
Usia kandungan Ayra sudah hampir 5 bulan, itu artinya sudah hampir sebulan Aiden mendiamkan Saqila. Sampai hari ini Saqila benar-benar menyerah, dia sendiri yang datang menemui suaminya di apartemen. Sebenarnya sudah beberapa hari ini dia datang kesini dan menemui Ayra secara diam-diam. Saqila sudah mulai mencuri start, untuk melemahkan Ayra.
Ayra mematung melihat tamu yang berkunjung di pagi hari. "Nyo-Nyonya?"
"Mana suamiku?"
Kenapa hati Ayra sakit mendengar itu, ya Aiden memang suami Saqila. Tapi dia juga suaminya. "Ada di dalam, silahkan masuk"
Saqila masuk dan langsung memeluk Aiden yang baru saja keluar dari kamarnya. Aiden begitu terkejut dengan yang di lakukan Saqila. Dia menatap Ayra yang baru saja muncul setelah menutup pintu.
"Maafin aku Honey, aku benar-benar minta maaf. Aku ngaku salah"
Aiden melerai pelukan Saqila, entah kenapa kenyamanan itu hilang seketika. Seolah Saqila sudah tidak lagi menjadi prioritas Aiden saat ini. "Sudahlah Sa, aku sudah melupakan itu. Selama ini aku selalu mengalah, kamu memang selalu seperti itu. Bertindak semaumu tanpa pernah berbicara padaku"
"Tapi, aku melakukan itu hanya demi melindungi identitas Ayra. Dan aku juga hanya tidak mau reputasimu hancur karena ini"
Aiden berjalan ke arah sofa, dia menatap Ayra yang masih berdiri di tempatnya. Ayra tidak berani mendekat karena situasi yang sedang tidak aman. Tapi, Aiden malah melambaikan tangan padanya. Meminta dirinya untuk mendekat.
"Sayang sini.."
Ayra yang bingung harus bagaimana saat Aiden memanggilnya seperti itu di depan istri pertamanya. Sementara Saqila tidak bisa menutupi rasa terkejutnya. Sejak kapan? Sejak kapan Aiden memanggil istri keduanya seperti itu? Sungguh, suara Aiden terdengar begitu lembut dan tulus saat memanggil Ayra dengan panggilan Sayang.
"Hei, malah bengong disitu. Sayang sini.." Aiden benar-benar tidak tahu situasi dan keadaan. Ayra menatap Saqila yang menatapnya dengan tajam. Duh, Ayra semakin takut dan bingung saja dengan situasi yang di alaminya ini. Karena Aiden yang terus menyuruhnya mendekat, akhirnya Ayra duduk di samping suaminya. Masih sangat bingung harus berbuat apa. Ayra tidak enak pada Saqila. Apalagi saat melihat tatapan tidak suka dari wanita itu.
"Aku ke dapur saja ya" Bisik Ayra pada suaminya, dia tidak bisa terus berada disini.
__ADS_1
Aiden malah memeluk pinggang Ayra dengan erat, seolah tidak ingin istrinya pergi dari sana. "Diam saja disini, lagian masih ada waktu untuk berangkat kuliah"
Saqila tidak bisa diam saja melihat apa yang terjadi di depannya saat ini. Saqila berdiri di depan Aiden dan Ayra, dia tidak suka dengan kemesraan yang seolah sengaja suaminya tunjukan kemesraan itu di depannya.
"Ternyata semudah itu ya hati kamu berpaling Aiden. Selama 5 tahun tidak ada artinya bagi kamu. Dari awal kita bertemu, pacaran sampai berujung menikah hanya sampai sini saja cintamu bertahan. Sayang sekali, kehadiran orang ketiga memang tidak akan pernah bisa menjadikan suatu rumah tangga baik-baik saja"
Saqila putus asa, tapi di balik itu dirinya juga merasakan apa di rasakan oleh suaminya. Karena dia juga berada di posisi itu. Tapi sebuah pernikahan ini tetap harus berjalan sampai akhir hayat, jika tidak mau reputasinya hancur begitu saja.
