Suamiku Dan Suamimu

Suamiku Dan Suamimu
S2 #Apa Sudah Mengingat Semuanya?#


__ADS_3

Aiden terdiam ketika dia baru saja selesai mandi dan melihat pakaian ganti yang berada ruang ganti. Sudah hampir satu bulan, tidak pernah ada lagi yang menyiapkan pakaian ganti untuknya karena Ayra yang tidak mengingatnya. Tapi kali ini dia benar-benar terkejut sekaligus senang karena istrinya sudah mulai menjalani kewajibannya sebagai istri. Meski mungkin Ayra masih belum mengingat dirinya seutuhnya. Tapi dengan begini saja, Aiden sudah sangat senang.


"Semoga kau segera sembuh dan mengingat tentang kita lagi"


Selesai memakai baju, Aiden keluar dari ruang ganti dan melihat Ayra yang sedang duduk bersandar diatas tempat tidur dengan sebuah buku di tangannya. Aiden segera menghampiri Ayra dan duduk di pinggir tempat tidur. "Sayang, makasih ya karena sudah menyiapkan pakaian ganti untuk aku"


Ayra mendongakan wajahnya dari halaman buku yang sedang dia baca. Menatap Aiden yang baru saja selesai mandi, bahkan rambutnya masih terlihat basah. Namun, entah kenapa wajah segar Aiden membuat Ayra sedikit tergoda. Eh.


"Tidak papa, aku hanya sedang mengerjakan tugasku sebagai istri kamu saja. Meski sebenarnya aku juga belum mengingat semuanya"


Sudah Aiden duga jika memang istrinya melakukan ini hanya karena dia merasa jika sebagai istri memang harus melakukan ini. Karena ingatannya yang masih belum juga kembali sampai saat ini.


"Semoga kamu segera mengingat semuanya"


Ayra menutup buku, menyudahi acara membacanya dan menyimpan buku itu di sampingnya. Menatap Aiden dengan lekat. "Kenapa tidak Tuan ceritakan saja tentang awal pernikahan ini terjadi? Karena aku masih merasa heran, kenapa kita bisa sampai menikah. Padahal Tuan sudah menikah dengan Nyonya Saqila"


Aiden terdiam, mungkinkah dengan cara menceritakan semuanya ingatan Ayra akan kembali? Tapi Aiden merasa tidak yakin dengan itu. Mengingat kisah mereka dimulai bukan karena cinta. Tapi karena kebutuhan yang saling menguntungkan. Aiden yang menginginkan seorang anak dan Ayra yang membutuhkan uang untuk biaya kuliahnya. Jadi, hubungan mereka dimulai dengan simbiosis mutualisme. Saling menguntungkan. Hingga suatu saat Ayra yang merasa di rugikan karena dia tidak rela melepas anak dalam kandungannya.


"Kini menikah karena saling mencintai"


Akhirnya begitulah Aiden mengarang cerita agar Ayra tidak shock. Dia takut jika istrinya mendengar cerita tentang awal pernikahan mereka terjadi, akan membuat Ayra drop.


"Tuan, aku ingin bertemu dengan Ibu. Kenapa sampai saat ini Ibu tidak juga datang menemuiku?"


Deg..


Aiden benar-benar tidak bisa menjawab apapun. Bagaimana dia menjelaskan pada Ayra jika Ibunya sudah lama meninggal. Sepertinya Ayra akan semakin drop jika mendengar cerita itu. Tapi apa yang harus Aiden lakukan saat ini? Dia tidak bisa terus mencari alasan dan kebohongan lain agar Ayra tidak terus menanyakan tentang Ibunya.


"Emm. Sayang, kita ke bawah yuk, Alerio pasti menunggu kamu. Dia 'kan senang sekali bermain denganmu sebelum tidur"

__ADS_1


Ayra mulai merasa ada yang tidak beres, karena setiap dia menanyakan tentang keberadaan Ibunya, maka Aiden selalu mengalihkan pembicaraan seperti saat ini.


"Tuan, jawab aku! Dimana Ibu?"


Aiden benar-benar sudah tidak bisa mengelak lagi ketika melihat tatapan Ayra yang memelas dan memohon agar Aiden menjawab tentang pertanyaannya barusan. Aiden meraih tangan Ayra dan menggenggamnya, menatap mata Ayra dengan lekat.


