
Ayra duduk di meja yang berada di pojokan. Di belakangnya selalu ada Rega yang menjaganya. Sebenarnya Ayra merasa tidak nyaman dengan hal itu, tapi Ayra tidak bisa menolak keinginan suaminya. Aiden beralasan agar ada yang memperhatikannya dan tidak akan ada yang berani mendekati dirinya. Sungguh alasan yang aneh. Padahal siapa yang akan mendekati Ayra dengan perut buncit seperti ini. Semua orang juga akan tahu jika dirinya telah menikah.
Seorang MC acara memanggil nama Aiden untuk memberikan sambutan. Ayra langsung menoleh ke arah podium, dia ingin melihat suami tampannya itu. Aiden terlihat semakin gagah di umurnya yang semakin matang.
Aiden memberikan beberapa sambutan pada semua tamu yang hadir juga beberapa orang-orang yang mendukung berjalannya acara ini. "Silahkan kalian nikmati acara ini"
Akhir sambutan yang membuat semua orang tersenyum dan bertepuk tangan meriah. Para wartawan yang datang langsung maju dan ingin menanyakan tentang kehidupan pria tampan yang sukses ini. Rega ingin melangkah mencegah para wartawan tidak di undang itu. Tapi seketika dia ingat dengan tugasnya.
"Jaga Ayra, jangan sampai ada yang berani mendekatinya. Apalagi jika pria, apa kau mengerti!"
Ucapan Aiden sejam sebelum acara ini di mulai membuat Rega harus tetap pada tugasnya kali ini. Rega kembali duduk di kursi tepat di belakang meja Ayra.
"Tuan Aiden, mana istri anda? Apa Nyonya Saqila juga hadir?"
"Iya Tuan, apa kabar itu benar? Tuan Aiden telah menikah lagi? Mana Nyonya Saqila?"
"Saya hadir disini"
Suara itu membuat semua wartwan menoleh ke arah wanita anggun yang memakai gaun dengan warna senada dengan jas yang kenakan Aiden. Saqila berjalan dengan anggun ke arah suaminya, merangkul dan mencium pipi suaminya di depan semua orang.
"Selamat ulang tahun Honey"
Apa yang di lakukan Saqila tentu tidak akan di lewatkan oleh para wartawan. Apalagi dengan penampilannya yang terlihat sangat berbeda. Saqila benar-benar sudah gila. Dia memakai perut palsunya untuk drama kehamilan yang pernah dia ucapkan di acara arisan teman-temannya di rumah waktu itu.
__ADS_1
"Wah.. Apa Nyonya sedang mengandung?"
"Iya Nyonya, berapa bulan kandungan Nyonya?"
"Berarti semua berita kalau suami anda menikah lagi, itu semua hanya bohong"
Dengan anggunnya Saqila tersenyum, dia mengelus perut palsunya seolah memang dirinya sedang mengandung.
"Iya, tentu saja semua itu bohong. Suamiku ini sangat mencintaiku. Haha.." Tertawa dengan elegan. "...Usia kandungan saya sudah 6 bulan, sengaja baru kami berikan kabar bahagia ini karena memang kami memang baru ingin mengabarkannya sekarang, di acara ulang tahun suamiku tersayang"
Aiden sudah tidak tahan lagi dengan sikap Saqila. Dia selalu melakukan apapun tanpa pernah membicarakannya terlebih dahulu. Tanpa berkata apapun, Aiden melepas rangkulan tangan Saqila di lengannya dan pergi darisana. Hatinya benar-benar kecewa dengan kelakuan istrinya. Aiden pergi tanpa menghiraukan apapun lagi. Bahkan suara-suara wartawan yang berteriak memanggilnya.
"Aahh.. Suami saya memang seperti itu. Dia selalu merasa malu kalau aku menunjukan kemesraan kami di depan banyak orang" kilah Saqila dengan wajah yang memerah, menahan malu dengan apa yang di lakukan Aiden.
Di sebuah meja, Papi dan Mami sampai menggelengkan kepala dengan kelakuan menantunya yang satu ini. Mami melirik ke arah Ayra yang duduk di pojok ruangan.
