
"Mau apa Tuan?"
Hati Aiden langsung tersayat ketika melihat istrinya yang langsung menaril selimut hingga menutupi dadanya, hanya karena Aiden yang berjalan ke arahnya yang sedang duduk bersandar diatas tempat tidur.
"Aku hanya ingin mengambil bantal, aku akan tidur di sofa. Tapi, jika kamu menyuruhku untuk tidur di kamar yang terpisah, aku tidak mau. Karena aku tidak mau jika harus tidur terpisah dengan kamu di kamar yang berbeda.Ini saja sudah menyakitkan untuk aku ketika kau harus tidur terpisah denganmu"
Deg,,
Entah kenapa Ayra meraskan nyeri di dadanya ketika mendengar ucapan Aiden barusan. Dia menatap punggung Aiden yang berjalan ke arah sofa, Melihat setiap pergerakan yang di lakukan pria itu. Ayra melihat Aiden yang menaruh bantai di ujung sofa, lalu dia membaringkan tubuhnya disana. Dengan lengan yang menutupi matanya.
Kenapa dengan hatiku? Aku merasa jika dia sangat terluka. Tapi aku juga tidak mau tidur dengan Tuan Aiden yang aku saja belum benar-benar yakin jika kami telah menikah. Karena dalam hatiku hanya masih tersimpan ragu.
Akhirnya untuk pertama kalinya malam ini Aiden tidur di atas sofa dan tepisah dari istrinya. Aiden tidak pernah menyangka jika hal ini akan terjadi.
Dan ketika pagi ini dia terbangun setelah semalaman hampir tidak bisa tidur karena tidak merasa nyaman saat istrinya itu tidak berada di dalam pelukannya. Namun sepertinya untuk saat ini Aiden hanya perlu bersabar. Ayra bisa selamat saja sudah sangat bersyukur, sekarang Aiden hanya perlu membuat Ayra kembali mengingat semuanya tentang mereka berdua.
Aiden menurunkan kedua kakinya ke atas lantai. Memakai sandal rumah dan berjalan ke arah tempat tidur dimana Ayra masih terlelap disana.
Aiden duduk di pinggir tempat tidur, mengelus kepala istrinya lalu dia memberikan satu kecupan di kening istrinya. "Aku mencintaimu, cepatlah mengingat semuanya dan kembali padaku"
Aiden berlalu ke ruang ganti sebelum istrinya terbangun. Diatas tempat tidur, Ayra membuka kedua matanya ketika dia mendengar suara pintu ruang ganti yang tertutup. Jelas ucapan Aiden itu terdengar jelas ditelinganya.
Ya Tuhan, apa benar jika aku telah menikah dan atas dasar cintakah kita menikah? Aku benar-benar tidak mengingat apapun.
Ayra benar-benar mencoba mengingat-ngingat memori di kepalanya yang hilang itu. Namun setiap kali dia mencoba untuk mengingat semuanya, maka dia akan merasa sangat sakit di kepalanya.
__ADS_1
Akhirnya Ayra mencoba menghentikan usahanya untuk mengingat apa yang hilang dari ingatannya itu. Ayra tidak bisa terus memaksakan diri untuk ini.
Ayra memilih turun ke lantai bawah, melihat beberapa orang yang ada diruang tengah sedang bercanda dengan anak kecil yang kemarin memanggilnya Bunda itu.
Ayra menatap anak laki-laki itu dengan lekat. Anak itu terlihat cukup aktif, dia berjalan kesana kemari dengan mainan dan celotehannya yang tidak jelas namun malah terkesan sangat lucu dan menggemaskan.
Apa benar jika dia itu adalah anakku?
Ayra masih merasa bingung dengan apa yang terjadi pada kehidupannya ini. Dia merasa jika dia masih menjadi gadis yang sedang menjalani kuliah dan belum menikah samasekali. Tapi sekarang tiba-tiba saja dia mempunyai anak laki-laki berusia 2 tahun. Merasa jika semua ini sangat membingungkan dan mustahil baginya. Entah apa yang sebenarnya telah terjadi dalam hidupku. Gumamnya.
"Ayra, ayo sini Nak main sama Alerio" ajak Saqila yang melambaikan tangannya pada Ayra agar mau ikut bergabung dengan mereka.
