Suamiku Dan Suamimu

Suamiku Dan Suamimu
S2 #Obsesi Rezend#


__ADS_3

Aiden menatap layar komputer yang berada di depan Rega. Rega sedang mencoba melacak keberadaan Ayra lewat nomor ponselnya dan juga nomor ponsel yang menghubungi Aiden beberapa saat lalu.


Ting..


Rega langsung menatap ke layar komputer ketika suara notifikasi terdengar, tandanya pelacakan dia sudah menemukan dimana lokasinya.


"Mereka membawa Ayra ke sebuah Villa yang berada di tengah hutan di daerah puncak"


Tangan Aiden mengepal erat mendengar penjelasan dari Rega barusan. "Kita harus pergi kesana sekarang"


"Ya, tapi sebaiknya kita tetap menghubungi polisi karena takutnya dia mempunyai banyak penjagaan yang mungkin saja akan mencelakai kita juga"


Aiden mengangguk, memang benar apa yang dikatakan oleh Rega. Dia harus berjaa-jaga sekarang. Aiden langsung menoleh pada Rega ketika suara dering ponsel milik Rega terdengar.


"Siapa yang menelepon Ga?"


"Pihak kepolosian diluar kota, ada apa ya? Apa mungkin mereka sudah menemukan siapa yang membuat Pabrik kebakaran"


"Mungkin saja, segera kau angkat teleponnya"


Rega mengangguk dan segera mengangkat telepon itu. Rega berbicara sebentar dengan orang yang meneleponnya itu. Dia mendengarkan setiap kata yang diucapkan oleh si penelepon. Mengangguk kecil ketika dia faham dengan apa yang dibicarakan oleh orang di sebrang sana.


"Benar, jika pelaku yang menyebabkan kebakaran pabrik itu adalah karyawan yang bekerja di perusahaan The Retro"


"Sial, perusahaan itu memang perusahaan yang selalu menjadi saingan kita setiap ada tannder besar"


Rega mengangguk, memang saingan bisnis ada dimana-mana. Yang mungkin dianggap teman ternyata adalah lawan.


"Sekarang yang menjadi tujuan utama kita adalah menemukan dulu Ayra, Urusan pekerjaan bisa nanti saja"


Aiden mengangguk, memang itu yang menjadi prioritasnya sekarang. Setelah melapor pada polisi dengan menunjukan pesan yang dikirimkan oleh nomor misterius itu, Aiden segera mengatur rencana dan strategi agar bisa menyelamatkan Ayra tanpa harus membuatnya terluka.


Melewati jalanan yang terjal dan beberapa semak-semak juga pepohonan yang rimbun yang berada di sisi-sisi jalan. Rega mengendarai mobilnya dengan lihai. Dia harus segera sampai disana, apalagi ketika Aiden sudah mendapatkan pesan ancaman kedua dari nomor yang sama.

__ADS_1


Ayra akan menjadi milikku mulai saat ini.


Begitulah isi pesan yang membuat  Aiden benar-benar meradang. Jelas dia tidak akan membiarkan Ayra diambil oleh siapapun.


######


Di sebuah kamar dengan nuansa putih itu, Ayra terbangun dengan kepalanya yang sangat pusing. Dia baru ingat kejadian beberapa jam lalu ketika dia akan berangkat ke kantor suaminya untuk mengantarkan makan siang. Namun mobilnya yang baru saja keluar dari komplek perumahan, langsung di hadang oleh dua mobil hitam. Beberapa orang keluar dari sana dan menggedor kaca jendela mobi, membuat Ayra ketakutan.


Hingga kaca jendela mobil di pecahkan dan salah satu dari mereka memukul supir hingga jatuh pingsan. Ayra yang duduk di kursi belakang mulai ketakutan, tubuhnya bergetar melihat orang-orang berpakaian hitam itu. Dia beringsut ke pojokan mobil. Namun seorang di dekat pintu membuka pintu mobil hingga Ayra tidak bisa lagi menghindar dari mereka.


"Kalian mau apa? Lepaskan aku" teriakannya yang terpadamkan ketika dia di seret ke dalam mobil dan mulutnya di bekap dengan kain yang sudah mengandung obat bius. Hingga Ayra benar-benar tidak sadarkan diri lagi.


"Arghh.. " Ayra memukul-mukul pelan kepalanya yang benar-benar terasa pusing. Berharap rasa pusingnya bisa hilang.


