
Saqila dan Aiden saling pandang saat seorang hakim mengatakan jika mereka telah resmi bercerai mulai saat ini. Dan hari ini semuanya telah benar-benar berakhir. Pernikahan mereka telah benar-benar berakhir. Saqila dan Aiden berdiri, lalu saling berhadapan. Tidak ada air mata dalam ruangan ini. Semuanya seolah sudah menerima dengan ikhlas dan lapang dada.
Saqila tersenyum, dia melepaskan cincin pernikaha yang masih terpasang di jari manisnya. Meraih tangan Aiden dan menaruh cincin itu di atas telapak tangan Aiden. Dulu, cincin ini Aiden juga yang memberikannya, sekarang Saqila tetap harus mengembalikannya pada Aiden.
"Terima Kasih untuk semuanya, semoga kamu tetap bahagia, Aiden"
Aiden tersenyum, dia genggam cincin yang di berikan oleh Saqila. Sebenarnya cincin pernikahan dirinya dengan Saqila sudah lama Aiden lepas, selama ini dia sudah memakai cincin pernikahannya dengan Ayra. Entah Saqila menyadarinya atau tidak selama ini.
"Terima kasih juga karena sudah menemaniku selama 5 tahun terakhir. Dari awal kita bertemu hingga menikah. Maaf jika selama menjadi suamimu, aku tidak menjadi suami yang baik. Sa, semoga kamu bahagia bersama Alvino"
"Kamu juga semoga selalu bahagia bersama Ayra"
Orang tua Aiden dan orang tua Saqila juga saling berpelukan sebagai ucapan perpisahan. Mereka telah mengikhlaskan semuanya. Mami dan Papi, telah ikhlas menerima keputusan anaknya. Begitu pun dengan Mama dan Papa Saqila. Mereka tidak bisa menyalahkan anak atau menantunya. Semuanya adalah takdir Tuhan.
Aiden kembali ke apartemen dengan perasaan yang lebih lega. Akhirnya semuanya terselesaikan juga. Meski sebenarnya pasti berat bagi Aiden untuk mengakhiri semua cerita dalam hidupnya selama 5 tahun terakhir. Sejak kehadiran Saqila dalam hidupnya. Tapi semuanya harus menjadi sebuah pilihan baginya. Apalagi saat Aiden nyata merasakan jika dirinya sudah benar-benar jatuh cinta pada Ayra. Saqila pun telah menemukan cinta sejatinya pada Alvino.
"Sudah pulang ya"
Aiden yang sedang membuka sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumah, tersenyum saat merasakan pelukan dari istrinya. Ayra pasti sudah menunggunya sejak tadi. Aiden berbalik dan memeluk istrinya dengan lembut. Mencium puncak kepalanya.
"Semuanya sudah selesai Sayang, aku dan Saqila telah benar-benar bercerai"
Ayra mendongak untuk menatap wajah suaminya, matanya berkaca-kaca. Tentu dia senang saat suaminya kini hanya menjadi miliknya seorang. Tapi, Ayra tetap merasa bersalah pada Saqila.
"Aku malu jika bertemu dengan Nyonya, dia pasti akan merasa sedih kalau melihat aku. Semuanya terjadi juga karena kehadiranku di pernikahan kalian. Aku tidak akan tega dengan wajah Nyonya nanti"
Aiden mencium kening istrinya, mungkin memang benar apa yang di katakan Ayra. Saqila mulai bermain dengan Alvino di belakang Aiden juga karena dia mengetahui tentang pernikahan Aiden dan Ayra. Namun, semuanya terasa lebih menyenangkan ketika Saqila mulai menemukan kenyamanan bersama Alvino.
__ADS_1
Itulah kenapa dia bisa menerima perceraian ini dengan lapang dada. Karena Saqila sudah menemukan kenyamanan baru bersama Alvino. Sama dengan Aiden, jika kenyamanan baru yang mereka temukan adalah kenyamanan yang belum pernah di rasakan sebelumnya saat mereka masih bersama.
"Sayang, maafkan aku karena aku pernikahanmu jadi hancur" lirih Ayra dengan menatap suaminya. Matanya mulai berkaca-kaca.
Cup cup cup..
