
Ayra terdiam menatap pemandangan di luar jendela apartemen. Langit sore ini terlihat sangat cerah. Namun perasaannya tidak secerah langit hari ini. Ayra merasa sudah sangat kecewa karena Aiden membohonginya hanya untuk bisa pergi dengan Saqila. Padahal semuanya jelas jika Ayra juga tidak akan punya hak apapun untuk melarang Aiden pergi. Tapi kenapa Aiden sampai berbohong padanya hanya untuk bisa berlibur dengan Saqila.
Suara bell pintu yang berbunyi membuat Ayra langsung berjalan ke arah pintu, membukanya dan seorang supir yang di tugaskan Aiden untuk mengantar jemput Ayra saat dia berada di luar kota ada disana. Menyerahkan makanan yang dia pesan untuk Ayra.
"Ini Nona untuk makan malam, dan tadi Tuan Aiden menelepon katanya tolong aktifkan ponsel Nona"
Ayra mencoba tersenyum, dia mengambil makanan itu. Dia tetap harus menampilkan wajah ceria dan baik-baik saja di depan orang lain. Karena Ayra juga tidak mau jika permasalahan rumah tangganya di ketahui orang lain. "Terimakasih Pak, iya nanti saya akan aktifkan"
Sebenarnya Ayra sengaja menon-aktifkan ponsel karena dia ingin menghindari telepon dari Aiden. Untuk saat ini dia ingin menghindari pria itu. Biarkan dia mempersiapkan hatinya, sampai dia benar-benar siap berbicara lagi dengan Aiden. Sampai hati Ayra siap jika suatu saat nanti dia akan benar-benar pergi dari kehidupan pria yang saat ini menjadi suaminya.
Ayra menyimpan kotak makanan dari Pak Supir tadi di atas meja makan. Lalu dia berjalan menuju sofa dan duduk disana. Mengambil tas kuliahnya dan mengambil ponselnya. Dia mengaktifkan ponselnya dan benar saja sudah banyak pesan yang di kirimkan suaminya padanya.
Beberapa saat ponselnya aktif, telepon dari suaminya langsung masuk. Tapi Ayra tidak mengangkatnya. Mengingat apa yang terjadi tadi pagi, Ayra jadi takut jika dia akan mengganggu liburan suaminya dan istri pertamanya.
"Biarkan aku mempersiapkan hatiku untuk lebih tegar lagi saat nanti haru meninggalkan kamu dan anak kita" Tangannya mengelus lembut perut buncitnya. Ayra benar-benar tidak bisa lagi menahan air mata yang sudah ingin keluar sejak tadi, namun dia mencoba untuk terus menahannya. Hingga saat ini pertahanannya benar-benar roboh.
Ayra menangis dengan tangan yang memeluk perut besarnya. Seolah dia sedang memeluk anaknya dan melindunginya dari siapapun yang ingin mengambilnya. Tapi jika mengingat surat perjanjian itu, Ayra bisa apa. Dia tidak akan bisa mempertahankan anaknya karena semuanya sudah tertulis jelas di atas surat perjanjian, jika Ayra harus pergi meninggalkan anaknya setelah lahir tanpa memiliki hak apapun lagi untuk anak ini.
Sungguh saat ini Ayra menyesal karena tidak mengajukan satu permintaan saja, jika dia juga ingin menemui anaknya sesekali saja. Bodohnya, karena saat itu dia tidak berpikir akan seberat ini untuk meninggalkan anakĀ kandungnya sendiri.
"Maafkan Bunda Nak.. Hiks.." Suara isak tangis itu terdengar memenuhi ruangan. Ayra ingin pergi membawa anak ini, tapi dia juga tidak seberani itu. Ayra tahu jika suaminya juga sudah menugaskan beberapa orang untuk mengawasinya. Pasti dia juga takut jika Ayra akan kabur sebelum memberikan seorang anak untuknya sesuai dengan perjanjian awal.
__ADS_1
Ponselnya kembali terdengar, Ayra mengusap air matanya dengan kasar. Dia menghela nafas berat sebelum akhirnya memutuskan untuk mengangkat telepon dari suaminya itu.
"Sayang, ya ampun kamu kemana saja? Kenapa ponselnya tidak aktif?"
Ayra tidak langsung menjawab, dia sedang mencoba mengendalikan suaranya agar tidak terdengar sedang menangis oleh Aiden. Tapi mendengar suara suaminya yang terdengar khawatir dari nada bicaranya tentu saja membuat Ayra tidak bisa menahan air mata yang mengalir begitu saja di pipinya. Aiden selalu seperti ini, memberikan perhatian pada Ayra seolah dirinya benar-benar peduli padanya. Padahal hanya pada bayi dalam kandungannya.
"Sayang, kamu gak papa 'kan?"
