
Semuanya berjalan sesuai semestinya, Aiden akan bergantian tinggal bersama kedua istrinya dengan waktu dua hari di setiap tempatnya. Dan malam ini adalah malam kedua Aiden bersama Saqila. Ayra tidak papa, hanya saja ada bagian hatinya yang menuntutnya untuk sedikit saja egois. Namun, Ayra menepis perasaan itu. Dia di terima saja oleh Saqila sudah sangat bersyukur. Apalagi yang dia inginkan dari pernikahan berdasarkan perjanjian ini.
Dering telepon selalu dia nantikan setiap pukul 10 malam. Setiap Aiden tidur di rumah Saqila, maka dia selalu menyempatkan meneleponnya di malam hari. Inilah yang membuat Ayra bingung, Aiden seolah memberikan perhatian yang lebih padanya daripada Saqila. Ya, mungkin karena dirinya yang sedang mengandung anaknya. Tapi Ayra tetap tidak bisa berhenti berharap jika Aiden terus memberikan perhatian seperti ini.
"Hallo"
"Sayang.. Kangen"
Ayra tersenyum, selalu ada rengekan itu ketika Aiden sedang tidur di rumah bersama Saqila. Dan hal itu tidak pernah Aiden lakukan pada Saqila saat dirinya bersamanya di apartemen. "Apasi, kan lagi sama Nyonya. Nanti kalau Nyonya denger gimana?"
"Dia sudah tidur, kamu lagi ngapain?"
"Emm. Lagi nungguin telepon dari kamu"
Di sebrang sana, Aiden tersenyum mendengar jawaban Ayra. "Itu artinya kamu juga merindukan ku. Iya 'kan?"
Ayra tertawa kecil mendengarnya. "Ya, anakmu yang merindukanmu"
"Ohh. Anakku? Apa Bundanya tidak ikut rindu?"
Rindu.. Aku juga merindukanmu. Tapi aku malu mengatakannya.
"Tidak tuh"
Aiden tersenyum, rasanya senang sekali menggoda sang istri. Aiden tahu jika Ayra juga merasakan apa yang dia rasakan. Hanya saja istrinya itu malu mengatakannya. "Jahat banget gak rindu sama aku"
"Apasi, udah ahh aku mau tidur. Besok kuliah"
"Besok aku jemput kamu ya"
"Iya"
"Iya apa?"
__ADS_1
Ayra menghela nafas kasar, tahu apa maksud suaminya. "Iya Sayang"
Aiden tersenyum mendengarnya, setelah mengucapkan selamat malam pada istrinya, dia langsung memutuskan sambungan telepon. Aiden kembali berjalan menuju kamarnya dan Saqila. Setiap dia selesai menelepon Ayra, barulah dia bisa terlelap di samping Saqila dengan bayangan Ayra dalam kepalanya.
Pagi ini setelah mengantar Saqila ke perusahaannya, Aiden segera menjemput Ayra. Ternyata istrinya sudah menunggunya di depan kawasan apartemen. Ayra segera berlari mendekati mobil Aiden yang terparkir di pinggir jalan. Masuk ke dalam mobil dengan ceria.
"Pagi Sayang"
Aiden terzenyum, dia mencium kening istrinya dan tangannya mengelus perut buncitnya. "Jangan lari-lari, kalau jatuh bagaimana?"
"Hehe. Iya maaf"
Mobil melaju meninggalkan kawasan apartemen. Aiden melirik istrinya yang sedang mengelus perut buncitnya. "Kamu rindu banget ya sama aku, sampai gak sabar gitu buat ketemu aku. Padahal cuma di tinggal dua hari saja"
"Apasi, memang gak boleh ya rindu suami sendiri"
Hatinya berdebar senang mendengar Ayra mengakuinya sebagai suami. Itu adalah suatu kemajuan. Aiden selalu senang saat Ayra memanggilnya Sayang, apalagi saat Ayra dengan berani memanggilnya suami. "Boleh banget Sayang, kan kamu adalah istriku"
Ayra tersenyum, memang dia adalah istrinya. Tapi dia masih berada di ambang jurang pemisah di antara dirinya dan Aiden. Surat perjanjian yang masih menjadi misteri dalam hidupnya. Ayra yang tetap harus menepati apa yang telah dia setujui.