"Sayang, Ibu sudah meninggal sejak 2 tahun yang lalu"


Deg..


Tubuh Ayra terasa lemas seketika, mendengar ucapan Aiden barusan benar-benar membuat dirinya terdiam beberapa saat dengan pikiran yang seketika blank. Sebuah bayangan hitam, dimana seorang wanita hamil yang menangis di depan jenazah terlintas dalam pikiran Ayra. Membuat Ayra merasa kepalanya sangat pusing sekarang.


"Argh.. Kepalaku sakit"


"Sayang.." Aiden memegangi bahu Ayra dan melihat Ayra yang meringis menahan sakit.


Aiden membuka laci nakas disamping tempat tidur, dia mengambil obat dari dalam sana dan memberikannya pada Ayra. Itu adalah obat pereda nyeri yang di berikan Dokter pada Aiden.


"Gak, aku udah capek terus minum obat"


Ayra menepis tangan Aiden yang menyodorkan obat padanya, hingga obat itu berhamburan diatas lantai. Ayra terus memegangi kepalanya yang terasa sakit dengan bayangan-bayangan hitam tidak jelas terus melintas diingatannya. Berputar seperti kaset rusak.


"Menikahlah denganku dan lahirkan anak untukku!"


Bruk...


Tubuh Ayra jatuh ke atas tempat tidur, dia benar-benar tidak bisa menahan rasa sakit di kepalanya. Aiden tentu saja sangat panik melihat Ayra yang tidak sadarkan diri. Aiden menepuk-nepuk pelan pipi istrinya, berharap Ayra segera bangun.


"Sayang, hey bangun. Jangan membuat aku panik"

__ADS_1


Ayra benar-benar pingsan dan Aiden dibuat panik olehnya. Tidak bisa dia melihat istrinya seperti iini. Aiden segera membawa Ayra ke rumah sakit. Dia benar-benar dibuat panik dengan keadaan istrinya saat ini. Menunggu di depan ruang pemeriksaan dengan perasaan yang sangat cemas. Berjalan mondar mandir di depan ruang pemeriksaan itu dengan kekhawatiran Aiden yang sangat besar.


"Ayolah, kamu pastibaik-baik saja 'kan. Jangan membuat aku merasa panik dan cemas berlebihan seperti ini"


Aiden benar-benar tidak bisa berfikir jernih sekarang. Yang ada dalam ingatannya adalah tentang Ayra yang tidak baik-baik saja di dalam ruang pemeriksaan itu. HIngga beberapa saat kemudian Dokter keluar dari ruang Ayra.


"Bagaimana keadaan istri saya?"


Dokter menghela nafas pelan. "Nona Ayra mengalami cedera yang cukup parah hingga saat ini menjadi sebuah trauma yang parah. Dan sepertinya memori ingatannya yang hilang saat ini mulai kembali. Dan itu yang membuat Nona Ayra merasakan sakit yang luar biasa pada kepalanya"


Bahu Aiden langsung melemas, dia tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan Ayra yang sebenarnya saat ini. Penjelasan Dokter malah membuat Aiden berpikir jika istrinya akan selalu kesakitan ketika memori ingatannya yang hilang mulai kembali.


"Jadi apa yang harus di lakukan Dok?"


"Sepertinya membawa Ayra ke tempat yang menenangkan mungkin akan membuat dia lebih rileks. Seperti membawanya piknik atau sekedar berjalan-jalan ke pantai"


Aiden mengangguk, dia akan menuruti saran Dokter ini jika memang hal ini akan membuat Ayranya lebih baik dan lebih tenang.


Aiden masuk ke dalam ruangan Ayra dan melihat gadis itu yang sedang duduk menyandar diatas ranjang pasien dengan tatapan yang kosong. Aiden menarik kursi samping ranjang pasien dan duduk disana.


"Sayang, bagaimana keadaanmu?"


Ayra menoleh pada Aiden, matanya berkaca-kaca dan Ayra benar-benar tidak bisa menahan air matanya agar tidak meluncur begitu saja.


"Jadi, Tuan menikahiku hanya karena menginginkan anak dariku saja?"


Deg...


Aiden terdiam dan mematung mendengar ucapan Ayra. Apa mungkin istrinya ini sudah mengingat semuanya?

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2