
Suara tangisan bayi menggema di kamar ini, Ayra terbangun meski dia sangat mengatuk. Dia yang tidak bisa mengabaikan tugasnya ini,setiap malam harus terbangun untuk memberi asi untuk anaknya. Ayraberjalan ke arah box bayi dan mengambil baby Aurel dari dalam sana.
"Sayang, pengen mimi ya.Uhh kasihan anak Bunda"
Ayra menggendong anaknya dan duduk di sofa, memberikan asi pada anaknya. Ayra merasa ****** asinya yang sakit, mungkin lecet karena saat dulu awal menyusui Alerio pun dia mengalami hal yang sama.
Ayra menahan rasa sakit itu dengan meringis pelan. Namun dia tetap harus melakukan kewajibannya ini. Sampai dia menatap ke arah jam dinding yang sudah menunjukan pukul 3 dini hari. Ayra benar-benar merasa matanya yang sangat berat. Sangat mengantuk.
"Sayang, kamu kebangun ya"
Aiden langsung bangun saat melihat istrinya yang sedang memberikan asi pada Aurel. Aiden turun dari atas tempat tidur dan menghampiri istrinya itu.
"Kamu tidur saja, ngapain ikut bangun segala"
Aiden duduk di samping istrinya dan melihat anaknya yang sedang meminum asi dengan lahap dari ibunya. "Kami pasti lelah banget ya begadang terus, nanti kalau Aurel kebangun kamu bangunin aku saja. Biar kamu pompa asi saja, aku yang memberikannya. Kasihan kamu terus bergadang tiap hari"
Ayra tersenyum pada suaminya, mungkin sangat jarang sekali. Dan beruntungnya Aiden adalah miliknya. "TIdak papa Sayang, lagian memang sudah resikonya kalau punya bayi"
"Ya makanya kamu harus membangunkan aku biar aku bantu kamu, setidaknya aku bisa menemani kamu"
Ayra tesenyum mendengar itu, dia melepas asinya ketika anaknya sudah kembali tidur. "Tidur ya Sayang, Bunda ngantuk banget"
Aiden mengelus kepala istrinya, dia merasa kasihan dengan istrinya yang selalu kelelahan. Selalu bangun tiap malam untuk memberikan asi untuk anaknya. "Yaudah, kamu tidur saja biar aku yang jagain Aurel"
"Tapi kamu 'kan harus kerja besok"
"Tidak papa, aku tidak akan kesiangan kok. Sayang tidur saja"
Aiden mengambil alih Aurel dari pangkuan istrinya, gadis kecilnya yang terlihat begitu cantik dan menggemaskan. Aiden iseng meneoel-noel pipi anaknya yang mulai berisi saat baru beberapa hari saja ada di rumah di urus oleh Ibunya.
"Tapi kayaknya dia lelap deh tidurnya, kamu coba tidurin aja di box"
__ADS_1
Aiden mengangguk, dia berdiri dan berjalan ke arah box bayi.Aiden menidurkan bayinya di dalam box bayi. Baby Aurel benar-benar tidur dengan lelap.
"Dia beneran tidur Sayang"
"Yaudah kalau gitu ayo kita tidur juga"
Dan Ayra bisa kembali tidur dalam pelukan suaminya. Dia benar-benar sangat lelah dan mengantuk, hingga terlelap dengan nyaman dalam pelukan suaminya.
Namun Aiden kembali terbangun saat anaknya terdengar menangis, meski saat ini tangisannya tidak terlalu kencang kali ini. Aiden turun dari atas tempat tidur dengan perlahan. Dia menggendong anaknya supaya kembali tertidur tanpa harus membangunkan istrinya yang tidur begitu nyenyak.
"Shuut ya, kamu sama Daddy saja. Kasihan Bunda kelelahan sekali"
Dan Aurel bukannya tidur malah membuka matanya semakin lebar. Seolah tidak ada lagi kantuk di matanya itu. Baby Aurel malah menatap Ayahnya dengan bibir yang bergerak-gerak seolah ingin berbicara. Melihat itu malah membuat Aiden ingin tetawa gemas.
