
Ayra terlihat begitu antusias saat akan pergi untuk membeli makanan yang dia inginkan. Di dalam mobil Ayra tidak berhenti menatap pemandangan diluar jendela. Ini adalah perjalanan ke kampusnya dulu. Jalanan yang harus di lalui oleh Ayra setiap harinya saat masih kuliah dulu. Ayra jadi merindukan masa-masa itu. Meski dia bukan seorang mahasiswa yang pintar dan terkenal. Tapi tentu ada hal yang menyenangkan dalam masa itu.
"Nah sudah sampai"
"TIdak usah turun! Pesan saja dari sini"
Ayra menoleh pada suaminya, dia baru saja akan membukakan pintu dan turun dari mobil. Tapi suaminya malah melarangnya untuk turun. Membuat Ayra mengurungkan niatnya itu. Ayra membuka kaca jendela mobil dan tersenyum ramah pada si penjual.
"Pak saya mau pesan rujak sama asinannya ya"
"Baik Neng"
Aiden langsung mendengus kesal, dan hal itu malah membuat Ayra tertawa. "Apasi Sayang, kan sudah biasa jika pedagang seperti ini memanggil setiap pelanggan wanita yang masih muda dengan panggilan seperti itu. Kamu ini masih saja suka kesal, memangnya apa spesialnya panggilan itu sampai harus membuat kamu kesal"
"Ya aku kesal saja, karena kamu istriku"
Ayra menggeleng pelan, selalu merasa heran dengan sikap suaminya yang terkadang sangat aneh itu.
"Ini Neng"
Ayra tersenyum dan langsung menerima kantung plastik hitam yang diberikan penjual itu. "Berapa Pak?"
"25 ribu"
Ayra memberikan uangnya dengan dua kali lipat nominal yang harus dia bayar pada si penjual asinan. "Sisanya untuk Bapak saja"
"Terima kasih Neng, terima kasih banyak"
Ayra hanya tersenyum, selalu merasa senang ketika sedikit yang dia berikan bisa menjadi sesuatu yang berharga untuk orang lain.
Aiden kembali melajukan mobilnya, dia menoleh sekilas pada istrinya yang terlihat begitu senang ketika bisa mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Terima kasih ya, kamu sudah mau mengantar aku"
"Hmm"
__ADS_1
Ayra terkekeh ketika mendengar hanya deheman saja dari suaminya itu. "Kamu masih kesal dengan panggilan Bapak tadi. Ya ampun Sayang, kamu ini aneh deh. Masa cemburu dengan Bapak-bapak seperti tadi"
"Dia laki-laki, jadi wajar saja kalau aku cemburu"
Dan ketika sampai di rumah Ayra langsung antusias dengan makanan yang baru saja dia beli. Mami yang baru datang ke ruang makan melihat apa yang Ayra bawa.
"Kamu beli apa itu Ay, aduh kok kayaknya pedas sekali"
"Tidak kok Mam, Mami mau?"
Mami langsung menggeleng, mana mungkin dia mau memakan makanan yang terlihat begitu pedas diusianya yang sekarang.
"TIdak Ay, kamu makan saja"
Aiden menatap istrinya yang begitu lahap memakan makanan yang menurutnya tidak enak itu. "Gak tahu kenapa dia suka sekali makanan itu, padahal dia bisa sakit perut dengan makanan itu"
"Tidak akan Sayang, ini 'kan kemauan anak kamu"
Mami tersenyum melihat Aiden yang begitu memperhatikan kesehatan Ayra. Anaknya yang dingin, benar-benar sudah berubah menjadi sosok pria yang hangat dan begitu perhatian.
"Kemauan anak aku, atau memang kamu saja yang sedang mencari kesempatan untuk memakan makanan pedas karena jika kamu sedang hamil, aku tidak akan menolaknya"
Uhuk..uhuk..
"Tuhkan,pelan-pelan makannya, bisa?" Aiden langsung memberikan segelas air untuk istrinya itu.Ayra hanya tersenyum dan meminum air yang diberikan oleh suaminya.