"Udah ahh, memang seharusnya kamu hanya mengantar sampai sini. Kan kalau ada yang lihat, aku juga yang akan kena masalah. Kamu gak mau 'kan itu terjadi"
Aiden selalu kalah saja dengan kalimat Ayra yang satu ini. Dia mengelus kepala istrinya dan menciumnya. "Hati-hati ya, jaga baik-baik diri kamu dan calon bayi kita"
Ayra mengangguk, dia mengelus perutnya yang sudah membuncit. Usia kandungan yang sudah lima bulan lebih, begitu kentara dengan tubuh mungil Ayra. "Kamu juga jaga kesehatan ya, jangan kecapean kerjanya. Ingat masih ada aku dan Nyonya yang membutuhkanmu"
Untuk pertama kalinya Aiden merasa di butuhkan sebagai seorang suami. Ya, Ayra memang hanya seorang gadis lemah yang selalu menghadapi semua masalah dengan caranya sendiri. Dia tidak lemah, hanya mencoba untuk tidak berlaku kasar. Dan kelemahan Ayra ini yang membuat Aiden selalu merasa berguna dan di butuhkan. Berbeda dengan Saqila, dia adalah wanita karir yang mandiri. Bisa menyetir sehingga tidak memperlukan Aiden untuk mengantar jemputnya. Bisa mencari uang sendiri, hingga tidak perlu minta lagi pada suaminya jika ada yang diinginkan. Dan Aiden sebagai seorang pria, ingin merasakan jika dirinya berguna dan di butuhkan oleh istrinya. Dan sekarang dia mendapatkannya dari Ayra.
Rasanya sudah cukup banyak yang di inginkan Aiden terwujud saat dirinya bersama Ayra. Hal ini mungkin yang membuat dirinya semakin merasa nyaman.
"Apa kau membutuhkan ku?"
Ayra tersenyum, dia mengelus pipi suaminya dengan lembut. "Tentu saja, aku istrimu dan seorang istri selalu membutuhkan sumianya"
__ADS_1
Dan aku tidak yakin bisa hidup lebih tenang setelah meninggalkanmu. Karena aku sangat membutuhkanmu.
Tanpa sadar tatapan Ayra berubah sendu mengingat itu. Dirinya tidak yakin bisa hidup lebih baik dari ini setelah lepas dari Aiden. Dan tatapan sendunya itu tentangkap oleh suaminya. Aiden menyadari tatapan Ayra yang berubah menjadi sendu. Dia mengecup bibir istrinya membuat Ayra terperanjat dan menjatuhkan tangannya yang berada di pipi suaminya.
"Kenapa?"
Ayra memalingkan wajahnya, mengusap ujung matanya yang sedikit berair. "Tidak papa, aku pergi dulu ya Sayang"
Ayra mencium punggung tangan Aiden, lalu dia segera turun dari mobilnya. Aiden menatap kepergian istrinya dengan bingung. Ayra berjalan menjauh darinya, Aiden menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Maafkan aku Ay, kamu harus berada dalam situasi menyulitkan ini.
Aiden melajukan kembali mobilnya menuju perusahaan. Sampai disana dia sudah di sambut Rega, asistennya itu menatap bingung atasannya yang selalu memiliki mood yang berbeda-beda setiap harinya. Dan pagi ini, Aiden terlihat tidak bersemangat.
"Kau kenapa?"
Aiden mengusap wajah kasar "Ga, aku rasa aku telah benar-benar telah jatuh cinta padanya"
Rega tersenyum tipis, sangat tipis sampai hampir tidak terlihat. Dia menarik kursi di depan meja kerja Aiden dan duduk disana. "Ya, memang seperti itu seharusnya"
Aiden menatap bingung pada Rega, keningnya berkerut bingung. "Maksudmu?"
"Tidak, karena dia juga istrimu. Jadi kau juga harus mencintainya"
Aiden menghembuskan nafas berat, dia memang sudah menyadari perasaannya pada Ayra yang bahkan melebihi perasaannya yang dia rasakan pada Saqila dulu saat awal-awal jatuh cinta. "Tapi apa Saqila akan menerimanya, jika aku akan terus melanjutkan pernikahan ini dengan Ayra?"
Rega mengetuk-ngetukan jarinya di meja kerja Aiden. "Nanti akan kau tahu sendiri. Sudahlah, sekarang sudah waktunya kita masuk ke ruang meeting. Ada pertemuan dengan semua pimpinan redaksi"
Aiden menghela nafas, sudah saatnya kembali pada pekerjaan dan menyampingkan urusan pribadi. Wajah galau Aiden langsung berubah sejak dia keluar dari ruang kerjanya. Menjadi bos yang dingin dan tegas. Yang selalu di takuti setiap karyawan yang melakukan kesalahan sekecil apapun kesalahannya.
Sosok bos tampan yang menjadi idola banyak karyawan perempuan disana. Namun selalu menjadi bahan ghibah saat wajah dingin tidak bersahabatnya itu selalu menjadi hiasan ruang meeting.
Bersambung
__ADS_1
Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5