
Aiden terbangun saat dia merasakan tangannya yang hampa, wanit yang biasa dia peluk tidak ada dalam pelukannya. Aiden bangun dan mendengar suara gemercik air di kamar mandi, membuat dia tahu jika istrinya mungkin memang berada di dalam kamar mandi. Aiden kembali menjatuhkan kepalanya diatas bantal.
"Dia sedang mandi rupany, apadia masih marah padaku ya?"
Aiden masih terlalu takut jika istrinya itu masih marah padanya. Semalam adalah pertama kalinya dia mellhat Ayra yang benr-benar marah padanya. Salah dia sendiri karena tidak berkata sebelumnya jika dia menolong GHea terlebih dulu.
Ceklek..
Pintu ruang ganti yang terbuka membuat Aiden langsung menoleh dan menatap istrinya yang baru saja keluar dari ruang ganti dengan wajah yang sudah segar.
"Kamu tidak bekerja? Kenapa masih belum bangun di jam segini?" Ayra duduk di kursi depan meja rias untuk mengeringkan rambutnya. Melirik suaminya yang masih berada di bawah gelungan selimut tebal.
"Sayang, apa kamu masih marah padaku? Maafkan kau Sayang, aku janji tidak akan mengulanginya lagi"
Ayra menoleh pada suaminya yang sudah bangun dan sedang duduk menyandar diatas tempat tidur. "Apa aku bisa meminta satu syarat padamu sebelum aku benar-benar memaafkanmu"
Aiden turun dari atas tempat tidur dan menghampiri istrinya. Memeluk Ayra dari belakang, dia menatap Ayra dari panttulan cermin di depannya. "Kau boleh meminta apapun dariku, asal jangan meminta berpisah dariku karena aku tidak akan pernah mewujudkan itu"
"Kenapa kamu berfikir begitu? Apa kamu memang berharap aku meminta pisah ya? Tega sekali kamu, ternyata kamu memang sudah memikirkan tentang perpisahan kita. Apa kau ingin mengungkit tentang perjanjian di awal pernikahan kita itu?"
Aiden benar-benar terkejut dengan istrinya yang kembali marah padanya. Aiden tidak berfikir untuk mengungkit soal perjanjian yang terjadi di awal pernikahan mereka. Tapi kenapa Ayra sangat sensitive sekali sampai dia selalu salah dengan apapun yang Aiden ucapkan.
"Sayang, bukan seperti itu. Aku hanya tidak ingin jika permintaan kamu adalah itu. Jadi, aku benar-benar tidak akan siap jika kamu meminta hal itu padaku"
"Aku hanya minta untuk kamu tidak berhubungan lagi dengan Ghea. Apa kamu bisa?"
"Tentu saja, aku sudah lama sekali tidak berhubungan dengannya. Dan aku baik-baik saja sampai sekarang, jadi tidak perlu susah jika kau memang melarang aku untuk tidak berhubungan lagi dengannya"
Ayra berballik dan menatap suaminya dengan lekat. Aiden sepertinya memang yakin dengan apa yang dia ucapkan."Tapi acara resepsi kita sudah dipercayakan padanya. Jadi kamu akan lebih sering bertemu dengannya"
"Kalau ada apa-apa untuk persiapan resepsi kita nanti. Maka aku tidak aka mengurusnya sendiri. Biarkan Rega saja yang mengurusnya"
__ADS_1
Ayra mencebikan bibirnya, merasa jika ucapan Aiden memang benar adanya. "Beneran ya? Awas saja kalau sampai kamu bertemu dengannya secara diam-diam. Aku bukan apa-apa melihat kamu bertemu kembali dengan teman masa kecilmu itu. Tapi aku rasa sebaiknya untuk tidak terlalu berhubungan dekat teman di masa lalu. Karena memang kita harus menjaga rumah tangga kita ini agar tidak mendapatkan masalah dari orang ketiga"
Aiden mengangguk, dia duduk diatas lantai dan menggenggam tangan Ayra diatas pangkuannya. "Iya Sayang, aku mengerti. Terima kasih karena sudah menyadarkan aku tentang ini.Jika orang-orang di masa lalu memang sering menimbulkan masalah dalam rumah tangga yang sedang berlangsung"
Ayra tersenyum, dia bersyukur karena suaminya mau mendengarkan apa katanya. "Yaudah, sekarang kamu mandi dulu. Apa tidak bekerja hari ini?"
