Suamiku Dan Suamimu

Suamiku Dan Suamimu
S2 #Ayra Kenapa?#


__ADS_3

"Iya makan dulu, gimana kamu mau sembuh kalau makan tidak mau, minum obat juga. Ayolah Sayang, makan dulu ya"


Ayra benar-benar tidak habis fikir dengan suaminya yang selalu manja sekali saat dia sedang sakit seperti ini.


"Yaudah iya"


Ayra tersenyum, dia segera menyuapi suaminya itu dengan  sabar. Aiden memang harus banyak makan mulai saat ini, dia sakit juga karena beberapa hari terakhir dia sering mengabaikan waktu makannya. Hingga mungkin sekarang lambungnya sedang bermasalah dan menyebabkan dia sakit karena daya tahan tubuhnya yang sedan lemah.


"Pinter, akhirnya kamu menghabiskan makanannya. Sekarang minum obat dulu, kalau memang kamu tidak mau ke Dokter"


Dan Aiden benar-benar hanya menurut saja, dia tidak banyak protes karena takut istrinya akan kesal dan malah mengabaikannya.Sudah tahu Aiden paling tidak bisa jika diabaikan oleh istrinya ini, apalagi saat ini dia yang sedang sakit dan inginnya bermanja pada Ayra.


"Tidur lagi, istirahat kalau kamu sudah minum obat"


"Peluk"


Ayra terkekeh melihat wajah memelas suaminya dengan merentangkan tangannya. Ingin Ayra untuk kembali memeluknya. Ayra naik ke atas tempat tidur dan memeluk bayi besarnya yang sedang sakit ini. Mengelu kepala Aiden dengan lembut.


"Tidur ya Sayangnya aku, biar cepat sembuh"


Aiden semakin senang saja mendengar ucapan lembut Ayra. Dia selalu merasa nyaman berada dipelukan istrinya. Karena hanya kepada Ayra dia bisa bermanja dan berkeluk kesah.


Terkadang Ayra suka berpikir apa mungkin Aiden tidak pernah mempunyai waktu bermanja saat bersama Saqila, dulu. karena setiap kali dia selalu bilang jika dia hanya bisa seperti ini ketika bersama Ayra. Entah bagaimana hubungan mereka saat menjadi suami istri, apa mungkin tidak sama dengan yang di tunjukan di Publik.


Mungkin karena seseorang akan menunjukan sifat aslinya ketika dia bertemu dengan orang yang tepat yang bisa menerima segala kekurangannya. Dan Aiden bertemu Ayra yang bisa membuat dia nyaman dan bisa menunjukan kemanjaannya ini. Apalagi saat dia sedang lelah, hanya Ayra yang bisa Aiden jadikan tempat untuk mengadu dan berkeluh kesah.


######


Malam hari Ayra tidak bisa benar-benar tidur, dia mengecek suhu tubuh suaminya yang sempat benar-benar naik. Tapi sekarang dia bisa merasa lebih tenang karena setelah di kompres beberapa kali oleh Ayra, akhirya suhu tubuh Aiden turun dan kembali normal.

__ADS_1


Dan Ayra baru bisa tidur menjelang pagi, dia benar-benar khawatir dengan keadaan suaminya. Dan entah baru berapa lama dia tidur, tapi Ayra harus kembali terbangun karena perutnya yang teras tidak nyaman.


Aku kenapa? Kenapa rasanya perutku sangat mual.


Ayra mencoba menahannya, hingga akhirnya dia tidak bisa menahan lagi. Dia turun dari atas tempat tidur dan berlari ke kamar mandi. Memuntahkan isi perutnya diatas wastafell.


Ayra benar-benar muntah dengan hebat, bahkan mulutnya sampai terasa pahit. Tapi dia masih belum berhenti muntah. Ayra mencuci wajahnya yang pucat itu. Menatap pantulan dirinya di cermin. Wajah Ayra memang terlihat sangat pucat saat ini. Mungkin karena dia kurang tidur semalam.


"Mungkin aku kelelahan karena semalam aku kurang tidur"


Ayra berjalan gontai kembali ke kamarnya, melihat suaminya yang masih terlelap. Ayra pun ikut naik dan kembali tertidur dengan memeluk suaminya.