Ayra bangun terduduk diatas tempat tidur, dia menatap ke sekelilingnya. "Dimana aku? Kenapa aku bisa berada disini? Sayang, tolong aku"


Ayra hanya bisa berteriak lirih memanggil suaminya. Dia benar-benar ketakutan sekarang, dirinya tidak tahu dimana dia berada sekarang dan sedang bersama siapa.


Pintu kamar yang terbuka membuat Ayra segera beringsut ke ujung tempat tidur. Namun ketika dia melihat siapa yang masuk, Ayra langsung terkejut dan juga heran. Kenapa bisa ada pria itu di depannya saat ini. Apa mungkin dia yang merencanakan semua ini? Tapi rasanya tidak mungkin, jelas Ayra tahu siapa dia dan bagaimana sifatnya.


"Hai Ayra, apa kau masih mengingat aku?"


Ayra mengangguk dengan wajah takut, nada suara dan cara pria itu menatap padanya benar-benar berbeda sekali saat Ayra mengenal dia sebagai seniornya di kampus yang begitu ramah dan pintar. Selalu baik pada setiap orang.


"Ka-Kak Rezend"


"Wah, ternyata kau masih mengingat aku ya. Sungguh membuat aku sangat terharu"


Rezend terus melangkah mendekati Ayra yang semakin beringsut ke ujung tempat tidur. Rezend naik ke atas tempat tidur dan terus merangkak mendekati Ayra, hingga tubuh gadis itu terpojok di dinding yang dekat dengan tempat tidur.


"Ka-Kakak mau apa? Tolong lepasin Ay Kak, Ay ingin pulang"


Rezend tersenyum tipis dengan tatapannya yang sangat menakutkan menurut Ayra. "Pulang kemana? Ke rumah suamimu?  Oh ayolah Ayra, aku adalah rumahmu sekarang. Kau akan menjadi milikku"

__ADS_1


"Kak, apa maksud Kakak? Aku sudah menikah dan biarkan aku kembali pada suamiku"


Hahaha..


Tawa Rezend yang menggema membuat merinding. Ayra mulai merasakan hawa tidak baik saat Rezend menatapnya dengan tajam.


"Kau tahu, betapa aku berjuang dan berusaha untuk bisa sukses agar bisa menikahimu ketika aku sudah sukses. Tapi ketika aku ingin  menemuimu kembali, aku harus mendengar kabar jika ternyata kamu sudah menikah dengan pengusaha muda bernama Aiden Narendra. Yang jelas sudah pernah menikah sebelumnya. Kenapa Ayra? Kenapa kamu melakukan ini padaku?"


Ayra hanya bisa diam ketika Rezend mengguncang tubuhnya dengan terus mempertanyakan kenapa Ayra menikah dengan Aiden. "Cukup Kak, aku menikah dengan siapapun bukan urusan Kakak. Semuanya sudah menjadi takdir Tuhan untukku"


"Takdir Tuhan katamu?! Jika memang itu adalah takdir Tuhan, maka ayo kita rubah takdir itu. Aku akan menikahimu dan membuat kamu lebih bahagia dari sekarang"


"Tidak bisa Kak, karena aku sangat mencintai suamiku"


Plak..


Satu tamparan keras langsung mendarat di pipi kiri Ayra. Bekas kemerahan langsung terlihat di pipi putih Ayra itu. Dia menatap Rezend dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Kenapa Kakak berubah? Kak Rezend bukan lagi sosok yang aku kenal dulu"


"Aku berubah juga karena kamu Ayra. Kenapa kamu harus menikah dengan pria lain sebelum aku datang dan akan menikahimu"


Rezend menangkup kedua pipi Ayra dan menatapnya dengan lekat. "Kita bisa memulainya lagi dari awal. Ya, kita pasti bisa memulainya dari awal. Kamu ceraikan saja suamimu itu dan menikah denganku"


Ayra tidak bisa lagi menahan air matanya yang sudah menggenang sejak tadi di pelupuk matanya. Dia menatap Rezend dengan mata basahnya. "Tidak bisa Kak, karena aku sangat mencintai suamiku. Aku tidak mau meninggalkan dia"


Plak.. Brukk..


Rezend kembali menampar Ayra dan mendorong tubuh mungil itu sampai jatuh ke atas lantai dengan keras. Ayra memegang pipinya, kali ini tamparan Rezend lebih keras dari tadi, hingga sudut bibir Ayra saja berdarah.


"Yang Kakak rasakan padaku bukan cinta atau suka. Tapi hanya obsesi yang tidak bisa Kakak kendalikan" teriak Ayra


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2