Ayra mengusap kasar air matanya, dia menghembuskan nafas pelan untuk menetralkan suaranya. "Tidak, aku baik-baik saja" Hanya hatiku yang sedang tidak baik-baik saja saat ini.
"Sayang, kenapa ponselnya tidak aktif? Kamu baik-baik saja disana?"
Lagi-lagi Ayra menghela nafas untuk menetralkan suaranya. "Iya, aku baik-baik saja disini. Kamu bagaimana?" Jelas akan baik-baik saja, disana 'kan ada Nyonya yang menemani.
"Emm. Terdengarnya kamu senang sekali ya"
"Iya Sayang, ada kabar baik yang nanti akan aku beritahu saat sudah sampai disana ya"
Kabar baik apa? Atau mungkin Nyonya hamil? Atau Tuan Aiden yang akan segera menceraikan aku karena Nyonya telah hamil?
Sepertinya Ayra melupakan satu hal, jika Saqila sudah tidak mungkin untuk bisa hamil lagi. Namun perasaan cemburu dalam hatinya menutup akal sehatnya juga.
__ADS_1
"Aku ngantuk, mau tidur udah dulu ya. Kamu jangan lupa makan"
Di tempat berbeda, Aiden sedikit tersentak saat Ayra tiba-tiba menutup sambungan telepon tanpa menunggu jawabannya. Ini aneh, baru pertama kalinya Ayra menutup sambungan telepon lebih dulu. Apalagi saat Aiden belum menjawab.
Aiden menatap ponselnya dengan bingung. "Ada apa dengannya? Tidak biasanya dia seperti ini. Apa aku melakukan kesalahan"
Aiden mulai bertanya-tanya apa yang dia lakukan sampai membuat Istrinya bersikap seperti ini. Aiden merasa tidak melakukan apapun. "Yasudah, aku harus segera tidur untuk segera menyelesaikan pekerjaan disini dan pulang"
Ternyata memang Aiden datang ke tempat ini bukan hanya untuk mendapatkan persetujuan Saqila tentang gugatan cerainya. Tapi dia juga memang memiliki pekerjaan di tempat ini. Jadi dia tidak sepenuhnya berbohong pada Ayra.
Aiden merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, dia menatap langit-langit kamarnya. Hari ini suasana hatinya cukup baik, karena semuanya bisa teratasi dengan cepat. Melihat perubahan Saqila yang semakin bisa berfikir dewasa dan bisa menerima kenyataan ini. Membuat Aiden lega, nyatanya benar apa yang Saqila katakan padanya. Jika dia hanya tempat persinggahan sesaat saja bagi Saqila. Cinta sejatinya adalah Alvino yang bisa menunggunya selama bertahun-tahun.
Semoga Saqila bisa bahagia bersama Alvino, dan aku juga bisa memulai hidup baruku dengan Ayra. Hanya dengan Ayra dan anak-anakku nanti.
Apa Aiden tidak marah pada Alvino? Yang sudah berselingkuh dengan istrinya sendiri, sementara Alvino adalah sahabat Aiden juga. Meski kedekatannya tidak seperti Aiden dengan Rega san Alvaro. Tapi Alvino tetap sahabatnya juga. Tentu saja Aiden marah, sangat marah. Jika dia mengikuti keinginan hatinya, mungkin Alvino sudah habis Aiden pukuli tadi. Tapi perkataan Saqila memang benar. Jika cinta sejatinya tidak mungkin berpaling dengan keadaan apapun. Disini Aiden sadar jika dirinya yang bersalah. Bukan mereka.
Selama ini Alvino sudah menahan perasaannya. Tapi dia juga tetap setia pada Saqila yang notabenya sudah menjadi istri Aiden. Sementara Aiden sendiri tidak bisa memberikan itu pada Saqila. Dia tidak bisa sekuat Alvino. Hati Aiden bisa tergoyahkan hanya dengan tekanan dan paksaan dari orang tuanya. Disini Aiden sadar jika dirinya memang bukan jodoh yang terbaik untuk Saqila. Cinta sejatinya bukan dia, tapi Alvino.
Dan saat ini Aiden hanya mencoba berdamai dengan kenyataan ini. Aiden ingin mebgikhlaskan pernikahan pertamanya yang gagal juga karena kesalahannya. Tapi saat ini Aiden sedang mencoba mengambil hikmah dari semua ini, jika dia memang memiliki Ayra yang bisa menggetarkan hatinya setiap saat. Selalu memberikan kebahagiaan padanya dengan cara yang sederhana. Cinta sejatinya adalah Ayra, bukan Saqila. Aiden dan Saqila hanya jadi tempat persinggahan sesaat untuk bisa menemukan cinta sejati dalam hidup mereka.
Bersambung
__ADS_1
Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5