######


Beberapa hari berlalu, tapi entah kenapa Ayra merasa tubuhnya yang semakin gampang lelah dan seolah ada yang tidak sehat dalam dirinya ini. Pagi ini saja dia kembali muntah-muntah. Dan kali ini Aiden mengetahui hal yang terjadi pada istrinya ini. Karena hari-hari sebelumnya Ayra sering muntah disaat Aiden masih tidur atau sudah pergi bekerja. Jadi suaminya itu tidak mengetahuinya.


"Sayang kamu kenapa? Apa yang sakit, kenapa bisa sampai muntah begini"


Aiden langsung menatap dingin pada istrinya, merasa tidak percaya dengan yang baru saja diucapkan oleh istrinya. "Sudah beberapa hari, dan kamu tidak bilang padaku"


Aiden sudah beberapa kali menanyakan keadaan Ayra, karena dia melihat wajah istrinya yang selalu pucat setiap kali dia pulang kerja. Tapi Ayra selalu mengatakan jika dia tidak apa-apa. Membuat Aiden kesal ketika saat ini dia mendengar jika beberapa hari terakhir, istrinya ini selalu muntah seperti ini.


"Kita ke rumah sakit sekarang!" Aiden langsung menggendong istrinya dan membawanya keluar dari kamar mandi.


"Sayang, aku tidak papa. Lagian kamu 'kan mau bekerja sekarang"


"Sudah diam, aku hanya tidak mau jika kamu harus sakit dan aku tidak melakukan apapun"


Cih, dirinya saja tidak pernah mau kalau sakit dan aku bawa ke Dokter. Gumam Ayra dalam gendongan suaminya. "Sayang aku bisa berjalan kok, jangan digendong seperti ini malu"

__ADS_1


"Kenapa harus malu? Aku suamimu"


Ayra hanya menghela nafas pelan ketika suaminya panik, pasti dia tidak akan mau menyerah dan selalu bersikap tegas pada Ayra.


"Loh, Ayra kenapa Den?" Mami yang melihat anaknya menggendong menantunya itu langsung ikut panik dan cemas. Taku jika menanntunya itu kenapa-napa.


"Dia sakit Mam, muntah-muntah"


Aiden tidak mengatakan apapun lagi meski Ibunya masih ingin bertanya padanya tentang keadaan Ayra. Tapi Aiden sudah berlalu begitu saja.


"Muntah-muntah? Apa mungkin Ayra..?"


Mami tersenyum sendiri dengan pemikirannya itu. Merasa jika apa yang dia fikirkan adalah benar. Meski sebenarnya Mami juga belum tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Ayra.


Aiden membawa Ayra ke rumah sakit menggunakan supir. Dia tidak mungkin mengemudi sendiri saat pikirannya sedang tidak tenang.


"Sayang, sebenarnya aku tidak perlu ke rumah sakit juga. Kamu lihat sendiri saja kalau aku sudah tidak papa sekarang"


"Sudah diam! Kau hanya perlu menurut saja padaku"


Ayra mencebikan bibirnya dalam pelukan   Aiden. Dia tidak bisa melakukan apapun ketika suaminya sudah memberikan ultimatum itu. Meski hatinya tidak berhenti untuk menggerutu kesal pada suaminya itu. Padahal dia juga kalau sakit sulit sekali di ajak periksa ke rumah sakit. Lah sekarang giliran aku, tidak boleh menolak ucapannya itu. Dasar aneh. Gumam Ayra dalam hatinya.


Sampai di rumah sakit Aiden tetap tidak mau menurunkan Ayra dan membiarkan Ayra berjalan sendiri. Tapi dia malah tetap menggendongnya.


"Sayang, aku bisa jalan sendiri"


Aidej tidak menjawab, di terus membawa istrinya menuju untuk ruang pemeriksaan. Dirinya sangat khawatir dan panik dengan keadaan istrinya. Jadi Aiden tidak akan bisa ditanya apapun. Karena dia hanya ingin segera sampai di ruang pemeriksaan dan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Ayra.


Ayra hanya menatap wajah suaminya yang sedang menggendongnya itu. Aku tahu jika saat ini aku sangat beruntung bisa memilikinya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2