"Maaf Sayang, abisnya sudah lama sekali aku tidak memakan makanan ini"
"Iya tapi pelan-pelan, atau aku tidak akan membiarkan kamu membeli makanan itu lagi"
Ayra hanya terdiam, dia melanjutkan makannya hingga makanan yang dia beri sudah habis tak bersisa.
######
Malam ini Ayra tidur dengan nyaman, memeluk suaminya dengan kepalanya berada diatas dada suaminya. Aiden yang terus mengelus kepalanya membuat tidur Ayra semakin lelap.
__ADS_1
Aiden mencium puncak kepala istrinya yang berada di dadanya itu. "Sayang, aku senang sekali bisa merasakan hal ini. Menjadi suami siaga disaat istriku sedang hamil"
Aiden benar-benar merasakan kebahagiaan yang tidak terkira saat ini. Dia yang sebentar lagi akan menjadi Ayah dua anak.
Mungkin jika dulu aku tidak menikahinya, mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi dalam hidupku. Meski banyak cobaan yang kita lewati. Tapi kita bisa melewati semua ini dengan baik-baik saja.
Ayra terbangun dan mendongak dengan mata menyipit karena dia yang memang masih mengantuk. "Sayang, kamu belum tidur? Apa aku membuat kamu keberatan ya"
Aiden menahan istrinya yang akan menjauh dari pelukannya itu. "Tidak Sayang, kamu tidak membuat aku berat. Aku nyaman, ini juga mau tidur. Udah kamu tidur"
Ayra tesenyum, dia kembali merebahkan tubuhnya dengan kepala yang bersandar di dada suaminya itu.
Tidur dengan nyaman hingga menjelang pagi Ayra terbangun ketika merasa perutnya yang kembali mual. Dia segera turun dari atas tempat tidur dan berlari ke kamar mandi.
Ayra menghela nafas pelan, hal ini juga yang dia hadapi saat dia mengandung Alerio dulu. Mengalami morning sickness. Di dalam kamar, Aiden yang merasa tidak ada beban lagi di atas dadanya langsung membuka mata. Benar saja jika Ayra yang memeluknya sepanjang malam tidak ada disampingnya.
"Sayang.." Panggil Aiden dengan setengah berteriak.
"Iya, aku disini" Ayra muncul di balik ruang ganti dengan wajah pucat. Berjalan ke arah tempat tidur dan naik ke atasnya. Duduk disampinga suaminya.
"Kenapa hmm? Apa muntah lagi" Aiden merapikan ana rambut Ayra yang menutupi wajahnya itu.
Ayra mengangguk pelan, lalu dia memeluk suaminya dengan erat. Rasanya untuk saat ini hanya pelukan suaminya yang membuat Ayra nyaman.
"Tidur lagi saja, aku akan menjagamu"
Aiden mengelus kepala Ayra dengan memberikan kecupan di puncak kepalanya. Sebenarnya Aiden selalu merasa kasihan dengan kondisi istrinya yang selalu mengalami morning sickness ketika sedang hamil. Tapi mau bagaimana lagi karena memang seperti ini perjuangan yang dilewati setiap Ibu hamil.
Aiden mengelus perut istrinya yang masih rata itu. "Anak Daddy, jangan membuat Bunda kamu susah ya. Jadi anak yang baik ya"
Dalam pelukan suaminya, Ayra tersenyum mendengar ucapan Aiden pada calon bayi di dalam perutnya ini. Suamiku memang yang terbaik. Gumamnya dalam hati.
Ayra selalu merasa menjadi wanita yang bahagia di dunia ini setelah hidupnya berubah menjadi istrinya Tuan Aiden. Meski pada awalnya tidak mudah, tapi bersyukur karena dia bisa melewati semuanya. Mungkin akan ada masalah lain yang datang pada pernikahan mereka ini seperti yang sudah-sudah. Tapi Ayra akan tetap mencoba bertahan dan mempertahankan rumah tangganya dengan Aiden.
"Terima kasih karena sudah memberikan yang terbaik untuk aku dana anak kita"
__ADS_1
Aiden hanya tersenyum sambil mengecup kening istrinya.
Bersambung