Aiden menggeleng pelan, dia mengecup punggung tangan istrinya dengan lembut. "Aku ingin mengajak kamu dan Alerio pergi jalan hari ini. Lagian hari ini aku juga tidak da meeting. Semuanya pekerjaan bisa diurus oleh Rega saja"
Ayra tersenyum, dia tentu sudah cukup lama tidak pergi jalan dengan suaminya. Tapi bersyukur karena suaminya sendiri yang mengajaknya lebih dulu. "Yaudah ayo, aku akan siap-siap dulu ya"
"Siap-siap apa? Kau begini saja sudah cantik, jangan berdandan berlebihan karena aku tidak suka jika nanti kau akan dilihat banyak pria diluaran sana"
Ayra memutar bola mata malas, suaminya ini masih dengan sikap posesifnya yang berlebihan. Tapi Ayra tahu jika dia bersikap seperti itu karena dirinya yang sangat mencintai Ayra.
"Yaudah kamu mandi dulu sana, aku akan cek Alerio dulu"
...🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲...
"Sayang, kamu mau membeli apa?"
Ayra menoleh pada suaminya, dia datang kesini tidak berniat membeli apapun karena memang semua kebutuhan Ayra dan semua yang dia perlukan sudah Aiden penuhi.
"Aku tidak ingin membeli apapun, semuanya sudah tepenuhi. Jadi apalagi yang harus aku beli"'
Aiden tersenyum mendengar itu, istrinys in masih sama dengan Ayra yang Aiden nikahi secara paksa 3 tahun yang lalu. Masih menjadi sosok Ayra yang sederhana dan selalu merasa cukup dengan semua pemberian suaminya.
"Itu semua 'kan kebutuhan kamu, dan sekarang kamu bisa membeli apa yang kamu inginkan"
Ayra menggeleng pelan. "Tidak ada yang aku inginkan, jadi aku tidak ingin membeli apapun"
"Yasudah kalau memang kamu tidak ingin membeli apapun. Kita langsung pulang saja, biar nanti kita makan di Restaurant Alvaro saja"
__ADS_1
Ayra mengagguk dan menurut saja.
Dan mereka benar-benar datang ke Restaurant milik Alvaro untuk makan siang. Alvaro langsung mengfgendong Alerio yang telah terbangun dari tidurnya.
"Kalian nikmati saja makan siang kalian, aku akan membawa Alerio ke ruanganku"
Alvaro benar-benar membawa Alerio ke ruangannya dan membiarkan Aiden dan Ayra berdua di ruangan VVIP ini.
"Sayang ayo makan"
Ayra mengerjap saat suara Aiden terdengar olehnya. Ayra sedang menatap sekelilingnya dan dia baru sadar jika ruangan ini adalah tempat yang pernah Aiden gunakan untuk merayakan ulang tahunnya bersama Ayra yang gagal karena malam itu Aiden yang tidak datang saat Ayra sudah menyiapkan makan malam romantis untuk merayakan ulang tahunnya.
"Kamu kenapa si? Apa tidak suka dengan makanannya?"
Ayra menggeleng, dia tersenyum pada suaminya. "Sayang apa kamu benar-benar tidak ingat dengan tempat ini?"
Aiden mengeleng pelan, dia memang merasa tidak asing dengan ruangan ini, tapi dia tidak ingat ada kejadian apa tentang tempat ini.
"Ruangan ini adalah tempat dimana kita merayakan ulang tahun kamu waktu itu, saat hubungan pernikahan kita ini masih belum seperti sekarang"
Aiden langsung menatap sekelilingnya, dan dia bena-benar baru menyadari jika memang ruangan ini yang menjadi salah satu kenangan untuk Ayra dan Aiden.
"Ya, aku ingat sekarang. Dan hari itu aku benar-benar merasa bersalah pada kamu yang sudah menyiapkan segalanya untuk aku. Tapi semuanya sia-sia, maafkan aku ya Sayang"
Ayra tertawa kecil, dia bahkan sudah melupakan tentang kekecewaannya waktu itu karena Aiden yang pulang terlambat disaat dirinya menyiapkan kejutan ulang tahun untuknya.
"Tidak papa, yang penting sekarang aku bisa merayakan ulang tahun bersmamu"
"Iya Sayang,kita pasti akan selalu bersama"
Bersambung
__ADS_1