawa mereka ke kamarnya, dimana Aiden masih terbaring disana.
"Suhu tubuhnya tinggi sekali Dok, apa harus di bawa ke rumah sakit saja?"
Rega menatap Ayra dengan tatapan yang sulit di artikan. Dia melihat bagaimana gadis itu mengkhawatirkan Aiden. Sangat terlihat tulus.
__ADS_1
Sepertinya, kau memang sudah menemukan pendamping yang tepat.
Dokter memeriksa Aiden, dia tersenyum mendengar kekhawatiran istrinya ini. Meski sebenarnya Dokter agak bingung, saat Rega membawanya ke apartemen ini. Dia adalah Dokter kepercayaan keluarga Narendra. Tapi dia tidak tahu soal ini, tentang Aiden yang menikah lagi. Entah itu di belakang Saqila atau mungkin atas sepengetahuan Saqila. Dokter tidak terlalu mau tahu, karena dia telah di sumpah dengan jabatannya ini untuk tidak ikut campur urusan keluarga Narendra, apapun itu.
"Nona tenang saja, Tuan Aiden hanya kelelahan dan terlalu banyak pikiran. Saya telah menyuntikan untuk daya tahan tubuhnya. Sebentar lagi akan sadar dan anda bisa memberinya sarapan lalu berikan obat ini" Dokter menyimpan obat di atas nakas, lalu dia berdiri dan berpamitan pada Ayra.
"Saya akan antarkan dokter dulu Nona, setelah itu saya juga harus ke perusahaan" kata Rega dengan mengangguk hormat
Ayra mengangguk "Iya Tuan, terimakasih banyak sudah datang"
Rega mengangguk, lalu dia berbalik dan berajalan ke arah pintu kamar. Namun langkahnya terhenti saat mendengar panggilan Ayra.
"Emm. Tuan, apa saya harus memberi tahu Nyonya?"
Sepertinya Aiden belum memberi tahunya tentang apa yang terjadi semalam.
"Emm. Baiklah" Meski bingung, Ayra menurutinya saja. Meski pikirannya sedikit bingung, kenapa Rega malah melarangnya memberi tahu Saqila. Padahal dia juga istri dari Aiden. Dia istri pertamanya.
Akhirnya setelah Rega dan Dokter pergi, Ayra segera berlalu ke dapur dan membuatkan bubur untuk suaminya. Sesuai dengan saran Dokter, jika dia harus memberi Aiden makan dan minum obat yang di berikan Dokter setelah dia sadar. Jadi, saat ini Ayra harus membuatkan bubur sebelum suaminya tersadar.
Bubur telah jadi, Ayra angkat ke mangkuk dan di biarkan dulu agar dingin. Ponselnya berdering pada saat itu. Ayra meraih ponselnya yang berada di atas meja makan. Nomor yang tidak di kenal, tapi Ayra tidak tahu siapa. Karena penasaran, akhirnya dia mengangkat telepon itu.
"Hallo"
"Ini beneran Ayra? Anaknya Ibu Sumi?"
__ADS_1
Ayra mengangguk meski sadar jika si penelepon tidak akan melihatnya. "Ayra, tolong cepat pulang. Ibumu pingsan, tadi ada seorang perempuan yang datang kesini. Lalu Ibumu berteriak dan kami menemukannya sudah tak sadarkan diri"
Deg..
Ponsel Ayra langsung jatuh dan membentur kakinya. Dia tidak memperdulikan tentang kakinya yang sakit tertimpa ponsel. Dia mengambil ponselnya dan berlari ke kamar dan mengecek keadaan suaminya. Ayra bingung, dia harus bagaimana sekarang? Suaminya sedang sakit dan Ibunya juga. Akhirnya Ayra memilih menelepon Rega dan meminta tolong padanya.
Rega tidak mungkin tidak menolong istri dari Tuannya ini. Akhirnya Ayra bisa pergi ke rumah Ibunya, meninggalkan Aiden yang masih belum sadarkan diri bersama Rega.
Sampai di rumah, Ayra bingung saat banyak orang di rumahnya. Ibunya hanya pingsan, tapi kenapa banyak sekali tamu yang datang ke rumahnya. Ayra melirik sebuah bendera yang terpasang di tembok rumahnya. Sebuah bendera kuning yang melambangkan kematian. Kaki Ayra terasa lemas, dia jatuh berlutut di teras depan rumahnya. Seorang Ibu langsung menghampirinya dan membantunya berdiri.
"Neng Ayra ya, yang sabar ya Neng. Ternyata Ibu Sumi tidak tertolong lagi"
Hiks..Hikss..
Ayra sudah tidak bertenaga lagi, dia sampai di papah dua orang tetangga Ibunya untuk masuk ke dalam rumah. Tangisan Ayra pecah saat melihat jenazah Ibunya yang tertutup kain. Dia bersimpuh di sampingnya dan membuka penutup kain bagian wajah Ibunya. Ayra menangis histeris melihat wajah pucat itu. Dia mencium dan memeluk Ibunya, berharap jika ada keajaiban yang datang dan Ibunya bisa kembali hidup.
Namun, semuanya sudah ada yang mengatur. Umur, rezeki, jodoh semua itu hanya takdir Tuhan yang tidak bisa kita rubah dan kita hindari. Ayra tidak bisa melakukan apapun, seorang Ibu yang tadi membantunya saat di luar terus mengelus punggungnya.
"Sabar Neng, sabar"
"Ibu..Hiks..."
Ayra tidak bisa mengendalikan dirinya, dia jatuh pingsan dalam pelukan jenazah Ibunya. Hidupnya akan lebih menyakitkan setalah ini.
Bersambung
__ADS_1
Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5