"Apa? Ayo tidur lagi, mau kemana kamu jam segini sudah bangun? Mau ikut Daddy kerja? iya hmm?"
Dan hingga matahari terbit barulah Aurel tidur kembali. Aiden benar-benar harus menahan kantuk. Ayra yang baru bangun terkejut melihat suaminya yang sedang menidurkan Aurel di dalam box bsayi.
"Sayang, kamu jagain Aurel semalaman? Kenapa gak bangunin aku?"
"Iya, maaf ya karena aku malah tidur dan kamu yang jagain Aurel jadinya"
"Gak papa Sayang, karena punya anak itu adalah tanggung jawab dua orang. Bukan hanya seorang istri saja"
Ayra tersenyum haru mendengarnya, dia memeluk Aiden dengan erat. Tidak tahu lagi harus bagaimana dia mengucapkan terima kasih pada suaminya ini. Yang jelas, Ayra sangat bersyukur bisa memiliki dan dimiliki oleh Aiden.
"Terima kasih untuk semuanya, aku mencintaimu"
"Aku juga sangat mencintaimu"
...🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲...
__ADS_1
Rumah ini sudah di penuhi banyak orang, hari ini adalah acara syukuran atas kelahiran anak kedua Aiden dan Ayra. Para kerabat dan tamu undangan datang. Beberapa orang begitu antusias melihat baby Aurel yang begitu menggemaskan. Bagaimana Aurel yang begitu menjadi idola banyak orang.
Ayra tersenyum melihat putrinya yang menjadi rebutan banyak orang. Sementara dia sedang menggendong Alerio yang sejak tadi terus menempel padanya.
"Lihat tuh, adik Abang jadi rebutan banyak orang. Itu karena Abang rewel, jadi mereka semua ngerebutin adik deh"
Ayra mencoba membujuk anak sulungnya untuk tidak terus ingin dia gendong. Tapi Alerio malah semakin mengeratkan lingkaran tangannya di leher Ayra.
"Sayang, Alerio masih tidak mau turun?"
Ayra menggeleng, dia mengelus kepala anaknya ini dengan lembut. "Lagi rewel, gak mau turun dari tadi"
"Ale, kasihan Bunda berat kalau kamu ingin di gendong terus. Turun yuk, sama Daddy"
Alerio tetap menggeleng, saat Aiden akan memaksanya untuk lepas dari gendongan Ayra. Anaknya itu malah menangis dan semakin kencang memeluk Bundanya.
"Sudah Sayang, jangan di paksa.Mungkin Alerio sedang ingin bersama aku"
Dan sampai acara di mulai, barulah Alerio mau turun dari gendongan Ayra ketika Papi yang membujuknya. Sepertinya memang Alerio begitu nurut sama Kakeknya itu. Sekarang saja dia sedang bermain dengan Papi.
Ayra duduk di sofa dengan Aurel yang berada di dalam gedongannya. Anaknya itu sedang asi, tentunya Ayra memberikan anaknya asi dengan kain menutup. Karena jika tidak seperti itu mungkin suaminya akan mengamuk.
Ayra tersenyum tipis melihat keluarga dan kerabat yang begitu ikut bahagia diacara ini. Rasanya kisah hidup Ayra selama 4 tahun terakhir telah mengukir sebuah kenangan yang indah. Meski mungkin pada awalnya dia hanya dijadikan istri bayaran saja. Tapi saat ini dia sudah benar-benar bahagia dengan pernikahan ini.
"Sayang, Aurel tidur?" Aiden duduk disamping istrinya.
"Sepertinya tidur, tapi dia masih asi kok"
Aiden menyandarkan kepalanya di bahu Ayra. Menatap ke arah yang sama dengan istrinya. Dimana para kerabat dan keluarga ada disana.
"Cinta yang tidak tahu dimana dia akan berlabuh. Seperti aku yang tidak pernah menyangka akan jatuh cinta lagi padamu. Terima kasih untuk semuanya, Sayang. Semua yang telah kau berikan unutkku"
__ADS_1
Ayra hanya tersenyum mendengar itu, dia mengelus kepala suaminya yang berada di bahunya itu. "Semuanya karena aku mencintaimu"
...End...