Ayra menunduk, apa yang di katakan Saqila benar. Dirinya adalah orang ketiga itu. Orang yang telah menghancurkan keharmonisan pernikahan mereka. Rasanya Ayra begitu merasa bersalah. Harapan yang semakin besar di hatinya, adalah bentu egoisnya. Ayolah Ay, patuhi setiap aturan di surat perjanjian. Lakukan saja tugasmu, setelah itu kau bisa bebas.
"Nyatanya, cinta selama bertahun-tahun terkalahkan dengan kehadiran orang yang hanya baru beberapa bulan saja. Sekarang aku sadar, jika kemarau satu tahun tetap akan hilang hanya dengan hujan satu hari" lanjut Saqila lagi
Aiden tidak bisa begini terus, dia tidak tega juga melihat Saqila yang menangis putus asa dengan kelakuannya. Ini salahnya, tidak seharusnya dia lepas tangan dan menyalahkan semuanya pada Saqila. Dia seperti itu juga karena dirinya. Semuanya salah dirinya, Ayra dan Saqila menjadi terjebak dalam cintanya.
"Sudah jangan menangis lagi, aku minta maaf. Sekarang kamu hanya perlu menerima Ayra dan anaknya. Semuanya sudah terjadi, tidak mungkin aku bisa mengulang waktu yang telah terjadi. Bisakah kau bersikap baik padanya?"
Saqila mengangguk di dalam pelukan Aiden. Dia akan melakukan itu asalkan Aiden tetap menjadi suaminya. "Aku akan memperlakukannya dengan baik. Jadi, tolong jangan terus mendiamkan ku seperti ini"
Aiden mencium puncak kepala Saqila "Iya"
Saqila melepas pelukan suaminya, dia berjalan ke arah Ayra yang duduk di sofa. "Ay, maafkan aku karena aku masih belum bisa menerima kehadiranmu di dalam pernikahan ini. Mulai sekarang, aku akan menyayangimu seperti adikku sendiri"
Ayra berdiri, dia memeluk Saqila dan mengelus punggungnya. "Makasih Nyonya sudah mau menerima saya"
Saqila mengangguk "Iya Ay, sekarang apa kamu tidak mau pindah kembali ke rumah?"
__ADS_1
Aiden tersenyum melihat kedua istrinya kembali akur. "Uhuk itu lebih baik kalian tinggal terpisah saja. Aku akan datang setiap dua hari sekali pada kalian"
Saqila menoleh pada suaminya, dia tersenyum dan menerima keputusan suaminya. "Baiklah, aku akan menerima keputusan itu"
Akhirnya sejak hari ini, semuanya terasa baik-baik saja. Aiden sudah tidak terlalu pusing memikirkan perasaan kedua istrinya. Karena Saqila sudah menerima kehadiran Ayra. Tinggal Aiden saja yang harus adil.
...🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲...
Seminggu sebelum kedatangan Saqila ke apartemen. Ayra sempat bertemu dengannya di lobby apartemen. Seperti biasa, Saqila akan membawanya ke tempat yang cukup jauh dari kawasan apartemen.
"Ada apa Nyonya?"
Saqila memegang tangan Ayra yang duduk di sampingnya. Menatap gadis itu dengan lekat. "Ay, aku mohon untuk mengalah. Jangan buat rumah tanggaku semakin hancur. Tidak papa kalau kamu masih akan bertahan sampai anak ini lahir. Tapi, aku sangat memohon padamu. Biarkan Aiden hanya menjadi suamiku dan tidak menjadi suamimu juga"
Ayra terdiam mendengar ucapan Saqila. Dia cukup mengerti karena di dunia ini tidak akan ada wanita yang mau di madu. Apalagi caranya dengan sembunyi-sembunyi seperti pernikahan Aiden dan Ayra pada awalnya. Ayra yang hanya istri kedua dan statusnya juga masih tetap menjadi seorang istri bayaran Tuan Aiden. Jadi, dia tidak punya pilihan lain lagi. Saqila sudah terlalu baik karena masih bersikap baik padanya, setelah dia tahu jika Ayra telah menikah dengan suaminya.
"Baik Nyonya, saya akan meninggalkan Tuan setelah saya melahirkan anak ini"
Entah ini keputusan yang benar atau salah, tapi Ayra hanya melakukan tugasnya sesuai yang tertulis di surat perjanjian yang tertulis.
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5
Yakin Saqila tulus?
__ADS_1