"Nda, Nda.." Alerio langsung berjalan ke arah Ayra dengan tangan dientangkan, mungkin anak itu ingin Ayra menggendongnya.
Tuhan, benarkah jika dia adalah anakku?
Hati yang terus bertanya ketika pikiran kehilangan sebagian memori yang ada.
######
Aiden keluar dari kamar mandi dan berjalan ke arah lemari. Dia sengaja berendam cukup lama hanya untuk menenangkan pikirannya. Aiden tersenyum miris ketika dia melihat tidak ada pakaian ganti untuknya yang biasanya selalu disiapkan oleh Ayra. Tapi saat ini benar-benar tidak ada pakaian ganti untuk Aiden. Membuat Aiden sedikit sedih dengan itu.
"Semoga kamu segera sembuh dan mengingat aku kembali"
Saat ini Aiden sadar, jika perhatian-perhatian kecil seperti ini membuat dirinya rindu ketika istrinya tidak lagi melakukan itu. Aiden merasa jika selama ini banyak sekali hal yang dia lakukan sampai dia lupa untuk mengucapkan terima kasih atas apa yang dilakukan istrinya padanya. Tentang perhatian kecil seperti ini juga membuat Aiden sangat merindukan kelembutan istrinya itu.
__ADS_1
Aiden mengambil bajunya dari lemari pakaian. Dia menghela nafas pelan sebelum memakai baju itu. Merasa perasaan rindu yang sangat mendalam ketika dia mengingat Ayra.
"Kapan kamu ingat kembali semuanya Sayang? Aku sudah sangat merindukan setiap perhatian yang kamu berikan padaku"
Terkadang perbuatan kecil yang dilakukan seorang istri tidak pernah terlihat dimata suaminya. Bahkan seorang suami sering melupakan kata terima kasih ketika semua hal yang dilakukan istrinya itu. Padahal sebuah perhatian kecil saja, menjadi sangat berharga ketika seorang istri tidak lagi mengenalinya. Dan saat ini Aiden sedang merasakan hal itu. Bagaimana dia yang jarang sekali mengucapkan terima kasih pada setiap hal yang dilakukan Ayra untuknya.
"Maafkan aku Sayang, mulai saat ini aku janji untuk selalu menghargai setiap apa yang kamu lakukan untukku"
Aiden selesai berganti pakaian, dia masih belum bisa masuk kantor karena keadaannya pun masih belum benar-benar stabil. Dia turun ke lantai bawah ketika tidak melihat istrinya di dalam kamar. Aiden terdiam di anak tangga terakhir ketika dia melihat istrinya yang sedang bermain dengan Alerio. Dan Ayra juga terlihat sangat bahagia sampai beberapa kali dia tertawa melihat tingkah lucu Alerio.
Aiden tersenyum melihat itu, merasa jika ini adalah sebuah kemajuan. "Benar kata Dokter, jika aku harus lebih mendekatkan Alerio dengan Ayra. Karena ikatan antara Ibu dan anak tidak akan bisa terpisahkan"
Dan entah kenapa Ayra juga merasa senang ketika dia bermain dengan anak kecil bernama Alerio itu. Padahal dirinya saja tidak terlalu yakin jika dia telah benar-benar menikah dan mempunyai seorang anak laki-laki.
Aku tidak tahu apa yang sekarang sedang aku rasakan. Tapi aku senang ketika melihat anak ini bahagia.
"Eh, Aiden. Sini Nak, gabung sama kita" kata Mami yang pertama kali melihat Aidej yang masih berdiri di anak tangga terakhir.
Ayra langsung menoleh dan benar saja, dia melihat sosok suaminya disana. Ayra tersenyum pada Aiden, dia hanya sedang mencoba untuk bersikap biasa saja pada Aiden yang katanya adalah suaminya itu. Meski hati Ayra tetap ragu dengan itu.
Akhirnya Aiden pun ikut bergabung bermain dengan Alerio dan Ayra di atas karpet berbulu. Membiarkan anggota keluarga yang lain menatap pada mereka.
Ya Tuhan, kenapa aku senang ketika melihat Alerio dan Tuan Aiden yang tertawa bersama. Ada apa denganku?
Bersambung
__ADS_1