Acara ini masih berlanjut meski pemilik acara telah pergi entah kemana. Saqila memberikan jawaban dengan segala alasan saat ada seseorang yang bertanya kemana suaminya, karena sejak tadi tidak terlihat lagi.
Sementara di pojok ruangan, Ayra menoleh ke arah Rega. Dia khawatir dengan keadaan suaminya saat ini. "Emm. Tuan Rega, saya mau menemui Tuan Aiden"
Rega menatap Ayra, ada senyuman tipis di wajahnya yang hampir tidak terlihat oleh siapapun. "Mari saya antar"
Ayra mengikuti langkah Rega, melewati tempat stand makanan yang sudah mulai ramai di hadiri orang-orang. Ada ibu yang sengaja membawa anak-anaknya untuk menikmati setiap makanan dengan gratis. Ada suami yang juga membawa keluarganya dengan tujuan yang sama. Rasanya mereka ingin berterima kasih secara langsung pada Tuan Aiden yang telah memberikan acara pesta seperti ini setiap tahunnya.
__ADS_1
Rega dan Ayra sampai di depan pintu ruangan yang tadi. Ayra menghela nafas, padahal kalau tahu jika suaminya diruangan ini mungkin Ayra juga tidak perlu di antar Rega. Kan tadi dia sudah ke tempat ini. Rega membukakan pintu ruangan dan mempersilahkan Ayra masuk.
Ayra masuk, dia menatap tubuh tegap suaminya berdiri di depan jendela dengan kedua lengannya di masukan ke dalam saku celana. Ayra berjalan pelan ke arahnya, menaruh tas di atas meja dan langsung memeluk suaminya dari belakang. Aiden tentu terkejut, dia tidak menyadari kehadiran Ayra di ruangan ini.
"Sayang.."
Ayra menempelkan pipinya di punggung Aiden dengan nyaman. "Aku pusing di luar, terlalu banyak orang. Jadi aku meminta Tuan Rega untuk mengantarkan aku ke ruangan ini. Ehh, aku gak nyangka kalau kamu juga ada disini"
Aiden tersenyum, tangannya mengelus tangan mungil Ayra yang melingkar di perutnya. Pelukan Ayra selalu terasa nyaman baginya. Aiden tahu jika apa yang di ucapkan Ayra hanya alasan saja. Ayra hanya sedang mencoba menghiburnya saja.
"Maaf ya.."
Kan, Aiden sudah menduganya jika alasan Ayra datang kesini tidak seperti yang di ucapkannya. Aiden melepas tautan tangan Ayra di perutnya, lalu dia berbalik dan menatap wajah istrinya dengan lekat. "Maaf untuk apa? Kamu tidak salah"
Ayra menghela nafas, dia menundukan wajahnya. Setelah dirasa dia sudah berani menatap kembali mata suaminya, barulah Ayra mendongak dan menatap Aiden dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.
"Aku tahu jika kehadiran aku telah membuat renggang hubungan kamu dan Nyonya. Aku tahu jika Nyonya melakukan itu juga karena dia merasa terasingkan oleh kamu sejak kamu menikah lagi denganku dan aku yang kini mengandung anakmu..." Setetes air mata jatuh di pipinya, segera Ayra menghapusnya dengan punggung tangannya. "...Tapi, aku juga tidak ingin meninggalkan bayi ini.. Hiks.."
Tangisan Ayra mulai pecah, akhirnya dia bisa mengatakan apa yang selama ini ingin dia katakan pada suaminya. Tidak.. Tapi pada dunia ini. Ayra juga menginginkan bayinya, dia juga menginginkan anaknya.
"Maaf jika aku egois, maaf juga kalau aku tidak bisa menepati janji sesuai di surat perjanjian. Tapi, jika kehadiranku hanya merusak hubungan kalian..." Ayra semakin lekat menatap suaminya, ini memang pilihan sulit. Tapi Ayra tetap harus mengatakan ini pada Aiden. Ayra juga tidak ingin seperti ini. Tapi dia tetap harus mengatakannya. "...Tolong lepaskan aku dan biarkan aku pergi bersama bayi ini. Setidaknya aku bisa bersama anakmu, meski aku tidak bisa memilikimu"
Deg..
__ADS_1
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5