Aiden mencium kedua pipi Ayra dan bibirnya. "Sayang, semuanya sudah takdir. Apa kamu tidak suka dengan takdir Tuhan yang satu ini? Aku bisa bersamamu selamanya"
Ayra menghela nafas, dia memeluk suaminya dengan erat. "Tentu saja aku bahagia, karena memang ini yang selalu aku harapakan. Tapi, aku hanya merasa tidak enak saja saat aku bisa bahagia bersamamu sementara Nyonya pasti sedang terluka"
"Mana ada dia terluka, dia akan segera menikah dengan Alvino" kata Aiden sambil bsrjalan menuju sofa.
Hah?!
Ayra terbengong mendengar ucapan suaminya. Apa secepat itu Saqila move on dari Aiden? "Kamu yang bener aja? Masa Nyonya langsung menikah si? 'Kan kalian baru saja bercerai. Pernikahan kalian ini kenapa si? Kok aku merasa aneh ya"
Ayra mendekat, dia berdiri di depan suaminya. Aiden langsung menarik tangan Ayra dan mendudukannya di atas pangkuan. Mencium leher Ayra dengan gemas. Saking gemasnya sampai meninggalkan bekas kemerahan. Ayra sedikit meringis dengan kecupan yang di berikan oleh suaminya. Aiden memeluk Ayra, tangannya mengelus perut buncit istrinya. Tendangan dari dalam sana sudah semakin kuat.
"Sayang, apa dia tidak menyakitimu? Tendangannya sangat kuat"
Ayra tersenyum, dia memegang tangan suaminya yang berada di perutnya. "Karena dia seorang jagoan, jadi tendangannya memang sangat kuat. Ya, terkadang terasa sedikit sakit. Tapi tidak papa"
Aiden menatap istrinya dengan prihatin, Ayra begitu berjuang menjaga anak dalam kandungannya. Bahkan tidak jarang Aiden melihatnya sulit bergerak dengan perut besarnya ini. Tapi Ayra tidak pernah mengeluh dengan itu.
"Minggu ini langsung ambil cuti kuliah ya, lihat perut kamu sudah semakin besar"
"Tapi aku masih bisa untuk kuliah kok"
__ADS_1
"Sayang!"
Ayra menghela nafas saat suara suaminya sudah penuh penekanan. Itu artinya dia sedang tidak ingin di bantah olehnya. "Yaudah, aku akan cuti mulai minggu ini"
Aiden mencium pipi istrinya dengan gemas. "Bagus Sayang, kamu harus segera mengambil cuti. Aku sudah tidak tega melihatmu susah bergerak dengan perut besar seperti ini"
"Iya Sayang, iya"
Pada akhirnya Ayra tidak bisa menolak, dia memang sudah merasa sulit bergerak dengan perut besarnya ini. Bahkan untuk berdiri saja terkadang haru berpegangan yang kuat. Tubuh mungilnya terlalu sulit bergerak dengan perut yang semakin membesar.
Aiden menggendong istrinya, membawanya ke dalam kamar. "Ayo kita istirahat, jarang sekali aku bisa tidur siang"
Ayra mengalungkan tangannya di leher Aiden, dia tersenyum mendengar itu. Suaminya memang terlalu sibuk bekerja sampai dia jarang sekali bisa istirahat lebih dari waktu istirahatnya.
Dan siang menjelang sore ini, Aiden terlelap dengan wajah tenang sambil memeluk istrinya. Kepalanya menyusup di dada Ayra. Kenyamanan yang selalu dia rasakan setiap bersama istrinya.
Ayra tidak bisa tidur, dia hanya mengelus kepala suaminya sampai Aiden benar-benar terlelap. Setelah itu dia terbangun dan keluar dari dalam kamar, berdiri di dekat jendela apartemen. Langit sore ini terlihat cukup cerah. Ayra mengelus perutnya dengan senyuman penuh kebahagiaan.
"Bunda tidak pernah menyangka jika semuanya akan berakhir seperti ini Nak. Kamu akan bersama Bunda selamanya"
Rasanya masih terlalu tidak percaya saat Ayra mengingat bagaimana pernikahan ini terjadi sebelumnya. Ayra menoleh saat mendengar suara bell pintu. Dia berjalan menuju pintu dan membukakannya, meski bingung siapa tamu yang datang.
"Hai Ay.."
"Nyo-Nyonya"
Bersambung
__ADS_1
Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5